Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: DIKUNCI
Hari berganti, dan pagi ini Anaya sudah kembali duduk manis di kelasnya. Di sampingnya, Arin menatap sang sahabat dengan gurat kecemasan yang belum sepenuhnya hilang.
“Cil, lo udah oke?” tanya Arin, memastikan kondisi teman kecilnya itu.
“I’m okay, Arin!” jawab Anaya lucu seraya memamerkan ibu jari dan telunjuknya yang membentuk huruf O di udara.
“Syukurlah. Gue khawatir banget pas denger lo pingsan kemarin,” terang Arin menghela napas lega. Ia kemudian sedikit memajukan tubuhnya, menatap Anaya dengan binar menggoda.
“Untung ada Devan yang langsung bawa lo ke UKS. Kata anak-anak yang liat, muka si Ketua OSIS dingin itu panik banget tahu!”
Anaya hanya bisa mengerjapkan sepasang mata bulat jernihnya, mendengarkan cerita Arin dengan jantung yang tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat.
“Cieee... digendong Ketos ganteng!” goda Arin lagi, sukses membuat semburat merah muda kembali menjalar di pipi Anaya.
“Arinnn, pipi Naya panas lagi, huhu...” rengeknya polos, menangkup kedua pipinya sendiri.
Arin yang tidak tahan melihat kegemasan di depannya langsung terkekeh dan mencubit gemas pipi Anaya yang berisi.
“Arin awas ih tangannya! Suka banget cubit-cubit pipi Naya, mirip Abang Uta huhh! Naya nggak like Arin banyak-banyak,” rajuk Anaya sembari memalingkan wajah, mengerucutkan bibirnya sebal.
Melihat si bungsu kelas itu mulai merajuk, Arin seketika kelimpungan sendiri. “Yah, Cil, jangan gitu dong... Jangan ngambek, ya? Ya? Ya?” bujuk Arin bertubi-tubi.
“Nanti istirahat Arin belikan susu stroberi kesukaan lo, deh. Gimana? Deal?”
Mendengar kata 'susu stroberi', pertahanan Anaya langsung runtuh. Ia menoleh perlahan.
“Promise?” ucap Naya dengan mengacungkan jari kelingking mungilnya, meminta kepastian.
“Iya, promise,” balas Arin tulus, menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Anaya.
“Yeayyy! Strawberry milk, Naya coming!”
serunya riang tanpa sadar volume suaranya agak meninggi. Beberapa teman sekelas yang melihat tingkah polos dan menggemaskan Anaya itu spontan menahan senyum.
Bagi mereka, kehadiran Anaya di kelas selalu menjadi hiburan tersendiri karena sifatnya yang kekanak-kanakan namun lucu.
***
Beberapa menit sebelum bel istirahat berbunyi, Anaya mulai merasa tidak tenang di bangkunya. Kakinya bergerak-gerak gelisah karena desakan ingin buang air kecil yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Dengan ragu, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arah guru bahasa yang sedang mengajar di depan kelas.
“Ibu Guru, Naya mau izin ke toilet,” ucapnya dengan suara cicitan khasnya sambil sedikit meringis menahan mulas di perut bawahnya.
Guru wanita yang mengajar di depan kelas hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan muridnya itu.
“Baiklah, silakan Anaya. Jangan lama-lama, ya.”
“Terima kasih, Ibu Guru!” ucap Naya riang.
Gadis mungil itu segera bangkit dan berlari kecil meninggalkan ruang kelas, memicu tawa renyah dari teman-temannya yang gemas melihat langkah terburu-buru Anaya. Namun, di balik koridor yang mulai sepi karena jam pelajaran belum sepenuhnya usai, sepasang mata sudah mengintai pergerakannya dari kejauhan.
Clara yang tidak sengaja melihat anaya dari kejauhan, langsung tersenyum puas saat melihat Anaya keluar dari kelas sendirian tanpa ada yang menemani.
Tanpa membuang waktu, ia segera melangkahkan kakinya lebar-lebar, membuntuti ke mana pun gadis mungil itu pergi.
Begitu melihat Anaya masuk ke dalam salah satu bilik toilet, sebuah senyuman miring yang sarat akan kelicikan tercetak jelas di bibir Clara.
Dari dalam bilik, terdengar suara helaan napas lega Anaya yang baru saja menuntaskan hajatnya.
“Hahhhh... akhirnya pipis juga. Untung Naya nggak pipis di kelas,” celotehnya polos seorang diri.
Clara yang berdiri di luar segera melangkah mendekat ke depan pintu bilik yang digunakan Anaya.
