Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
------------------------------
## BAB 29: Nicholas yang Hilang Kendali
Di dalam bangunan utama Vila Puncak, Nicholas Syailendra baru saja membubuhkan tanda tangan terakhirnya di atas berkas darurat korporasi. Jarum jam dinding antik menunjukkan pukul satu dini hari. Badai hujan di luar semakin menggila, melemparkan kilatan guntur yang sesekali menerangi ruang kerja Kakek Agung.
Insting tajam Nicholas mendadak bergejolak tidak tenang. Debaran jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. Mengapa kepala pelayan Kakek membutuhkan tanda tangannya secara tatap muka di tengah badai seperti ini?
"Kakek, jika tidak ada urusan lain, saya harus kembali ke paviliun sekarang. Elena takut pada suara guntur," ucap Nicholas, suaranya terdengar berat dan datar, namun memancarkan ketergesaan yang jarang ia tunjukkan.
Kakek Agung Syailendra hanya diam bersandar di kursi jatinya, menatap cucunya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Pergilah. Tapi ingat, Nicholas... singgasana Syailendra Group menuntut pria yang tidak memiliki kelemahan di hatinya."
Nicholas tidak memedulikan nasihat filosofis orang tua itu. Ia membalikkan tubuh tegapnya, melangkah lebar membelah koridor luas bangunan depan menuju ke paviliun belakang. Begitu ia membuka pintu lorong penghubung, ia mendapati seluruh lampu di area belakang mati total, menyisakan kegelapan pekat yang sunyi laksana makam.
Cklek.
Nicholas mendorong pintu kamar tidur utama paviliun. Kosong. Ranjang kelambu sutra putih itu rapi tanpa tanda-tanda ada orang yang menidurinya. Tas pesta kecil Elena masih tergeletak di atas sofa kulit.
"Elena! Elena!" Nicholas berteriak, suaranya yang berat memecah kesunyian malam, bergema cemas di sepanjang dinding kamar. Tidak ada jawaban.
Nicholas langsung merogoh gawai pintar khusus miliknya, mencoba menghubungi nomor pribadi Elena. Nihil. Seluruh indikator jaringan di layarnya mati total karena sinyal di area paviliun belakang telah diputus secara paksa oleh alat pengacau (jammer).
Brak!
Nicholas menendang pintu laci meja rias hingga hancur berkeping-keping. Amarah dan rasa panik yang luar biasa besar seketika meledak di dalam dada sang penguasa kota. Sifat posesif dan kegilaan kepemilikannya yang selama ini ia kunci rapat kini pecah berkeping-keping menjadi monster yang mengerikan. Pria itu melangkah lebar keluar kamar, mendapati dua pelayan senior suruhan Sarah sedang berdiri di ujung koridor dengan wajah tegang.
Nicholas merangsek maju, mencengkeram kerah pakaian salah satu pelayan wanita itu dengan satu tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuhnya hingga kaki wanita itu menggantung di udara. "Di mana istriku?! Katakan bajingan, ke mana kalian membawa Elena?!" raung Nicholas, sepasang mata elangnya menyala merah laksana kobaran api neraka yang siap membakar siapa saja.
"Tuan... Tuan Besar... ampun! Nyonya Muda... Nyonya Muda dibawa ke gudang bawah tanah belakang oleh Nyonya Sarah!" jerit pelayan itu terisak ketakutan laksana melihat iblis pencabut nyawa yang siap memotong lehernya.
Bugh!
Nicholas menghempaskan tubuh pelayan itu ke lantai hingga terjungkal kasar. Tanpa menunggu sedetik pun, pria itu berlari kencang menembus lorong-lorong bawah tanah paviliun yang sedingin es kutub utara. Langkah kaki sepatu pantofel mahalnya bergaung keras, mengalahkan suara gemuruh guntur di luar rumah.
------------------------------
Sementara itu, di dalam gudang penyimpanan logistik tua bawah tanah, kesadaran Elena Vance sudah berada di ambang batas. Tubuhnya yang terbalut gaun tidur satin hitam meringkuk lemas di sudut lantai semen yang kotor. Kulit putih susunya menggigil hebat oleh hawa dingin yang menusuk tulang.
Duar! Duar!
Suara petir yang menyambar di luar merembes menembus dinding batu gudang, memicu memori kelam malam badai satu bulan lalu untuk kembali mencabik-cabik isi otaknya secara brutal. Rasa sesak yang luar biasa mencekik tenggorokannya. Elena mencengkeram dadanya sendiri dengan tangan gemetar, air mata kelemahan yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini mengalir membasahi pipinya yang tirus.
"Nicholas... tolong aku... anakku..." bisik Elena parau, kegilaan trauma masa lalu membuatnya berhalusinasi kembali ke malam pengusiran kejam oleh Bram. Di dalam kegelapan pekat tanpa sinyal gawai itu, Elena merasa dirinya benar-benar telah ditinggal mati sendirian di dasar jurang yang dalam.
