NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:148.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan di Luar Penginapan

Long Aotian melangkah keluar dari ruang makan penginapan. Langkahnya tenang. Tidak cepat tapi juga tidak lambat. Namun begitu tubuhnya melewati pintu, orang-orang yang berdiri di sana tanpa sadar memberi jalan.

Di dalam ruang makan penginapan, Boqin Changing tetap duduk. Wu Xing mengambil cangkir tehnya lagi lalu meminumnya perlahan. Boqin Changing sendiri tidak ikut bergerak. Ia hanya memandang ke luar dari tempat duduknya.

Beberapa saat kemudian, keributan itu makin jelas terdengar. Orang-orang di jalan tampak membentuk lingkaran besar. Sebagian berdiri di pinggir jalan. Sebagian lagi menonton dari balkon bangunan sekitar.

Dari kejauhan terlihat dua kelompok besar sedang saling berhadapan. Masing-masing mengenakan pakaian dengan corak berbeda.

Satu kelompok mengenakan jubah putih dengan pola bunga teratai di dada. Itu adalah Kelompok Istana Teratai Putih.

Sedangkan kelompok lain mengenakan pakaian putih kebiruan dengan lambang sembilan mata air di punggung mereka. Itu adalah Sekte Sembilan Mata Air.

Melihat itu, beberapa orang di sekitar justru terlihat heran. Karena ini agak aneh. Kelompok Istana Teratai Putih terkenal sebagai kelompok aliran netral. Sementara Sekte Sembilan Mata Air dikenal sebagai kelompok aliran putih yang cukup berpengaruh di wilayah ini.

Secara umum, hubungan kelompok netral dan aliran putih biasanya cukup baik. Jadi melihat keduanya bersitegang seperti ini jelas mengejutkan.

Orang-orang mulai berbisik.

“Apa yang terjadi?”

“Bukannya mereka tidak punya masalah?”

“Kenapa sampai membawa orang sebanyak itu?”

Long Aotian berdiri di sisi luar dan ikut memperhatikan. Tidak lama kemudian, suara perdebatan kedua pihak mulai terdengar lebih jelas.

Seorang pria tua berjubah putih dengan rambut panjang berdiri di depan kelompok Istana Teratai Putih. Wajahnya memerah. Ia mendengus dingin.

“Kalian datang pagi-pagi membawa orang dan menuduh kami?”

Di sisi lain, seorang pria setengah baya dari Sekte Sembilan Mata Air maju selangkah. Tatapannya dingin.

“Menuduh?”

Ia tertawa dingin.

“Semalam kau mabuk arak lalu menghajar murid-murid kami di kedai!”

Kerumunan mulai heboh.

Pria itu melanjutkan.

“Salah satu murid kami terluka parah! Sekarang kalian ingin bilang itu tidak terjadi?”

Tetua Istana Teratai Putih itu langsung membalas.

“Jangan membalik fakta!”

Ia menunjuk ke arah mereka.

“Murid kalian yang lebih dulu membuat masalah! Kalau mereka tidak memprovokasiku, aku tidak akan bergerak?”

Orang-orang mulai saling memandang. Jadi ini penyebabnya. Ternyata masalahnya bukan perebutan wilayah atau pusaka.

Semalam ada keributan di kedai arak. Salah satu tetua Istana Teratai Putih mabuk lalu menyerang murid-murid Sekte Sembilan Mata Air. Hasilnya cukup parah sampai pagi ini orang-orang Sekte Sembilan Mata Air datang menuntut pertanggungjawaban.

Namun pihak Istana Teratai Putih tidak mau mengaku salah dan justru menuduh pihak lawan memulai masalah. Perdebatan makin panas.

“Kalian harus membayar mahal untuk itu!”

“Mustahil!”

“Kalian melindungi orang yang menyerang generasi muda!”

“Kalian pikir murid kalian suci?!”

Suasana mulai berubah. Beberapa orang dari kedua kelompok itu mulai melepaskan sarung senjata.

Srrtt…

Pedang keluar sedikit.

Srrt…

Pedang lain ikut terangkat.

Tensi mulai naik. Orang-orang yang menonton langsung mundur.

Situasi seperti ini bukan hal aneh di dunia pendekar. Meskipun bukan kelompok aliran hitam, perselisihan antara kelompok aliran putih dan netral tetap bisa terjadi. Kadang karena murid, kadang karena wilayah, namun kadang juga hanya karena harga diri.

Sekarang, keduanya sudah hampir mencapai titik tidak bisa kembali. Seseorang dari Sekte Sembilan Mata Air mengangkat pedangnya. Orang dari Istana Teratai Putih juga ikut menarik senjata.

Udara menjadi tegang. Lalu sesuatu terjadi.

Krekk…

Pintu penginapan terbuka. Semua orang tanpa sadar menoleh.

Seorang pria keluar dengan langkah tenang. Wajahnya terlihat seperti pria awal empat puluhan dengan pakaiannya sederhana.

Long Aotian berdiri di depan pintu penginapan. Ia memandang dua kelompok itu sebentar. Dengan nada datar ia berkata,

“…Tuan Besarku sedang makan...”

Ia berhenti sesaat.

“Bisakah kalian tenang?”

Begitu kata-kata itu jatuh, suasana justru menjadi semakin aneh. Orang-orang yang menonton dari kejauhan saling memandang. Lalu beberapa mulai menunjukkan ekspresi tidak percaya.

“…apa?”

“Dia serius?”

“Pertarungan hampir pecah dan dia menyuruh mereka tenang?”

