Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Update setiap hari ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Pelukan Pertama
Jenna keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang sudah rapi.
Ia mengenakan baju tidur longgar berwarna putih lembut, dengan jilbab rumah yang menutupi rambutnya. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi ada rona samar yang belum sepenuhnya hilang dari pipinya.
Percakapan dengan Shaka tadi masih berputar di kepalanya.
Saya cemburu.
Kalimat itu sederhana, tetapi berhasil membuat hati Jenna berantakan. Kesalnya memang belum hilang sepenuhnya, namun pengakuan itu membuat dadanya terasa hangat dengan cara yang sulit ia jelaskan.
Shaka cemburu.
Shaka merasa terganggu karena Sagara.
Shaka akhirnya jujur.
Dan bagi Jenna, itu adalah langkah yang sangat besar.
Ia berjalan menuju ranjang, lalu merebahkan tubuh di sisi kanan. Hari itu benar-benar panjang. Sejak pagi mereka pergi ke panti, lalu menghadapi anak-anak yang sangat antusias, pulang dalam suasana canggung, kemudian berhadapan dengan pengakuan Shaka yang membuat hatinya kacau.
Tubuhnya lelah.
Pikirannya juga.
Jenna menarik selimut sampai dada, lalu mulai memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian, Shaka naik ke ranjang.
Biasanya, ia akan tetap menjaga jarak di sisi kiri. Namun malam itu, setelah pengakuan cemburunya, ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Bukan menjadi lancang. Bukan pula merasa berhak memaksa. Hanya saja, ia mulai lebih berani mendekati Jenna.
Pelan-pelan.
Dengan hati-hati.
Shaka merebahkan tubuhnya, lalu sedikit mendekat ke arah Jenna.
Jenna masih memejamkan mata, tetapi ia sadar Shaka bergerak lebih dekat dari biasanya. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.
“Jenna,” panggil Shaka pelan.
Jenna membuka mata sedikit.
“Iya, Mas?”
Suara Shaka terdengar rendah di dekatnya. “Kalau sedang berdua dengan saya di kamar…”
Jenna menunggu.
Shaka sempat diam, seolah menimbang kata-katanya agar tidak terdengar memaksa.
“Kamu tidak perlu memakai jilbab.”
Jenna langsung membuka mata sepenuhnya.
Ia menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Jarak wajah mereka tidak terlalu jauh. Cukup dekat untuk membuat napas Jenna tertahan. Cukup dekat untuk membuat Shaka sadar bahwa mata istrinya kembali terlihat gugup.
“Kamu istri saya,” lanjut Shaka pelan. “Tapi kalau kamu belum nyaman, tidak apa-apa. Saya hanya ingin kamu tahu, kamu tidak perlu selalu menjaga jarak sejauh itu saat hanya ada kita berdua.”
Jenna terdiam.
Ucapan itu membuat hatinya kembali bergetar.
Bukan karena perintahnya.
Melainkan karena Shaka mengucapkannya dengan suara yang berbeda. Tidak dingin. Tidak menuntut. Ada kehati-hatian di sana, seolah ia takut salah bicara dan membuat Jenna kembali menjauh.
Jenna menunduk sedikit.
Ia memang masih gugup.
Namun malam ini, setelah Shaka jujur, setelah ia meminta maaf, setelah ia berani mengakui rasa cemburunya, Jenna merasa ingin mencoba percaya sedikit lagi.
Pelan-pelan, tangannya bergerak ke arah jilbabnya.
Shaka menatapnya tanpa berkedip.
Jenna melepas jilbab rumahnya perlahan, lalu meletakkannya di meja kecil samping ranjang. Rambut hitamnya jatuh lembut melewati bahu, sedikit bergelombang alami. Wajahnya tampak semakin lembut dalam cahaya lampu tidur yang redup.
Shaka terdiam.
Sekali lagi, ia dibuat terpaku.
Jenna menunduk karena malu.
“Mas jangan melihat seperti itu.”
Shaka tidak langsung menjawab.
