Reina Firdausya Atmaja
Seorang wanita yang tegar. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya yang nyaris bangkrut.
Ketika ada jalan, dia harus bertemu dan menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasihnya 10 tahun yang lalu, yang kini sudah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Seorang CEO kaya raya dan playboy?
🌸
Erlan Fabian, mantan pacar Reina saat SMA dulu. Kini telah menjadi executive muda yang sukses, mengidap penyakit psikis akibat trauma di masa kecilnya.
Misinya adalah menikahi Reina, dan balas dendam pada ibu kandungnya sendiri.
Mampukah Reina bertahan?
Dan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?
Apakah Reina mampu mengobati kehidupan Erlan yang kelam dan penuh dengan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Langit Ibukota mulai temaram. Udara dingin mulai berhembus, gerimis hujan mulai turun membasahi tanah. Erlan masih setia duduk di kursi teras rumah Reina.
Ia kelelahan mengikuti langkah Reina, dari mulai naik angkot sampai berjalan kaki menuju rumahnya.
Reina baru saja keluar dari kamar, ia sudah selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya. Sebenarnya ia masih kesal dengan Erlan, tapi dia juga tidak tega melihat Erlan yang begitu gigih meminta maaf padanya tadi.
Ia tersenyum melangkah menuju ke teras, di mana Erlan menunggunya. Namun, wajahnya berubah masam, ketika melihat Karin sudah ada di sana, sedang menemani Erlan.
"Ini dia Reina sudah datang. Kalau begitu Tante masuk dulu yaa, Erlan. Silakan di minum." Karin beranjak dari duduknya.
"Iya terima kasih tante." Erlan mengangguk sopan pada Karin. Setelah itu Karin masuk ke dalam meninggalkan mereka berdua.
Erlan tersenyum lebar melihat kedatangan Reina. Menatapnya penuh cinta. Walaupun saat ini Reina hanya mengenakan pakaian santai, dengan celana training dan t-shirt polos berwarna hitam, dan rambut yang di cepol ke atas. Tapi bagi Erlan, gadis itu tetap mempesona.
"Kenapa senyum-senyum begitu." Reina risih. Sejak tadi Erlan terus menatapnya tanpa berkedip.
"Kalau aku bilang kamu cantik, percaya?"
Reina memutar bola matanya. Jengah dengan usaha Erlan yang selalu melancarkan aksi gombalnya.
"Jadi, gimana caranya kamu pulang nanti?" tanya Reina, mengabaikan ucapan Erlan tadi.
"Aku sudah hubungin asistenku buat jemput. Sebentar lagi dia datang. Kenapa? nggak mau aku cepat pergi ya?"
"Dih, jangan ge'er."
Erlan melengkungkan bibirnya. "Boleh aku tanya sesuatu?"
Reina menghela napas. Ia sudah bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh Erlan. Dia pasti ingin tahu perihal Karin. Tidak banyak yang mengetahui kalau Reina mempunyai ibu tiri.
"Kalau tentang Tante Karin, aku enggak mau jawab."
Erlan menggeleng. Bukan itu memang yang mau ia tanyakan. Mengenai Karin, tadi wanita itu sudah cerita sedikit kalau dia adalah ibu tiri Reina. Dan Erlan tidak ingin bertanya hal itu pada Reina kalau memang dia belum siap untuk bercerita.
"Tentang Dimas. Aku mau tahu dia siapa."
Reina mengernyitkan dahinya, "Kenapa? kamu cemburu?"
"Iya. Kamu calon istri aku. Jelas saja aku cemburu." jawab Erlan tanpa ragu.
"Aku kan sudah bilang, dia sahabat aku sejak kecil. Kalau kamu mau tahu, siapa yang selalu ada untukku saat aku terpuruk. Dia adalah Dimas." Reina berusaha menjelaskan.
Dia tidak ingin bertengkar lagi dengan Erlan, energinya sudah habis untuk itu.
"Mulai sekarang kamu punya aku. Kamu bisa bersandar sama aku, Rein." ucap Erlan tulus. Dia meraih tangan Reina, dan menggenggamnya erat.
