"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 #Terbakar
Sedan hitam mewah milik Calvin membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan sempat merayap cukup lama. Hanya terdengar dengung halus mesin dan embusan angin dingin dari pendingin ruangan. Anya menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela sebelum akhirnya memutar tubuhnya sedikit ke kanan, memecah keheningan yang membosankan itu.
"Calvin," panggil Anya, suaranya terdengar kasual. "Jangan langsung pulang ke rumahku ya. Kita mampir dulu ke coffe shop terdekat. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan secara pribadi."
Calvin melirik sekilas ke arah Anya melalui spion tengah, lalu mengangguk dengan gerakan yang sangat teratur. "Baik. Lagipula Papa memang menyuruhku untuk menemanimu sore ini."
Mendengar alasan Calvin yang lagi-lagi berlandaskan perintah papanya, Anya hanya bisa memutar bola matanya malas. Pria ini benar-benar seperti prajurit yang tidak punya kemauan sendiri.
Sesampainya di sebuah coffe shop bernama Taste coffe itu, mereka memilih area indoor yang cukup privat di sudut ruangan. Setelah pelayan datang dan mencatat pesanan, Anya memesan iced taro latte dengan ekstra krim di atasnya, sementara Calvin hanya memesan black coffee hangat. Suasana kembali canggung. Anya menopang dagunya dengan tangan kanan, bersiap membuka obrolan serius yang sudah dia rancang di kepalanya sejak berada di kampus tadi. Dia ingin memetakan strategi untuk keluar dari jerat perjodohan ini.
Namun, sebelum Anya sempat mengeluarkan kata pertama, Calvin sudah mendahuluinya. Pria itu menatap Anya dengan pandangan yang lurus, datar, namun dipenuhi kepasrahan yang mendalam.
"Anya," buka Calvin, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin. "Kita sama-sama tahu bahwa hubungan ini terjalin bukan karena keinginan kita sendiri, melainkan karena ambisi dan bisnis orang tua kita. Tapi... aku berharap kita bisa menjalaninya dengan baik."
Anya mengernyitkan keningnya, sedikit terkejut dengan keterusterangan Calvin. "Menjalaninya? Maksudmu, kamu menyerah begitu saja?"
Calvin mengangguk pelan sembari merapikan letak sendok kecil di samping cangkir kopinya. "Karena menolak pun tidak ada gunanya, Anya. Kita akan tetap menikah pada akhirnya. Melawan keputusan Papa hanya akan membuang energi dan membuat situasi keluarga menjadi rumit."
Mendengar penuturan itu, Anya seketika merasa kesal. Dia menatap pria di hadapannya dengan pandangan tidak habis pikir. Kenapa pria setampan dan semapan Calvin bisa selempeng ini? Tidak ada api perlawanan sama sekali di dalam matanya. Semuanya terasa datar, pasif, dan sangat patuh.
"Calvin, kamu serius menerima perjodohan ini begitu saja tanpa ada niat untuk protes?" cecar Anya, nada suaranya sedikit meninggi karena gemas. "Ini pernikahan, Calvin! Urusan seumur hidup, bukan sekadar kontrak kerja sama proyek properti!"
Calvin kembali mengangguk, ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun. "Aku serius."
Anya mengembuskan napas frustrasi. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Calvin dengan menyelidik. "Apa kamu benar-benar tidak punya wanita lain? Maksudku, wanita yang sebenarnya kamu cintai dan ingin kamu kenalkan pada orang tuamu sebagai calon istri pilihanmu sendiri? Katakan padaku, Calvin. Kalau ada, kita bisa bekerja sama untuk membatalkan ini."
Mendengar pertanyaan itu, Calvin terdiam sejenak. Gerakan tangannya membeku. Untuk beberapa detik yang krusial, bayangan wajah teduh Melati yang sedang tersenyum sembari menyajikan kue karamel di kedai Jasmine melintas dengan sangat jelas di benaknya. Hati Calvin berdenyut perih. Namun, mengingat seberapa keras watak Tomi Fernandez, dan bagaimana Melati sendiri selalu menganggapnya sebagai seorang adik, Calvin perlahan menekan perasaan itu dalam-dalam ke dasar hatinya yang paling gelap.
Calvin mendongak, menatap Anya kembali dengan mata yang kini terlihat sedikit sayu. "Tidak ada," jawabnya berbohong. "Aku tidak punya siapa-siapa. Jadi, aku harap kamu tidak keberatan dengan pernikahan ini, Anya."
Anya mendengus pelan, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke kursi dengan lemas. "Aku sudah keberatan sejak awal, Calvin. Umurku baru dua puluh satu tahun, kuliahku bahkan belum selesai. Aku belum ingin menikah dan terikat dalam komitmen konyol ini."
Anya memalingkan wajahnya ke arah jendela cafe. Apalagi jika menikah denganmu, itu artinya aku harus pasrah bertemu setiap hari dengan pamanmu yang licik dan super mesum itu! Bisa gila aku kalau harus terus-terusan berurusan dengan Bara Fernandez! batin Anya berteriak histeris, membayangkan bagaimana Bara memojokkannya di toilet semalam.
