Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Cemburu
"M-maksud kamu apa, El?!" tanya Albiru. Suaranya yang semula menggelegar penuh intimidasi mendadak tercekat di ujung tenggorokan, bergetar hebat memecah keheningan kelas yang kian melengang.
Ellea menarik pergelangan tangannya yang kini tak lagi dicengkeram erat. Ia mundur satu langkah, menata emosinya yang sempat membubung ke ubun-ubun. Ditatapnya pria di hadapannya dengan sorot mata yang tak lagi menyiratkan ketakutan atau kepatuhan.
"Ya, aku dan Kak Andra sekarang sudah resmi pacaran," jelas Ellea, suaranya terdengar begitu tenang namun sanggup menghantam ulu hati Albiru dengan telak. "Dua minggu ini kami sudah jadian, Kak."
Albiru mundur setengah langkah, kepalanya menggeleng lambat seraya memaksakan sebuah tawa hambar. Kerutan di dahinya mengencang, menolak mentah-mentah untaian kalimat yang baru saja mengetuk indra pendengarannya. Ego besarnya berontak, mencari kekuatan apa saja untuk menyelamatkan harga dirinya yang mendadak runtuh di lantai kelas ini.
“Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini, hamba tahu ini dosa,” batin Ellea.
"Ellea, elo bercanda," tukas Albiru, nadanya meninggi, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya yang runtuh. Ia menatap Ellea dengan binar mata yang campur aduk antara amarah dan kepanikan terselubung. "Elo sengaja melakukan semua ini biar gue kelihatan cemburu, kan? Dengar ya, sudah gue katakan dari awal, gue tidak pernah cemburu dan nggak akan pernah peduli sama siapa lo berhubungan, asal jangan sama si Andra brengsek itu!"
"Cukup, ALBIRU!" potong Ellea cepat. Suaranya tidak membentak, namun ketegasannya sanggup membungkam kalimat ketus Albiru seketika. "Kak Andra lebih bisa menghormati aku! Dia baik, dia selalu ada di saat semua orang di sekolah ini memandang rendah pakaian dan cadarku. Terserah Kakak mau menganggap ini apa, tapi Kak Andra menghargaiku sebagai seorang wanita!"
Mendengar Ellea memuji pria lain tepat di depan wajahnya terlebih pria itu adalah Andra, sesuatu di dalam dada Albiru laksana terbakar hebat. Api cemburu yang selama ini ia sangkal, ia maki, dan ia bungkus rapi dengan nama 'gengsi' mendadak meledak tak terkendali. Akal sehatnya menguap ke udara, digilas oleh rasa tidak rela yang teramat dahsyat karena menyadari milik sahnya kini mulai disentuh oleh orang lain.
Sret!
Tanpa memikirkan tempat dan batasan yang selama ini ia dengungkan, Albiru maju satu langkah besar. Tangan kanannya bergerak secepat kilat merengkuh pinggang Ellea, sementara tangan kirinya naik mencengkeram kuat tengkuk gadis itu, mengunci pergerakannya agar tak bisa menghindar.
Sebelum Ellea sempat memekik kaget, Albiru menundukkan wajahnya dan langsung mencium bibir Ellea yang terhalang selembar kain cadar hitam.
Deg!
Sepasang mata abu-abu Ellea membelalak sempurna. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak kaku, laksana disengat ribuan volt listrik yang melumpuhkan syaraf. Sentuhan intim yang teramat mendadak itu mengirimkan gelombang kejut yang meremukkan pertahanannya. Namun, kesadaran bahwa tindakan Albiru ini murni didasari oleh ego, amarah, dan rasa kepemilikan yang egois seketika memicu penolakan keras dari dalam dirinya.
Ellea memberontak hebat. Kedua tangannya yang terhimpit di dada Albiru memukul-mukul dada bidang suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencoba melepaskan diri dari pagutan paksa yang terasa begitu menyesakkan dada.
