NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Malam telah sepenuhnya turun membungkus kota Jakarta, menyisakan hawa dingin sisa hujan sore tadi yang masih terasa di permukaan kaca jendela ruang makan. Namun, berbeda dengan atmosfer mencekam di rumah Ibu mertuaku beberapa jam yang lalu, ruang makan di rumah mewahku saat ini justru dipenuhi oleh binar kehangatan yang teramat nyata.

​Di atas meja kayu jati yang luas, berbagai macam hidangan lezat telah tersaji dengan begitu melimpah. Ada gurame asam manis berbalur saus merah kental yang menggugah selera, sup ayam kampung hangat dengan potongan sayur segar yang mengepulkan uap tipis, udang goreng tepung kesukaan Kenzie, hingga tumis kangkung bawang putih yang harum. Aku selalu memastikan meja makan ini dipenuhi oleh makanan terbaik setiap harinya. Bagiku, kemewahan finansial yang kuperas dari keringatku sendiri di Amara Modest harus berbanding lurus dengan kebahagiaan dan gizi sepasang anak kembarku.

​"Bunda, udang gorengnya enak sekali! Kenzie mau tambah lagi boleh?" suara riang Kenzie memecah keheningan yang damai itu. Bocah laki-laki berusia sembilan tahun itu menyodorkan piringnya yang sudah bersih dengan mata berbinar-binar.

​Aku tersenyum lembut, sebuah senyuman tulus yang sejak sore tadi kusimpan rapat-rapat. Dengan gerakan penuh kasih, kuambilkan dua ekor udang goreng berukuran besar dan menaruhnya di atas nasi hangat Kenzie. "Tentu saja boleh, sayang. Makan yang banyak ya, biar badan Kenzie makin kuat dan sehat."

​"Kayla juga mau supnya lagi, Bunda. Kuahnya segar sekali," timpal Kayla, kembaran Kenzie, sambil menyodorkan mangkuk kecilnya yang bermotif stroberi.

​"Iya, anak cantik. Ini Bunda ambilkan sekalian daging ayamnya ya," balasku manis.

​Kami bertiga menikmati makan malam itu dengan diselingi tawa dan cerita.

Kenzie dengan antusias menceritakan bagaimana dia berhasil mencetak gol saat bermain sepak bola di taman depan sore tadi, sementara Kayla dengan penuh semangat mengeluhkan betapa sulitnya menyusun baju-baju boneka barbie barunya. Aku mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir mungil mereka dengan perhatian penuh. Mereka adalah duniaku, jangkar yang membuatku tetap waras dan kokoh berdiri di tengah badai pengkhianatan yang sedang meremukkan fondasi pernikahan ini.

​Sepanjang makan malam yang berlangsung hampir empat puluh lima menit itu, ada satu hal yang sangat kontras namun terasa begitu melegakan bagi hatiku.

Baik Kayla maupun Kenzie, sama sekali tidak ada yang menanyakan keberadaan Ayah mereka. Kursi kosong di ujung meja yang biasanya ditempati oleh Mas Hanif sama sekali tidak menarik perhatian kedua anak kembarku. Mereka bersikap seolah-olah kursi itu memang ditakdirkan untuk kosong, seolah-olah eksistensi seorang ayah di rumah ini memang tidak pernah ada.

​Kenyataan ini tidak mengherankan bagiku. Dalam dua atau tiga bulan terakhir, peran Mas Hanif sebagai seorang ayah ibarat kata telah menguap tanpa sisa. Dia terlalu sibuk membagi fokusnya antara memikirkan pabrik tekstilnya yang mulai oleng dan memadu kasih secara rahasia di bawah tanah bersama Sarah.

Jangankan menemani anak-anak belajar atau bermain sepak bola, pulang ke rumah sebelum anak-anak tertidur saja sudah menjadi momen yang sangat langka. Mas Hanif telah lama absen dari dunia anak-anaknya, membuat ikatan batin di antara mereka mengikis habis hingga ke titik terendah. Di mata Kayla dan Kenzie saat ini, sosok Ayah hanyalah seorang pria asing yang kebetulan tinggal di atap yang sama, yang sesekali lewat di koridor rumah tanpa membawa arti apa pun.

​"Alhamdulillah, kenyang sekali, Bunda," ucap Kenzie sambil mengusap perutnya yang kekenyangan, lalu menaruh sendoknya dengan rapi.

​"Kayla juga sudah selesai, Bunda. Terima kasih untuk makan malamnya yang enak," sahut Kayla manis.