Jantung Reina berpacu cepat, merasakan genggaman tangan Erlan. Namun, ia segera melepaskannya ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
Lampu sorot mobil Alphard hitam itu padam, pertanda pemiliknya mematikan mesin mobil tersebut. Tidak beberapa lama sosok Rangga turun dari sana, membuat Erlan mendesis kesal karena baru saja ia memegang tangan Reina, tapi sudah di ganggu oleh asistennya itu.
"Bos, saya sudah sampai. Maaf kalau lama. Macet." Rangga masuk ke halaman rumah Reina.
Erlan mendelik padanya, "Kamu terlalu cepat datangnya."
Hah? Rangga langsung terdiam karena bingung. Dia pikir bosnya akan marah kalau dia terlambat menjemput, jadi dia sampai menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Diam-diam Reina tersenyum melihat ekspresi wajah Erlan. Senyumannya membuat Rangga terperangah. Dia tidak habis pikir, kenapa gadis seperti Reina bisa mau dengan Erlan.
Reina yang Subhanallah, dengan Erlan yang Astaghfirullah.
Menyadari pandangan Rangga pada Reina, Erlan langsung melotot tajam pada asistennya itu.
"Sana tunggu di mobil." perintah Erlan.
Rangga menciut dan segera masuk ke dalam mobil, menunggu bosnya di sana.
Erlan mengalihkan pandangannya pada Reina, "Rein, aku pulang ya..."
Reina mengangguk, "Iya sana. Hati-hati."
Baru beberapa langkah berjalan, Erlan kembali membalikkan badannya,
"Jangan chat dengan Dimas lagi!"
"Hah? kenapa?"
"Cukup balas chat dari aku saja." Erlan berjalan mundur, sambil meletakkan tangannya di telinga. Menunggu jawaban dari Reina.
Reina menghela napas, "Iya."
Jawaban dari Reina membuat Erlan tersenyum lebar. Dia melambaikan tangannya, lantas masuk ke dalam mobil di mana Rangga sudah menunggunya di kursi kemudi.
Reina balas melambaikan tangan, sampai akhirnya mobil bergerak dan menghilang dari pandangannya.
Reina baru saja masuk ke dalam, ketika Zoya muncul dari depan. Saat Zoya turun dari ojek tadi, Zoya sempat melihat sosok Erlan masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada Reina. Dan tentu saja dia mengenali Erlan.
Ia bergegas mengejar Reina ke dalam.
"Kakak."
Reina terus saja berjalan, bukan dia tidak mendengar kalau Zoya memanggilnya. Hanya saja ia malas meladeni Zoya saat ini.
"Kakak. Siapa cowok tadi?" Zoya berusaha menahan Reina.
"Apa aku harus selalu melapor sama kamu tentang siapa cowok yang dekat sama aku?"
"Bukan gitu kak, aku pernah ketemu dia di club malam sama wanita lain. Dan aku dengar juga dia big bos yang suka tidur dengan wanita."
Langkah Reina terhenti, mendengar perkataan Zoya tadi.
"Jadi?" Reina memiringkan kepalanya menatap Zoya, menunggu jawaban dari adik tirinya itu.
"Aku cuma enggak mau kakak salah pilih." sahut Zoya.
Entah dia benar peduli atau tidak dengan Reina. Tapi, Reina menanggapinya dengan sinis.
"Terima kasih atas perhatiannya adik manis." Reina kembali melangkah meninggalkan Zoya.
Dalam hati kecilnya, ia penasaran apa benar yang di bilang oleh Zoya tadi. Jika itu benar, berarti Erlan bukan saja suka merayu wanita, tapi juga sampai tidur dengan wanita-wanita itu?
Memikirkan hal itu saja sudah membuat Reina sakit. Lalu untuk apa Erlan mengajaknya menikah jika pria itu masih suka menghabiskan malam dengan wanita lain?
Ia harus melakukan sesuatu sekarang.
******
Esoknya di kantor,
Erlan merasa lelah, baru saja di tinggal satu hari, pekerjaannya menumpuk, dan ia harus menandatangani banyak berkas-berkas penting di mejanya.
"Hufh."
Ia menghela nafas, menyandarkan tubuh di sofa nyamannya. Sesekali memijat ujung pelipis, sekedar untuk meringankan rasa pusingnya.
