Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sensasi tersedot pusaran portal kembali mereka rasakan, dan sedetik kemudian, kaki mereka telah menginjak lantai paving blok lapangan utama kampus Sacred Gate. Matahari sore yang mulai menguning menyambut kepulangan ratusan mahasiswa baru yang tampak lelah namun rona kepuasan terpancar dari wajah mereka yang berhasil bertahan.
Joni mengembuskan napas panjang, melonggarkan ikatan rompi badak tanahnya yang kini dipenuhi noda darah monster yang mulai mengering. Di sebelahnya, Gondrong langsung meregangkan otot-otot lehernya sampai berbunyi krek.
"Jon, rasanya dahi gue makin jenong aja dapet bonus poin Intelligence tadi," kelakar Gondrong sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
Laras terkekeh geli melihat tingkah kakaknya. "Bang Gondrong mah dari dulu emang udah jenong. Ayo, Kak Joni, Bang, kita langsung ke gedung logistik sebelum antreannya makin mengular."
Mereka bertiga berjalan membelah kerumunan mahasiswa baru menuju Gedung Logistik dan Penukaran Poin Akademi. Di sepanjang jalan, beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka. Naik dari Level 10 langsung ke Level 17 dalam satu kali sesi perburuan siang adalah pencapaian yang sangat langka bagi mahasiswa baru tanpa sokongan faksi besar. Jam tangan status mereka yang berpendar terang dengan angka '17' sewaktu-waktu bisa memicu bisik-bisik kagum sekaligus iri.
Saat memasuki aula gedung logistik, Joni langsung mengenali sosok yang berdiri di dekat pilar tengah. Kak Tian dan dua anak buahnya dari faksi Ninja sedang berdiri di sana, tampaknya baru saja menyelesaikan penukaran hasil buruan mereka dari batas Zona Kuning.
Tian yang sedang menghitung poin di layar hologramnya mendongak saat merasakan kehadiran seseorang. Begitu matanya menangkap sosok Joni, Laras, dan Gondrong, senyum sinisnya kembali terkembang.
"Oh, panjang umur. Baru aja gue mau taruhan sama anak-anak divisi, apa si Brawler rongsokan ini pulang pakai tandu medis atau enggak," sindir Tian dengan suara yang cukup keras, memancing perhatian beberapa mahasiswa senior dan junior di sekitar aula.
Namun, begitu Tian berniat melangkah maju untuk mengintimidasi lebih jauh, pandangannya tanpa sengaja turun ke arah pergelangan tangan kiri Joni. Layar jam status Joni yang menyala menampilkan angka digital berwarna emas yang sangat mencolok: LVL 17
Tian langsung menghentikan langkahnya. Matanya melebar, pupilnya mengecil karena terkejut. Senyum sinis di wajahnya mendadak membeku di balik masker kainnya.
"Le-Level 17...?" gumam salah satu anak buah Tian di belakangnya dengan nada tidak percaya. "Bukannya tadi siang dia masih Level 10? Gimana bisa naik tujuh level sekaligus di Zona Hijau yang udah disterilisasi?!"
Gondrong yang melihat perubahan ekspresi drastis dari seniornya itu langsung maju dengan cengiran paling menyebalkan yang dia punya. "Hehehe... sore, Kak Tian. Gimana di batas Zona Kuning? Hasilnya deras kagak? Maaf banget nih, kami yang cuma modal rompi rongsokan bekas ini malah gak sengaja dapet bonus panen di dalem. Namanya juga rezeki anak brawler jujur, Kak."
Muka Tian langsung menggelap. Rasa malu dan gengsi bergejolak di dadanya. Tadi siang dia baru saja meremehkan Joni sebagai "remah-remah", dan sekarang junior yang diremehkannya itu sudah memotong setengah dari jarak level mereka hanya dalam waktu beberapa jam.
