NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sebelum kesalahpahaman semakin melebar, Arslan tak tinggal diam. Ia segera menanggapi ucapan Yevi dengan nada tegas.

"Hubungan saya dengan Fathiya sudah lama berakhir. Tolong... jangan dibahas lagi."

Suaranya tenang, namun menyimpan tekanan yang jelas.

"Dan saya rasa Fathiya sudah cukup dewasa untuk bisa mencari jodohnya sendiri. Jadi, jangan pernah melibatkan saya dalam hal itu."

Arslan meletakkan napkinnya dengan sedikit keras. Rahangnya mengeras. Ia menoleh ke arah Zulfa—istrinya yang sejak tadi hanya diam, namun dari sorot matanya, ia tahu ada banyak luka yang sedang ditahan.

Sebelum luka itu semakin dalam, Arslan mengambil keputusan.

Ia meraih tangan Zulfa.

"Ayo... kita pergi dari sini."

Zulfa menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. Tanpa berkata apa pun, ia bangkit dan mengikuti langkah suaminya.

"Arslan! Mau ke mana kamu?"

Suara Farah terdengar kaget, hampir tak percaya melihat putranya pergi begitu saja, tanpa pamit padanya.

Langkah Arslan terhenti sejenak.

Ia menoleh, menatap ibunya dengan sorot mata yang berbeda dari biasanya—dingin, tegas.

"Kami sudah tidak nyaman berada di sini," ujarnya. "Arslan pikir Mama benar-benar ingin menjaga perasaan kami tapi ternyata masih sama saja."

Tanpa menunggu jawaban, ia menggenggam jemari Zulfa lebih erat dan melanjutkan langkahnya keluar dari tempat itu.

Meninggalkan suasana yang sudah membuat mereka tak nyaman..

Di belakang mereka, Farah berdiri dengan wajah menegang. Amarahnya tak lagi bisa disembunyikan. Tatapannya langsung mengarah pada Yevi—orang yang ia anggap sebagai penyebab kekacauan ini.

"Ini semua gara-gara kamu!" hardiknya tertahan. "Aku sudah bilang jangan membahas apa pun di depan Zulfa. Tapi kenapa kamu justru mengungkit masa lalu Arslan dan Fathiya?"

"Bukan hanya dia yang salah."

Suara lain menyela.

Ardiwilaga—suami Farah—bangkit dari duduknya. Wajahnya tenang, namun nada suaranya tegas.

"Kamu juga salah, Farah," lanjutnya. "Seharusnya kamu tidak membawa-bawa soal keturunan di saat seperti ini. Ini acara keluarga, bukan tempat untuk mempermalukan mereka, terutama Zulfa."

Farah menatapnya tak terima.

"Apa yang salah dari ucapanku?" sanggahnya. "Aku hanya meminta doa kepada mereka agar Arslan segera diberi keturunan."

Namun penjelasan itu tak mampu meredakan suasana.

Para tamu yang sebagian besar adalah keluarga dekat terlihat saling berpandangan canggung. Beberapa menunduk, berpura-pura fokus pada makanan. Yang lain hanya diam, tak tahu harus bersikap seperti apa.

Melihat situasi yang semakin tidak nyaman, Ardiwilaga menarik napas, lalu menoleh ke arah para tamu dengan senyum yang ia paksakan.

"Silakan dilanjutkan makan malamnya," ucapnya sopan. "Masalah keluarga kami mungkin sudah bukan hal baru lagi bagi kalian ..."

Ia berhenti sejenak.

"Jadi mohon doakan yang terbaik untuk kami."

Beberapa tamu tersenyum simpati. Ada yang mengangguk, ada pula yang memberikan kata-kata penguatan, menyuruhnya bersabar. Doa-doa pun mengalir pelan, mencoba menenangkan suasana yang terlanjur retak.

Di tengah semua itu, Fathiya berdiri. Wajahnya pucat, matanya menyimpan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Maaf... kalau begitu saya juga pamit," ucapnya pelan. "Seharusnya... saya tidak pernah hadir di tempat ini."

Ada rasa bersalah yang mengendap dalam suaranya.

Ia merasa—tanpa sadar—telah menjadi pemicu luka yang lebih besar.

Dan malam itu, ia kembali merasa berada di tempat yang salah.

Suara Farah menghentikan langkah Fathiya yang hendak meninggalkan kursinya. Dengan gaun panjangnya yang menjuntai anggun, Farah berjalan mendekat, wajahnya kembali dipoles dengan senyum yang tampak dipaksakan..

"Ini bukan salahmu," ucapnya lembut. "Kamu justru tamu yang paling Tante harapkan hadir malam ini." Fathiya menatapnya ragu. Ada kegelisahan yang belum sepenuhnya mereda di wajahnya.

