Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Jalan Menuju Perbatasan
Derap langkah Ryosuke menggema di antara pepohonan yang semakin rapat, sementara napasnya terdengar berat dan tidak beraturan akibat luka-luka yang masih mengeluarkan darah sejak pertarungan sengit di benteng tahanan. Ranting-ranting patah di bawah telapak kakinya setiap kali ia memaksa tubuhnya terus bergerak, sedangkan di belakangnya suara teriakan para prajurit Empire Krusador masih terdengar bersahut-sahutan, menandakan bahwa pengejaran belum berhenti sedikit pun. Beberapa anak panah sesekali melesat menembus celah pepohonan, memaksa Ryosuke berbelok ke arah yang lebih rapat sambil menahan rasa sakit yang menjalar dari bahu hingga punggungnya. Ia mengetahui dirinya tidak mungkin menghadapi mereka dalam keadaan seperti sekarang. Tujuannya hanya satu, menjauhkan seluruh pasukan itu sejauh mungkin dari Hana agar adiknya memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
"Kejar dia! Jangan biarkan penyusup itu lolos!"
Perintah sang komandan menggema dari kejauhan, disusul suara puluhan kaki yang terus membelah hutan. Ryosuke tidak menoleh sedikit pun. Ia sudah memperkirakan bahwa Krusador tidak akan melepaskan seseorang yang telah membunuh sejumlah prajurit sekaligus membawa kabur seorang tawanan. Selama mereka masih mengejarnya, berarti perhatian seluruh pasukan masih tertuju kepadanya. Itu sudah cukup.
Ia melompati batang pohon tumbang, lalu menuruni lereng berbatu dengan cepat hingga beberapa prajurit kehilangan jejaknya untuk sesaat. Tanpa membuang waktu, Ryosuke segera menerobos semak-semak lebat menuju arah yang berbeda, memanfaatkan pengetahuan yang selama bertahun-tahun ia pelajari ketika hidup di desa perbatasan. Hutan ini memang tidak sepenuhnya dikenalnya, tetapi cara membaca arah angin, aliran sungai, serta jejak binatang sudah menjadi naluri yang diwariskan ayahnya sejak kecil.
Suara langkah para pengejar mulai terdengar semakin jauh.
Namun Ryosuke tidak berani berhenti.
Ia terus berlari.
Setiap tarikan napas terasa seperti menyayat dadanya, sementara darah dari luka di bahunya perlahan membasahi lengan pakaian yang telah robek. Meski demikian, ia tetap menggenggam erat Nichirin-gatana di tangan kanan dan Tenkū Matō di tangan kiri. Kedua pedang itu tidak sekali pun ia lepaskan. Selama masih mampu berdiri, selama kedua tangannya masih dapat menghunus pedang, ia tidak akan membiarkan dirinya tertangkap hidup-hidup.
Beberapa saat kemudian, hutan yang rapat mulai menelan bayangan Ryosuke hingga sosoknya tidak lagi terlihat dari jalur pengejaran. Teriakan para prajurit Krusador perlahan memudar, tertutup oleh suara angin yang berembus melewati dedaunan. Ryosuke akhirnya memperlambat langkahnya, bukan karena merasa aman, melainkan karena tubuhnya benar-benar mencapai batas.
Ia bersandar pada batang pohon besar sambil mengatur napas.
"Hana..."
Hanya nama itu yang keluar dari bibirnya.
Ia tidak mengetahui apakah adiknya berhasil mencapai perbatasan atau justru kembali tertangkap. Akan tetapi, Ryosuke memaksa dirinya mempercayai keputusan yang telah ia ambil. Ia mengenal Hana lebih baik daripada siapa pun. Gadis itu memang lembut, tetapi tidak pernah mengingkari permintaan keluarganya.
Perlahan Ryosuke kembali berdiri.
Ia tidak boleh beristirahat terlalu lama.
Jika pasukan Krusador berhasil menemukan jejaknya lagi, semua pengorbanan mereka akan menjadi sia-sia.
Sementara itu, beberapa kilometer dari tempat Ryosuke melarikan diri, Hana terus berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah ke wilayah perbatasan. Wajahnya tampak pucat, pakaiannya masih dipenuhi debu dan bercak darah yang belum sempat dibersihkan, sedangkan kedua matanya sesekali menoleh ke belakang seolah berharap Ryosuke akan segera muncul mengejarnya.
