NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : Penyelarasan Rasa

Suasana di dalam ruangan khusus berukuran kecil di sudut belakang rumah kontrakan Bagus mendadak terasa sangat hening dan sunyi. Suara rintik hujan di luar ruangan terdengar samar, teredam oleh tebalnya dinding batako yang bersih. Dedi duduk bersila dengan tubuh yang sedikit gemetar di atas karpet hijau tua, sementara Bagus duduk tepat di hadapannya dengan pembawaan yang sangat tenang, tegap, dan meneduhkan.

Di antara mereka berdua, tidak ada wewangian kemenyan atau dupa hitam yang menyengat khas praktik perdukunan. Ruangan itu hanya menguar aroma harum minyak kasturi yang tipis dan bersih. Dedi menatap Bagus dengan sepasang mata yang sayu, menyimpan harapan besar di tengah kehancuran harga diri yang sedang melanda hidupnya.

"Pak Dedi," buka Bagus dengan nada suara yang sangat lembut namun bertenaga. "Sebelum kita memulai proses penyelarasan batin ini, saya ingin Bapak membersihkan dulu sisa kekusutan di kepala Bapak. Singkirkan semua rasa amarah kepada rekan kerja yang memfitnah Bapak, dan buang jauh-jauh rasa sakit hati kepada istri Bapak di rumah."

Dedi menarik napas pendek, dadanya terasa sesak. "Bagaimana caranya, Mas Bagus? Setiap kali saya mencoba tenang, bayangan caci maki mereka selalu terputar di kepala saya. Rasanya panas dan menyiksa sekali."

Bagus tersenyum tulus, memahami betul bagaimana pengaruh gelombang energi negatif dari luar sedang mempermainkan sistem saraf Dedi. "Itu karena Bapak selama ini membalas gelombang panas mereka menggunakan hawa nafsu yang sama panasnya. Akhirnya, jiwa Bapak kosong dan mudah diombang-ambingkan. Jalur langit yang akan saya sampaikan ini dinamakan asihan jalur putih, sebuah cara untuk menyelaraskan rasa batin manusia tanpa melibatkan bantuan makhluk gaib pembawa petaka."

Bagus menyuruh Dedi untuk memejamkan kedua kelopak matanya rapat-rapat, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut sendiri dalam posisi terbuka ke atas. Bagus kemudian mengulurkan tangan kanannya, meletakkan telapak tangannya beberapa sentimeter tepat di depan dada Dedi tanpa menyentuh fisik kulitnya.

Di dalam hatinya yang paling dalam, Bagus mulai mengunci kefokusan jiwanya. Keteguhan iman yang sudah mendarah daging di dalam diri Bagus memancarkan gelombang ketenangan yang luar biasa sejuk. Aura murni dari jalur langit itu perlahan-lahan merambat menembus ruang hampa di antara mereka, menyelimuti tubuh Dedi yang semula kaku tegang.

"Ikuti kata-kata saya di dalam hati, Pak," bimbing Bagus dengan suara yang bergaung rendah menembus keheningan ruangan. "Pasrahkan seluruh raga dan takdir hidup Bapak sore ini sepenuhnya ke dalam perlindungan Allah. Katakan dalam batin Bapak: Ya Allah, saya ini hamba-Mu yang lemah, saya tidak memiliki apa-apa dan bukan siapa-siapa di hadapan-Mu. Saya pasrahkan urusan harga diri, rezeki, dan hidup saya seutuhnya kepada-Mu setelah saya berusaha keras secara halal."

Dedi mulai mengikuti dikte kalimat kepasrahan tersebut di dalam hatinya yang paling dalam. Pada tarikan napas pertama, dada Dedi terasa seperti ditarik kencang, memicu rasa pening yang mendadak menyerang ubun-ubun kepalanya. Namun, seiring dengan kalimat pasrah yang dibacanya berulang-ulang dengan keyakinan tauhid yang bulat, sebuah keajaiban spiritual mulai terjadi.

Hawa sejuk yang memancar dari telapak tangan Bagus perlahan-lahan mulai mengikis kabut hitam pekat yang selama ini mengunci aura wajah Dedi. Sumbatan energi negatif yang sengaja dikirimkan oleh pihak luar untuk memicu kebencian orang-orang di sekitar Dedi kini berbenturan hebat dengan gelombang murni kepasrahan. Dedi merasa ada aliran kehangatan yang sangat lembut mengalir deras dari arah dadanya, menjalar ke seluruh pembuluh darah, lalu perlahan-lahan meredakan ketegangan di seluruh otot tubuhnya.

Air mata Dedi mendadak menetes membasahi pipinya yang kusam, namun kali ini bukan air mata keputusasaan yang ingin mati. Ini adalah air mata kelegaan yang teramat sangat luas, seolah-olah seluruh beban berat seukuran gunung yang menghimpit ulu hatinya selama seminggu ini baru saja diangkat dan dilarutkan ke dalam telaga yang jernih.

"Bagus... dada saya mendadak terasa sangat plong, sangat ringan," bisik Dedi dengan suara yang bergetar halus tanpa berani membuka matanya.

"Tetap kunci rasa pasrah itu, Pak. Pertahankan ketenangan batin ini," ucap Bagus pelan, memantapkan aliran energinya hingga menyatu sempurna ke dalam sistem batin Dedi. "Inilah dasar utama dari penyelarasan rasa. Ketika batin Bapak sudah tidak lagi bergantung pada penilaian makhluk, dan sudah pasrah penuh kepada Sang Pencipta, maka aura wibawa alami di wajah Bapak akan kembali memancar cerah secara alami. Orang lain tidak akan lagi bisa meremehkan atau membenci Bapak tanpa alasan yang jelas, karena jiwa Bapak sudah dibentengi oleh ketenangan dari jalur langit."

Proses penjajaran rasa itu berlangsung selama hampir satu jam di dalam kesunyian ruangan khusus kontrakan Bagus. Ketika Dedi akhirnya membuka kedua matanya kembali, pandangan matanya yang semula redup dan berkabut kini telah berubah menjadi sangat jernih, bersih, dan memancarkan binar kehidupan yang baru. Gurat kusam di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan rona keteguhan seorang laki-laki sejati yang telah menemukan kembali pegangan hidupnya.

Dedi mengusap sisa air matanya dengan sapu tangan, lalu menatap Bagus dengan tatapan takjub yang teramat mendalam. "Terima kasih banyak, Mas Bagus. Seminggu ini saya selalu merasa ingin mengakhiri hidup karena stres, tapi sore ini batin saya bener-bener merasa sangat aman dan damai."

Bagus mengangguk dengan seulas senyuman bersahaja yang tulus. "Ini baru langkah awal pemanasan, Pak Dedi. Besok pagi, Bapak harus kembali masuk ke kantor menghadapi kenyataan dunia luar. Amalkan ketenangan rasa ini di depan rekan kerja dan staf Bapak. Jangan balas cemoohan mereka dengan amarah, melainkan dengan diam yang berwibawa. Kita lihat bagaimana takdir Allah akan bekerja menata kembali jalan hidup Bapak."

“Ketika kau berhasil membersihkan dadamu dari sampah amarah dan memasrahkan seluruh takdir hidupmu seutuhnya di hadapan Sang Pemilik Semesta, maka seluruh kabut kegelapan yang mengunci auramu akan sirna. Wibawa sejatimu tidak lahir dari takhta keduniawian yang menipu, melainkan dari ketenangan jiwa seorang hamba yang kokoh berlindung di bawah perlindungan doa.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!