NovelToon NovelToon
Ambang Batas

Ambang Batas

Status: tamat
Genre:Saudara palsu / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:337.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Moena Elsa

Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.

Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyekapan

"Tuan-tuan, kita ini sebenarnya mau dibawa kemana? Apa kalian mau menculik kami?" Intan mencoba mengeluarkan rayuan maut yang biasa dia keluarkan saat situasi terjepit.

Tak ada jawaban.

"Bahasa halus tak bisa, kita pakai bahasa kebun binatang saja," sahut nyonya Adrian.

Sudah hampir satu jam, nyonya Adrian dan Intan berada dalam mobil minivan itu.

"Berhenti...! Aku mau buang air kecil," seru nyonya Adrian beralibi.

"Kami tahu modus anda nyonya, diam lah!" gertak pria yang paling dekat dengan mereka berdua.

"Sialan!" umpat nyonya Adrian.

"Kalian ini kasar sekali dengan wanita hamil. Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa dengan janin yang aku kandung," ancam Intan.

"Kami jamin," sela pria yang lain.

"Cih," tukas Intan kesal.

Mobil berhenti mendadak, membuat dahi nyonya Adrian dan Intan membentur jok mobil di depannya.

"Awh, awas saja kalian. Kalau sampai suami ku tahu, habis kalian," omel nyonya Adrian Kusuma.

"Silahkan nyonya," dengan perkataan halus menyilahkan, tapi pergerakan tangan kasar mereka memaksa nyonya Adrian dan Intan untuk mengikuti ritme langkah lebar para pria itu.

"Kita mau dibawa kemana?" nyonya Adrian berontak.

"Jangan paksa kami berbuat kasar nyonya," ujar pria yang memegang lengan nyonya Adrian.

Nyonya Adrian dan Intan dimasukkan ke sebuah ruangan kosong. Cukup lebar sih, tapi tak ada pendingin sama sekali jadi berasa lembab dan pengap.

"Mah, apa yang terjadi? Kok kita malah diculik begini? Mama itu berbuat salah sama penguasa? Atau sama siapa?" oceh Intan.

"Mama juga nggak tahu Intan," balas nyonya Adrian.

"Katanya ada proyek besar?" tanggap Intan.

"Harusnya begitu,"

"Mama nyembunyiin sesuatu?" tanya Intan penuh selidik.

"Akan mama kasih tahu jika saatnya tiba," bilang nyonya Adrian.

"Apa ada kaitan dengan proyek yang mama bilang?" dijawab anggukan oleh nyonya Adrian.

Meski disekap keduanya tak diikat atau disumpal mulut. Tak ada tindak kekerasan, seperti drama-drama yang sedang trend saat ini.

.

Tuan Adrian mulai bergerak dari pingsan nya.

"Hhhmmm di mana ini?" gumam nya perlahan.

Tangan yang diikat membuat pergerakan tuan Adrian terbatas.

Tuan Adrian mengamati sekeliling, "Awh," kepala nya terpentok saat berusaha bangun.

Emosi menguasai saat kesadaran nya telah kembali sempurna.

"Siapa kalian?" bentak tuan Adrian dengan mode siaga.

"Sudah sadar ternyata," sahut pria yang duduk di belakang kemudi.

"Jawab!" kata tuan Adrian dengan nada tinggi.

"Sabar tuan Adrian, sebentar lagi anda akan bertemu dengan tuan kami," jawab yang lain dengan tawa sinis.

"Siapa tuan mu?" tanya tuan Adrian.

"Yang pasti tuan kami lebih berkuasa daripada anda," jelas mereka.

Tuan Adrian diam, berpikir siapa kira-kira yang menyuruh mereka.

Tuan Adrian merasa tak punya musuh.

Mobil berhenti mendadak.

"Sialan, bisa bawa mobil nggak sih?" umpat tuan Adrian karena kepala nya kepentok kap mobil.

Pintu mobil terbuka, tuan Adrian ditarik dengan kasar.

Tuan Adrian menatap tajam ke semuanya.

"Silahkan masuk, tuan kami akan datang sebentar lagi," bilang mereka.

Tuan Adrian didorong masuk ke sebuah ruangan, dan pintu langsung ditutup.

"Hei... Apa yang kalian lakukan? Keluarkan aku dari sini!" teriak tuan Adrian dengan menggedor daun pintu yang tak bersalah itu.

Tuan Adrian terus berusaha meski akhirnya lelah sendiri.

"Papah...," suara panggilan membuat tuan Adrian tertegun.

Tuan Adrian membalik badan, dan terkejut saat mendapati istri dan anaknya juga berada di sana.

