NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kembali ke Kerajaan Timur

Empat hari telah berlalu sejak pertemuan di perbatasan. Derek, Viona, Neil, dan Sera kini berada di wilayah selatan Kerajaan Timur, menunggang kuda melintasi padang rumput luas yang membentang di kaki pegunungan. Di depan mereka, terlihat menara-menara tinggi Istana Kerajaan yang mulai menjulang di ufuk timur. Istana itu tampak megah, namun dari kejauhan, terlihat ada kabut tebal yang menyelimuti puncaknya—seolah menyimpan kegelapan dan intrik di dalamnya.

Derek menghentikan kudanya di sebuah bukit kecil, menatap istana yang pernah menjadi rumahnya. "Delapan tahun," bisiknya. "Delapan tahun sejak terakhir kali aku melihat istana itu."

Viona mendekat, menempatkan kudanya di samping Derek. "Bagaimana perasaanmu?"

"Campur aduk," jawab Derek jujur. "Ada rasa rindu, tetapi juga ada rasa takut. Aku tidak tahu apa yang akan kutemui di sana. Dewan Raja telah menguasai istana selama bertahun-tahun. Mereka mungkin sudah mempersiapkan sesuatu untuk menghadapi kedatanganku."

Neil melangkah mendekat dari belakang. "Kau tidak sendirian lagi, Derek. Aku di sini. Dan Sera juga. Dia tahu banyak tentang mereka."

Sera mengangguk. "Dewan Raja memiliki tiga anggota utama. Mereka adalah orang-orang yang merencanakan pembunuhan ibumu, Derek. Dan mereka juga orang yang menyuruhku memantau Neil di istana. Aku tahu kelemahan mereka—kelemahan dalam rencana mereka, dan kelemahan dalam hubungan mereka."

"Bisakah kita memanfaatkan kelemahan itu?" tanya Viona.

"Ya." Sera menatap Derek. "Tapi kita harus bertindak cepat. Mereka tahu bahwa kau masih hidup. Mereka mungkin sudah mengirim pasukan untuk menangkapmu sebelum kau mencapai istana."

Derek mengangguk. "Aku sudah memikirkan itu. Sebelum kita memasuki istana, kita harus mengumpulkan dukungan dari para bangsawan yang masih setia pada takhta. Ada beberapa keluarga bangsawan tua yang aku kenal—keluarga yang tidak pernah menyetujui kekuasaan Dewan Raja. Jika kita bisa mendapatkan dukungan mereka, kita bisa membentuk pasukan yang cukup kuat untuk menghadapi Dewan Raja secara diplomatis—atau jika perlu, dengan kekuatan."

"Keluarga mana yang kau maksud?" tanya Neil.

"Keluarga Barrington. Mereka adalah salah satu keluarga tertua di Kerajaan Timur. Ayah mereka adalah teman dekat ayahku, dan mereka selalu menentang kekuasaan Dewan Raja. Jika kita bisa meyakinkan mereka, bangsawan lain akan mengikuti."

Derek memutar kudanya, dan mereka melaju ke arah timur laut, meninggalkan jalan utama yang menuju istana. Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya tiba di sebuah kastil tua yang dikelilingi oleh pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Kastil itu tidak sebesar istana kerajaan, tetapi terlihat kokoh dan terawat dengan baik.

"Kastil Barrington," kata Derek. "Di sinilah aku menghabiskan masa kecilku bersama ayahku."

Mereka turun dari kuda dan berjalan menuju gerbang kastil. Seorang penjaga berseragam perak menyambut mereka dengan hati-hati.

"Siapa kalian?" tanya penjaga itu.

" Aku Derek Minos." Derek menatap penjaga itu dengan tatapan tegas. "Aku ingin bertemu dengan Pangeran Barrington."

Penjaga itu terkejut. "Derek Minos? Tapi Putra Mahkota sudah..."