​"Sama-sama, sayang. Sekarang kalian berdua bawa piring dan mangkuk kosongnya ke wastafel, ya? Setelah itu langsung ke kamar atas, cuci kaki, sikat gigi, dan bersiap untuk tidur. Besok pagi Bunda temani kalian jalan-jalan ke taman kota," perintahku lembut sambil mengusap puncak kepala mereka bergantian.

​"Siap, Bunda!" seru mereka kompak. Dengan tertib, sepasang anak kembar itu mengangkat peralatan makan mereka sendiri dan membawanya ke dapur dengan riang, meninggalkan aku yang masih duduk tenang di meja makan.

Aku memang mengajarkan anak-anaknya tentang tanggung jawab dengan contoh kecil meletakkan piring yang mereka pakai di wastafel walaupun ada beberapa Mbak yang kerja di rumah mewah ini.

​Begitu siluet tubuh kecil mereka menghilang di balik tangga menuju lantai dua, senyuman hangat di wajahku perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi wajah yang kembali sedatar papan tulis dan sedingin es. Aku menyesap air putih hangat dari gelas porselenku, menenangkan debaran jantungku yang mendadak menangkap suara deru mesin mobil yang baru saja memasuki pelataran garasi rumah.

​Pria itu sudah pulang.

​Suara pintu depan yang terbuka terdengar menggema di dalam rumah yang sunyi. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang diseret pelan, menandakan betapa lelahnya sang pemilik tubuh. Mas Hanif melangkah memasuki area ruang makan dengan penampilan yang luar biasa kuyu dan berantakan. Kemeja batik formal yang dia kenakan sore tadi kini sudah tampak kusut dengan kancing atas yang terbuka, rambutnya berantakan, dan wajah tampannya terlihat begitu kusam dibayangi oleh lingkaran hitam di bawah mata. Tekanan psikologis dari pertemuan sore tadi di rumah ibunya, ditambah beban draf pemisahan harta yang akan datang besok pagi, tampaknya telah menguras habis seluruh energinya.

​Melihat kehadirannya yang mendadak merusak pemandangan indahnya malam ini, aku hanya bisa mengembuskan napas panjang, sebuah helaian napas lelah yang sengaja kuperdengarkan agar dia tahu bahwa kehadirannya sama sekali tidak dinantikan.

​Mas Hanif sempat tertegun di ambang pintu ruang makan. Dia menatapku yang masih duduk anggun, lalu pandangannya beralih menatap deretan makanan melimpah yang masih tersisa banyak di atas meja. Ada binar lapar dan kerinduan yang mendalam di kedua matanya saat melihat hidangan rumah yang sudah lama tidak dia nikmati dengan tenang.

​"Hanum... kamu belum tidur?" suara Mas Hanif terdengar serak dan rendah, sarat akan rasa canggung yang teramat sangat.

​"Belum, Mas. Aku baru saja selesai menemani anak-anak makan malam," jawabku datar, nadanya begitu formal tanpa ada kehangatan sedikit pun.

​Aku bangkit dari kursi, berdiri dengan tegap memandangnya. "Duduklah. Kamu kelihatan sangat kuyu dan kelaparan seperti orang yang tidak diurus dengan baik. Kebetulan makanan malam ini masih banyak sekali, silakan makan jika kamu mau."

​Mendengar ajakanku, Mas Hanif tampak sedikit terkejut namun sejurus kemudian wajahnya memancarkan rona lega. Dia buru-buru melangkah mendekat, menarik kursi di ujung meja, dan langsung mendudukkan tubuh lelahnya di sana. "Terima kasih ya, Num. Jujur, Mas memang lapar sekali. Seharian ini Mas tidak sempat makan siang karena terlalu banyak pikiran."

​Dia mengulurkan tangannya, hendak meraih piring bersih yang tertelungkup di dekat wadah nasi. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh porselen putih itu, aku bergerak lebih cepat. Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh penegasan, aku mengambil piring tersebut, lalu mengambilkan nasi putih dan beberapa lauk-pauk ke dalamnya sebelum meletakkannya kembali di hadapan Mas Hanif.

​Mas Hanif menatap tindakanku dengan binar mata yang mendadak berkaca-kaca. Dia mengira, di balik sikap dingin dan tegas yang kutunjukkan sore tadi di rumah ibunya, aku tetaplah Hanum nya yang dulu istri berbakti yang tidak tega melihat suaminya kelaparan dan menderita. Dia benar-benar mengira bahwa pelayanan fisik ini adalah wujud dari sisa-sisa cinta dan kepasrahanku atas rencana poligaminya.