Matanya masih menatap wajah Jenna, lalu turun sebentar pada rambutnya yang terurai, sebelum kembali ke matanya.
“Kamu cantik.”
Wajah Jenna langsung memanas.
“Mas Shaka…”
“Saya hanya jujur.”
“Jenna jadi malu.”
“Tidak perlu malu.”
“Tentu saja malu,” gumam Jenna pelan, lalu segera memejamkan mata lagi, seolah itu bisa menyembunyikan gugupnya.
Shaka menatapnya dengan dada yang terasa penuh.
Jenna yang biasanya berusaha tenang kini terlihat begitu mudah tersipu. Ada rasa lembut yang tumbuh di hati Shaka saat melihatnya. Rasa ingin menjaga. Rasa ingin mendekat. Rasa ingin memastikan Jenna tidak lagi merasa sendirian dalam pernikahan mereka.
Pelan-pelan, Shaka mengangkat tangannya.
Ia berhenti sebentar, menunggu.
“Jenna,” bisiknya.
“Hm?”
“Boleh saya memelukmu?”
Mata Jenna terbuka sedikit.
Pertanyaan itu membuat seluruh tubuhnya menegang.
Memeluk.
Mereka sudah tidur satu ranjang. Shaka pernah mengecup keningnya. Namun pelukan tetap terasa seperti langkah yang lebih dekat, lebih hangat, dan lebih sulit diabaikan.
Jenna diam cukup lama.
Shaka tidak bergerak. Ia menunggu.
Jika Jenna menolak, ia akan berhenti.
Jika Jenna tidak nyaman, ia akan menjauh.
Namun setelah beberapa detik, Jenna menunduk kecil dan menjawab dengan suara hampir tidak terdengar.
“Boleh.”
Satu kata itu membuat napas Shaka tertahan sebentar.
Lalu, dengan gerakan sangat pelan, ia melingkarkan lengannya di pinggang Jenna.
Tubuh Jenna langsung menegang.
Pipinya terasa panas. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Shaka di belakangnya, napas laki-laki itu yang pelan di dekat telinganya, dan lengan kuat yang kini memeluknya dengan hati-hati.
Shaka tidak menariknya kasar.
Tidak mendekapnya terlalu erat.
Ia hanya memeluknya cukup dekat, seolah meminta izin pada setiap detik yang berlalu.
“Kalau kamu tidak nyaman, bilang,” bisik Shaka.
Jenna menggenggam ujung selimut.
“Jenna… hanya gugup.”
“Takut?”
Jenna diam sebentar.
Lalu menggeleng pelan.
“Tidak.”
Jawaban itu membuat dada Shaka terasa hangat.
Ia mendekat sedikit, lalu berbisik di dekat telinga Jenna, “Biarkan malam ini saya memelukmu.”
Jenna menahan napas.
Shaka melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Untuk mengobati rasa cemburu saya.”
Kalimat itu membuat wajah Jenna semakin panas.
“Mas Shaka…”
“Apa?”
“Mas sekarang jadi aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Lebih berani.”
Shaka terdiam sebentar.
Lalu ia menjawab pelan, “Mungkin karena saya sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak jujur.”
Jenna tidak tahu harus membalas apa.
Ada bagian dari dirinya yang masih kesal karena Shaka sempat mendiamkannya. Namun dalam pelukan itu, rasa kesal tersebut perlahan kehilangan tajamnya. Bukan hilang sepenuhnya, tetapi melembut.
Shaka menunduk pelan, menyandarkan wajahnya di sisi leher Jenna yang masih tertutup pakaian tidurnya. Ia mengusap-usap kecil wajahnya di sana, seperti seseorang yang terlalu lelah menahan perasaan seharian.
Jenna langsung membeku.
“Mas…”
“Hm?”
“Itu geli.”
Shaka berhenti sebentar.
Lalu, untuk pertama kalinya, Jenna mendengar suara kecil seperti tawa tertahan dari Shaka.
Bukan tawa keras.
Bukan juga senyum dingin.
