NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Jejak yang Tertinggal

Sinar matahari pagi mulai merembes masuk lewat celah-celah atap pabrik tua, membelah kabut tipis yang menggantung di udara dan menerangi lantai yang masih tertutup debu serta bekas-bekas pertarungan semalam. Suasana yang tadinya terasa berat dan penuh ketegangan kini berubah menjadi segar, seolah alam sendiri sedang menandakan bahwa lembaran baru telah dimulai.

Mereka semua terbangun lebih awal dari biasanya, meski semalam baru saja melalui malam yang panjang dan melelahkan. Tidak ada yang terlihat mengeluh, hanya ada rasa lelah yang bercampur dengan ketenangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Setiap orang bergerak dengan tenang, masing-masing memulai tugasnya tanpa perlu banyak perintah.

Bastian dan beberapa anak buah Alden membersihkan sisa-sisa senjata yang rusak dan memindahkan tumpukan kayu yang roboh agar tidak menghalangi jalan. Niko berkeliling memeriksa setiap sudut ruangan, jendela, dan pintu, mencatat bagian mana yang perlu diperbaiki dan mana yang masih bisa diandalkan. Sementara itu, Mikhael dan Lio mengumpulkan air bersih dan menyiapkan makanan sederhana yang cukup untuk mereka semua.

Kael berdiri di depan pintu utama, memandang ke luar ke arah jalanan yang mulai terlihat jelas diterangi matahari pagi. Udara pagi yang sejuk terasa menyejukkan dadanya, tapi pikirannya tetap sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia tahu, meski bahaya langsung sudah berlalu, dampak dari kejadian semalam tidak akan hilang begitu saja. Kabar tentang cahaya aneh, suara gemuruh, dan keributan yang terdengar sampai ke pemukiman terdekat pasti akan menimbulkan rasa penasaran dan kekhawatiran di kalangan warga.

“Kau sedang memikirkan bagaimana menjelaskan ini pada mereka, bukan?”

Suara Alden terdengar dari belakang, disusul langkah kakinya yang mendekat berdiri di samping Kael. Ia sudah terlihat lebih segar, jubahnya yang tadi malam kotor kini sudah dibersihkan dan tersusun rapi di lengan.

Kael mengangguk perlahan, pandangannya masih menatap jalanan yang mulai terlihat beberapa orang warga berjalan melintas dengan langkah hati-hati. “Mereka sudah terbiasa dengan keributan antar geng, tapi apa yang terjadi semalam berbeda. Ada cahaya, suara gemuruh, dan banyak orang berkumpul di sini. Kalau kami tidak memberi penjelasan yang masuk akal, rasa takut dan desas-desus yang tidak benar akan menyebar lebih cepat dari kenyataan itu sendiri.”

“Benar,” jawab Alden sambil melipat tangannya di dada. “Tapi kita juga tidak bisa menceritakan semuanya. Banyak hal yang belum siap untuk diketahui orang awam — bukan karena kita ingin menyembunyikan, tapi supaya mereka tidak terlibat dalam bahaya yang bukan urusan mereka. Kita harus berbicara secukupnya, cukup untuk menenangkan hati mereka tanpa membuka rahasia yang masih harus dijaga ketat.”

Saat mereka berdua berbicara, Arda dan Kaelin juga keluar dari dalam ruangan, berjalan mendekat dengan langkah yang tenang. Kaelin yang semalam terlihat sangat tertekan dan penuh penyesalan, kini terlihat lebih tenang dan seolah sudah menemukan arah baru untuk dirinya sendiri.

“Kami sudah memeriksa kembali ruangan belakang,” kata Arda sambil menoleh ke arah mereka. “Semua terlihat kembali seperti semula. Tidak ada tanda-tanda energi yang bocor atau menarik perhatian lagi untuk sementara waktu. Benda itu kembali tertidur, tapi ikatannya dengan kita tetap ada — kita akan merasakan segera jika ada perubahan atau bahaya yang mendekat.”

Kaelin menambahkan dengan nada yang jujur dan rendah hati, “Aku sudah mengirimkan pesan ke sisa anak buahku yang masih setia. Aku memerintahkan mereka untuk menghentikan semua operasi yang berusaha mencari atau merampas benda itu. Mulai hari ini, Elang Darah tidak lagi bergerak untuk mencari kekuasaan sembarangan. Kami akan mundur, mengatur ulang diri, dan mencoba menebus kesalahan yang sudah kami buat selama ini.”

Pengumuman itu membuat Kael dan Alden saling pandang, sama-sama terkejut tapi juga lega. Perubahan sikap Kaelin memang sudah terlihat sejak semalam, tapi mendengarnya diucapkan dengan tegas di siang hari membuatnya terasa lebih nyata dan meyakinkan.

“Kau yakin bisa melakukannya?” tanya Alden dengan nada waspada tapi tidak lagi penuh kecurigaan. “Banyak orang di kelompokmu yang sudah terbiasa dengan jalan kekerasan dan keuntungan instan. Mengubah arah mereka tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.”

Kaelin mengangguk mantap, matanya menatap lurus ke depan. “Aku tahu itu tidak mudah. Bahkan mungkin akan ada yang menentangku dan memilih jalan sendiri. Tapi ini kesempatan terakhir yang aku miliki. Kalau aku tidak mulai memperbaikinya sekarang, aku akan terus hidup dalam penyesalan sampai akhir hayat. Setidaknya aku akan mencoba, meski hasilnya belum tentu sempurna.”