"Ngapain kalian di sini?" tanya tuan Adrian.

"Papa juga ngapain nyusul ke sini?" sahut Intan menimpali.

"Bukannya mama ada arisan sosialita?" telisik tuan Adrian.

"Mana bisa pergi kalau uangnya tak papa kasih?" nyonya Adrian sewot.

"Kirain papa pergi menemui kak Berlian?" kata Intan menyela.

Mengingat Berlian, tuan Adrian tersenyum.

"Kita tunggu waktu yang tepat. Papa yakin kita akan segera dapat uangnya," kata tuan Adrian.

"Maksud papa?" tanya Intan menegaskan. Di sini Intan sendiri yang belum tahu cerita sebenarnya.

"Kakak kamu pasti akan segera mentransfer sejumlah uang yang papa inginkan," ucap tuan Adrian percaya diri.

"Apa papa sudah mengatakan kepada Berlian?" sela nyonya Adrian dan dijawab anggukan tuan Adrian.

"Terus kenapa kita berada di sini sekarang? Disekap berjamaah?" tanya Intan.

"Papa juga nggak tahu. Kalian duluan yang di sini harusnya lebih tahu," bahas tuan Adrian.

Nyonya Adrian menceritakan kronologis kejadian sampai dia dan Intan disekap di sini.

Otak tuan Adrian dengan sifat licik nya mulai memikirkan sesuatu.

"Apa ini kebetulan atau kah disengaja?" gumam tuan Adrian.

"Maksudnya?" seru nyonya Adrian dan Intan bersamaan.

Tuan Adrian mencoba menelusuri dengan otaknya, siapa kira-kira tuan besar di balik kejadian ini.

Samar-samar terdengar obrolan di luar ruangan.

"Tuan besar akan datang satu jam lagi. Kita harus bersiap," kalimat itu ditangkap jelas oleh pendengaran tuan Adrian.

"Tuan besar... Tuan besar ...," Gumam tuan Adrian sambil berpikir keras.

"Oh .. Tak mungkin dia," tuan Adrian menebak tentang siapa yang disebut tuan besar oleh mereka. Tapi otak tuan Adrian menyangkal.

"Papa tahu siapa dalangnya?" tanya Intan.

"It's impossible," tuan Adrian menggelengkan kepala.

Tut...tut...tut... Terdengar kode akses pintu ditekan.

Pintu pun terbuka.

Ketiganya menoleh ke arah yang sama.

.

.

Minggu pagi mendung menyelimuti, daun-daun kena air hujan ### up baru author kasi, jangan lupa tuk kasih dukungan.

Sarapan dengan bubur ayam, makan nya di pinggir jalan ### author berasa tentram, karena kalian terus kasih dukungan

Lope .. Lope... smua.

1
Maria Mebanua
Intan sakit jiwamu sudah mendarah daging
niktut ugis
belum tunangan baru di jodohkan
niktut ugis
wanita cinta sejati Wiranata
Maria Mebanua
itu benih masih segede ketumbar dah tahu aja barang mahal
Maria Mebanua
cucian dehh kamu Intan ternyata dapat kadal buntung
Katherina Ajawaila
selamat utk pasang pasytri dapat dya jagoan dan para oma " girang deh ngk rebutan. ahli waris nya udh meluncur 🥰
niktut ugis
tul itu.. langsung bikin musnah dech Kinara & kel
niktut ugis
beneran di bikin bangkrut nech perusahaan sentosa
niktut ugis
selesai ini lanjut cari Arya & Sebastian
niktut ugis
seh... seh ngebet berat ini pria es balok
niktut ugis
Adrian sekeluarga ini bodoh bin goblok masih belum sadar juga berurusan dengan siapa
Maria Mebanua: kebodohan yg hakiki
total 1 replies
niktut ugis
suntik racun lumpuh aj
niktut ugis
udah setengah matang beli nya pun jauh enggak enak Thor 😭😭
niktut ugis
/Puke//Puke//Puke/
niktut ugis
ih jijik banget sama keluarga rampok
Katherina Ajawaila
William jgn mau di kadal in sm si kunti ntar nyesel nya ngk kira"🤭
Katherina Ajawaila
otak jahat sih kinara blm siapa Dom kebaca licik mu enak kan kalau main kotor kena batunya langsung di sapu bersih sama Dom 🤭
Katherina Ajawaila
Kinara masukin ajake prodeo biar temanin punya, main otak kotorbiar bagaimana ketauan lo jalang 😡
niktut ugis
kenapa sich berlian tidak ganti nmr saja
niktut ugis
kasih tau lah Thor jangan pelit bikin penasaran saja🤔🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!