NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

BAB 6: Dobrakan Sang Penguasa dan Reruntuhan Topeng Istana

Gelapnya mendung di luar SMA Pelita seolah berpindah ke dalam koridor kelas IPS. Zayn Dominic berdiri bersandar pada pilar beton dengan kedua tangan terkubur dalam saku jaket kulit hitamnya. Matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari pintu kelas Elva yang kosong. Bel masuk sudah berbunyi sejak dua puluh menit yang lalu, namun sosok gadis lugu itu sama sekali tidak kelihatan. Rasa cemas yang asing dan pekat perlahan merayap, mencengkeram dadanya hingga terasa sesak.

Langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan koridor. Leo datang dengan napas sedikit memburu, membawa selembar kertas absensi dari ruang piket.

"Zayn!" panggil Leo setengah berbisik begitu dia sudah berdiri di depan sahabatnya.

"Gimana? Apa kata pihak sekolah?" tanya Zayn langsung. Suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan penekanan yang berbahaya.

Leo menggelengkan kepalanya dengan raut wajah serius. "Nggak ada keterangan, Zayn. Di absen kelas, Elva ditulis Alfa. Pihak sekolah juga udah coba telepon ke nomor rumahnya, tapi yang angkat pembantunya. Katanya Elva lagi sakit mendadak dari semalam dan nggak bisa diganggu."

"Sakit mendadak?" Zayn mendengus sinis. Rahangnya mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang.

 "Kemarin siang pas gue mau anter balik, dia kelihatan ketakutan setengah mati waktu bilang mau dijemput supir bokapnya. Feeling gue nggak pernah salah, Leo. Ada yang nggak beres sama orang rumahnya."

"Lo mau ke rumahnya sekarang?" Leo menatap Zayn dengan cemas. Dia tahu betul kalau sifat posesif dan impulsif Zayn sudah keluar, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghentikannya.

"Zayn, inget, lo belum tahu pasti apa yang terjadi di sana. Jangan sampai lo bikin keributan yang malah makin nyudutin posisi Elva di keluarganya."

"Gue nggak peduli," sahut Zayn mutlak. Dia membalikkan badan dan melangkah cepat menuju area parkir. "Gue nggak bisa tenang sebelum liat dengan mata kepala gue sendiri kalau cewek itu aman."

"Zayn! Woi, tunggu!" teriak Leo, namun langkah tegap yang dibalut jaket kulit hitam itu sudah terlanjur menjauh, membelah koridor dengan aura intimidasi yang begitu pekat.

...****************...

Kurang dari dua puluh menit, mesin motor gede milik Zayn menderu bising di depan gerbang besi menjulang tinggi milik kediaman keluarga Ileana. Setelah mengintimidasi dua penjaga depan dengan nama besar keluarga Dominic, Zayn mendobrak pintu kayu jati utama rumah mewah itu tanpa permisi.

BRAKK!

Narendra Ileana yang kebetulan sedang berada di ruang tengah bersama putra bungsunya, Dion, langsung tersentak berdiri dengan wajah memerah karena amarah. Namun, begitu melihat siapa sosok yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata elang yang mematikan, nyali Narendra seketika ciut.

"Z-Zayn? Ada apa ini? Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu?" Narendra memaksakan senyum ramahnya yang terlihat sangat palsu di mata Zayn.

"Di mana Elva?" tanya Zayn langsung tanpa basa-basi, kedua tangannya masih terkubur di saku jaket kulitnya.

"Oh, Elva sedang tidak enak badan sejak semalam, Zayn. Dia sedang istirahat di kamarnya di lantai dua," jawab Narendra dengan nada selembut mungkin, mencoba bersikap tenang di depan calon pewaris Dominic Group itu.

Dion yang duduk di sofa ikut menimpali dengan nada sombong. "Iya, Kak Elva lagi sakit. Lo nggak usah lebay sampai datang ke rumah orang kayak gini deh."

Zayn melirik Dion sekilas dengan tatapan membunuh yang sukses membuat remaja itu langsung bungkam ketakutan. Zayn kemudian kembali menatap Narendra. "Gue mau liat dia sekarang. Tunjukkin kamarnya ke gue."