Joni melangkah maju, menepuk pundak Gondrong agar mundur sedikit. Dia menatap Tian dengan pandangan tenang, tidak ada lagi rasa canggung seperti tadi siang.
"Kak Tian," panggil Joni dengan nada santai. "Rompi bekas ini ternyata masih bagus banget buat nahan cakar Alpha Grey Wolf Level 18. Gores dikit sih, tapi ya... yang penting kan sayanya masih bisa berdiri tegak di depan Kakak sekarang."
Joni sengaja menekankan kata Alpha Grey Wolf membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka yang mendengarnya langsung kasak-kusuk terkejut. Menumbangkan Semi-Boss di hari kedua adalah prestasi yang luar biasa.
Tian mengepalkan tangannya di dalam saku celana hingga kainnya bergetar. "Lo... beruntung aja dapet party yang gendong lo, Brawler. Jangan bangga dulu. Level 17 di akademi ini masih belum ada apa-apanya dibanding divisi utama faksi kami."
"Saya nggak bangga kok, Kak. Saya cuma ngingetin omongan saya tadi siang," balas Joni sambil tersenyum tipis. "Satu atau dua minggu lagi, begitu level kita selaras... saya tunggu undangannya di arena resmi kampus. Jangan lupa disiapin belati terbaiknya ya, Kak. Takutnya nanti patah pas kena defense saya."
"Cih! Kita lihat nanti siapa yang bakal merangkak di arena!" desis Tian tajam. Tanpa membuang waktu lagi untuk menanggung malu lebih lama, Tian membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan aula logistik, diikuti dua anak buahnya yang tampak ikut tegang.
Laras yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa tersenyum lega. Dia menatap punggung Joni dengan binar mata yang semakin terang. "Kak Joni... Kakak bener-bener keren banget tadi. Kak Tian sampai nggak bisa berkata-kata lagi."
"Hehehe... bener tuh, Jon! Skor sekarang 1-0 buat kita di luar arena," sahut Gondrong puas. "Ayo ah, buruan kita tukar ini Alpha Core. Gue udah nggak sabar pengen ngerasain makan daging panggang premium di kantin pusat pakai poin bonus hari ini!"
Joni tertawa kecil bersama kedua sahabatnya, melangkah mantap menuju loket penukaran. Langkahnya kini terasa jauh lebih mantap, menapaki awal dari reputasinya yang mulai merangkak naik di Akademi Sacred Gate.
Di depan loket penukaran poin, Joni menyerahkan Mutated Alpha Core berukuran besar yang berpendar hijau tua pekat. Petugas logistik di balik kaca sampai membenarkan posisi kacamata hitamnya, takjub melihat mahasiswa baru tingkat awal bisa membawa pulang inti monster semi-boss di hari kedua.
"Proses verifikasi selesai," ucap petugas tersebut sambil menempelkan alat pemindai ke jam tangan Joni, Gondrong, dan Laras secara bergantian.
Pip!
> [SISTEM: PENUKARAN ALPHA CORE BERHASIL]
> Pembagian Poin: +400 Poin Akademi per Anggota.
"Nah mantap! Rekening digital gue langsung seger begini," seru Gondrong kegirangan melihat saldonya melonjak drastis.
Laras juga tersenyum puas, buru-buru mencatat sisa pengeluaran ramuan mereka tadi pagi. "Dengan begini, modal beli potion yang kemarin dikeluarkan Kak Joni udah langsung balik modal, bahkan untung besar, Kak."
"Aman, Ras. Yang penting kan party kita selamat dan kompak," sahut Joni sambil meregangkan tangannya.
Baru saja Joni hendak mengajak mereka berdua melangkah keluar dari gedung logistik menuju kantin pusat...
BIIIP! BIIIP! BIIIP!
Jam tangan pintar mereka bertiga mendadak bergetar serentak. Nada deringnya berbeda dari notifikasi sistem biasa—kali ini ada logo kapak raksasa mini berwarna merah yang berkedip-kedip di sudut layar hologram. Itu adalah lambang pesan resmi dari kepala instruktur Zona Hijau.
