NovelToon NovelToon
The Dark Lord

The Dark Lord

Status: tamat
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Vampir / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.

Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.

Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.

Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Sonja

Walaupun hari masih siang, Hutan Fork selalu tampak diselimuti kegelapan. Rimbunnya pepohonan-pohon besar yang menjulang tinggi menahan sebagian besar cahaya matahari, sehingga hanya sedikit berkas sinar yang mampu menembus hingga ke dasar hutan. Udara terasa lembap, sementara angin yang berembus pelan menggoyangkan dedaunan, menciptakan suara gemerisik yang menambah kesunyian.

Di tengah hutan yang sunyi itu, Alea berlari dengan kecepatan luar biasa. Tubuhnya melesat dari satu pohon ke pohon lain, nyaris tak terlihat oleh mata manusia. Wajahnya dipenuhi kesungguhan, sementara indra penciumannya terus mengikuti aroma yang begitu dikenalnya. Aroma yang selama ini tidak pernah ia lupakan."Aku tidak mungkin salah..." gumamnya lirih.

Jantung Alea berdetak semakin cepat. Sudah lama ia tidak mencium aroma itu, tetapi ingatan tentang pemiliknya masih begitu melekat dalam benaknya. Tanpa memperlambat langkah, Alea terus mengejar sumber aroma tersebut.

Dia menghentikan langkahnya secara mendadak. Kedua matanya bergerak menyapu setiap sudut hutan dengan penuh kewaspadaan. Aroma itu berhenti di tempat ini, tetapi ia belum melihat siapa pun.

"Mencari seseorang, Lea?"

Suara berat yang begitu dikenalnya terdengar dari belakang. Tubuh Alea langsung berbalik. Kedua matanya melebar seketika."Pangeran Alex."

Pria itu berdiri beberapa meter di belakangnya dengan wajah datar. Tatapannya begitu dingin, jauh berbeda dari pria yang dahulu selalu menatapnya dengan kelembutan.

Alea terpaku. Entah mengapa, ada rasa lega yang begitu besar memenuhi dadanya ketika melihat Alex berdiri di hadapannya dalam keadaan selamat. Selama ini ia selalu bertanya-tanya bagaimana keadaan pria itu setelah semua kekacauan yang terjadi. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sesaat.

Tatapan Alex dipenuhi luka, kepahitan, dan kekecewaan yang begitu dalam. Tatapan yang membuat dada Alea terasa sesak.

"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu dipertemukan dengan para pengkhianat?" ucap Alex dingin.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun setiap katanya terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati Alea. Wanita itu memilih diam. Ia tidak memiliki alasan untuk menyangkal tuduhan tersebut. Karena semua itu memang benar.

Alea telah mengkhianati Alex, dia memilih meninggalkan Klannya dan bergabung dengan Arthur. Keputusan itu adalah pilihannya sendiri.

"Kau baik-baik saja?" tanya Alea lirih, berusaha memecah keheningan.

Alex mendengus pelan. Tatapannya tetap tajam. Seharusnya ia langsung menghunus senjata dan menghabisi wanita yang berdiri di hadapannya. Namun, setiap kali niat itu muncul, perasaannya selalu menghentikannya. Ia tidak mampu. Jangankan membunuh Alea. Melukai wanita itu sedikit saja terasa mustahil baginya.

"Buruk." jawab Alex pelan. Ia tertawa hambar."Lebih tepatnya sangat buruk." Sorot matanya berubah semakin kelam."Aku kehilangan ayahku..." Alex mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih."Lalu setelah itu, aku juga harus menerima kenyataan bahwa wanita yang paling kupercaya justru memilih mengkhianatiku."

Alea menundukkan kepala. Dadanya terasa semakin berat."Pangeran..."

"Aku sudah tidak lagi menyandang gelar itu, Lea," potong Alex sebelum Alea menyelesaikan ucapannya. Nada suaranya terdengar datar. Namun justru itulah yang membuatnya semakin menyakitkan."Arthur pasti sudah menceritakan semuanya kepadamu, bukan?"

Alea tidak menjawab. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Alex kembali melanjutkan."Bahkan dengan sukarela kau menyerahkan Sonja kepada Arthur." Tatapannya menusuk lurus ke arah Alea."Di mana pikiranmu, Lea? Kau bahkan membiarkan mereka menikah."

