NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:85.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suara pecahan gelas memenuhi dapur. Disusul teriakan Annisa yang terdengar penuh emosi. Membuat Lasmi dan Haikal langsung berlari dari ruang tamu.

“Ada apa?!” bentak Lasmi panik.

Begitu tiba di dapur, keduanya langsung terpaku. Nampan dan pecahan gelas berserakan di lantai.

Sementara, Emeli berdiri sambil memegangi pipinya yang memerah dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan, Annisa berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan tangan gemetar.

“Ya Tuhan…” Lasmi membelalak. “Kamu nampar Dokter Emeli?!”

Haikal langsung menghampiri Emeli.

“Emeli!” wajahnya penuh khawatir. “Kamu nggak apa-apa?”

Emeli menggeleng pelan sambil menahan air mata.

“Aku nggak sengaja ngomong…” suaranya dibuat bergetar lemah. “Mungkin Annisa salah paham…”

Melihat sikap wanita itu, Haikal justru semakin marah.

“Annisa!” bentaknya keras. “Kamu sudah gila?!”

Lasmi ikut maju dengan wajah penuh amarah.

“Dasar perempuan kampungan!” makinya tajam. “Berani-beraninya kamu kasar sama tamu!”

Annisa menatap keduanya dengan mata memerah. Dadanya naik turun menahan semua luka yang selama ini terus dipendam. Tetapi, kali ini dirinya tidak ingin diam lagi.

“Tamparan itu pantas dia dapat,” ucap Annisa dengan suara bergetar namun tegas.

Haikal langsung melotot marah.

“Kamu masih berani melawan?!”

“Kenapa aku harus diam terus?!” suara Annisa meninggi untuk pertama kalinya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

“Dia menghina aku!” teriaknya penuh luka. “Dia bilang aku lusuh! Dia mengejek aku mandul!”

Lasmi malah mendecak sinis. “Memangnya salah?”

Annisa langsung menoleh pada ibu mertuanya tak percaya. Wanita tua itu melipat tangan di dada sambil berkata dingin,

“Memang kenyataannya begitu.”

Hati Annisa terasa diremas. Namun, rasa sakit itu perlahan berubah menjadi kemarahan yang selama ini mati-matian dia tahan.

“Lima tahun…” suara Annisa bergetar hebat. “Lima tahun aku tinggal di rumah ini.” Tatapannya berpindah pada Haikal.

“Aku melayani Mas.” Lalu pada Lasmi.

“Aku ngurus rumah ini.” Air matanya terus jatuh.

“Aku tahan semua hinaan Ibu…”

Namun, tak satu pun dari mereka terlihat tersentuh.

Haikal justru membalas dingin,

“Kalau kamu nggak bikin masalah, semua ini nggak akan terjadi.”

Annisa tertawa kecil tawa pahit yang terdengar menyakitkan.

“Aku yang bikin masalah?” Tatapannya perlahan berubah kecewa.

“Mas bawa perempuan lain masuk ke rumah… bahkan di depanku.”

“Jaga ucapanmu!” bentak Haikal.

“Kenapa?” Annisa menatapnya tajam. “Takut kalau semua orang sadar kalian memang berselingkuh?”

Haikal kembali mengangkat tangannya hendak menampar. Annisa menahan pergelangan tangan pria itu.

Pergelangan tangan Haikal masih ditahan erat oleh Annisa. Tatapan wanita itu penuh luka dan kemarahan yang selama ini dipendam bertahun-tahun. Sementara Haikal menatapnya tidak percaya.

“Lepaskan tangan aku!” bentaknya kasar.

Annisa tidak bergerak. Air mata terus jatuh di wajah pucatnya.

“Aku capek…” lirihnya penuh sesak. “Capek diinjak terus.”

Plak!

Annisa balas menampar Haikal. Suara tamparan itu menggema keras di dapur. Semua orang langsung membeku. Mata Haikal membelalak tak percaya.

Begitu juga Lasmi yang langsung menjerit marah.

“Kurang ajar!”

Wanita tua itu langsung maju hendak menyerang Annisa. Tetapi, kali ini Annisa tidak diam. Dorongan keras dari tangannya membuat tubuh Lasmi kehilangan keseimbangan. Lasmi jatuh terduduk ke lantai sambil meringis kaget.

“Bu!” Haikal langsung membungkuk membantu ibunya.

Namun, wajah pria itu kini penuh amarah membara.

“Annisa!” bentaknya hingga urat di lehernya terlihat. “Kamu sudah kelewatan!”

Annisa berdiri dengan napas memburu. Tubuhnya masih lemah, tapi matanya kini tak lagi dipenuhi ketakutan. Yang tersisa hanya kecewa dan kecewa yang begitu dalam.