Narendra sempat ragu, namun dia segera mengangguk patuh. "Baik, mari ikut Om ke lantai dua."

Narendra menuntun Zayn menaiki tangga marmer menuju sebuah pintu kayu bercat putih di ujung koridor lantai dua. "Ini kamar Elva. Tapi tolong jangan berisik ya, dia baru saja minum obat dan tertidur lelap," bisik Narendra meyakinkan.

Zayn memutar knop pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar yang luas dan wangi itu. Di atas ranjang berukuran king size, tampak siluet seseorang yang tertutup selimut tebal dari ujung kaki hingga kepala, seolah-olah memang sedang tidur nyenyak karena sakit.

Zayn berjalan mendekati ranjang tersebut. Namun, saat jaraknya tinggal beberapa langkah, hidungnya yang sensitif tidak mencium aroma minyak angin atau obat-obatan khas orang sakit. Kamar ini justru dipenuhi wangi parfum wanita yang terlalu menyengat—jenis parfum mahal yang tidak mungkin dipakai oleh gadis se-sederhana Elva.

Dengan satu gerakan cepat, Zayn menyentak selimut tebal itu hingga terbuka.

SREKK!

Zayn tertegun, lalu matanya berkilat memancarkan amarah yang luar biasa besar. Di atas ranjang itu bukan Elva, melainkan gundukan bantal dan guling yang sengaja disusun sedemikian rupa agar menyerupai tubuh manusia yang sedang tidur.

"Lo berani nipu gue?!" bentak Zayn. Dia berbalik dengan cepat, mencengkeram kerah kemeja Narendra dengan satu tangan kuat dan menghempaskannya ke dinding koridor dengan sangat keras.

"Zayn! Lepas-sin Papa!" teriak Dion panik, namun dia terlalu takut untuk mendekat saat melihat aura iblis yang benar-benar keluar dari tubuh Zayn.

"Di mana Elva yang sebenarnya, bangsat?!" bisik Zayn tepat di depan wajah Narendra yang kini sudah pucat pasi dan gemetar ketakutan. Cengkeraman Zayn di lehernya begitu kuat hingga pria paruh baya itu kesulitan bernapas.

 "Gue tanya sekali lagi, sebelum gue hancurin seluruh bisnis properti lo di kota ini dalam waktu lima menit!"

Ancaman bisnis yang mutlak itu telak menghancurkan seluruh harga diri Narendra. Dengan sisa tenaga dan suara yang terbata-bata, dia menunjuk ke arah koridor belakang lantai bawah.

 "D-di... di gudang bawah tanah... Kuncinya ada di laci meja koridor itu..."

Zayn menghempaskan tubuh Narendra kasar ke lantai. Tanpa membuang waktu lagi, dia berlari kencang menuruni tangga, menyambar kunci besi besar dari dalam laci, dan mendobrak pintu besi tebal yang menuju ke ruang bawah tanah.

Suasana di bawah sana begitu gelap, pengap, dan dingin. Begitu pintu besi itu terbuka, pemandangan di dalam ruangan kotor itu seketika membuat jantung Zayn seolah berhenti berdetak.

Di sudut ruangan, di atas lantai semen yang dingin, Elva Ileana terbaring lemah dengan posisi meringkuk memeluk lututnya sendiri. Pipi kirinya terlihat bengkak kemerahan akibat tamparan keras, dan sudut bibirnya mengeluarkan bercak darah yang sudah mengering. Gadis polos itu sudah kehilangan kesadarannya, matanya terpejam rapat dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajahnya yang pucat karena demam tinggi.

"Elva!"

Suara Zayn yang biasanya dingin kini terdengar begitu panik dan pecah. Dia langsung berlutut, mengangkat kepala Elva dengan hati-hati dan meletakkannya di atas pangkuannya. Tangan Zayn yang gemetar menyentuh pipi Elva yang bengkak, merasakan suhu tubuh gadis itu yang begitu panas.

Zayn mengepalkan tinjunya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa benci yang teramat sangat bergolak di dadanya terhadap keluarga busuk ini. Tanpa membuang waktu, Zayn menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh Elva, mengangkat tubuh ringan gadis itu ke dalam dekapannya dengan sangat protektif, bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh miliknya lagi.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!