Namun, ketika Anya kembali menatap Calvin yang kini sedang mengaduk kopinya dalam diam, rasa kesal di hatinya perlahan surut, digantikan oleh rasa iba. Dari dekat, Calvin terlihat sangat tertekan. Bahunya seolah memikul beban berat yang tidak bisa dia bagikan kepada siapa pun. Pria ini hanyalah korban lain dari keegoisan sistem keluarga Fernandez.
Anya menghela napas panjang, mencoba melunakkan suaranya. "Baiklah... kalau memang situasinya seperti ini, kita jalani dulu saja. Tapi, aku punya syarat."
Calvin mengangkat wajahnya. "Apa syaratnya?"
"Aku belum ingin menikah dalam waktu dekat. Setidaknya tunggu sampai aku lulus kuliah dan wisuda. Dan selama masa pertunangan ini, kita harus saling mengenal dulu dengan cara kita sendiri, kan? Tanpa paksaan dari orang tua. Bagaimana?" tawar Anya, mencoba mengambil jalan tengah yang paling aman untuk mengulur waktu.
Calvin tampak menimbang sejenak, lalu sebuah anggukan kecil setuju diberikan olehnya. "Baik. Aku setuju dengan syaratmu, Anya. Terima kasih karena mau mengerti."
Perasaan tegang di antara mereka akhirnya sedikit mencair. Pelayan datang mengantarkan pesanan minuman mereka. Anya yang merasa tenggorokannya kering sejak tadi langsung meraih gelas iced taro latte-nya. Dia meminumnya dengan cukup terburu-buru, menikmati sensasi dingin yang menyegarkan.
Namun, karena meminumnya terlalu bersemangat, Anya tidak menyadari bahwa ada sisa whipped cream yang cukup tebal menempel di sudut bibir ranumnya.
Calvin, yang memang dasarnya memiliki sifat peka dan perhatian secara alami, menyadari hal tersebut. Tanpa berpikir panjang atau merasa canggung, Calvin meraih selembar tisu bersih dari wadah di atas meja. Dengan gerakan yang sangat lembut dan sopan, tangan Calvin bergerak maju, mengusap langsung sisa krim putih yang menempel di sudut bibir merah Anya.
Anya sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu, namun dia tidak menghindar. Dia hanya terdiam sampai Calvin selesai mengusap bibirnya dan menarik kembali tangannya.
Anya mengulas sebuah senyuman tipis yang tulus. "Ah... terima kasih, Calvin."
"Sama-sama." balas Calvin dengan senyum tipis yang sangat formal.
Interaksi di antara keduanya sebenarnya terasa sangat biasa saja. Tidak ada binar gairah, tidak ada debaran jantung yang menggila, dan sama sekali tidak ada rasa cinta yang melandasi tindakan tersebut. Itu hanyalah sebuah gestur kesopanan dari seorang pria kepada seorang wanita yang berada di depannya.
Namun... pemandangan yang terlihat biasa saja bagi mereka, justru berubah menjadi bencana mengerikan di tempat lain.
Di saat yang bersamaan, di dalam ruang kerja megah Fernandez Corp, atmosfer ruangan terasa mencekam dan mendidih.
Bara Fernandez berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap lurus ke luar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Jas abu-abu gelapnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka, menampilkan urat-urat kemarahan yang menonjol di leher kokohnya.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel milik Bara yang tergeletak di atas meja kaca bergetar nyaring. Bara berbalik dengan gerakan cepat, menyambar ponsel tersebut. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia menampilkan beberapa file foto dengan resolusi tinggi.
Bara membuka kiriman foto tersebut. Foto-foto itu dikirim langsung oleh orang-orang kepercayaannya. Mata-mata yang sengaja dia utus untuk mengikuti setiap pergerakan Calvin sejak meninggalkan gedung kantor siang tadi.
Mata elang Bara seketika menyipit tajam, memancarkan kilat murka yang sangat pekat saat layarnya menampilkan foto-foto di dalam cafe Taste coffe. Di sana, terlihat jelas bagaimana Anya sedang tersenyum manis ke arah Calvin. Dan yang paling membuat darah Bara mendidih hingga ke ubun-ubun adalah foto berikutnya, tangan Calvin yang terulur lembut sedang mengusap bibir ranum Anya dengan tisu, dan Anya... gadis cerinya itu, justru membiarkannya sembari memamerkan senyuman yang sangat menawan.
Brak!
Bara menghempaskan ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan suara benturan yang keras. Kepalan tangannya mengeras sampai buku-buku jarinya memutih sempurna.
Rasa cemburu dan amarah yang posesif membakar habis seluruh ketenangan dan kontrol diri yang selama ini diagungkannya. Bara merasa kebakaran jenggot. Berani-beraninya gadis kecil itu membiarkan pria lain menyentuh bibir yang semalam baru saja dia klaim sebagai miliknya! Berani-beraninya dia tersenyum semanis itu pada keponakannya sendiri setelah memberikan janji penyerahan diri semalam!
Bara menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang kian menggila. Sudut bibir tampannya terangkat, membentuk sebuah senyuman dingin yang sangat berbahaya.
"Kamu benar-benar menantangku, Zevanya," desis Bara dengan suara baritonnya yang rendah dan parau. "Mari kita lihat, seberapa lama kamu bisa terus tersenyum di depan pria lain sebelum aku benar-benar menyeretmu kembali ke dalam kuasaku."