Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Giat Ibu-Ibu Persit
"Kalau ditolak, bisa-bisa aku dikirim ke medan perang buat ngobatin buaya. Huft!" keluh Dokter Gunawan dalam hatinya.
"Jangan mengumpatiku! Kau pikir aku tak tau yang kau pikirkan atau isi hatimu!" seru Prabu.
"Apa aku bisa nolak?" sahut Dokter Gunawan.
"Kau pasti sudah tau jawabannya. Kenapa pakai tanya segala? Sudah bosan hidup?" desis Prabu.
"Gak lah. Aku belum nikah, Ndan. Aku masih ingin hidup lebih lama. Kalau Anda kan udah dua kali kawin," ledek Dokter Gunawan.
"Kau pikir aku kayak pasienmu yang doyan kawin!" desis Prabu menatap tajam ke arah Dokter Gunawan karena berani menyindirnya mirip seperti kucing yang doyan kawin.
"Baiklah aku coba turuti perintah komandan,"
"Berapa lama aku dapat hasilnya?"
"Tiga minggu bisa lebih,"
"Satu minggu,"
"Astaga, aku boleh kirim orang ini ke Kutub Utara gak sih?" batin Dokter Gunawan menggerutu sebal.
"Aku tunggu kabar baik darimu," ucap Prabu sebelum pergi meninggalkan area klinik.
Salah satu plastik obat berisi sampel rambut dari Alea. Prabu dapatkan ketika memungut rambut sang istri di lubang saringan kamar mandi. Secara kebetulan ada beberapa helai rambut Alea yang ikut berjatuhan dan terbawa air saat istrinya itu sedang mandi terutama keramas.
Sedangkan plastik satunya berisi rambut dari ikat warna pink yang ada di seragamnya tujuh tahun yang lalu.
☘️☘️
Giat ibu-ibu Persit di komplek rumah dinas tempat tinggal Alea telan dimulai.
Semua punya konsep dan cara tersendiri untuk berkebun di halaman rumah masing-masing.
Prabu dan Pak Cahyo membantu Alea membuat instalasi sederhana yang akan menjadi media tanam ala hidroponik di halaman depan rumah yang luasnya tidak seberapa tersebut.
Hidroponik menjadi salah satu bentuk ketahanan pangan yang sangat cocok bagi kita yang tidak memiliki lahan yang luas untuk berkebun.
Sayuran yang ditanam menggunakan media hidroponik ini memiliki keunggulan tumbuh lebih cepat serta punya bentuk yang lebih segar dan besar. Hanya perlu ketekunan dan ketelatenan dalam menjalani berkebun ala hidroponik ini.
Alea mencoba untuk melakukan metode yang sama di mana ia pernah gunakan di Malang saat bersama kedua orang tuanya.
Alea menggunakan sistem tanam yakni sistem DFT (Deep Flow Technique). Sistem hidroponik seperti ini adalah sirkulasi air dan nutrisi dengan menggunakan metode genangan. Alea juga menggunakan listrik sebagai penggerak pompa nutrisi untuk mensirkulasikan ke seluruh akar tanaman.
Sedangkan untuk mengendalikan hama, Alea akan menggunakan perangkap lalat buah yang terbuat dari botol bekas dan cairan petrogenol.
Tanaman pertama Alea di sana yakni selada dan sawi daging yang biasa disebut pakcoy. Dikarenakan dua tanaman ini adalah sayur kesukaan Prabu.
"Istirahat dulu, Mas. Pak Cahyo juga. Udah waktunya makan siang," panggil Alea karena jam makan siang telah tiba.
"Sepuluh menit lagi selesai," sahut Prabu.
"Ya sudah, aku ke dalam dulu."
"Hem,"
Alea pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
"Komandan makan duluan saja. Udah ditunggu sama bu komandan di dalam. Biar ini saya selesaikan. Tinggal sedikit terus saya bersihkan, beres Ndan."
"Beneran nih, Pak?"
"Iya, Ndan. Kasihan bu komandan mungkin ingin makan siang bersama,"
"Pak Cahyo kan juga belum makan siang,"
"Saya gampang. Saya kan mau rokokan dulu setelah selesaikan ini. Kalau urusan mengisi perut belakangan saja. Hehe..."
"Ya sudah aku ke dalam, Pak. Makasih sebelumnya,"
"Siap, Ndan."
Lalu, Prabu pun berjalan masuk ke dalam rumah menuju area meja makan. Namun sayang, ia tak mendapati Alea di sana. Hanya terlihat Bik Sari yang sedang mencuci piring di wastafel dapur.
"Bu komandan mana Bik?" tanya Prabu.
"Tadi setelah menata makanan, Neng Alea masuk ke kamar Ndan."
"Oh ya sudah,"
"Iya, Ndan."
