Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
Waktu terus berlalu tanpa mempedulikan pergolakan hati manusia-manusia di dalamnya. Di sudut kota yang sunyi, Nadia akhirnya resmi mengajukan masa cuti kuliahnya untuk dua semester ke depan. Hari perkiraan lahir semakin dekat, membuat perutnya yang membuncit tua terasa semakin berat untuk dibawa melangkah jauh.
Perubahan besar itu juga mengubah ritme hidup Ubay. Sang preman pangkalan pasar kini tidak lagi betah berlama-lama di luar rumah seperti biasanya. Setelah memastikan kondisi kios-kios di pasar induk berjalan aman, setoran dari anak buahnya yang mengelola kopi keliling lancar, dan memastikan tidak ada preman liar yang berani memalak di wilayah kekuasaannya, Ubay akan langsung menghidupkan RX-King-nya untuk pulang. Ada rasa khawatir yang terus menggedor dadanya, ia takut jika tiba-tiba Nadia mengalami kontraksi di rumah sebatang kara tanpa ada dirinya yang berjaga.
**
Sementara itu, atmosfer yang sama sekali berbeda menyelimuti rumah megah milik keluarga Pramoedya. Di ruang makan bernuansa klasik Eropa dengan lampu gantung kristal yang memantulkan binar mewah, sebuah keheningan yang anggun tapi semu tercipta sejak pagi buta.
Nyonya Sarah duduk di kursi berukir emas, sesekali merapikan tatanan rambut sanggulnya yang tanpa cela. Di dalam hatinya, sebuah ambisi besar sedang membakar. Sudah masuk bulan ketiga sejak pesta pernikahan megah itu digelar, dan Nyonya Sarah sangat berharap ada berita baik dari sang menantu. Menurut hitungannya, jika Larasati adalah wanita yang subur, harusnya di bulan kedua pernikahan pun tanda-tanda kehamilan sudah mulai terlihat.
Di ujung meja, Larasati, wanita cantik lulusan luar negeri itu sedang menikmati sarapan paginya dengan sangat elegan. Di depannya hanya ada mangkuk kaca berisi potongan alpukat segar dan segelas susu almond organik. Larasati memang sangat gila dalam menjaga penampilannya agar tetap ramping dan menawan, standar mutlak wanita kasta atas.
"Laras," panggil Nyonya Sarah lembut, memutus suara lentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk kaca.
"Iya, Ma?" Larasati mendongak, menyunggingkan senyum manis yang sudah terlatih sempurna di depan kamera maupun di depan mertua.
"Hmm..." Nyonya Sarah sempat ragu sesaat. Ia melirik suaminya, Tuan Pramoedya, yang sibuk membolak-balik tablet canggihnya untuk membaca pergerakan bursa saham. Pandangan Nyonya Sarah kemudian beralih pada Axel yang duduk di sebelah Larasati, sedang mengunyah roti isi daging dan keju premium dengan pandangan kosong, ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.
Nyonya Sarah mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, wajahnya dihiasi senyum keibuan yang penuh kepalsuan, wajah yang sangat bertolak belakang dengan raut kejam saat ia mencaci-maki dan mengusir Nadia dari rumah ini sembilan bulan yang lalu.
"Sudah ada tanda-tanda... isi, Nak? Maksud Mama, apa kamu sudah terlambat bulan ini?" tanya Nyonya Sarah dengan nada yang dibuat sehalus mungkin, seolah-olah dia adalah mertua paling perhatian sedunia.
Larasati tidak langsung menjawab. Ia melirik pelan ke arah suaminya, namun Axel yang dilirik terlihat sama sekali cuek. Pria itu justru menatap cangkir kopinya, seolah-olah ampas kopi di dalamnya jauh lebih menarik ketimbang pertanyaan ibunya.