Namun jalan itu tetap kosong.
Tidak ada siapa pun.
Hana menggigit bibirnya sendiri.
Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat karena rasa bersalah terus menghantui pikirannya. Ia ingin kembali membantu kakaknya. Ia ingin bertarung bersama seperti dahulu ketika mereka masih berlatih pedang bersama ayah mereka. Namun suara Ryosuke sebelum mereka berpisah masih terngiang jelas di telinganya.
"Pergi... dan tetap hidup."
Kalimat itu menjadi satu-satunya alasan yang membuat Hana terus melangkah.
Beberapa saat kemudian, jalan tanah yang sepi mulai memperlihatkan bekas roda kereta dan jejak kaki dalam jumlah besar. Hana segera bersembunyi di balik semak karena mengira pasukan Krusador kembali muncul. Akan tetapi, yang terlihat justru rombongan sekelompok pria dan wanita bersenjata. Mereka mengenakan perlengkapan tempur yang tidak seragam, sebagian membawa pedang, sebagian lagi memanggul tombak, busur, bahkan kapak, tetapi disiplin barisan mereka menunjukkan bahwa kelompok itu bukan sekadar pengembara biasa.
Pandangan Hana kemudian berhenti pada sebuah bendera yang berkibar di sisi kereta paling depan.
Lambang Green Continent.
Dadanya langsung berdebar.
Selama perjalanan menuju perbatasan, baru kali ini ia melihat lambang yang bukan milik Empire Krusador.
Harapan yang hampir padam perlahan kembali menyala.
Tanpa berpikir panjang, Hana keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari ke arah rombongan itu.
Beberapa orang langsung menghunus senjata begitu melihat seseorang mendekat dari balik semak.
"Berhenti!"
Salah seorang pengawal melangkah maju sambil mengangkat pedangnya.
Hana menghentikan langkahnya, napasnya terengah-engah, sementara air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir di pipinya.
"Tolong..." suaranya bergetar hebat. "Tolong... kakakku masih dikejar pasukan Krusador..."
Suasana di sekitar rombongan itu mendadak berubah tegang. Para pengawal yang sejak tadi mengacungkan senjata tidak segera menurunkannya, tetapi mereka juga tidak langsung menangkap Hana. Mereka saling bertukar pandang, berusaha memastikan apakah gadis yang berdiri di hadapan mereka benar-benar meminta pertolongan atau hanya umpan yang sengaja dikirim untuk menjebak mereka. Dalam keadaan perang seperti sekarang, kecerobohan sekecil apa pun dapat mengorbankan seluruh rombongan.
Hana berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal akibat berlari tanpa henti sejak berpisah dengan Ryosuke. Kakinya hampir tidak mampu lagi menopang tubuhnya, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri. Jika ia jatuh sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan untuk menyelamatkan kakaknya.
"Aku mohon..." ucap Hana sekali lagi dengan suara yang jauh lebih lirih, namun dipenuhi keputusasaan. "Kakakku masih bertahan sendirian... dia sengaja membawa semua pasukan Krusador mengejarnya supaya aku bisa melarikan diri. Kalau kalian tidak membantunya... dia akan mati."
Beberapa anggota rombongan mulai menunjukkan raut wajah berbeda. Mereka dapat melihat luka-luka kecil di tangan Hana, pakaian yang robek di beberapa bagian, serta wajah seorang gadis yang jelas telah melewati malam penuh ketakutan. Tidak ada tanda bahwa ia sedang berpura-pura.
Seorang pria bertubuh tinggi akhirnya melangkah keluar dari belakang kereta paling depan.
Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan. Rambut cokelat gelapnya dipotong pendek, sementara jubah perjalanan berwarna hijau tua menutupi zirah kulit yang dikenakannya. Sebilah pedang panjang tergantung di pinggang kirinya, dan tatapannya yang tenang langsung menyapu keadaan sekitar sebelum berhenti pada Hana.
Seluruh anggota rombongan tanpa sadar memberi jalan ketika pria itu mendekat.
Pria itu adalah Alfaro Perez, pemimpin kelompok tentara bayaran yang selama beberapa tahun terakhir berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, menerima berbagai tugas pengawalan, pengintaian, maupun perlindungan terhadap para pedagang yang melintasi daerah rawan perang.
Alfaro tidak segera berbicara.