Tapi tawa sungguhan yang sangat pelan.
Jantung Jenna seolah lupa berdetak.
“Mas Shaka tertawa?”
“Tidak.”
“Iya.”
“Kamu salah dengar.”
Jenna hampir tersenyum, meski masih malu luar biasa.
Shaka kembali menyandarkan wajahnya dengan lebih tenang, tidak lagi mengusik terlalu banyak. Lengannya tetap berada di pinggang Jenna, memeluknya dalam diam.
Lama-kelamaan, tubuh Jenna yang awalnya tegang mulai sedikit rileks.
Ia masih gugup.
Masih salah tingkah.
Namun tidak ingin menjauh.
Di dalam pelukan Shaka, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak menikah: rasa ditemani. Bukan sekadar tinggal di rumah yang sama. Bukan sekadar duduk di meja makan yang sama. Melainkan benar-benar berada dalam ruang yang sama, dengan hati yang pelan-pelan mencoba saling mendekat.
Shaka memejamkan mata.
Wangi lembut Jenna memenuhi indranya. Hangat tubuhnya membuat sesuatu di dada Shaka terasa tenang. Cemburu yang sejak kemarin membakar perlahan surut, digantikan rasa lega yang sulit dijelaskan.
Jenna ada di sini.
Di dekatnya.
Sebagai istrinya.
Bukan milik Sagara. Bukan bayangan masa lalu siapa pun. Bukan sekadar perempuan bercadar yang dulu membuatnya penasaran di kafe.
Jenna adalah istrinya.
Dan malam itu, Shaka ingin belajar menjaganya dengan cara yang benar.
“Jenna,” bisiknya pelan.
“Hm?”
“Maaf karena saya membuatmu lelah menebak.”
Jenna terdiam.
Kali ini ia tidak langsung menjawab.
Namun beberapa saat kemudian, tangannya pelan-pelan menyentuh lengan Shaka yang melingkar di pinggangnya.
Sentuhan itu ringan.
Nyaris ragu.
Tetapi bagi Shaka, itu cukup.
“Jangan ulangi lagi,” ucap Jenna pelan.
“Saya usahakan.”
“Jangan usahakan. Harus.”
Shaka terdiam.
Lalu sudut bibirnya terangkat kecil.
“Baik. Harus.”
Jenna memejamkan mata lagi.
Hatinya masih berdebar, tetapi tubuhnya mulai menyerah pada rasa lelah. Dalam pelukan Shaka, ia merasa hangat. Terlalu hangat sampai kantuk yang sejak tadi tertahan mulai datang perlahan.
Tidak lama kemudian, napas Jenna mulai teratur.
Ia tertidur.
Shaka masih terjaga beberapa saat.
Ia menatap wajah Jenna dari dekat. Wajah itu terlihat damai dalam tidurnya. Rambutnya terurai lembut di bantal. Pipinya masih menyimpan rona samar. Bulu matanya jatuh tenang, membuat Shaka kembali merasa bahwa ia benar-benar diberi sesuatu yang sangat indah dalam hidupnya.
Bukan hanya karena Jenna cantik.
Tetapi karena perempuan itu masih mau memberinya kesempatan.
Setelah ia bersikap dingin.
Setelah ia membuat batas.
Setelah ia cemburu tanpa bicara.
Jenna masih mau belajar percaya.
Shaka mengeratkan pelukannya sedikit, tetap hati-hati agar tidak membangunkannya.
“Terima kasih,” bisiknya sangat pelan.
Jenna tidak menjawab.
Ia sudah tertidur pulas.
Malam semakin dalam. Rumah dua lantai itu tenggelam dalam sunyi. Di luar, taman bunga bergerak pelan tertiup angin. Di dalam kamar, dua hati yang sempat berjalan berjauhan kini tertidur dalam jarak yang lebih dekat.
Shaka memeluk Jenna sepanjang malam.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, ranjang itu tidak lagi terasa seperti tempat yang penuh batas.
Melainkan seperti awal dari rumah yang pelan-pelan menemukan hangatnya.