Larasati meletakkan sendok peraknya dengan anggun, lalu menyeka sudut bibirnya menggunakan tisu kain bersulam. "Baru dua bulan lebih, Ma. Lagipula, Laras dan Mas Axel memang sengaja menunda dulu. Klinik kecantikan Laras yang di pusat sedang melakukan ekspansi besar-besaran ke kota sebelah. Jadi untuk tahun-tahun ini, fokus Laras masih penuh ke bisnis itu, Ma. Laras nggak mau kalau program hamil malah mengacaukan jadwal peluncuran cabang baru."
Ucapan Larasati yang begitu lugas tanpa beban seketika membuat senyum di wajah Nyonya Sarah langsung membeku. Sendok teh yang dipegangnya tertahan di udara.
Bagi Larasati, memiliki anak di usia muda atau di tengah puncak kariernya adalah hal yang sangat ia hindari. Diam-diam, ia menganut prinsip hidup modern yang tidak ingin terikat oleh kehadiran anak childfree, demi kebebasan karier dan menjaga bentuk tubuhnya agar tetap sempurna seperti perawan. Di matanya, anak hanyalah urusan nomor sekian yang bisa menanti, atau bahkan ditiadakan.
Sebaliknya, bagi Nyonya Sarah, penundaan ini adalah bencana kecil. Axel sudah berusia tiga puluh tahun, dia anak tunggal dan pewaris tunggal dinasti bisnis Pramoedya. Kalau ditunda-tunda lagi, apa tidak ketuaan? Lebih dari itu, Nyonya Sarah sangat ngebet ingin segera menimang cucu demi mengunci posisi keluarganya. Di lingkaran sosialita mereka, kehadiran seorang anak dari rahim Larasati adalah segel pengikat yang sah agar investasi ratusan miliar dari Pak Dirgantara, ayah Larasati tidak akan pernah ditarik kembali dari perusahaan suaminya.
"Tapi Laras... bisnis itu kan bisa didelegasikan ke manajer," sela Nyonya Sarah, nadanya mulai sedikit memaksa meskipun wajahnya masih dipaksakan tersenyum. "Gini lho, sayang... umur Axel ini sudah kepala tiga. Orang tua mana yang nggak pengen cepat-cepat lihat penerusnya lahir? Lagipula, kalau ada anak, hubungan dua keluarga kita kan pasti jadi makin erat, makin tidak bisa dipisahkan."
Larasati terkekeh tipis, sebuah kekehan bernada dingin yang dikemas dalam keanggunan. "Ma, zaman sekarang wanita karier harus serba mandiri. Papa juga dukung Laras fokus di klinik dulu kok. Urusan anak... ya nanti kalau semuanya sudah stabil."
Tuan Pramoedya yang sejak tadi mendengarkan perdebatan halus antara istri dan menantunya memilih untuk tetap diam, menganggap urusan domestik wanita bukanlah porsinya selama tidak mengganggu angka-angka di bursa saham.
Sementara itu, Axel masih bergeming di kursinya. Di balik penampilannya yang rapi dengan kemeja kerja bermerek, isi kepala Axel sebenarnya sedang kacau balau. Ia mendengar perdebatan tentang 'anak' dan 'penerus' itu dengan rasa muak yang tertahan di ulu hati.
Setiap kali kata 'anak' diucapkan oleh ibunya, ingatan Axel justru terlempar jauh ke persimpangan jalan bulan lalu. Bayangan perut buncit Nadia yang sangat besar di atas motor RX-King milik preman gondrong itu kembali menghantam dadanya dengan telak. Ada rasa bersalah yang tak kasat mata yang mencekik lehernya, beradu dengan rasa cemburu dan ketakutan bahwa darah dagingnya yang sesungguhnya kini sedang dijaga oleh tangan pria jalanan.
"Axel! Kamu kok malah diam saja dari tadi?" tegur Nyonya Sarah, membubarkan lamunan putranya. "Bantu Mama kasih tahu istrimu ini, jangan ditunda-tunda terus."