Alea menggigit bibir bawahnya."Sonja mencintai Arthur." gumamnya lirih.

Alex langsung berdecak pelan."Cinta?" Pria itu tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan."Sejak kapan kau peduli pada hal seperti itu?"

Selangkah demi selangkah ia mendekati Alea."Apa yang kau tahu tentang cinta?" Kini hanya beberapa langkah yang memisahkan mereka."Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang perasaan itu." Kata-kata tersebut membuat Alea semakin menundukkan wajahnya.

Alea tahu ke mana arah pembicaraan ini. Alea tahu Alex mencintainya, dan ia menyadari perasaan itu terlalu terlambat."Sekarang ini seharusnya aku melenyapkanmu, Lea." Alex menatap wanita itu cukup lama. Tatapannya perlahan berubah sendu."Tapi sepertinya aku tidak bisa." Ia tertawa pelan. Tawa yang terdengar lebih seperti ejekan untuk dirinya sendiri."Aku memang sangat bodoh." Alex menggeleng pelan."Karena telah mencintai wanita seperti dirimu."

Mata Alea langsung melebar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ucapan Alex benar-benar menghancurkan pertahanan hatinya. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam mendadak memenuhi dadanya.

Alex membalikkan badan."Baiklah." Suaranya kembali terdengar dingin."Sepertinya aku harus pergi sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar menyerangmu." Ia mulai melangkah meninggalkan Alea.

Satu langkah.

Dua langkah.

"Maafkan aku..." Suara lirih Alea menghentikan langkahnya.

Alex tidak langsung berbalik. Ia hanya memejamkan mata sejenak."Untuk apa?" tanyanya pelan."Untuk pengkhianatanmu atau untuk hatiku yang sudah kau hancurkan?"

Alea menggigit bibirnya kuat-kuat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya."Untuk semuanya." Suaranya bergetar."Maaf."

Keheningan kembali menyelimuti hutan.

Alex mengembuskan napas kasar. Sungguh menyedihkan. Setelah semua rasa sakit yang ia alami. Setelah semua pengkhianatan yang diterimanya. Hanya dua kata sederhana dari Alea.

"Maaf."

Dan hatinya kembali goyah. Ia tersenyum pahit. Benar-benar menyedihkan. Seorang pria yang begitu ditakuti banyak makhluk justru menjadi selemah ini hanya karena masih mencintai wanita yang telah menghancurkan hatinya sendiri.

***

Mata elang Arthur tak pernah lepas dari sosok Sonja yang masih terlelap di atas ranjang. Napas gadis itu terdengar pelan dan teratur, wajahnya memancarkan ketenangan yang begitu menyejukkan.

Cantik.

Sangat cantik.

Bahkan dalam tidurnya, Sonja berhasil membuat Arthur sulit mengalihkan pandangan. Pria itu mengembuskan napas panjang dan kasar. Kepalanya disandarkan pada sandaran kursi yang berada tepat di sisi ranjang. Kedua matanya perlahan terpejam, menikmati perubahan yang tengah terjadi di dalam tubuhnya.

Dia dapat merasakan sesuatu yang selama ini terkunci kini benar-benar terlepas.Kekuatan iblis yang bersemayam dalam tubuhnya mengalir deras ke seluruh pembuluh darah, menyusup hingga ke setiap sendi, memenuhi seluruh tubuhnya dengan energi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Darah Sonja...

Darah yang begitu manis, begitu murni, dan begitu kuat. Ditambah lagi ritual penyatuan darah yang telah mereka lakukan, serta penyatuan tubuh mereka semalam, menjadi kunci yang membebaskan seluruh kekuatan itu. Perlahan Arthur mengepalkan tangannya. Senyum tipis penuh keyakinan terukir di sudut bibirnya. Sekarang, jangankan Ethan. Bahkan Lucifer sekalipun akan dia hadapi jika berani menyentuh istriku.

"Arthur..."

Suara lirih itu langsung membuyarkan lamunannya. Arthur membuka mata seketika lalu menoleh ke arah ranjang. Sonja telah terbangun. Gadis itu menatapnya dengan mata yang masih setengah mengantuk. Namun, sesaat kemudian Arthur membeku. Tatapannya terpaku pada kedua mata Sonja.

