Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Plester Luka dan Undangan yang Salah
Di lantai teratas gedung Enrique Group, suasana ruang kerja sang penguasa bayangan tampak sunyi dan mencekam. Dallas Enrique duduk di balik meja kaca hitamnya, menatap tumpukan laporan bisnis intelijen dengan mata elangnya yang dingin. Namun, konsentrasinya buyar ketika pintu ruangannya diketuk dengan terburu-buru.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Dallas, suaranya berat dan rendah.
Hans melangkah masuk dengan napas yang agak memburu. Wajah asisten pribadinya yang biasanya tenang dan profesional itu kini tampak pucat, seolah-olah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Tuan Muda Dallas..." Hans membungkuk, namun matanya menatap Dallas dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ada apa, Hans? Kenapa wajahmu seperti itu?" Dallas meletakkan penanya, menyandarkan punggungnya ke kursi empuknya. "Bagaimana dengan tugas yang kuberikan? Kau sudah mengantarkan Bellamy Guinevere pulang dengan selamat?"
"Sudah, Tuan Muda. Saya mengantarkannya hingga ke depan lobi mansion Guinevere," jawab Hans, menelan ludah dengan susah payah. "Tapi... sebelum saya pergi, Nona Bellamy menitipkan sebuah pesan penting untuk Anda."
Dallas menaikkan sebelah alisnya. "Pesan? Rengekan apa lagi yang dia sampaikan? Apa dia memintaku untuk membujuk Javier agar mau menemuinya?"
"Bukan, Tuan Muda. Justru kebalikannya," Hans menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Nona Bellamy secara resmi mengundang Anda, Tuan Muda Dallas, untuk menjadi pasangannya di pesta gala konglomerat minggu depan."
Deg.
Pena di tangan Dallas tanpa sadar terjatuh ke atas meja. Tubuh pria itu menegang seketika. Matanya yang sedingin es langsung melebar, menatap Hans dengan pandangan tidak percaya.
"Apa kau bilang?" desis Dallas, suaranya mendadak berubah tajam. "Ulangi sekali lagi, Hans."
"Nona Bellamy mengundang Anda ke pesta gala, Tuan Muda. Beliau menegaskan bahwa beliau tidak menerima penolakan. Bahkan beliau berkata jika Anda tidak datang menjemputnya, beliau sendiri yang akan menyeret Anda keluar dari kantor ini."
Dallas bangkit berdiri dari kursinya, kedua tangannya bertumpu pada meja, memajukan tubuhnya ke arah Hans. "Kau pasti salah dengar, Hans! Periksa telingamu! Apakah kau yakin dia menyebut namaku? Bukan nama Javier?!"
"Saya berani bersumpah demi nyawa saya, Tuan Muda Dallas! Saya bahkan menanyakannya berkali-kali kepada beliau untuk memastikan," ucap Hans dengan nada meyakinkan. "Beliau secara spesifik menyebut nama Tuan Muda Dallas Enrique. Bukan Tuan Muda Javier."
Dallas terdiam. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria sedingin dirinya. Ia berbalik, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Pikirannya mendadak kacau, ditarik paksa oleh arus kenangan masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya.
Flashback, 14 tahun yang lalu...
Suasana di ruang tamu mansion utama Enrique terasa sangat canggung dan dingin. Dallas yang saat itu baru berusia 16 tahun berdiri dengan kaku di samping ibunya, Danila. Setelah kematian ayah kandungnya, Diego Costa, ibunya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang konglomerat kaya raya bernama Fernando Enrique.
Fernando berdiri di sana dengan angkuh, sementara di sampingnya ada Javier kecil yang baru berusia 10 tahun. Ibu kandung Javier, Delara, telah meninggal dunia beberapa tahun sebelumnya, membuat Javier tumbuh menjadi anak yang arogan, manja, dan keras kepala.
"Papa! Aku tidak mau menerima wanita miskin ini menjadi ibuku! Apalagi anak kampung ini menjadi kakakku!" teriak Javier kecil dengan jari menunjuk kasar ke arah Dallas dan Danila. "Mereka hanya parasit dari desa pelosok negeri yang mau mengincar harta kita! Usir mereka, Pa!"
"Javier! Jaga bicaramu!" bentak Fernando, namun nadanya tidak benar-benar marah. Ia hanya menatap Danila dan Dallas dengan pandangan meremehkan, menganggap mereka tak lebih dari sekadar pajangan.
Sejak hari itu, kehidupan Dallas di mansion Enrique berubah menjadi neraka tersembunyi. Fernando tidak pernah menganggapnya sebagai anak, melainkan hanya memanfaatkan otak jenius Dallas untuk dididik keras menjadi mesin pencari uang bagi perusahaan Enrique Group. Dallas dipaksa belajar siang dan malam, mengolah strategi bisnis rumit di usia yang sangat muda.