Belum sempat ia menjawab, Yevi tiba-tiba menyusul dan berdiri di antara mereka. Raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

"Ini semua salah saya karna saya tidak bisa mengontrol ucapan saya." Katanya lirih, Ia menoleh pada Farah.

"Maafkan saya, Mbak sudah membuat Arslan pergi sebelum acara ini selesai."

Di sekitar mereka, para tamu sudah kembali tenggelam dalam aktivitas masing-masing. Suasana yang sempat tegang perlahan mencair, seolah kejadian barusan hanya selingan yang cepat dilupakan. Di sisi lain, Ardiwilaga memilih mengalihkan perhatian dengan berbincang bersama kerabatnya, meski sesekali ia melirik ponsel—berharap putranya menelfonnya balik sebab sejak tadi panggilannya tak kunjung di jawab.

Farah kembali menatap Yevi. "Saya tau kamu masih punya rasa kecewa dengan keputusan Fathiya yang pernah menolak ajakan Arslan untuk menikah tapi ... "

"Itu sudah masa lalu kami yang sudah lama selesai." Kalimat itu memotong ucapan Farah dengan tegas.

Fathiya menatapnya lurus, sorot matanya kini jauh lebih tegas. "Maaf, Tante, kalau saya harus menyela," lanjutnya. "Arslan sudah hidup bahagia dengan istrinya. Dan saya bisa merasakan kalau Arslan sangat mencintai istrinya." Ada jeda sejenak. Nada suaranya melembut, namun tetap tegas.

"Jadi, lebih baik kita tidak perlu lagi membahas hal-hal yang sudah berlalu. Saya tidak ingin menjadi duri dalam pernikahan mereka."

Farah terdiam untuk sesaat, senyum di wajahnya nyaris runtuh.

"Tapi, Fath... kamu—"

"Cukup, Mbak."

Yevi segera menyela, melirik tajam ke arah Farah—seolah memberi isyarat agar percakapan ini tidak berlanjut.

"Biar saya yang mengurus ini," bisiknya pelan.

Farah menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak di dadanya. Ucapan Fathiya barusan jelas tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Di sisi lain, Yevi dengan sigap menggandeng lengan Fathiya.

"Ayo, kita pulang saja," ujarnya lembut. "Kamu pasti lelah, masuklah ke dalam mobil dulu."

Fathiya hanya mengangguk. Tanpa banyak bicara, ia melangkah pergi dan menuruti permintaan tantenya untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu. Meninggalkan Farah dan Yevi di halaman rumah yang kini terasa lebih dingin. Begitu Fathiya tak lagi terlihat, Farah langsung menoleh tajam pada Yevi.

"Apa kamu belum menjelaskan apa-apa pada Fathiya? Sampai dia bisa berkata seperti itu." tanyanya, nada suaranya berubah tajam. Farah benar-benar tak menyangka—ia pikir Fathiya sudah mengetahui rencana mereka.

Yevi menghela napas pelan. "Mbak... ini bukan hal yang mudah untuk dibicarakan," jawabnya. "Saya masih butuh waktu. Apalagi Fathiya baru saja kembali ke rumah. Keadaannya juga belum stabil."

Farah menggeleng pelan, jelas tak puas.

"Kamu dengar sendiri apa yang dia katakan. Dia tidak mau menjadi duri dalam pernikahan mereka." Nada suaranya mulai dipenuhi kekhawatiran. "Lalu bagaimana dengan rencana kita?"

Yevi tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan banyak siasat

"Tenang saja, Mbak," ujarnya pelan. "Saya yang akan mengurus semuanya."

Ia menatap lurus, penuh keyakinan.

"Saya akan membuat Fathiya menuruti apa yang saya perintahkan."

Sudut bibirnya terangkat ada sesuatu yang licik di balik kata-katanya. 

Farah terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk.

"Bagus," ucapnya. "Saya tidak peduli bagaimana caranya, yang saya inginkan hanya satu—Fathiya bisa memberikan Arslan keturunan. Entah bagaimanapun caranya harus kita upayakan." Nada suaranya dingin tanpa ragu. Dan malam itu tanpa disadari siapa pun sebuah rencana besar sedang disusun. Rencana yang perlahan akan menyeret banyak hati ke dalam luka.

***

Pintu mobil tertutup dengan suara pelan, namun terasa begitu berat.

Di dalamnya—hening.

Mesin mobil sudah menyala, namun Arslan belum juga menginjak pedal gas. Tangannya masih menggenggam setir dengan kuat. Rahangnya mengeras, pikirannya penuh.

Di kursi sebelahnya, Zulfa duduk diam. Terlalu diam.

Tatapannya lurus ke depan, kosong seolah semua yang terjadi tadi masih berputar-putar di kepalanya. Lampu-lampu taman rumah Farah perlahan menjauh dari pandangan mereka, namun bayang-bayang kejadian tadi justru semakin jelas terasa.

