Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Berburu
Seperti kebiasaannya setiap hari, Riu Han berjalan menuju hutan yang terletak di belakang kediaman keluarganya. Selama ini, wilayah itu dianggap sebagai tempat yang aman dan sering digunakan oleh anak-anak muda dari klan sekitar untuk berlatih serta menguji kemampuan mereka. Isinya hanya berupa binatang buas biasa yang kekuatannya tidak berbahaya bagi seorang kultivator tingkat pemula sekalipun.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik hutan yang sudah dikenal itu, terbentanglah wilayah yang jauh lebih luas, lebat, dan penuh misteri. Itulah Hutan Roh, tempat tinggal berbagai jenis binatang roh yang memiliki kekuatan dan kecerdasan jauh melampaui makhluk biasa.
Di dunia ini, binatang roh diklasifikasikan menjadi sembilan tingkat kekuatan. Semakin tinggi tingkatnya, semakin besar pula kekuatan, kecepatan, dan kebijaksanaannya. Setiap tingkat setara dengan tingkatan yang dimiliki oleh para kultivator manusia:
- Tingkat 1 \= setara dengan Kultivator Tingkat Pemula
- Tingkat 2 \= setara dengan Tingkat Prajurit
- Tingkat 3 \= setara dengan Tingkat Perwira
- Tingkat 4 \= setara dengan Tingkat Jenderal
- Tingkat 5 \= setara dengan Tingkat Panglima
- Tingkat 6 \= setara dengan Tingkat Raja
- Tingkat 7 \= setara dengan Tingkat Kaisar
- Tingkat 8 \= setara dengan Tingkat Inti Jiwa
- Tingkat 9 \= setara dengan Tingkat Setengah Dewa
Hari ini, Riu Han memutuskan untuk melangkah lebih jauh dari biasanya dan masuk ke dalam wilayah Hutan Roh. Ia ingin menguji seberapa jauh kemampuannya berkembang setelah menguasai Teknik Gerakan Bayangan dan memperkuat fondasi tubuhnya. Di ujung paling dalam hutan ini terbentang lautan yang sangat luas, dan Kota Jiang tempat ia tinggal ini menjadi batas paling ujung wilayah berpenghuni di benua itu.
Benua tempat mereka berada terbagi menjadi tiga kerajaan besar yang saling berdampingan dan menjaga keseimbangan kekuasaan: Kerajaan Li, Kerajaan Song, dan Kerajaan Jiang. Wilayah tempat tinggal Riu Han berada di bawah kekuasaan Kerajaan Song. Penguasa kerajaan ini, Raja Song, adalah seorang kultivator yang telah mencapai Tingkat Inti Jiwa—salah satu dari sedikit orang yang memiliki kekuatan paling menakutkan dan dihormati di seluruh penjuru benua.
Setelah melewati batas hutan biasa, pemandangan di hadapan Riu Han langsung berubah drastis. Pepohonan di sini tumbuh menjulang sangat tinggi, dengan batang yang tebal dan ranting yang saling menjalin rapat, menutupi sinar matahari hingga hanya menyisakan cahaya remang-remang yang masuk melalui celah dedaunan. Udara di sini terasa lebih lembap namun mengandung energi alam yang jauh lebih kental dan murni dibandingkan di luar.
Riu Han langsung memasang kewaspadaan tertinggi. Ia mengerahkan seluruh indranya, mendengarkan setiap suara sekecil apa pun dan merasakan setiap perubahan aliran energi di sekelilingnya. Meskipun ia sudah memiliki dasar yang kuat, ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi binatang roh, sehingga ia tidak berani bertindak sembarangan.
Langkah kakinya ringan dan tenang, menerapkan apa yang telah dipelajari dari Teknik Gerakan Bayangan agar tidak menimbulkan suara keras atau getaran yang bisa menarik perhatian makhluk buas di sekitarnya. Ia terus berjalan perlahan, menembus semak belukar yang lebat, hingga tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggelegar dari arah depan.