Setelah itu, Prabu berjalan menuju kamarnya. Ia membuka pintu secara normal, lalu menutupnya kembali.
Kamarnya tampak sunyi senyap. Tak ada Alea di sana. Ia pikir Alea masuk ke kamar hendak berganti baju atau istirahat.
Detik selanjutnya, telinganya menangkap suara gemericik air dari dalam kamar mandi di mana pintunya sedikit terbuka. Sejenak Prabu menyunggingkan senyumnya. Dengan langkah pasti dan sunyi, Prabu menerobos masuk ke dalamnya.
Seketika Prabu mematung kaku saat kedua netranya disuguhi pemandangan indah lekuk tubuh Alea dengan kulit mulusnya. Alea tengah asyik menikmati kucuran air di bawah shower tanpa sehelai benang pun.
Terlihat jelas di beberapa bagian vi_tal tubuh Alea tampak perubahan yakni dari segi ukurannya yang membesar daripada sebelum terjadi pernikahan. Semakin berisi dan sin_tal.
Hal ini wajar terjadi pada wanita dewasa karena hampir setiap malam tubuh Alea diolah sedemikian rupa oleh bibir dan tangan Prabu. Tak lupa senjata masa depan Prabu yakni si megalodon yang tak impo_ten lagi.
Jakun Prabu otomatis naik turun seiring libi_do nya meningkat. Hal yang lumrah dialami pria dewasa normal.
Sedangkan Alea masih sibuk membasuh air di kulitnya. Ia sama sekali tak menyadari jika sang suami ikut masuk ke dalam kamar mandi dan melihat kondisinya saat ini yang sedang telan_jang.
Daksa indah Alea yang semakin aduhai, berisi dan se_xy itu sontak membangkitkan megalodon di bawah perut Prabu. Lelah dan rasa lapar yang mendera Prabu usai membantu Alea berkebun, kini berganti dahaga berbentuk gai_rah serta hasrat yang membara dan menuntut ingin dipuaskan.
Prabu dengan cepat melepaskan seluruh kain yang membalut tubuhnya hingga berakhir polos seperti Alea.
Grepp...
Sepasang lengan kekar seketika melingkar dan memerangkap tubuh Alea dari arah belakang. Alea terkejut nyaris menjerit. Namun urung setelah ia melihat ke arah tangan yang memeluknya tersebut terdapat cincin yang tersemat di jari-jemari gagah tersebut.
Alea pun akhirnya menyadari bahwa yang memeluknya adalah Prabu.
"Ishh, Mas Prabu ngagetin!" rajuk Alea.
Prabu justru tersenyum menanggapi kekesalan Alea tersebut. Prabu menumpukan dagu di pundak Alea. Bahkan ia menciumi leher Alea hingga sang pemilik tubuh sedikit mende_sah.
"Euhm, Mass..." de_sah Alea.
"Bu komandan sengaja ya menggoda seperti ini," bisik Prabu seraya mengecup mesra telinga Alea.
"Ih, enak aja! Aku gak goda Mas Prabu! Badanku tadi bau dapur terus ngerasa gerah. Ya udah aku mandi saja dulu sebelum makan siang," jawab Alea apa adanya.
"Kalau mau godain komandan juga enggak apa-apa. Malah dianjurkan," ucap Prabu seraya jari-jemarinya sudah berbuat nakal di belahan bawah milik istrinya.
"Ahh... Mas Prabu nakal," Alea mulai mende_sah karena tak tahan ulah Prabu di bawah sana.
"Bukan aku yang nakal, tapi jariku."
"Bibirnya juga nakal," ucap Alea karena ia merasakan bibir Prabu mulai meraja_lela.
"Ya enggak apa-apa. Kan nakalnya sama istri sendiri bukan istri orang,"
"Mas Prabu apa gak laper?"
"Laper tapi pengin makan menu pembuka dulu sebelum makan nasi," jawab Prabu seraya bibirnya asyik membuat lukisan merah jambu di leher Alea.
"Aku udah mau selesai mandi,"
"Nanti bu komandan bisa mandi lagi,"
Alea sedikit mencebik.
Ia merasakan bahwa saat ini di belakang bo_kong nya, megalodon milik Prabu sudah berdiri tegak dengan tingkat ketegangan full baterai. Benda panjang dan berurat tersebut sedang menyentuh dan mengge_sek-ge_sek di belakang sana.
"Semalam kan udah. Tadi pagi juga nambah. Mas Prabu gak capek?" tanya Alea di sela ia menahan rasa kedut hampir meletup bak kembang api yang siap meledak.
"Enggak," jawab Prabu dengan cepat. "Kan aku lagi kejar setoran," imbuhnya.
"Setoran apa?"
"Setoran benih,"
Bersambung...
🍁🍁🍁
* Sabar ya menunggu updatenya, emak othor sibuk mengurusi drama sekolah bocah-bocah.