"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"
Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asap Misterius dan Hilangnya Dua Jiwa
Aroma gurih yang menggelitik hidung kembali memenuhi area perkemahan sore itu, seolah mengusir sisa-sisa kecemasan dari kejadian malam sebelumnya. Tubuh yang sudah segar setelah mandi di danau membuat nafsu makan keempat gadis itu meningkat drastis. Kali ini, mereka memasak menu sarapan yang merangkap makan siang yang cukup mewah untuk ukuran camping. nasi goreng bumbu kampung dengan campuran sosis, telur mata sapi yang pinggirannya renyah, dan taburan bawang goreng yang melimpah.
"Sumpah, Manda, lo kalau buka warung nasi goreng di kampus pasti laku keras. Gue bakal jadi pelanggan nomor satu yang minta utang tiap akhir bulan," celoteh Keisha dengan gaya humorisnya yang khas, tangannya sibuk menyendok nasi goreng ke piring plastiknya.
Amanda yang sedang memegang sudit langsung mendelik jenaka, meski aslinya ia agak tersanjung. "Enak aja lo, bayar tunai kagak ada utang-utangan! Tapi emang sih, kombinasi udara pantai sama masakan gue itu enggak pernah gagal."
Elena yang duduk dengan tenang di atas tikar menikmati suapan demi suapan dengan khidmat. Di sebelahnya, Aldara makan dengan lahap, walau sempat melakukan kecerobohan kecil dengan menyenggol botol kecap hingga isinya hampir tumpah ke atas matras jika Elena tidak dengan sigap menangkapnya.
"Duh, Ra, lo pinter-pinter tapi tangan lo sering banget lepas kendali ya," goda Keisha yang langsung disambut tawa oleh yang lain.
"Heh, yang penting perut kenyang, pikiran tenang!" balas Aldara ceplas-ceplos sambil nyengir tanpa dosa.
Setelah acara sarapan yang penuh tawa itu selesai dan semua peralatan masak telah dibersihkan, matahari mulai merangkak naik, memancarkan sinar yang membuat permukaan laut berkilau seperti hamparan berlian.
Keisha langsung bangkit berdiri, menepuk-nepuk celananya dari pasir. Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. "Manda, yuk ke pinggiran pantai! Ombaknya lagi bagus banget tuh, cocok buat main air sama berselfie ria. Sayang banget kalau momen golden hour begini dilewatkan begitu aja."
Amanda yang dasarnya juga suka berfoto langsung berdiri antusias. "Ayo! Gue mau pasang pose estetik mumpung anginnya pas."
Mereka berdua menoleh ke arah tenda, di mana Elena dan Aldara tampak sedang meluruskan kaki di dalam. "El, Ra, kalian kagak ikut ke pantai?" tanya Keisha.
Elena yang pembawaannya tenang dan agak ambivert menggeleng pelan sambil tersenyum. "Enggak deh, kalian berdua aja dulu. Gue mau rebahan bentar di dalam tenda, masih agak lemas gara-gara mimpi tadi malam."
"Gue juga mau nemenin Elena sambil ngedit beberapa tugas yang masih nyangkut di laptop," timpal Aldara, menepuk tas laptop yang dibawanya.
"Ya udah, kita ke pantai dulu ya! Jangan kangen!" seru Keisha riang sebelum melangkah pergi bersama Amanda menuju garis pantai yang berjarak belasan meter dari tenda.
Langkah kaki Keisha dan Amanda berkersek renyah di atas pasir putih yang hangat. Mereka berjalan sambil bercanda, merencanakan sudut pengambilan foto yang bagus. Namun, baru saja mereka berjalan sekitar tujuh meter menjauhi perimeter tenda, atmosfer di sekeliling mereka mendadak berubah secara drastis.
Embusan angin laut yang tadinya hangat tiba-tiba mati total. Suara deru ombak yang semula memecah kesunyian pantai perlahan-lohan meredup, seolah menghilang di balik dinding tak kasat mata.
Wush...
Dari arah sela-sela pepohonan hutan di samping mereka, tiba-tiba bermunculan sebuah asap putih yang sangat tebal. Asap itu bergulung-gulung dengan cepat, menyebar ke segala arah seperti makhluk hidup yang sedang berburu. Dalam hitungan detik, asap tebal itu telah mengurung tubuh Keisha dan Amanda, menutup seluruh arah pandang mereka. Jarak pandang mereka mendadak menyusut hingga tidak sampai setengah meter. Mereka berdua bahkan tidak bisa lagi melihat arah jalan untuk kembali ke pantai ataupun ke arah tenda.
"M-Manda? Lo di mana? Sumpah ini asap apa sih?! Kok tiba-tiba pekat banget?!" Keisha mulai panik, suaranya naik satu oktav karena ketakutan yang teramat sangat. Tangannya meraba-raba udara kosong dengan gemetar.