Ia terlebih dahulu memperhatikan Hana dari ujung kepala hingga kaki, seolah berusaha memastikan apakah gadis itu menyembunyikan sesuatu.
"Siapa namamu?" tanyanya dengan suara tenang.
"Hana..."
"Hana siapa?"
"Hana Tagawa."
Nama keluarga itu menggelegar bak petir di siang bolong sebagian besar anggota rombongan, tetapi Alfaro tetap mengangguk pelan.
"Orang Krusador?"
"Lalu siapa yang sedang dikejar pasukan Krusador?"
"Kakakku... Ryosuke Tagawa."
"Berapa banyak pasukan yang mengejarnya?"
Hana menggigit bibirnya. Ia berusaha mengingat keadaan sebelum mereka berpisah.
"Banyak... aku tidak sempat menghitung. Mereka terus mengejarnya setelah kami melarikan diri dari benteng."
Mendengar kalimat terakhir itu, beberapa tentara bayaran langsung saling berpandangan.
"Dari benteng?" gumam salah seorang.
"Dia bilang benteng?"
"Kenapa mereka mengejar warganya sendiri?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Itu bukan hal yang bisa dilakukan orang biasa."
Alfaro mengangkat tangannya, menghentikan bisik-bisik anak buahnya. Tatapannya kembali tertuju kepada Hana.
"Kenapa pasukan Krusador mengejar kakakmu?"
Hana terdiam beberapa saat.
Ia mengetahui bahwa menceritakan semuanya kepada orang yang baru ditemui bukanlah keputusan mudah, tetapi ia juga sadar bahwa menyembunyikan kebenaran hanya akan membuat mereka semakin curiga.
"Kakakku... menyelamatkanku."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Aku ditawan oleh pasukan Krusador. Kakakku menyusup ke benteng tempat aku ditahan, lalu membawaku keluar. Saat kami hampir berhasil melarikan diri, seluruh pasukan mengejar kami. Kakakku menyuruhku terus berlari menuju perbatasan... sementara dia tetap tinggal agar semua prajurit mengejarnya."
Suasana mendadak sunyi.
Tidak seorang pun langsung menyela.
Beberapa anggota rombongan mulai memahami mengapa gadis itu datang dengan keadaan seperti sekarang.
Alfaro menoleh kepada salah seorang anak buahnya.
"Berapa jauh benteng Krusador dari posisi kita sekarang?"
"Kalau mengikuti jalur utama, sekitar beberapa jam perjalanan. Kalau melalui hutan, mungkin lebih cepat."
Alfaro kembali memandang Hana.
"Kapan kalian berpisah?"
"Tadi malam."
Jawaban itu membuat raut wajah Alfaro berubah sedikit lebih serius.
Jika Ryosuke benar-benar masih bertahan menghadapi pengejaran sejak malam sebelumnya, maka waktu mereka tidak banyak.
Hana menundukkan kepalanya.
"Aku tahu aku tidak berhak meminta apa pun kepada kalian. Kita bahkan baru bertemu. Tapi... aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi."
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
"Aku mohon..."
"Tolong selamatkan kakakku."
Alfaro tidak langsung menjawab.
Ia berdiri diam cukup lama sambil memandang ke arah jalan yang mengarah ke wilayah Krusador. Angin yang bertiup pelan membuat bendera Green Continent di samping kereta berkibar perlahan, sementara seluruh anggota rombongan menunggu keputusan pemimpin mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Beberapa detik kemudian, Alfaro akhirnya mengembuskan napas pelan.
"Siapkan kuda."
Beberapa anggota rombongan langsung menoleh ke arahnya.
"Kita bergerak."
Hana mengangkat wajahnya dengan mata yang masih basah.
Alfaro menatapnya dengan tenang.
"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa kakakmu masih hidup."
"Tapi selama masih ada kesempatan, kami akan mencarinya."
Mendengar jawaban itu, lutut Hana hampir kehilangan tenaga. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai ungkapan syukur.
"Terima kasih..."
Untuk pertama kalinya sejak berpisah dengan Ryosuke, secercah harapan kembali muncul di dalam hatinya.
Sementara itu, jauh di dalam hutan, Ryosuke masih terus berlari dengan luka yang semakin menguras tenaganya, tanpa mengetahui bahwa seseorang telah mulai bergerak untuk mencarinya.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