"Zulfa..."

Akhirnya Arslan bersuara, pelan. Tak ada jawaban.

Hanya keheningan yang semakin menyesakkan.

Arslan menoleh. Melihat wajah istrinya yang pucat, mata sembap yang berusaha ditahan. Dadanya terasa diremas.

"Aku minta maaf," ucapnya lirih. "Aku benar-benar nggak tahu kalau tante Yevi akan mengungkit masa laluku." Zulfa tetap diam. Namun jemarinya yang saling menggenggam terlihat bergetar.

"Aku nggak pernah bermaksud menyembunyikan apa pun dari kamu," lanjut Arslan, suaranya mulai serak. "Aku cuma nggak ingin masa lalu itu menyakitimu."

Zulfa tertawa kecil. Tawa yang hambar.

"Nyakitin?" ulangnya pelan.

Akhirnya ia menoleh.

Matanya langsung bertemu dengan Arslan.

Dan di sana ada luka yang tak bisa lagi disembunyikan.

"Aku merasa dibandingkan secara terang-terangan  dengan wanita yang ternyata pernah hampir jadi istri kamu. Dan Mama ..."

Suaranya yang berderak tertahan, "Masih saja membahas keturunan seolah aku menantu yang tidak bisa di harapkan."

Setiap katanya terasa seperti tusukan. Arslan terdiam. Tak mampu langsung menjawab.

"Aku bahkan nggak tahu siapa dia sebenarnya," suara Zulfa melemah, "sampai orang lain yang bilang di depan semua orang." Air matanya akhirnya jatuh. Satu tetes lalu semakin banyak.

"Aku takut mama punya niat mau menyatukan kamu lagi dengan Fathiya,"

"Kamu ini bicara apa? Itu nggak akan terjadi." Arslan langsung meraih tangannya, panik. "Hubunganku sama Fathiya sudah lama selesai. Dan kami sudah lama tidak pernah berkomunikasi." Arslan meraih jemari lemah itu ke dadanya, "Di hati ini cuma ada kamu."

Zulfa menarik tangannya perlahan. "Kamu dulu menikahi ku bukan sebagai pelampiasan karna perempuan yang kamu mau, pernah nolak kamu, kan?" Zulfa kembali mempertanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Arslan mengusap wajahnya kasar.

"Aku memang pernah punya masa lalu," suaranya terdengar rendah dan berat. "Aku pernah mengajak Fathiya untuk menikah tapi dia menolak."

Ia menatap Zulfa dalam-dalam.

"Tapi itu sudah selesai. Jauh sebelum aku bertemu kamu. Kami sudah memiliki kehidupan masing-masing, bahkan saat pertama kali aku mengenalmu namanya sudah hilang begitu saja dari hatiku. Kamu satu-satunya perempuan yang aku pilih"

Zulfa menunduk.

Air matanya masih jatuh tanpa henti.

"Masalahnya..." suaranya bergetar, "buat aku... itu belum selesai."

Arslan terdiam.

"Karena dia masih ada," lanjut Zulfa. "Masih dekat... masih dianggap keluarga... dan sekarang—"

Ia menggeleng pelan, seolah tak sanggup melanjutkan.

"Aku capek."

Kalimat itu kembali terucap. Namun kali in jauh lebih rapuh.

"Aku capek jadi orang yang terus disalahkan, cuma karena aku belum bisa kasih kamu anak."

Arslan langsung menahan napas.

Dadanya sesak.

"Jangan pernah bilang begitu lagi," ucapnya tegas, namun lembut.

Arslan kembali meraih tangan istrinya—kali ini lebih hati-hati.

"Kita berjuang bersama. Gagal... juga bersama. Dan aku nggak pernah menyesal memilih kamu."

Zulfa terdiam.

Air matanya masih mengalir, namun kali ini ia tak menolak genggaman Arslan.

"Kalau suatu hari..." suaranya nyaris berbisik, "aku benar-benar nggak bisa kasih kamu keturunan... kamu bakal tetap di sini?"

Pertanyaan itu adalah ketakutan terbesarnya.

Arslan menggenggam tangannya lebih erat.

"Aku mencintaimu bukan hanya sebatas rahimmu saja," jawabnya mantap. "Aku menikah sama kamu karna aku mencintai kamu dan ingin kamu menjadi teman hidupku sampai akhir hayat."

Ia menatapnya dalam.

"Dan itu nggak akan berubah."

Tangis Zulfa pecah.

Kali ini tanpa ditahan.

Ia menutup wajahnya, bahunya bergetar. Arslan langsung menariknya ke dalam pelukan. Mobil itu tetap diam di tempatnya.

Di tengah malam yang sepi—

dua hati itu saling bertahan.

Meski di luar sana... badai sedang menunggu.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!