“Kuuuuaaak… Grrrrrrr… Duuuuaaar!”
Suara itu disertai dengan benturan keras yang membuat tanah di sekitarnya sedikit berguncang. Riu Han segera menghentikan langkahnya, lalu dengan gerakan cepat dan lincah ia bersembunyi di balik batang pohon besar, mengintip dari balik dedaunan yang rimbun.
Di ruang terbuka tidak jauh dari tempatnya bersembunyi, terlihat pemandangan yang menarik perhatiannya. Di tengah lapangan yang penuh bekas cakaran dan tumbukan, terlibatlah pertarungan sengit antara dua makhluk berukuran besar. Salah satunya adalah seekor kadal raksasa yang tubuhnya sebesar lembu, dengan kulit tebal berwarna abu-abu kehijauan dan cakar tajam yang memancarkan kilatan samar. Sedangkan lawannya adalah seekor babi hutan raksasa bertaring, yang tubuhnya dipenuhi bulu kasar dan memiliki sepasang taring melengkung panjang yang tampak sangat tajam dan berbahaya.
Riu Han mengerahkan indranya untuk menilai kekuatan kedua makhluk itu, lalu mengangguk pelan dalam hati.
“Ternyata mereka berdua adalah Binatang Roh Tingkat Dua, setara dengan kekuatan seorang kultivator tingkat Prajurit,” gumamnya perlahan.
Pertarungan itu sudah berlangsung cukup lama. Tubuh kadal raksasa itu terlihat ada goresan luka yang mengeluarkan cairan kehijauan, sedangkan tubuh babi bertaring itu juga dipenuhi luka cakaran, dengan salah satu kakinya terlihat sedikit pincang. Keduanya sama-sama terluka dan kehabisan tenaga, namun tetap saling berhadapan dengan penuh kewaspadaan.
Berbeda dengan binatang buas biasa yang hanya mengandalkan insting dan kekuatan fisik semata, binatang roh memiliki kecerdasan yang setara dengan anak manusia atau bahkan lebih tinggi. Mereka juga mampu menyerap energi alam untuk memperkuat diri, sama seperti para kultivator. Karena itu, begitu kehadiran Riu Han terdeteksi oleh mereka, pertarungan di antara keduanya langsung melambat. Mereka berhenti menyerang sejenak, matanya yang tajam berputar mengamati sekeliling dengan hati-hati.
Mereka tahu, kehadiran makhluk cerdas lain di tengah pertarungan mereka bisa menjadi ancaman baru yang lebih berbahaya.
Riu Han tetap diam di tempatnya, menjaga jarak sekitar sepuluh meter dari kedua binatang itu. Namun, keberadaannya sudah terdeteksi sepenuhnya. Kedua makhluk itu menoleh serentak ke arah persembunyiannya, mengeluarkan suara geraman yang menggelegar seolah memperingatkan agar ia segera menjauh dan tidak ikut campur.
“Woooaaarrrrr!”
Suara itu memecah keheningan hutan, namun Riu Han tetap berdiri tegak dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia hanya menatap mereka dengan pandangan tenang, seolah tidak menganggap kedua makhluk itu sebagai ancaman besar.
Melihat sikap Riu Han yang tidak mau pergi, rasa curiga dan amarah pun muncul di hati kedua binatang roh itu. Bagi mereka, perselisihan satu sama lain bisa ditunda kapan saja, namun kehadiran manusia adalah hal yang lebih dibenci dan diwaspadai. Selama ribuan tahun, hubungan antara manusia dan binatang roh selalu diwarnai persaingan dan permusuhan, karena manusia sering kali masuk ke wilayah ini untuk memburu mereka guna mengambil inti energi, kulit, atau bagian tubuh lainnya yang sangat berharga untuk keperluan kultivasi dan pembuatan ramuan.
Tanpa peringatan lagi, kedua binatang roh itu memutuskan untuk menyerang bersama-sama, mengesampingkan perselisihan mereka untuk sementara waktu demi mengusir ancaman yang datang.
