Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
.
Malam mulai larut dan rangkaian acara pun akhirnya selesai. Tamu‑tamu beranjak satu per satu meninggalkan ruangan besar itu. Lampu kristal masih berkilau indah, tapi riuh rendah suara perlahan lenyap, berganti hening.
Rania berdiri diam memandangi ruangan yang makin kosong. Senyum sopan yang ia pasang seharian perlahan luruh. Tubuhnya terasa berat. Bukan hanya lelah fisik, tapi juga hatinya yang masih mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya hanya seorang anak tanpa status jelas.
“Nyonya muda, Tuan Muda…” Seorang pelayan datang dan membungkuk hormat di hadapan mereka, “Kamar Anda sudah kami persiapkan,” lapornya.
“Terima kasih,” jawab Rania pelan sambil mengangguk. Wanita itu menatap sekeliling. Kemegahan pesta benar-benar telah usai. Bahkan kedua mertuanya juga sudah berpamitan untuk beristirahat sejak beberapa menit yang lalu.
Alvino yang berdiri di sebelahnya menoleh perlahan. “Ayo kita naik,”ajaknya sambil menggenggam tangan Rania. Wanita itu mengangguk dan mereka pun berjalan beriringan menuju lift khusus, tak banyak bicara, hanya langkah keduanya tenang.
Alvino membuka pintu kamar perlahan. Sebelah tangannya masih menggenggam tangan Rania. Keduanya bertatapan sesaat dan Alvino menganggukkan kepala sebagai isyarat untuk mengajak istrinya masuk.
Rania melangkah perlahan, sebelah tangannya meremas gaunnya menahan detak jantungnya yang lebih kencang dari biasanya. Ruangan yang begitu luas memukau, dengan karpet tebal berwarna krem, dan ranjang besar berhias kelopak bunga. Ditambah dengan roma melati yang lembut berpadu cahaya temaram. Keindahan itu membuat langkah Rania tertahan.
Bayangan masa lalu bersama Arga tiba-tiba muncul kembali. Dulu ia masuk ke kamar serupa dengan harapan setinggi langit, namun pada akhirnya ia dipaksa pulang membawa luka. Rania menggigit pelan bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak hati.
Alvino menutup pintu pelan, lalu menyadari perubahan sikap istrinya. “Kamu tidak apa‑apa?” tanyanya lembut sambil menatap wajah istrinya yang kaku.
Rania tersentak kecil, lalu memaksakan diri untuk tersenyum. “Ah… ya, saya ti tidak apa-apa. Mungkin hanya sedikit capek saja.”
Alvino tak langsung percaya. Matanya masih tetap menatap lembut ke arah wajah Rania. “Apakah kamu gugup?”
Napas Rania tercekat sejenak. Ia ingin menyangkal, tapi lidahnya terasa kaku. Akhirnya ia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. “I- iy- ya…” suaranya nyaris berbisik.
Wanita itu juga tidak tahu. Padahal biasanya juga berhadapan dan berbicara biasa saja dengan Alvino jika mereka berada di perusahaan. Tetapi berhadapan dengan Alvino saat ini, dengan status yang telah berubah dari atasan menjadi suami… dia masih seperti berada dalam mimpi. Tidak percaya bahwa itu nyata. Dan sekarang, ini adalah malam pertama bagi mereka. Rania sadar sudah menjadi milik Alvino. Itu artinya ada kewajiban yang harus dipenuhi. Tapi ia merasa belum siap.
Rania menunduk dengan mata terpejam, takut kalau Alvino akan kecewa padanya.
Alvino menghela nafas memahami apa yang dirasakan oleh Rania, lalu menarik tangan Rania pelan dan membawa melangkah menuju sofa panjang yang tak jauh dari ranjang mewah itu.
Alvino meletakkan jasnya, lalu duduk sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya. “Duduklah sebentar, mari kita bicarakan tenang.”
Rania mengangguk perlahan lalu duduk agak menjaga jarak, dan hal itu tak luput dari pandangan Alvino.
Alvino tersenyum lalu kembali bangkit untuk mengambil botol air yang ada di kulkas kecil di sudut ruangan dan menyodorkan padanya setelah dibuka. “Minumlah sedikit, supaya kamu lebih tenang,” ucapnya lalu kembali duduk menyandarkan punggung di samping Rania.
Rania menerima botol itu dengan kedua tangan gemetar dan mengucapkan, “Terima kasih.” Lalu meminumnya. Wanita itu memejamkan matanya merasa sedikit lega setelah air dingin membasahi tenggorokannya.
Keduanya duduk dalam keheningan yang damai, sampai Alvino kembali bersuara pelan.
“Dengar ya… aku menikahimu bukan demi memenuhi keinginan diriku sendiri semata. Aku memilihmu karena ingin hidup bersamamu selamanya. Kalau kamu butuh waktu, aku bisa menunggu saja sampai kamu benar-benar nyaman dan bisa menerimaku sepenuh hati.”