"Gue di sini, Kei! Pegang tangan gue!" sahut Amanda yang suaranya juga dipenuhi kepanikan. Tangan Amanda berhasil menemukan jemari Keisha, dan mereka berdua langsung saling berpegangan tangan dengan sangat erat, saling menyalurkan rasa takut yang luar biasa. "Ini aneh banget... kok bisa ada kabut sepadat ini di pantai siang bolong?!"
Tiba-tiba, di tengah kegelapan asap yang mencekam itu, sebuah suara mengerikan membelah keheningan.
"Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!"
Suara lolongan serigala yang sangat nyaring dan sarat akan kekuatan magis bergema tepat di dekat telinga mereka. Suara itu begitu menggelegar, mengingatkan mereka pada teror malam sebelumnya. Keisha dan Amanda menjerit ketakutan, tubuh mereka gemetaran hebat di dalam kepungan asap.
Tiba-tiba, tanpa ada peringatan apa pun, rasanya Amanda seperti ada yang menariknya dari belakang dengan kekuatan yang sangat besar dan cepat. Sentakan itu begitu mendadak hingga membuat pegangan tangan erat Amanda pun terlepas dari jemari Keisha secara paksa.
"KEISHAAA!!!" jerit Amanda histeris saat tubuhnya terseret mundur ke dalam kegelapan asap.
"AMANDA!!!" Keisha berteriak histeris, mencoba meraih kembali tangan sahabatnya, namun jemarinya hanya menangkap udara kosong yang dingin. Amanda telah lenyap dari pandangannya dalam sekejap mata.
Dan ya, Amanda tidak dibawa oleh sembarang makhluk. Di balik tabir dimensi asap tersebut, tubuh Amanda yang lemas karena syok telah berada di dalam dekapan erat Lang Ye, Sang Raja Serigala Putih. Dengan jubah berbulu putih keperakannya yang gagah, Lang Ye menatap wajah pucat gadis di pelukannya itu dengan tatapan mata yang tajam namun menyimpan kepuasan tersendiri. Aroma tubuh Amanda yang membawa sisa-sisa aroma masakan lezat tadi benar-benar mengunci insting posesif sang raja serigala. Tanpa membuang waktu, Lang Ye melesat cepat membawa Amanda pergi melintasi gerbang dimensi menuju istananya.
Sementara itu, Keisha yang ditinggal sendirian di dalam kepungan asap berputar-putar dengan panik, air mata ketakutan mulai membanjiri pipinya. "Amanda! Lo di mana?! Manda, jangan bercanda! El! Aldara! Tolong!!!"
Sadar bahwa bahaya besar sedang mengintai, Keisha seketika itu mengambil keputusan untuk berlari dengan liar, berniat pergi kembali ke tenda tempat di mana ada Elena dan Aldara berada untuk mencari perlindungan. Namun, indra penunjuk arahnya telah sepenuhnya dikacaukan oleh sihir asap tersebut.
Akan tetapi, belum sempat ia berbalik atau melangkah lebih dari dua kali, sebuah embusan angin hangat beraroma bunga persik putih menerpa tengkuknya.
Sebuah tangan dengan jemari lentik yang dingin namun lembut tiba-tiba melingkar di pinggangnya, sementara sebuah kipas lipat sutra menutup bibir Keisha agar tidak bisa berteriak lagi. Keisha menoleh dengan mata membelalak penuh keterkejutan, dan hal terakhir yang ia lihat sebelum kesadarannya mengabur adalah sepasang mata berbentuk phoenix yang sangat tampan namun penuh tipu daya yang sedang menatapnya dengan senyuman geli yang memikat.
Dia adalah Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih. Jubah putih dengan aksen merahnya berkibar indah saat ia mendekap tubuh Keisha yang mulai terkulai lemas di pelukannya. "Gadis cerewet yang menarik... kau tidak akan kembali ke tenda itu hari ini," bisik Su Lingkong lembut di telinga Keisha sebelum sosok mereka berdua memudar ke dalam dimensi klan rubah.
Wush...
Begitu kedua raja siluman itu berhasil mengklaim target mereka masing-masing dan menyeberang kembali ke dimensi mereka, asap misterius yang tadinya menghilangkan seluruh arah pandang itu kini lenyap seketika tak tersisa dalam satu ketukan kelopak mata. Langit di atas pantai kembali biru cerah, matahari kembali bersinar, dan ombak kembali menderu riang di atas pasir putih seolah-olah tidak pernah terjadi kekacauan apa pun sebelumnya.
Namun, di pantai yang luas itu, kini hanya tersisa sepasang sandal jepit milik Keisha dan Amanda yang tergeletak begitu saja di atas pasir, menjadi saksi bisu dari hilangnya dua jiwa manusia yang dibawa pergi oleh para penguasa abadi Pulau Bai She. Di dalam tenda yang sunyi, Elena dan Aldara masih belum menyadari bahwa lingkaran pertemanan mereka baru saja retak oleh kekuatan gaib yang tak terpikirkan oleh akal sehat mereka.