Jedarrr!
Tepat saat Elena merasa kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, sebuah hantaman pukulan besi yang sangat keras mendadak menggema hebat dari arah pintu besi luar gudang.
Gubrak!
"Elena! Buka matamu, Elena!"
Suara berat, serak, dan penuh dengan kepanikan masif milik Nicholas Syailendra bergaung menembus jeruji besi pintu. Nicholas berdiri di koridor basemen dengan tubuh yang basah kuyup oleh peluh. Di tangannya, ia memegang sebuah balok besi raksasa yang ia ambil paksa dari ruang generator.
Dua pengawal vila suruhan Ardi mencoba maju dari arah belakang untuk menahan pergerakan Nicholas atas perintah Sarah. "Tuan Besar Nicholas, Anda tidak boleh mendobrak—"
Bugh! Plak!
Nicholas membalikkan tubuhnya dengan refleks yang sangat mematikan. Ia melayangkan pukulan mentah tepat ke arah rahang pengawal pertama hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Pria penguasa kota itu kemudian menendang dada pengawal kedua dengan kekuatan penuh hingga tubuh pria berbadan besar itu terhempas kasar menghantam dinding beton dan pingsan seketika.
Nicholas tidak memedulikan kedua pengawal yang terkapar di lantai. Ia kembali menghadap ke pintu besi gudang, lalu mengayunkan balok besi di tangannya menghantam sistem kunci rantai yang tebal dengan seluruh kemarahan tirani miliknya.
Prang! Krak!
Dengan tiga kali hantaman maut, engsel dan rantai besi raksasa itu hancur berkeping-keping. Nicholas menendang pintu besi itu hingga terbuka lebar, lalu langsung menerjang masuk ke dalam ruangan yang pengap dan gelap gulita tersebut.
Begitu lampu senter gawainya menangkap sosok Elena yang sedang meringkuk menggigil di sudut lantai laksana seekor burung kecil yang sayapnya patah, jantung Nicholas seolah berhenti berdetak seketika. Rasa sakit dan sesak yang luar biasa hebat menghantam dadanya—sebuah rasa sakit yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya sebagai seorang penguasa dingin.
Nicholas menjatuhkan dirinya di atas lantai semen yang kdirty, mengabaikan tuksedo mahalnya yang tercoreng debu. Dengan kedua lengan kekarnya yang sangat kuat dan kokoh, ia langsung merengkuh tubuh ringkih Elena masuk ke dalam dekapan dadanya yang hangat. Nicholas mendekap Elena begitu erat, posesif, seolah ingin menyerap seluruh rasa dingin dan ketakutan wanita itu ke dalam dirinya sendiri.
"Elena... Elena! Buka matamu! Ini aku, Nicholas! Aku ada di sini!" bisik Nicholas dengan suara yang bergetar hebat, air matanya sendiri hampir menetes saat merasakan tubuh Elena yang sedingin kepingan es di dalam pelukannya. Pria itu melepas jas tuksedo hitamnya dengan cepat, lalu membungkus seluruh tubuh Elena ke dalam kain wol mahalnya yang hangat.
Elena perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Begitu indra penciumannya mengepung aroma parfum maskulin Nicholas yang khas bercampur aroma tembakau tipis, seluruh halusinasi kejam masa lalunya mendadak runtuh tanpa sisa. Kehangatan dada bidang Nicholas yang berdenyut keras melindunginya memberikan rasa aman yang mutlak.
"Nicholas... kamu... kamu benar-benar datang?" bisik Elena parau, jemari tangannya yang gemetar secara refleks mencengkeram erat kemeja hitam Nicholas, menolak untuk dilepaskan sedikit pun.
"Ya, aku datang, Sayang. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," jawab Nicholas rendah, suaranya dipenuhi oleh nada tirani asmara asli yang mendalam. Pria itu mengangkat tubuh Elena ke dalam gendongan lengannya dengan kehati-hatian yang teramat sangat, lalu melangkah lebar keluar dari ruang bawah tanah yang terkutuk itu.
Namun, begitu Nicholas melangkah menaiki anak tangga menuju lobi utama lantai dasar vila, sosok Sarah Syailendra dan Clarissa Utama sudah berdiri menunggu di sana bersama beberapa pengacara senior dewan keluarga. Di wajah kedua wanita ular itu, masih tersisa sisa-sisa senyuman licik yang mengerikan, siap memamerkan draf draf baru draf kegagalan Elena yang gagal bertahan di dalam gudang. Babak baru dari kepunahan total sisa-sisa harga diri dinasti keluarga besar kini telah resmi meledak di tengah malam yang berdarah di atas bukit Puncak.
------------------------------