NovelToon NovelToon
MASIH MENCINTAIMU

MASIH MENCINTAIMU

Status: tamat
Genre:Single Mom / Keluarga & Kasih Sayang / Cintapertama / Tamat
Popularitas:7.4M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur

6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.

Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan

Dira menatap ke bawah dengan wajah pucat. Tadi naik karena panik, sekarang baru terasa tingginya. Cabang yang ia duduki memang tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja membuat lututnya gemetar.

"Ethan…" panggilnya pelan. Tidak peduli lagi dengan gengsi. Dia hanya ingin bisa turun dari atas sana.

Pria itu mengangkat alis.

"Hm?"

"A- aku nggak bisa turun."

"Aneh. Tadi bisa naik." Ethan memang sengaja.

"Itu karena ada anjing!" Dira mendesis kesal.

Ethan terkekeh pelan, jelas menikmati situasi. Ia tidak bergerak dari posisinya, tetap bersandar santai dengan tangan terlipat di dada.

"Loncat saja."

Astaga, pria sialan. Rasanya Dira ingin mencakar rambut atau wajah tampannya itu.

"Kalau aku jatuh?"

"Berarti kau kurang pintar melompat. Nikmati saja."

Okey. Kali ini Dira betul-betul tidak dapat menahan kekesalannya. Dia rasa Ethan memang sengaja main-main dengannya karena membencinya.

"Kau pasti sengaja melakukannya kan? Sengaja bermain-main denganku. Apa menurutmu itu lucu?!" sentak Dira kesal.

Senyuman di wajah Ethan menghilang dalam sekejap. Ia menatap Dira, tak ada lagi senyum mengejek atau menikmati di sana. Yang ada hanyalah air muka serius dan saling bertatap-tatapan dengan wajah kesal Dira.

"Sudah enam tahun Ethan, sudah enam tahun tapi kau masih dendam padaku? Jangan bilang kau belum melupakan aku, benarkah? Karena itu kau sengaja berbuat seperti ini agar aku kesal hah?! Apa kau sekarang berubah jadi sepicik itu?"

Ethan tersenyum miring. Lalu mendengus keras. Ia maju selangkah, wajahnya menatap ke atas. Menahan amarah yang membuncah.

"Belum melupakanmu? Ya, benar. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang kau lakukan padaku. Kau berlagak merasa bersalah pada apa yang terjadi pada Kara, tapi kau berbuat gila dengan laki-laki bangsat itu di depan mataku sendiri. Kau pikir aku akan lupa?!"

Emosi Ethan tersulut. Tiap kali dia mengingat kembali kejadian itu, dia tidak dapat menahan amarahnya. Dia ingin menyakiti siapa saja. Di atas sana, Dira terdiam lama. Nafasnya bergerak naik turun. Dia tidak menyangka Ethan akan mengungkit itu. Tapi salahnya juga, dia yang duluan memancing. Benar, laki-laki mana yang rela melihat kekasihnya melakukan perbuatan tidak senonoh di dengan pria lain di depan matanya.

Namun yang paling menyakitkan adalah, saat Ethan menyebut nama Kara. Ethan menuduhnya berlagak merasa bersalah? Pria itu tidak tahu saja selama bertahun-tahun ini dia terus hidup dengan rasa bersalahnya terhadap hilangnya keponakan tersayangnya itu. Tiap hari Dira tidak pernah berhenti berdoa agar Kara di temukan dalam keadaan hidup. Dira bahkan sering mengalami mimpi buruk akibat rasa bersalahnya. Tapi apa gunanya Ethan tahu semua itu. Toh mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi.

"Kau, kau tidak merasa bersalah sedikitpun pada Kara?" Ethan bicara lagi.

"Ah, aku rasa tidak. Karena kau keliatan bahagia sekarang. Pasti sudah ada penggantiku. Kau pasti sudah lupa dengan keponakanku yang hilang itu kan? Padahal kalau dia tidak melihat kau dan si brengsek itu berciuman, dia pasti masih ada bersamaku sampai sekarang.

Dira menunduk lebih dalam, kakinya gemetar tak karuan di atas cabang itu. Suara angin yang berdesir dan dedaunan yang bergesekan seolah menjadi satu-satunya teman dalam kacaunya pikirannya. Ia menahan air mata, tapi suara Ethan masih membekas di telinganya, menusuk lebih dalam daripada angin dingin yang mengelus wajahnya.

Satu hal yang Dira tangkap dari cara Ethan berbicara. Pria itu menyalahkannya. Pria itu menyalahkan dia atas apa yang menimpa Kara. Benar, memang hilangnya Kara tak luput dari kesalahannya juga. Dia mengakui itu.

Dari bawah sana, Ethan dapat melihat perubahan di wajah Dira. Dia pun memutuskan tidak bicara lagi. Sebenarnya dia tidak berniat mengungkit Kara, tapi ia sudah tersulut emosi. Tadi, dia ingin wanita itu juga merasakan apa yang dia rasakan bertahun-tahun ini, tidak bahagia.

Hening, tak ada yang bicara di antara mereka. Dira juga masih sibuk dengan pikirannya. Ethan memilih pergi. Namun saat dia merasakan Dira bersiap lompat dari atas pohon itu, ia langsung berlari secepat kilat menangkap wanita itu.

Ethan menahan napas saat tubuh Dira mendarat di pelukannya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lari tadi, tapi karena rasa lega bercampur cemas. Dira terdiam, terpaku, hampir tidak bergerak, tubuhnya masih gemetar. Wajah khawatir Ethan tadi berubah marah.