“Orang ini gila?”

Beberapa penduduk bahkan mulai mundur lagi. Karena menurut mereka ini terlalu nekat.

Di depan sana ada dua kelompok besar. Dalam situasi seperti ini, orang normal pasti memilih menghindar. Tapi pria itu justru keluar dan meminta mereka berhenti. Beberapa orang bahkan sudah membayangkan pria itu akan dimarahi atau langsung dipukul.

Namun, tidak ada yang terjadi. Long Aotian tetap berdiri di sana. Lalu perlahan, ia tersenyum.

Senyumnya sederhana, tidak mengejek dan tidak meremehkan. Bahkan terlihat cukup ramah.

Kalau dilihat dari sudut para penduduk Kota Shui, pria itu terlihat seperti seseorang yang sedang mencoba menengahi masalah.

Namun bagi orang-orang dari Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air itu berbeda. Begitu senyum itu muncul, tubuh beberapa pendekar langsung membeku.

Mereka tidak tahu kenapa. Tidak ada aura besar, tidak ada tekanan yang meledak, tidak ada energi yang terlihat, namun entah kenapa, mereka merasa seperti sedang ditatap sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada mereka. Seolah seekor naga sedang berdiri di depan sekumpulan kelinci.

Jantung mereka mulai berdetak tidak normal. Tangan yang memegang senjata mulai bergetar.

Srrt…

Seorang murid Sekte Sembilan Mata Air tanpa sadar melepaskan pedangnya.

Clang.

Pedang jatuh ke tanah.

Lalu satu orang lagi.

Clang.

Lalu satu lagi.

Clang.

Dalam beberapa napas, senjata mulai berjatuhan. Para pendekar dari kedua kelompok mulai gemetar.

Mata mereka membesar. Keringat dingin muncul. Firasat mereka memburuk.

Mereka tahu satu hal, pria ini jelas sangat kuat. Sampai-sampai naluri tubuh mereka langsung menyerah sebelum bertarung.

Seorang murid Sekte Sembilan Mata Air yang berdiri di belakang tanpa sadar menoleh ke tetuanya. Wajahnya langsung berubah.

Ia melihat tetua mereka, seorang pendekar suci, tangannya juga sedang gemetar. Kening tetua mereka itu dipenuhi keringat dan pupil matanya menyusut.

Murid itu langsung membeku. Bahkan tetua? Bahkan seorang pendekar suci tertekan?

Tetua Sekte Sembilan Mata Air menatap Long Aotian. Tenggorokannya terasa kering. Ia tidak tahu siapa pria ini. Namun pengalaman puluhan tahunnya terus berteriak. Jangan bergerak, jangan menyinggung, dan jangan melawan.

Sementara di sisi lain Tetua Istana Teratai Putih yang semalam masih berani menghajar orang setelah mabuk, sekarang bahkan tidak berani mengangkat kepala. Tangannya gemetar hebat dengan mulutnya terbuka sedikit.

Namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin bicara, ingin meminta maaf, ingin menjelaskan. Tapi tenggorokannya seperti terkunci.

Lalu…

Bruk.

Seseorang berlutut.

Kemudian…

Bruk.

Satu lagi.

Bruk.

Bruk.

Tidak lama seluruh pendekar dari dua kelompok mulai berlutut. Wajah mereka dipenuhi keringat. Tubuh mereka gemetar. Tidak ada yang berani bicara.

Mereka hanya menatap Long Aotian. Pria itu masih tersenyum. Masih terlihat ramah. Namun sekarang, senyum itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.

Sementara para penduduk Kota Shui benar-benar kebingungan. Mereka saling memandang.

“…apa yang terjadi?”

“Kenapa mereka berlutut?”

“Bukannya tadi mau bertarung?”

“Apa pria itu memakai teknik rahasia?”

Mereka tidak mengerti. Dari sudut pandang mereka, pria itu hanya berdiri dan tersenyum. Lalu semua pendekar mendadak seperti melihat hantu.

Di saat suasana masih membeku,

Krekk.

Pintu penginapan kembali terbuka. Langkah kaki pelan terdengar.

Boqin Changing nampak keluar. Ia berjalan dengan tenang. Tatapannya pertama kali jatuh pada Long Aotian. Lalu bergeser ke dua kelompok yang sedang berlutut.

Boqin Changing diam beberapa saat. Kemudian memandang Long Aotian lagi dan berkata dengan nada tenang.

“…bukannya kau tadi hanya ijin melihat?”

1
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪✅
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀
Mahayabank
💪💪💪👍👍✅✅
Mahayabank
Makasih upnya 👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
Rinaldi Sigar
lnjut
Baim Putra Kirana
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Raju
hadeeeeech.....
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍
Nanik S
Baru kejutan si Tuan muda menyerah 👍👍👍
Nanik S
Wkwkwkwkwk Tuan besar kalah sama Boqin Feng...🤣🤣🤣🤣
yayat
diracunin ayahnya untuk mancing n dpt ijin dr ibunya boqin ga berkutik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe ayoooo mancing mania 👍🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hiburan 🌽🔥
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Wu Xing tepat untuk tetap diSekte, karena dia Ketua Sekte yang ikut Boqin Changing ke Kaisaran Qin. selain menjaga Sekte bisa juga melatih orang diSekte.
Zainal Arifin
libur ???
Joedhi Ghenitz
sangat bagus, keren
Akhmad Baihaki
🤭🤭🤭🤭🤭
Blue Manusia Biasa
kacian Wu Xing🤣🤣
Nurhasnah Yolanda
mana kelanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!