​"Terima kasih banyak, Num," bisik Mas Hanif, suaranya terdengar emosional. "Mas tahu... di dalam hatimu, kamu adalah wanita yang luar biasa baik. Mas sangat bersyukur memiliki istri pertama sepertimu yang tetap memikirkan kebutuhan Mas di tengah situasi sulit seperti ini."

​Aku kembali duduk di kursi tunggalku, menumpukan kedua tangan di atas meja sambil menatapnya yang mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya dengan lahap. Sebuah senyuman tipis, senyuman sarkas yang teramat dingin, perlahan terukir di sudut bibirku.

​"Makanlah yang kenyang, Mas. Nikmati setiap suapan dari makanan mewah ini selagi kamu masih bisa merasakannya di bawah atap rumah ini," ucapku, nadanya begitu lembut namun kalimatnya mengandung racun yang terselubung.

​Mas Hanif sempat menghentikan kunyahannya sejenak, menatapku dengan kening berkerut halus. "Maksudmu apa, Num?"

​Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi, menatap lurus ke dalam bola matanya yang tampak kebingungan. "Tidak ada maksud apa-apa, Mas. Aku hanya sedang berpikir tentang pertemuan kita sore tadi di rumah Ibu. Kasihan sekali calon istri mudamu itu, Sarah. Wajahnya yang polos dan lugu itu terus terbayang di kepalaku sepanjang makan malam ini."

​Mendengar nama Sarah disebut di meja makan ini, Mas Hanif mendadak tersedak kecil. Dia buru-buru meraih gelas air putih yang kusuguhkan lalu meminumnya hingga tandas untuk meredakan rasa perih di tenggorokannya. Wajah kuyunya seketika berubah tegang kembali.

​"Num... tolong, jangan bahas soal Sarah dulu malam ini. Mas benar-benar sedang lelah," pinta Mas Hanif dengan nada memohon, mencoba menghindari topik yang dia tahu akan menyudutkan harga dirinya.

​"Kenapa tidak boleh dibahas, Mas?" tanyaku dengan nada heran yang dibuat-buat, kedua alis mataku terangkat naik. "Bukankah dia adalah wanita pilihanmu? Wanita salihah yang membawa berkah ibadah ke dalam hidupmu? Seharusnya kamu bangga dan bahagia setiap kali namanya disebut, bukan malah merasa tertekan seperti ini."

​Aku memajukan tubuh sedikit ke depan meja, menatapnya dengan pandangan menguliti. "Aku hanya merasa sangat kagum pada komitmen Sarah sore tadi, Mas. Bayangkan saja, di jaman yang serba materialistis seperti sekarang, masih ada wanita muda yang begitu suci dan tulus, yang bersedia dan berjanji di depan Ibu untuk menerimamu apa adanya dari nol lagi. Benar-benar dari bawah, tanpa menginginkan kemewahan sedikit pun."

​Aku menjeda kalimatku, membiarkan sindiranku menembus langsung ke dalam ego kelelakiannya yang paling dalam. "Aku jadi penasaran, Mas... Apakah nanti setelah kamu menikah siri dengannya minggu depan, Sarah yang salihah itu sanggup memasakkan makanan selezat dan semelimpah ini untukmu setiap malam? Apakah di rumah kontrakan kecil atau rumah sederhana yang akan kalian tempati nanti, dia bisa menyuguhkan kenyamanan fisik yang sama seperti yang selama sepuluh tahun ini kusediakan untukmu tanpa pernah kamu minta?"

​Wajah Mas Hanif perlahan memerah, dihantam telak oleh sindiran halussku yang begitu menohok. Dia meletakkan sendoknya kembali ke atas piring, kehilangan selera makannya yang menggebu-gebu tadi. Rasa bersalah dan harga dirinya yang terusik membuat dadanya naik turun menahan emosi yang tidak bisa dia luapkan.

​"Hanum, Mas mohon jangan merendahkan Sarah seperti itu," ucap Mas Hanif, mencoba membela calon istri mudanya meskipun suaranya terdengar sangat lemah dan tidak berdaya. "Sarah memang bukan wanita kaya seperti kamu, dia tidak punya perusahaan besar seperti Amara Modest. Tapi dia punya ketulusan hati yang..."