Rania menoleh cepat dan berhadapan dengan mata Alvino yang sedang menatapnya. Terkejut karena ternyata Alvino tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Alvino tersenyum sambil mengulurkan tangannya menyentuh dagu Rania. “Sebulan, setahun, atau lebih lama lagi… Aku sama sekali tak keberatan.”
Rania menunduk dalam, rasa bersalah perlahan menyelimuti hatinya. “Maafkan saya… Saya belum bisa jadi istri yang baik. Sejujurnya saja, saya masih belum bisa melupakan masa lalu yang begitu rumit. Ditambah lagi dengan asal‑usul saya sendiri yang sama sekali tidak jelas. Mungkin, saya hanya akan menjadi beban buat Pak Alvino.”
Alvino menggeser duduknya mendekat, lalu melingkarkan tangannya di belakang punggung Rania, membawa wanita itu ke dalam pelukan.
“Kenapa bicara seperti itu?” ucapnya lembut namun tegas, “aku sama sekali tak pernah menganggapmu beban. Kita bersatu untuk saling melengkapi. Dan kamu juga tahu, keluargaku, terutama Mama dan Papa sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu. Jadi, jangan pernah menjadikan itu sebagai penghalang dirimu untuk bahagia. Kami adalah keluargamu sekarang.”
Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Alvino membuat air mata Rania jatuh berderai. Belum pernah ada orang yang berbicara demikian padanya. Ia mengusap wajah dengan tangan gemetar. “Kenapa… kenapa Bapak begitu baik padaku?”
Alvino tertawa pelan, tatapannya makin lembut. “Bagaimana kalau aku katakan… karena aku sudah lama sekali menyimpan rasa padamu, jauh sebelum kita berdua bersatu. Dan sekarang bisa memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam hatiku.”
Rania terbelalak tak percaya. Wajahnya seketika memerah malu, namun ada rasa hangat yang perlahan mengusir dingin di dadanya.
“Tapi aku sangat sedih," ucap Alvino menekuk wajahnya.
“Kenapa?" tanya Rania cepat. “Apakah saya melakukan kesalahan?"
Alvino membuang nafas lemah dan menyandarkan punggungnya dengan lemas. Rania menggeser duduknya hingga posisinya miring menatap lekat wajah Alvino.
“Kita sudah menikah, tapi kamu masih juga memanggilku Bapak. Apa karena aku sudah terlalu tua?"
Rania terbelalak mendengar pertanyaan itu. Mana ada yang mengatakan Alvino tua? Pria itu bahkan masih terlihat lebih muda lima tahun dari usia sebenarnya.
Alvino menatap Rania dengan wajah sendu. “Apa kamu menikah denganku karena terpaksa? Apa Mama dan Papaku mengancammu?”
"Tidak!” jawab Rania cepat.
“Lalu kenapa sikapmu padaku masih seperti orang asing? Kalau orang tidak tahu, pasti hanya mengira kita adalah atasan dan bawahan.”
Rania menggaruk tengkuknya canggung. “Eng… itu… memangnya saya harus memanggil apa?” tanyanya pelan. Sejujurnya dia juga bingung. Alvino sendiri sudah lama memanggilnya sayang, sejak acara lamaran.
"Apa saja!” Alvino spontan menegakkan punggungnya lalu kembali menggenggam tangan Rania. Matanya berbinar-binar menatap wajah istrinya. “Ayang, Baby, Hubby, Honey, Sweetie, Pak Suami juga bagus.”
Rania tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya spontan memerah. Apa itu tidak terlalu alay?
“Eng… kalau ‘Mas’ saja bagaimana?”
"Tidak mau!” tolak Alvino cepat, bahkan pria itu spontan memalingkan wajah sambil menyilangkan dua tangannya di dada. “Itu kan panggilanmu pada Arga?!”
Rania melongo. Apa yang ada di hadapannya ini benar-benar Alvino? Di mana tampang pria itu yang biasanya dingin jika di luar? Kenapa bisa berubah kekanakan seperti anak kecil yang tidak mau punya saingan?
"Sudah diputuskan,” seru Alvino tiba-tiba membuat Rania mengernyit. "Kamu boleh manggil aku ‘Abang’ atau ‘sayang’!"
Rania meringis sambil mengangguk melihat wajah Alvino yang begitu antusias dengan panggilan baru itu.
Setelah sepakat, Alvino berdiri perlahan. “Ya sudah, aku akan bersih‑bersih dulu. Di lemari ada pakaian ganti untukmu. Kalau kamu masih tidak nyaman, malam ini aku akan tidur di sofa.”
“Jangan!” seru Rania spontan sambil ikut berdiri, “sofa itu terlalu sempit, nanti badanmu sakit semua.”
“Lalu bagaimana?” tanya Alvino pura-pura bingung.
Rania menggigit bibir malu‑malu, lalu menunjuk ke arah ranjang. “Tempat tidurnya cukup luas, kita bisa berbaring di ujung yang berbeda saja.”
Alvino tersenyum menyeringai tanpa disadari Rania. “Baiklah, Bu Istri.”
Alvino, hati-hati dengan tuan surya!
hati² alvino ma om mu itu jaga baik² istrimu