Puncaknya adalah ketika Javier dan kawan-kawan kecilnya—Tobias dan Damian—menjebak Dallas di halaman belakang sekolah. Mereka mendorong Dallas hingga terjatuh ke atas tanah berbatu, membuat kedua lututnya robek dan mengeluarkan darah segar.
"Lihat si anak haram itu! Orang miskin tetap saja lemah!" ejek Javier kecil sambil tertawa puas bersama teman-temannya sebelum meninggalkan Dallas yang terduduk sendirian dalam kesakitan.
Dallas mengepalkan tinjunya, menahan air mata harga dirinya di atas tanah. Di saat ia merasa seluruh dunia membencinya, sebuah bayangan kecil tiba-tiba berdiri di depannya.
Seorang anak perempuan berusia 9 tahun dengan gaun merah muda yang mengembang indah. Bellamy Guinevere kecil.
"Kakak tidak apa-apa?" suara cempreng dan lembut itu membuat Dallas mendongak.
Bellamy kecil tidak menunjukkan wajah jijik seperti anak-anak konglomerat lainnya. Ia justru berjongkok di depan Dallas, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas ranselnya yang lucu. Dengan jemari mungilnya yang halus, Bellamy meniup lutut Dallas yang berdarah dengan lembut.
"Biar Bellamy obati, ya? Biar tidak sakit lagi," ucap Bellamy kecil sambil menempelkan sebuah plester luka bergambar kartun Melody warna merah muda di atas luka lecet Dallas.
Bellamy tersenyum sangat manis setelah selesai menempelkannya. "Nah! Sudah selesai! Kakak jangan menangis lagi, ya? Plester Melody ini punya sihir penyembuh!"
Detik itu juga, di bawah bayang-bayang pohon ek sekolah, jantung Dallas remaja berdesir. Jiwanya yang mati rasa seolah dihidupkan kembali oleh senyuman anak perempuan itu. Itulah saat pertama kali Dallas menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada Bellamy Guinevere.
Namun, kenyataan di tahun-tahun berikutnya menghantam Dallas dengan kejam. Begitu beranjak remaja, Bellamy tidak pernah menatapnya lagi. Mata Bellamy selalu tertuju pada Javier. Bellamy selalu menyatakan cintanya pada Javier di depan umum, mengejar-ngejar adik tirinya yang sombong itu, dan mengabaikan keberadaan Dallas sepenuhnya.
Sakit hati dan tahu diri karena statusnya yang hanya dianggap sebagai "mesin pekerja" oleh Fernando Enrique, Dallas akhirnya memilih untuk menutup diri. Ia menarik diri dari lingkaran pergaulan sosial, menjauhkan diri dari Bellamy, dan mengubur perasaannya dalam-dalam di balik topeng pria yang dingin, kejam, dan misterius.
Flashback berakhir...
Dallas memejamkan matanya, mengembuskan napas panjang sebelum kembali berbalik menghadap asistennya. Jas hitamnya yang tadi ia berikan pada Bellamy kini sudah tidak bersamanya, namun aroma samar gadis itu seolah masih tertinggal di ruang kerja ini.
"Mengajakku ke pesta gala..." gumam Dallas, tangannya menyentuh bibirnya sendiri. "Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Bellamy? Apakah ini taktik barumu untuk membuat Javier cemburu?"
"Bagaimana tanggapan Anda, Tuan Muda?" Hans bertanya dengan sangat hati-hati. "Apakah saya harus menyiapkan penolakan yang sopan untuk pihak keluarga Guinevere?"
Dallas terdiam sesaat. Ingatan tentang tatapan mata Bellamy yang tajam, dingin, dan penuh kalkulasi di depan gerbang tadi kembali terbayang di benaknya. Tatapan itu sama sekali tidak mencerminkan Bellamy yang biasanya bodoh dan lemah karena cinta.
Sebuah senyuman tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—perlahan muncul di sudut bibir Dallas Enrique.
"Tidak perlu menolak, Hans," ucap Dallas dengan suara berat yang sarat akan keputusan mutlak.
Hans terkejut. "Tuan Muda? Anda menerima undangannya?"
"Ya. Siapkan setelan terbaik untukku minggu depan," Dallas berjalan kembali ke mejanya, matanya berkilat penuh ketertarikan yang berbahaya. "Jika wanita itu ingin bermain api dengan menggunakanku, maka aku akan memastikan dia tahu seberapa panasnya api yang sedang dia mainkan."
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