Kadal raksasa itu melompat maju dengan kecepatan yang mengejutkan, mengayunkan cakarnya yang besar dan tajam ke arah Riu Han, sementara babi bertaring itu menundukkan kepalanya, lalu melesat bagaikan peluru yang meluncur ke depan dengan taringnya yang mengarah langsung ke dada Riu Han.
“Hiat!”
Riu Han mengerahkan seluruh energi yang ada di dalam dantiannya, langsung mengaktifkan Teknik Gerakan Bayangan. Tubuhnya seolah menjadi ringan bagaikan daun yang terbawa angin. Dalam sekejap, sosoknya terlihat kabur dan berubah menjadi bayangan samar yang melayang ke samping, menghindari serangan cakar kadal raksasa itu dengan jarak yang sangat dekat namun aman.
Begitu ia mendarat kembali di tanah, ia tidak membuang kesempatan. Ia mengumpulkan energi di kepalan tangannya, lalu melontarkan satu pukulan yang dikendalikan dengan tepat sesuai teknik Pukulan Seribu Bayangan. Meskipun hanya satu pukulan, namun tenaga yang terkandung di dalamnya terpusat dan padat.
“Buk! Duuuuaaar!”
Pukulan itu menghantam sisi tubuh kadal raksasa yang kulitnya sudah agak lemah karena luka sebelumnya. Suara benturan yang keras terdengar, dan tubuh kadal raksasa itu terhuyung mundur, lalu terjatuh tersungkur ke tanah sambil mengerang kesakitan.
Namun, ia tidak sempat merasakan lega. Di saat yang sama, babi bertaring itu sudah melesat mendekat dengan kecepatan tinggi, menciptakan hembusan angin yang kencang di sekitarnya. Riu Han segera melompat mundur dengan cepat, mengerahkan seluruh kelincahannya agar tidak tertusuk oleh taring tajam itu.
“Buk! Buk!”
Kakinya menginjak tanah dengan kuat, mendorong tubuhnya menjauh beberapa meter tepat saat taring babi itu melesat melewati tempat ia berdiri tadi, menghantam sebatang pohon besar hingga terguncang hebat dan daun-daunnya berjatuhan.
Riu Han terus bergerak tanpa henti, menghindari serangan demi serangan yang datang secara bergantian dari kedua makhluk itu. Meskipun keduanya memiliki kekuatan setara dengan tingkat Prajurit, namun karena tubuh Riu Han sudah ditempa oleh Sumber Air Inti Bumi dan energinya jauh lebih padat dibandingkan kultivator biasa, ia mampu menahan tekanan serangan mereka dengan baik. Satu-satunya tantangan adalah ukuran tubuh lawannya yang jauh lebih besar dan tenaga fisiknya yang sangat besar, sehingga satu kali terkena serangan saja bisa berakibat fatal.
Sambil terus menghindar, pikiran Riu Han bekerja dengan cepat. Ia harus mencari celah serangan yang tepat, memanfaatkan kondisi kedua binatang itu yang sudah terluka dan kehabisan tenaga. Ia terus berputar mengelilingi mereka, memancing mereka untuk mengeluarkan tenaga lebih banyak, sambil mengamati gerak-gerik mereka dengan cermat.
“Mereka sudah lemah, tapi masih memiliki tenaga yang cukup untuk melukai jika lengah. Aku harus menyerang dengan cepat dan tepat agar pertarungan ini segera berakhir,” pikir Riu Han sambil terus mengatur napas dan aliran energinya.
Ia menunggu saat yang tepat, hingga akhirnya kadal raksasa itu melompat lagi dengan tenaga yang sudah tidak sekuat sebelumnya. Saat tubuhnya melayang di udara dan tidak bisa mengubah arah dengan cepat, Riu Han melihat kesempatan itu.