"Apa?"

Tanpa sadar ia berdiri dan melangkah mendekat."Matamu..." gumamnya pelan.

Arthur kini berada tepat di sisi ranjang. Dengan sangat hati-hati ia mengulurkan tangan, membelai pipi Sonja seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah ilusi. Bola mata Sonja yang semula berwarna cokelat kini berubah menjadi biru bening, menyerupai lautan yang diterpa cahaya matahari. Keindahannya bahkan membuat Arthur sulit berkedip.

"Ada apa dengan mataku?" tanya Sonja dengan suara serak khas seseorang yang baru bangun tidur. Suara itu justru membuat Arthur kembali mengeram pelan. Baginya, bahkan suara Sonja yang masih dipenuhi kantuk terdengar begitu merdu. Semakin lama ia bersama gadis itu, semakin besar rasa cintanya. Seolah tak ada satu pun kekurangan yang dimiliki istrinya.

Arthur mengusap lembut rambut Sonja yang sedikit berantakan."Bola matamu berubah warna," ucapnya lembut. "Warnanya menjadi biru, jauh lebih indah. Kulitmu juga terlihat semakin cerah."

Sonja spontan menyentuh kedua pipinya."Benarkah?"

Arthur mengangguk."Sepertinya energiku mulai menyatu dengan tubuhmu." Tatapannya dipenuhi kelembutan. "Apa kau masih ingat saat aku mengatakan bahwa setelah kita melakukan penyatuan tubuh, kau akan memperoleh separuh kekuatanku?"

Sonja mengangguk pelan."Aku masih mengingatnya."

Arthur kembali melanjutkan."Semalam bukan hanya penyatuan tubuh yang kita lakukan. Kita juga menyelesaikan ritual penyatuan darah. Mulai hari ini tubuhmu akan mengalami banyak perubahan. Sedikit demi sedikit kekuatanku akan beradaptasi dengan tubuhmu."

Sonja hanya terdiam, mencerna setiap penjelasan suaminya. Kini ia mengerti mengapa sejak membuka mata tubuhnya terasa berbeda.

Arthur menggenggam tangan Sonja dengan lembut."Sekarang coba katakan padaku. Apa yang kau rasakan?"

Sonja memejamkan mata sejenak, merasakan setiap bagian tubuhnya."Aku merasa lebih segar."

Arthur tetap mendengarkan tanpa memotong.

"Tubuhku juga terasa sangat ringan." Ia kembali membuka matanya dengan wajah berbinar."Arthur..."

"Hm?"

"Apa sekarang aku juga bisa memiliki sayap seperti dirimu?"

Arthur tersenyum tipis melihat sorot mata penuh rasa ingin tahu itu."Tentu."

Mata Sonja langsung berbinar."Benarkah?"

"Ya." Arthur mengangguk mantap. "Namun bukan hanya itu. Bahkan tanpa mengeluarkan sayap sekalipun, kau bisa terbang secepat angin. Tubuhmu tidak lagi sepenuhnya seperti manusia biasa."

Sonja menutup mulutnya karena terlalu terkejut."Aku benar-benar bisa terbang?" Wajah Sonja dipenuhi antusiasme yang sulit disembunyikan."Aku ingin mencobanya, Arthur!"

Melihat semangat istrinya, Arthur hanya tertawa kecil. Sudah lama ia tidak melihat Sonja sebahagia itu."Setelah tubuhmu benar-benar beradaptasi dengan kekuatan itu, aku sendiri yang akan mengajarimu terbang."

Sonja mengangguk berkali-kali dengan senyum yang begitu cerah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Apakah mulai hari ini ia benar-benar telah menjadi bagian dari dunia Arthur?

Apakah sekarang dirinya juga akan mampu bergerak secepat Alea, bahkan mungkin menyamai para vampir yang selama ini hanya bisa ia kagumi?

1
Firkoh
menegangkannya dapet, cepet update ya kaka author
Saasaa: Terimakasih 🙏 Update tiap hari
total 1 replies
Firkoh
ngeri banget loe thur
Firkoh
kaaaaan bener
Firkoh
ikut tegang Cuy
Firkoh
jangan2 Arthur nih pangeran kegelapannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!