"Mmph ... Albiru ... le-lepas ...!" gumam Ellea teredam di balik kain cadarnya yang kini tertekan erat oleh bibir Albiru.
Namun, bukannya melonggar, cengkeraman tangan Albiru di tengkuk Ellea justru semakin menguat. Pria itu laksana kesetanan, meluapkan seluruh rasa frustrasi, ketakutan akan kehilangan, dan cemburu buta yang selama sebulan ini menyiksa batinnya melalui ciuman sepihak itu. Walau terhalang selembar kain, kehangatan dan desakan penuh tuntutan dari bibir Albiru mengalir nyata, mengacaukan ritme jantung Ellea hingga kian tak beraturan.
Air mata yang sejak tadi ditahan Ellea akhirnya pecah juga, mengalir deras membasahi sudut matanya dan merembes ke kain cadar yang menjadi saksi bisu keegoisan Albiru.
Merasakan ada tetesan air hangat yang mengenai jemarinya di pipi Ellea, ditambah dengan pukulan di dadanya yang kian melemah berganti menjadi pegangan yang pasrah, kesadaran Albiru laksana ditarik paksa kembali ke bumi. Ia tersentak, lalu perlahan menjauhkan wajahnya.
Napas Albiru memburu, naik-turun dengan cepat seiring dengan debaran jantungnya yang bertalu ekstrem. Ia menatap sosok Ellea yang kini menyandarkan punggungnya di meja, memegangi dadanya yang sesak dengan tubuh yang bergetar hebat. Di balik khimar dan cadarnya yang sedikit berantakan, sepasang mata abu-abu itu menatap Albiru dengan pandangan yang sarat akan rasa kecewa, terluka, dan ... rasa asing yang teramat menyakitkan.
"Kenapa!" cicit Ellea, suaranya serak bercampur isak tangis yang tertahan. Ia menatap Albiru dengan sisa-sisa kekuatannya. "Kenapa kamu lakukan ini? Bukankah di hati kamu cuma ada Sandra? Kenapa kamu tega menodai batasan yang kamu buat sendiri, Albiru?"
Albiru terpaku di tempatnya berdiri. Kedua tangannya yang tadi begitu kokoh mengunci tubuh Ellea kini menggantung lemas di udara, bergetar kecil. Pertanyaan lirih dari Ellea laksana tamparan keras yang mendarat tepat di wajahnya, menelanjangi seluruh kebohongannya selama ini.
Ia ingin bersuara, ingin mengatakan bahwa semua ucapannya tentang Sandra adalah dusta, ingin berteriak bahwa hatinya sakit melihat Ellea bersama Andra. Namun, tenggorokannya laksana terkunci rapat oleh gengsi masa muda yang masih berkarat di dalam dadanya.
Melihat Albiru yang hanya diam mematung dengan tatapan kosong, Ellea menyunggingkan senyum getir di balik cadarnya yang basah. Ia memungut tas ranselnya yang sempat merosot ke lantai dengan gerakan gemetar, lalu menyampirkannya di pundak.
"Satu tahun ini ... aku akan penuhi janji kita di depan Bunda," ucap Ellea, suaranya mendadak berubah sedingin es, kehilangan seluruh kehangatan yang biasa ia miliki. "Tapi setelah hari ini, tolong ... jangan pernah sentuh aku lagi atas nama apa pun, Albiru."
Tanpa menunggu balasan, Ellea melangkah lebar melewati tubuh Albiru yang masih membeku. Langkah kakinya yang terburu-buru bergaung di sepanjang koridor kelas yang sepi, meninggalkan Albiru sendirian di dalam ruang kelas yang mendadak terasa begitu dingin dan hampa.
Albiru membalikkan badannya perlahan, menatap ambang pintu kelas yang kini kosong. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh bibirnya sendiri yang masih menyisakan sensasi hangat dari kain cadar Ellea dan aroma lembut wangi vanilla khas gadis itu. Rasa bersalah yang teramat besar kini menghantam rongga dadanya, menyisakan sesak yang begitu menyiksa.