"Eh, ada pesan masuk dari Master Johan?" gumam Laras sambil menyentuh layarnya.
Sebuah pesan teks dengan audio terenkripsi otomatis terbuka dan langsung memproyeksikan suara berat serta tegas milik Master Johan.
> [PESAN KHUSUS DARI: MASTER JOHAN - KEPALA INSTRUKTUR]
> "Perhatian untuk Mahasiswa Joni, Gondrong, dan Laras. Sistem pengawas internal gerbang portal telah merekam seluruh aktivitas perburuan kalian di Zona Hijau siang ini.
> Kalian memperlihatkan koordinasi yang sangat baik: Kombinasi defensif murni, penetrasi taktis tipe Intelligence, dan dukungan healing tempo tinggi. Terlebih lagi, kalian berhasil menumbangkan Mutated Alpha Grey Wolf tanpa ada satu pun anggota yang mengaktifkan tombol darurat atau mengalami cedera fatal.
> Akademi Sacred Gate menghargai kerja sama tim yang efisien, bukan sekadar bakat individu yang egois."
Mendengar pujian yang jarang keluar dari mulut instruktur killer itu, Joni dan Gondrong saling berpandangan dengan alis terangkat. "Buset, si Master singa jantan bisa muji juga ternyata," bisik Joni.
Suara Master Johan di rekaman audio berlanjut ke bagian intinya.
> "Sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama tim terbaik (Best Teamwork Coordination) di sesi siang ini, Akademi memberikan bonus tambahan khusus langsung dari kuota instruktur.
> [BONUS TAMBAHAN DITERIMA]:
> +300 Poin Akademi untuk masing-masing anggota.
> +1 Buah Koin Perak Sacred Gate (Item Khusus Toko Langka Akademi).
> Latihan lebih keras lagi besok. Jangan bikin malu faksi kalian. Pesan selesai."
Pip!
Layar hologram itu menutup, menyisakan saldo poin mereka yang otomatis bertambah lagi, serta sebuah koin perak virtual berlogo gerbang suci yang kini tersimpan di inventori jam tangan mereka.
"Jon! Gila, kita dapet Koin Perak Akademi!" Gondrong langsung heboh sampai melompat kecil. "Itu koin kan susah banget dapetnya! Harus lewat misi khusus atau prestasi langka. Bisa buat dituker sama blueprint skill atau perlengkapan Tier 2 di toko rahasia lantai atas!"
Laras memegangi kedua pipinya yang mendadak merona karena senang sekaligus tidak menyangka. "Wah... Master Johan diam-diam merhatiin kita ya, Kak. Padahal pas di lapangan mukanya galak banget kayak mau ngajak berantem."
Joni melihat angka poinnya yang kini sudah lebih dari cukup untuk memperbaiki kerusakan rumahnya, bahkan masih sisa banyak untuk modal latihan berikutnya. Dia menyeringai puas, melirik koin perak di layarnya, lalu menatap Laras dan Gondrong bergantian.
"Nah... sekarang poin udah dapet, bonus dari Master Johan juga udah masuk," kata Joni sambil menepuk perutnya yang mulai keroncongan. "Urusan harga diri di depan ninja senior tadi udah beres buat hari ini. Sekarang... urusan perut. Ndrong, Ras, ayo kita serbu kantin pusat. Gue yang traktir daging panggang premium pakai poin bonus ini!"
"Hehehe... asyik! Ini baru namanya ketua party idaman!" sorak Gondrong bersemangat.
Laras ikut tertawa renyah, langkah kakinya terasa sangat ringan saat berjalan di samping Joni menuju kantin. Sore itu, di bawah langit kampus Sacred Gate yang mulai meremang, ikatan di antara mereka bertiga terasa semakin solid, siap menghadapi apa pun yang menunggu mereka di hari esok.