Dengan gerakan yang secepat kilat, ia melesat mendekat, melewati samping tubuh kadal itu, lalu mengayunkan kedua tangannya sambil menyalurkan energi sepenuhnya. Pukulan itu tidak hanya satu, tetapi berubah menjadi puluhan bayangan pukulan yang menghantam bagian kepala dan leher kadal raksasa itu secara bersamaan.
“Duuuaaar! Buk! Buk!”
Dampak serangan itu membuat kepala kadal itu terguncang hebat, dan ia langsung terjatuh ke tanah dengan mata terpejam rapat, tidak mampu bergerak lagi.
Namun, sebelum Riu Han bisa bernapas lega, bayangan besar kembali melesat dari belakang. Babi bertaring itu melancarkan serangan terakhirnya dengan amarah yang meluap, seolah ingin membalas kematian kawan bertarungnya. Riu Han segera memutar tubuhnya, menumpukan seluruh tenaga di kedua tangannya, dan menyambut serangan itu dengan menahan tubuhnya dengan posisi yang kokoh.
“Haaah!”
“Duuuaaar!”
Tubuh Riu Han tergeser mundur beberapa meter karena tenaga dorongan yang sangat besar, namun ia berhasil menahannya. Di saat babi itu sedang dalam posisi mendorong dan tidak bisa menarik mundur dengan cepat, Riu Han melancarkan serangan balik yang paling kuat yang bisa ia keluarkan saat ini.
Ia melompat ke atas punggung babi bertaring itu, lalu mengarahkan satu pukulan terpusat tepat ke bagian tengkuk yang merupakan titik paling lemah dari makhluk itu.
“BUKKKK!”
Suara benturan itu terdengar keras, disertai dengan suara tulang yang bergetar. Gerakan babi itu langsung melambat, matanya membesar seolah terkejut, lalu kakinya perlahan tertekuk dan akhirnya terjatuh ke tanah dengan tubuh yang lemas seketika.
Keheningan kembali menyelimuti hutan itu. Hanya terdengar suara napas berat Riu Han yang berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia berdiri tegak di antara dua tubuh binatang roh itu, merasakan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.
“Ternyata bertarung melawan binatang roh tingkat dua tidak semudah yang aku bayangkan. Jika mereka tidak sudah terluka duluan, mungkin aku harus mengeluarkan lebih banyak tenaga lagi,” pikirnya sambil mengusap keringat di dahinya.
Setelah memastikan kedua makhluk itu sudah tidak bernyawa lagi, Riu Han melangkah mendekat. Ia mengingat penjelasan dari Long Siu sebelumnya—setiap binatang roh memiliki Inti Roh yang terletak di dalam kepalanya. Inti ini berbentuk butiran kecil yang mengandung energi murni, sangat berharga untuk membantu mempercepat proses kultivasi dan memperkuat tubuh pemakainya.
Dengan hati-hati, ia mengeluarkan pisau pendek yang selalu dibawanya, lalu mengambil inti roh dari kedua binatang itu. Butiran itu berukuran sebesar kacang polong, berwarna putih kemerahan, dan memancarkan cahaya lembut serta energi yang terasa hangat.
Melihat hasil perburuan pertamanya ini, senyum puas terukir di wajah Riu Han. Ia menyimpan kedua inti roh itu dengan hati-hati di dalam kantong penyimpanan kecil yang ia miliki, lalu memandang ke arah bagian hutan yang lebih dalam dan gelap.
“Jika binatang tingkat dua saja sudah sekuat ini, aku penasaran bagaimana rasanya menghadapi binatang roh tingkat tiga dan seterusnya. Hari ini baru permulaan, aku harus terus melangkah maju dan menjadi lebih kuat lagi,” tekadnya dalam hati.
Setelah memulihkan tenaganya sebentar, Riu Han melanjutkan perjalanannya lebih jauh ke dalam Hutan Roh, siap menghadapi tantangan yang lebih besar dan menguji batas kemampuannya yang sebenarnya.
Lanjut Up Thor 💪💪