"Sudah mati? Itu yang mereka bilang. Tapi aku tidak mati." Derek menunjukkan dokumen di tangannya. "Ini adalah bukti identitasku. Tolong sampaikan pada Pangeran Barrington bahwa aku ingin bertemu dengannya."

Penjaga itu ragu-ragu, tetapi ia melihat cincin di jari Derek—cincin yang sama dengan yang dikenakan Viona. Ia akhirnya mengangguk dan berlari ke dalam kastil.

Tak lama kemudian, seorang pria tua dengan rambut putih dan jubah berwarna ungu keluar dari kastil. Matanya yang tajam menatap Derek, dan ia tersenyum lebar.

"Derek? Derek, apakah ini benar-benar kau?" Pangeran Barrington membuka pintu gerbang dan memeluk Derek dengan hangat. "Delapan tahun! Aku tidak percaya kau masih hidup!"

"Pangeran Barrington," Derek tersenyum. "Maaf telah menyembunyikan hal ini darimu selama bertahun-tahun. Tapi aku harus melakukannya untuk bertahan hidup."

Pangeran Barrington menatap Viona, Neil, dan Sera. "Siapa mereka?"

"Ini adalah Viona, istriku. Neil, adikku. Dan Sera, seorang teman yang membantuku." Derek menatap Pangeran Barrington. "Dan aku datang untuk meminta bantuanmu, Pangeran."

Pangeran Barrington menghela napas. "Masuklah. Kita akan bicara di dalam."

Mereka masuk ke dalam kastil. Di ruang tamu besar, Pangeran Barrington mendengarkan penjelasan Derek tentang perjalanannya, tentang konspirasi Dewan Raja, dan tentang rencananya untuk merebut kembali takhta.

"Dewan Raja telah berbuat terlalu banyak kerusakan," kata Derek. "Mereka membunuh ibuku, mereka mencoba membunuhku, dan mereka memprovokasi perang antara Kerajaan Timur dan Barat. Jika kita tidak menghentikan mereka sekarang, kerajaan ini akan hancur."

Pangeran Barrington diam selama beberapa saat. Lalu ia menatap Derek dengan tatapan yang penuh keyakinan.

"Aku tahu Dewan Raja tidak bisa dipercaya. Aku telah melawan mereka selama bertahun-tahun, tetapi tanpa bukti yang cukup, aku tidak bisa berbuat banyak. Tapi dengan dokumen ini—dan dengan dukungan dari Kerajaan Barat—kita memiliki kesempatan." Pangeran Barrington berdiri. "Aku akan memanggil semua bangsawan yang setia pada takhta. Dalam tiga hari, kita akan mengumpulkan pasukan yang cukup untuk menggulingkan Dewan Raja."

"Tiga hari?" tanya Neil. "Itu cepat."

"Waktu tidak berpihak pada kita, Nak." Pangeran Barrington menatap Derek. "Dewan Raja sudah tahu kau masih hidup. Jika kita tidak bergerak cepat, mereka akan menyerang lebih dulu."

Derek mengangguk. "Baik. Dalam tiga hari, kita akan bergerak."

Malam itu, Derek dan Viona berjalan-jalan di taman kastil. Bintang-bintang bersinar sangat terang, dan angin malam berhembus lembut.

"Kau khawatir?" tanya Viona.

"Dengan segala sesuatu yang terjadi?" Derek tersenyum. "Tentu saja. Tapi aku juga bersyukur—bersyukur kau ada di sini, dan bersyukur kita memiliki kesempatan ini."

Viona memegang tangan Derek. "Aku akan selalu ada di sini, Derek. Apa pun yang terjadi."

Derek mencium kening Viona. "Aku tahu, Viona. Dan itu yang memberiku kekuatan."

Mereka kembali ke kastil dan beristirahat, bersiap untuk tiga hari ke depan—tiga hari yang akan menentukan nasib dua kerajaan. Dan di balik semua itu, harapan untuk perdamaian dan cinta terus menyala di hati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!