Arda menepuk bahunya pelan, isyarat dukungan yang sederhana tapi cukup berarti. “Yang penting bukan hasilnya seketika, tapi niat dan langkah pertama yang diambil. Kalau kau butuh bantuan, kita tidak akan menolaknya selama tujuannya benar.”

Setelah membicarakan hal-hal penting itu, mereka kembali masuk ke dalam untuk sarapan bersama. Suasana saat itu terasa berbeda dari sebelumnya — tidak ada lagi rasa curiga yang tersembunyi, tidak ada lagi pembagian kelompok yang terpisah, melainkan terasa seperti satu keluarga besar yang baru saja melewati badai bersama.

Saat mereka sedang makan dan berdiskusi, Niko yang tadi berkeliling memeriksa lingkungan kembali masuk dengan wajah yang sedikit serius. Ia membawa selembar kain yang terlihat kotor dan sudah agak rusak, lalu meletakkannya di atas meja kayu di tengah ruangan.

“Aku menemukan ini di semak-semak sekitar seratus langkah dari pintu belakang,” katanya sambil menunjuk kain itu. “Bukan milik orang dari kelompok kita, bukan juga milik anak buah Elang Darah atau Penjaga Keseimbangan. Warnanya dan jahitannya berbeda, dan ada tanda ini yang terjahit di bagian dalamnya.”

Ia membuka sedikit kain itu, memperlihatkan sebuah lambang kecil yang dijahit dengan benang berwarna hitam dan perak — bentuknya seperti mata yang terpejam, dikelilingi oleh lingkaran duri.

Melihat lambang itu, wajah Arda dan Alden langsung berubah menjadi serius. Mereka berdiri mendekat, memeriksa dengan cermat, lalu saling pandang dengan pandangan yang sama — tanda pengenal yang sudah lama mereka dengar tapi jarang terlihat di wilayah ini.

“Ini lambang dari Kelompok Pengintai Bayangan,” kata Alden perlahan, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. “Mereka tidak bertarung secara terang-terangan, tidak ingin menguasai wilayah atau memimpin. Tugas mereka hanya satu: mengamati, mengumpulkan informasi, dan melaporkan kepada siapa saja yang membayar mereka dengan harga tinggi. Kehadiran mereka berarti ada pihak lain yang masih mengawasi dari jauh, menunggu kesempatan untuk bertindak saat kita lengah.”

Arda mengangguk setuju, matanya menyipit tajam. “Mereka sudah ada sejak lama, bergerak di balik layar dan jarang terlihat. Kalau mereka sudah sampai di sini, berarti kabar tentang keberadaan benda itu sudah menyebar lebih luas dari yang kita duga. Mungkin sudah sampai ke telinga pihak-pihak yang jauh lebih berbahaya dan lebih terorganisir dari kelompok yang menyerang semalam.”

Berita itu membuat suasana yang tadinya tenang kembali terasa sedikit berat. Mereka tahu, meski keadaan terlihat damai di permukaan, sebenarnya ada banyak mata yang terus mengawasi dari kegelapan. Keamanan yang mereka rasakan sekarang hanya bersifat sementara, dan mereka harus lebih waspada dari sebelumnya.

“Jadi ini artinya kita tidak bisa benar-benar bersantai,” kata Bastian sambil menggaruk dagunya. “Mereka akan terus mengintai, menunggu saat kita lengah untuk menyerang lagi.”

“Tepat sekali,” jawab Arda. “Tapi ini juga memberi kita keuntungan. Kita sudah tahu mereka ada, jadi kita tidak akan terkejut lagi. Selama kita tetap bersatu, tetap waspada, dan tidak membiarkan rasa percaya diri berlebihan menguasai kita, mereka tidak akan mudah menemukan celah untuk masuk.”

Kael menatap lambang itu dengan pandangan yang tegas, lalu mengangkat kepalanya menatap semua orang yang ada di ruangan itu. “Ini berarti pekerjaan kita baru saja dimulai. Kita tidak hanya menjaga sebuah benda, tapi juga menjaga kedamaian dan keamanan semua orang yang tinggal di distrik ini. Setiap langkah yang kita ambil mulai sekarang harus dipikirkan matang-matang, tapi kita tidak boleh takut melangkah maju.”

Matahari semakin naik ke atas, menerangi seluruh ruangan dan menyingkirkan sisa-sisa kegelapan malam. Di dalam pabrik tua itu, di tengah debu dan jejak pertarungan yang perlahan dibersihkan, mereka semua menyadari satu hal: perjalanan ini tidak akan mudah, akan ada banyak rintangan dan bahaya yang menanti di depan. Tapi untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi berjalan sendirian — mereka memiliki tujuan yang sama, saling melengkapi kelemahan satu sama lain, dan siap menghadapi apa pun yang akan datang.

Dan jauh di balik pepohonan lebat di bukit yang menghadap ke pabrik itu, sosok yang mengenakan jubah gelap berdiri diam sambil mengamati dari kejauhan. Di tangannya tergulung selembar kertas, dan di atasnya tergambar lambang mata yang sama. Ia mengamati gerakan di bawah dengan tenang, lalu berbalik dan menghilang kembali ke dalam kegelapan, membawa laporan yang akan segera sampai ke tangan tuannya — menandakan bahwa permainan baru ini baru saja dimulai, dan semua pihak sudah mulai bergerak menuju babak selanjutnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!