Tok.tok.tok.
"Masuk." sahut Erlan. Dia pikir itu pasti Rangga, yang ingin menambahkan pekerjaan untuknya.
Tapi Erlan salah, begitu dia menoleh, bukan Rangga yang ada di ruangannya sekarang. Tapi Reina. Seketika senyum Erlan mengembang melihat sosok cantik Reina dengan balutan blazer merah marun.
"Hai, kenapa enggak bilang dulu kalau mau ke sini. Aku bisa jemput kamu."
Reina hanya menatapnya datar, tidak membalas sapaan dari Erlan.
"Aku enggak lama kok. Ini tentang pernikahan, boleh aku membatalkannya?"
Wajah sumringah Erlan langsung berubah masam. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Reina yang selalu berubah.
"Kenapa? kamu sudah tanda tangani perjanjiannya. Perusahaan kamu juga sudah membaik."
Reina menghela napas, ia mengambil sebuah map kecil dari dalam tas. Lalu di berikannya pada Erlan.
"Aku tahu reaksi kamu akan begini, jadi aku sudah siapkan beberapa syarat."
Mata Erlan mengernyit membaca tulisan di dalam map itu. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Apa maksudnya ini, Rein? Kamu buat syarat untuk menikah tanpa kontak fisik?"
"Bukan hanya itu, kontrak menikah kita hanya dalam setahun." jawab Reina santai.
Erlan tersenyum miring, dan meremas map itu.
"Aku nggak setuju."
"Kamu harus setuju. Kalau kamu nggak setuju, aku bisa saja bergabung dengan SH. Aku dengar dia juga mau membantuku tuh."
Erlan menatap Reina tak percaya, wajahnya terlihat terluka mendengar Reina bicara seperti itu.
"Rein, ada apa sih sama kamu? Bukannya kemarin kita baik-baik saja?"
Reina terdiam. Ia kembali teringat dengan perkataan Zoya semalam tentang Erlan yang suka bermain dengan wanita di club malam. Dan hal itulah yang membuatnya bersikap seperti ini.
"Aku masih punya banyak salinan isi kontrak itu, jadi nanti aku kirim lagi supaya kamu bisa tanda tangan. Permisi." Reina berbalik, hendak pergi dari ruangan itu.
Erlan tidak tinggal diam, ia menahan Reina dan menarik tangannya.
"Tunggu. Aku perlu penjelasan."
"Erlan sakit, lepasin tangan aku."
"Aku nggak akan lepasin, sebelum kamu jelasin ada apa." Erlan mengukung Reina, sehingga gadis itu tidak bisa bergerak.
"Bukannya kamu bisa dapatin semua itu dari wanita lain di luar sana?"
Erlan tersentak. Ia mengerti sekarang maksud pembicaraan Reina. Pasti gadis itu sudah mengetahui kalau dirinya suka bermain dengan wanita.
Erlan tidak bisa menyangkal itu, memang dia sering melakukannya dengan wanita lain, tapi sungguh itu tidak dia lakukan dengan perasaan, hanya sedikit orang yang tahu penyebab Erlan sering bermain dengan wanita dan cenderung tidak bisa melawan hasratnya.
Apalagi jika ia stress dan mengingat kembali masa kecilnya dulu.
"Maaf. Tapi aku punya alasan sendiri." Erlan bergumam pelan.
"Alasan macam apa yang membenarkan kamu begitu. Hah?"
Erlan tak menjawab, dia melepaskan Reina.
Air mata Reina mulai menetes, melihat Erlan tidak membela diri, tapi justru mengakuinya begitu saja.
"Dasar baj*ngan. Aku benci kamu." Reina gusar. Ia mendorong Erlan, dan berlalu pergi dari tempat itu.
Dadanya terasa sesak. Salahnya mulai terhanyut oleh semua perilaku manis Erlan. Dia pikir Erlan hanya playboy biasa yang sekedar hobi merayu wanita, tapi ternyata pria itu tidak lebih dari seorang ba*jingan mesum yang suka berganti pasangan.
Reina tidak menyangka akan sesakit ini mengetahui fakta itu.
Bagaimana bisa ia harus menikahi orang seperti itu?
****