Axel tersentak kecil, lalu meletakkan cangkir kopinya hingga menimbulkan bunyi dentingan yang agak keras di atas meja marmer. Ia menatap ibunya dengan pandangan kuyu yang dingin.
"Terserah Laras aja, Ma. Axel repot di kantor," sahut Axel pendek, ketus, dan terkesan sangat tidak peduli. Ia mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri. "Axel berangkat dulu, Pa, Ma."
Larasati hanya menatap kepergian suaminya dengan alis yang bertaut sedikit. Belakangan ini, ia merasa Axel semakin dingin, sering melamun, dan kehilangan gairah hidup yang biasanya selalu berapi-api. Namun, Larasati memilih bersikap acuh tak acuh. Baginya, pernikahan ini pun tak lebih dari sekadar transaksi kelas atas yang menguntungkan kedua belah pihak.
Nyonya Sarah hanya bisa menghela napas panjang penuh kekesalan yang tertahan, menatap sisa alpukat di piring menantunya dengan hati yang mendadak diselimuti kecemasan luar biasa tentang masa depan keluarga mereka.
**
Jika di rumah megah keluarga Pramoedya mereka sedang meributkan penerus yang belum juga hadir, di rumah tua pinggiran kota, Ubay justru sedang sibuk dengan urusan perut buncit Nadia yang sudah tinggal menghitung hari.
Pagi itu, sinar matahari menerobos celah-celah jendela kayu, menerangi ruang tengah. Nadia, dengan daster batik longgarnya, tampak berjalan pelan sambil membawa kemoceng. Langkahnya agak terseret karena beban di perutnya yang semakin menekan ke bawah. Ia baru saja hendak menjinjing ember plastik kecil berisi cucian basah menuju halaman belakang saat sebuah tangan kekar bertato samar langsung menyambar gagang ember tersebut.
Sret!
Nadia tersentak, mendongak dan mendapati wajah lempeng Ubay sudah berdiri di depannya. Pria gondrong itu masih mengenakan celana kolor hitam dan kaos singlet, tanda ia baru saja selesai membersihkan motor RX-King-nya di samping rumah.
"Mas Ubay? Biar saya saja, Mas. Ini cuma baju-baju kecil kok," cicit Nadia sungkan, mencoba meraih kembali embernya.
"Gak usah. Lu duduk aja di sofa," sergah Ubay pendek, suaranya yang berat tidak menerima bantahan. Ia membawa ember itu dengan enteng, seolah beratnya tidak lebih dari selembar kertas. "Pekerjaan yang berat-berat, biar gue yang sikat. Lu fokus jaga si utun aja."
Nadia tidak bisa menahan senyum gelinya mendengar istilah 'utun' yang keluar dari mulut preman pasar yang biasanya ditakuti orang itu. Akhirnya, Nadia memilih mengalah dan berjalan perlahan menuju meja makan untuk mengelap sisa debu di sana.
Baru saja Nadia mengangkat tangannya untuk menjangkau sudut meja yang agak jauh, tiba-tiba bagian bawah perutnya terasa meregang kencang. Rasa ngilu yang tajam mendadak menusuk pinggang belakangnya.
"Awwhh..." Nadia meringis cukup keras, matanya terpejam rapat. Tangan kirinya refleks mencengkram pinggiran meja kayu, sementara tangan kanannya langsung menopang bagian bawah perutnya yang mendadak terasa keras seperti batu.
Bunyi ringisan itu bak sirine darurat yang memecah ketenangan. Di dekat pintu dapur, Ubay yang sedang memegang jepitan baju langsung menjatuhkan benda itu ke lantai. Wajah sangarnya seketika berubah pias, memucat drastis dalam hitungan detik.
****
Yaa panik la.. 🤣🤣
jgn nyesel klo otongmu di mutilasi... n di kirim ke rmh org tuamu buat hadiah mereka🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