"Kau gila?! Tidak bisa turun tanpa meloncat?!"

"Kau yang menyuruhku meloncat tadi. Kenapa, kau khawatir padaku?" Dira berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, menatap Ethan dengan berani.

Pria itu segera menurunkannya dengan kasar.

"Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya khawatir kau terluka dan menyalahkanku. Atau kau berharap aku mengkhawatirkanmu?" Balas Ethan dingin.

Dira tertawa.

"Ada orang lain yang mengkhawatirkanku sekarang, untuk apa aku masih berharap padamu? Kita hanya mantan."

Katanya. Tidak mau terus kalah berdebat dengan pria itu. Kalau Ethan boleh sekejam itu berbicara padanya, kenapa dia tidak?

Ethan menatapnya lama, matanya menyipit, penuh campuran marah. Ia mendekati Dira. Sangat dekat, sampai kening keduanya hampir bertubrukan karena Ethan tiba-tiba menundukkan kepalanya, sejajar dengan tinggi badan Dira.

Dira menahan nafas. Ia bisa merasakan hembusan nafas Ethan di wajahnya. Tangannya meremas bajunya kuat. Dan ia menelan ludah.

"Kenapa kau tidak mengambil uangku? Bukankah aku sudah berjanji akan menghidupimu dan adikmu seumur hidup kalian?" pertanyaan itu pelan, tapi menusuk.

Keduanya saling menatap lama sebelum Dira membalas dengan berani.

"Aku bukan wanita murahan yang kau pakai, kau injak-injak, lalu kau buang begitu saja."

Ethan mendengus.

"Bukan wanita murahan? Tapi kau telanjang di depan laki-laki lain. Kalian bercumbu dengan  panasnya, aku tidak akan pernah lupa bagaimana wajahmu yang sangat menikmati saat vaginamu di jilat oleh pria itu."

Plakkk!

Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Ethan. Dira menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ethan menatap Dira dengan mata terbelalak, sedikit terkejut, tapi ada kilatan amarah yang membara di dalamnya. Tamparan itu bukan sekadar rasa sakit fisik, ia tersentuh oleh emosi yang begitu jelas, kebencian, sakit hati, dan harga diri yang terluka.

"Apa kau perlu sampai seperti itu? Apa amarahmu akan membaik dengan mengatakan kata-kata menyakitkan itu padaku?"

Ethan terdiam, tidak mengatakan apapun. Ia memalingkan wajahnya dari Dira. Tangannya terkepal. Dia tidak lihat air mata Dira yang terjatuh karena wanita itu cepat-cepat menghapusnya.

"Terimakasih sudah menolongku dari anjing tadi."

Hanya itu yang Dira katakan selanjutnya, kemudian berlari pergi meninggalkan Ethan yang masih berdiri diam. Tak ada niat mengejar, tak ada niat minta maaf. Dia tahu dia sudah keterlaluan, tapi hatinya masih keras. Meski dia juga sadar kalau dirinya tidak baik-baik saja setelah menyakiti Dira seperti itu.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hmmmm bakal jadi saingannya Jeremy nih kayaknya... ntah tar Dami jadinya dengan siapa.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waduuhh Thor jangan sampai mereka kenapa².
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Setegar dan sekuat²nya laki² butuh kasih perhatian, jadi saling menguatkan dan lewatin bareng² akan jadi lebih ringan... semangat buat kalian jangan berlarut dalam kesedihan tinggal nunggu Author ngasih bonus baby lagi ya... syukur² Twins sebagai gantinya.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Lah kan memang gitu selama ini kamu memang sibuk sendiri seolah orang paling tersakiti dengan keadaan tanpa pernah mau lihat sekitar termasuk suami mu Dira... kamu ga pernah peka dengan sekitar.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hmmmm .. setuju dengan usul Damian lebih baik kamu jujur pada kedua adikmu dan Jeremy Dam.
Ari Nuryanti
gelut gelut dami sama jeremy
Ari Nuryanti
oalahhhhh.....jd daging cincang kamu nurrrrrrrr
Ari Nuryanti
begitu lebih baik kalian ber 2..nanti jd saudara ipar😂😂😂😂
Ari Nuryanti
cari mati dia
anonim: hai izin untuk promosi karyaku , mampir kakak ke cerita aku juga 🙏
total 1 replies
Ari Nuryanti
gak usah neko" nur...penting oleh krj
Ari Nuryanti
bobok bobok adik kecil😂😂😂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Kara juga manusia Matt pasti tau memposisikan diri di tiap keadaan... saat random dan serius, kamu mah ada² saja 🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Oowh... Dami adalah tunangannya Jeremy yang katanya mirip dengan Dira makanya tiap Lihat Dira Jeremy sedikit mengingatkan tunangannya.... baru inget sekarang.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Tangkap Jer sampe dapat termasuk dapetin hatinya, Eaaaa..😂😂😂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Atuutttt...ngeri juga Than.🫣🫣🫣🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Preettt... maaf saja bukan solusi hama, saatnya keangkuhanmu sudah habis di babat Ethan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ujiannya ga berenti² padahal baru juga bahagia ada saja iklannya.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Lengah sampe musuh bawa sajam ga tau... moga Dira dan baynya baik² saja
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hajar terus sampe mampus si hama Ra.😂😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hmmmm... cara aman.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!