​"Aku tidak sedang merendahkannya, Mas. Justru sebaliknya, aku sedang memujinya," potongku cepat dengan lambaian tangan halus yang begitu elegan, menghentikan kalimat pembelaannya sebelum sempat berkembang menjadi kebohongan baru. "Aku sangat menghormati janjinya. Makanya, besok pagi jam sembilan tepat, saat Pak Baskoro datang membawa draf resmi perjanjian pasca-nikah untuk pemisahan harta gono-gini kita, aku harap kamu tidak akan menunjukkan keraguan sedikit pun saat menandatanganinya."

​Kutatap wajah suamiku yang mendadak kembali memucat pasi mendengar pengingat tentang surat perjanjian itu. "Surat itu adalah bukti nyata dari restuku, Mas. Dengan kamu menandatanganinya, kamu sedang membuktikan pada dunia, pada Ibu dan terutama pada Sarah, bahwa pernikahan kedua kalian memang murni karena ibadah dan cinta suci, bukan karena kamu ingin menjadikan harta kekayaanku sebagai modal untuk menghidupi istri mudamu itu."

​Mas Hanif terdiam seribu bahasa, jemari tangannya yang berada di bawah meja saling meremas satu sama lain dengan begitu gelisah. Ketakutannya sangat beralasan. Dia tahu, begitu pena itu digoreskan di atas kertas besok pagi, seluruh dunia kemewahannya telah resmi runtuh setengah jalan. Dia tidak akan bisa lagi menyentuh uang perusahaanku, tidak akan bisa lagi menggunakan fasilitas kartu kredit korporat atas namaku, dan dia harus mulai memikirkan bagaimana caranya menghidupi dua dapur dengan kondisi pabrik tekstilnya sendiri yang saat ini sedang berada di ambang kebangkrutan karena terlilit utang operasional.

​"Kamu... kamu benar-benar akan memisahkan semuanya, Num?" tanya Mas Hanif dengan suara yang bergetar hebat, matanya menatapku dengan pandangan memohon yang teramat sangat, berharap aku akan mencairkan sedikit keputusanku. "Apakah tidak ada ruang negosiasi sedikit pun untuk aset pabrik tekstil Mas? Kamu tahu sendiri, pabrik itu sedang butuh suntikan dana segar untuk membayar sanksi keterlambatan pengiriman bahan ke klien..."

​"Tidak ada negosiasi untuk pengkhianatan, Mas Hanif," potongku dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sedingin es kutub, melenyapkan seluruh kepura-puraan lembutku sebelumnya. "Pabrik tekstilmu adalah urusan pribandumu dan Sarah-mu yang siap menemanimu dari bawah itu. Mintalah dia untuk berdoa lebih khusyuk agar utang-utang pabrikmu bisa lunas, atau mintalah ibumu yang terhormat itu untuk menjual perhiasan mewahnya demi menyelamatkan harga diri anak laki-laki kebanggaannya."

​Aku bangkit dari kursi makan, berdiri dengan keanggunan mutlak seorang pemenang di atas pecundang yang masih duduk terpaku di kursinya. "Tidurlah di kamar tamu malam ini, Mas. Dan pastikan besok pagi jam sembilan kamu tidak terlambat bangun. Pak Baskoro tidak suka menunggu orang yang tidak menghargai waktu."

​Tanpa menoleh lagi ke belakang, aku melangkah meninggalkan ruang makan dengan ritme langkah kaki yang konstan dan tegap. Di setiap langkahku menaiki anak tangga menuju kamar anak-anak, kepuasan batin yang luar biasa dingin merayapi seluruh dinding dadaku.

​Mas Hanif berpikir dia bisa bersenang-senang menikmati indahnya cinta baru di luar sana sementara aku tetap menjadi istri penurut yang menanggung seluruh beban finansialnya? Pria itu benar-benar terlalu bodoh untuk menyadari bahwa malam ini adalah makan malam mewah terakhir yang bisa dia nikmati dengan tenang di rumah ini. Mulai besok pagi, setelah draf pemisahan harta itu ditandatangani, jaring-jaring kehancuran yang kususun akan mulai mengencang, siap menjatuhkan vonis skakmat yang akan menyeretnya masuk ke dalam neraka kemiskinan yang sesungguhnya.

"Selamat menikmati sisa malammu yang penuh ketakutan, orang asing, karena masa depan yang kusiapkan untukmu tidak akan pernah membiarkanmu bernapas lega lagi."

1
Muft Smoker
udh di bilangin sifat gengsi ny jgn di ambil semua ny ,, koq msh nakal aj siih ,,
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
sabar yx mba ,, biasa urusan rumah tangga ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!