"Sialan!" umpat Albiru kesal, meninju meja di sampingnya hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, frustrasi oleh kebodohan dan keegoisannya sendiri. Di tengah kekacauan hatinya, bayangan Andra yang sedang menunggu Ellea di depan gerbang sekolah kembali melintas, memicu rasa tak rela yang kian menggebu. Namun kali ini, Albiru tahu, ia tak lagi memiliki hak atau alasan untuk melangkah maju dan menarik Ellea kembali ke dalam pelukannya.
Sementara itu, di depan gerbang sekolah yang mulai lengang dari kendaraan, Andra berdiri bersandar pada motornya sembari sesekali melirik jam tangan digitalnya. Sudah hampir lima belas menit berlalu sejak ia pamit pada Ellea, namun sosok gadis bercadar itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Kerutan samar tercetak di dahi Andra. Mengingat bagaimana tatapan tajam dan tensi tinggi yang ditunjukkan Albiru di koridor tadi, ada sebersit rasa cemas yang mendadak menyusup ke dalam pikirannya. Ia tahu betul tabiat keras kepala Albiru yang kerap kali bertindak impulsif jika emosinya tersulut.
"Apa gue susul aja ya?" gumam Andra pada dirinya sendiri, baru saja hendak menegakkan tubuhnya untuk melangkah kembali ke dalam area sekolah.
Namun, belum sempat langkah pertamanya terayun, siluet sosok Ellea yang berjalan dengan kepala menunduk dalam terlihat keluar dari koridor utama menuju arah gerbang. Andra mengembuskan napas lega, senyuman hangatnya kembali terukir di wajah.
"Ellea, di sini!" panggil Andra setengah berteriak sembari melambaikan tangannya.
Ellea mengangkat kepalanya sedikit, mencoba menata kembali khimarnya yang sempat berantakan agar sisa tangisnya tidak kentara di mata Andra. Ia mempercepat langkah kakinya mendekati posisi Andra yang sudah menantinya dengan sabar.
Begitu jarak mereka kian dekat, senyuman di wajah Andra mendadak memudar. Sebagai seorang pria yang peka, ia bisa menangkap ada getaran yang tidak beres pada bahu Ellea, serta sepasang mata abu-abu yang tampak sedikit sembap dan kemerahan di balik kain cadarnya.
"Ellea ... elo nggak apa-apa?" tanya Andra penuh perhatian, suaranya melembut, matanya menatap lekat ke arah mata Ellea dengan sorot mencemaskan. "Albiru ... dia nggak macam-macam sama elo di dalam, kan?"
Ellea menggelengkan kepalanya cepat, mencoba memaksakan seulas senyum di balik cadarnya walaupun Andra tidak bisa melihatnya. "Enggak kok, Kak. Tadi ... tadi cuma ada sedikit urusan soal formulir ujian yang ketinggalan di meja. Maaf ya, membuat Kak Andra menunggu lama."
Andra terdiam sesaat, tahu betul bahwa Ellea sedang menyembunyikan sesuatu yang teramat berat darinya. Namun, ia memilih untuk tidak mendesak gadis itu lebih jauh demi menjaga kenyamanannya. Ia menepuk jok belakang motornya dengan pelan.
"Ya sudah, yuk naik. Kita ke toko buku depan sebelum hujan," ajak Andra manis.
"Iya, Kak. Ayo berangkat,” sahut Ellea lirih.
Dari kejauhan, di balik pilar lantai dua gedung sekolah, sepasang netra elang milik Albiru menatap pemandangan itu dengan kepalan tangan yang kian mengeras di sisi tubuhnya. Ia menyaksikan bagaimana Ellea naik ke atas motor Andra dengan begitu tenang pemandangan yang laksana menuangkan garam di atas luka menganga di dalam hatinya.
“Ellea, kau benar. Aku cemburu melihatmu bersama pria lain,” gumam Albiru lirih.