Dengan gerakan cepat dan tanpa suara, ia mengambil sebuah gagang pel yang bersandar di dinding, lalu mengganjal kuat-kuat handle pintu dari luar agar tidak bisa dibuka.
Tidak berhenti sampai di situ, Clara juga mengunci pintu utama toilet tersebut.
Anaya yang berniat untuk keluar mendadak dibuat bingung karena pintu di depannya terasa sangat keras dan sulit digerakkan.
Krek! Krek! Krek!
Suara ketukan dan tarikan daun pintu terdengar berisik saat Anaya mencoba memaksa pintu itu terbuka.
“Ish, pintunya macet! Mana Naya nggak bawa ponsel lagi,” gerutu Anaya kesal di dalam bilik.
Di luar, Clara merasa berada di atas angin karena tahu Anaya tidak akan bisa menghubungi siapa pun untuk meminta bantuan.
“Mampus! Siapa suruh lo berani deket-deket sama Devan,” desis Clara pelan. Rasa benci yang sudah memuncak membuatnya nekat mengambil ember berisi air keruh bekas pel, lalu tanpa belas kasihan menyiramkannya dari celah atas bilik toilet.
Byurrrr!
“Aaaa!”
Anaya menjerit kaget saat air dingin nan kotor itu mengguyur habis seluruh tubuhnya hingga basah kuyup dari kepala hingga kaki.
“Hahahahaha! Rasain lo, jalang! Mampus aja lo di sini!” seru Clara puas, tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan orang lain.
“Siapa di sana?! Tolong... Naya nggak bisa buka pintunya, hiks... hiks...” Suara tangis Anaya mulai pecah, bergetar hebat karena rasa takut dan dingin yang mulai menyerang.
“Dasar cewek bodoh! Mana mau gue nolongin lo, sialan!” sahut Clara ketus.
Mendengar nada suara yang sangat familier itu, Anaya seketika tersadar bahwa dirinya sedang dirundung dengan sengaja.
“Kenapa Clara jahat banget sama Naya, hiks...?” tanya Anaya di sela isak tangisnya yang kian pilu.
“Karena lo, keluarga gue hancur, bitch! Dan karena lo juga udah berani rebut Devan dari gue!” teriak Clara murka, meluapkan seluruh dendamnya tepat di depan pintu bilik.
Setelah melampiaskan emosinya, Clara berbalik dan melangkah pergi dengan angkuh. Ia meninggalkan Anaya yang menangis sendirian dalam keadaan basah kuyup, terkunci di dalam toilet belakang gedung yang memang hanya di gunakan oleh staf sekolah.
Sementara itu, bel istirahat sudah berbunyi dari lima belas menit yang lalu. namun Anaya belum juga kembali ke kelas.
Arin yang sengaja duduk menunggu di bangkunya mulai dirayapi rasa panik yang tidak menentu.
“Duh, ini bocil pipis apa BAB, sih? Lama bener!” gerutu Arin cemas sembari sesekali melirik jam dinding.
“Ehh, apa mungkin dia langsung ke kantin ya sama abangnya? Coba gue susulin dulu deh.”
Arin bergegas bangkit dan berjalan setengah berlari menuju kantin dengan langkah terburu-buru.
Namun sesampainya di kantin yang padat, ia tidak mendapati keberadaan abang Anaya—Arka dan Bintang ternyata belum kembali karena masih ada pertemuan mendadak dengan klub basket.
Netra Arin kemudian menangkap rombongan Devan yang sedang berkumpul di meja pojok. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menghampiri mereka.
“Ehh, kalian ada yang liat Naya nggak?” tanya Arin dengan napas memburu dan gurat panik yang tercetak jelas di wajahnya, menginterupsi meja rombongan Devan.
Mendengar nama Anaya disebut dengan nada sepanik itu, Devan yang tadinya sedang menyesap minumannya mendadak berhenti. Sepasang mata elangnya langsung terkunci rapat pada raut wajah Arin, menunggu penjelasan dengan detak jantung yang tiba-tiba berdesir tidak tenang.
...****************...
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 32..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
s polos yg brubah jd bar2....tp lbh suka alice sih....dia berani dn tegas,mskpn anaya jg mnggemaskn kl lg mode polos....
mungkin gk kalau naya itu diluar polos tapi didalam di psikopat
cwek lugu trnyta pnya sisi lain yg brbhya...ayo bls tu cwek gila,bkin dia kapok sklian....
siapa ya musuh dari keluarga anaya