“Aku kelewatan?” tawanya terdengar pahit. “Kalian yang menghancurkan aku sedikit demi sedikit!”

“Diam!” bentak Haikal.

Annisa malah menatap suaminya dengan seringai penuh luka.

“Baik.” Suaranya perlahan berubah dingin.

“Aku akan bercerai.”

Semua orang langsung terdiam. Bahkan, Emeli ikut membelalak kaget. Tetapi, Annisa belum selesai. Tatapannya beralih ke seluruh rumah itu.

“Dan jangan harap rumah ini jadi rumah kalian.”

Kalimat itu membuat Haikal langsung berdiri, pria itu tertawa sinis.

“Kamu pikir aku bodoh?”

Annisa mengernyit.

“Aku sudah urus surat kepemilikan rumah ini.” Tatapan Haikal penuh kemenangan. “Sebentar lagi semuanya jadi atas nama aku.”

Annisa hanya menatapnya dingin. Tak ada lagi rasa takut di matanya.

“Aku nggak peduli.”

Jawaban singkat itu justru membuat hati Haikal sedikit goyah. Sementara Lasmi yang masih kesal langsung berteriak,

“Usir dia, Haikal!”

Wanita tua itu menunjuk Annisa penuh kebencian.

“Perempuan kurang ajar seperti dia nggak pantas tinggal di rumah ini!”

Di sudut dapur, Emeli hanya diam memandangi semuanya dengan jantung berdebar. Dirinya benar-benar terkejut, karena Annisa yang selama ini selalu diam, menangis, dan mengalah kini akhirnya berani melawan balik.

Amarah Haikal sudah benar-benar memuncak. Wajah pria itu merah padam saat menatap Annisa penuh kebencian. Sementara Lasmi terus memprovokasi dari belakang.

“Ceraikan dia sekarang juga! Perempuan seperti itu nggak pantas jadi istri!”

Suasana rumah terasa mencekam.

Hujan deras mulai turun di luar sana, disusul suara angin sore yang menerpa jendela-jendela rumah. Annisa berdiri tegak di tengah dapur.

Haikal menunjuk Annisa dengan napas memburu.

“Kamu mau cerai kan?”

Annisa tersenyum tipis, senyum penuh luka.

“Bukannya itu yang Mas inginkan sejak awal?”

Namun, bukannya tersentuh, ego Haikal justru semakin terbakar.

“Baik!” bentaknya keras. “Aku kabulkan!”

Guntur menggelegar di langit malam. Dan di tengah suara hujan yang semakin deras Haikal akhirnya mengucapkan kalimat yang menghancurkan semuanya.

“Aku ceraikan kamu!”

Annisa mematung, Haikal belum berhenti.

“Aku ceraikan kamu!”

Lasmi menatap puas. Sedangkan, Emeli menahan napas. Lalu untuk ketiga kalinya,

“Aku ceraikan kamu, Annisa!”

Petir menyambar keras di luar rumah seolah ikut menjadi saksi runtuhnya rumah tangga mereka malam itu.

Air mata Annisa perlahan jatuh membasahi pipinya. Lima tahun cinta, lima tahun pengorbanan. Berakhir hanya dalam beberapa detik. Annisa justru tersenyum yang membuat Haikal sedikit mengernyit.

Wanita itu menatap suaminya lurus-lurus dengan mata penuh luka dan kekecewaan mendalam.

Suasana terasa mencekam setelah Haikal menjatuhkan talak tiga kepada Annisa. Wanita itu berdiri mematung di tengah dapur dengan wajah pucat dan mata merah dipenuhi air mata. Tangannya mengepal lemah di sisi tubuhnya, sementara napasnya naik turun menahan sesak yang terasa menyesakkan dada.

Lima tahun dirinya mempertahankan rumah tangga itu. Namun, semua pengorbanannya berakhir begitu saja malam ini.

Lasmi menjadi orang pertama yang kembali bersuara. Wajah wanita tua itu terlihat sangat puas, bahkan sudut bibirnya terangkat tipis penuh kemenangan.

“Nah begitu!” katanya sinis. “Dari dulu harusnya kamu ceraikan perempuan mandul ini!”

Annisa menutup matanya sesaat. Kalimat itu kembali menghantam hatinya seperti pisau.

Sementara itu, Haikal masih berdiri dengan dada bergemuruh emosi. Pria itu menatap Annisa dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.

Emeli yang berdiri di dekat meja makan pura-pura terlihat terkejut, meski dalam hati ia merasa sangat puas melihat semuanya berjalan sesuai keinginannya.

Lasmi berjalan mendekat lalu menarik kasar lengan Annisa.

“Keluar kamu dari rumah ini!”

Tubuh Annisa langsung tersentak. Kondisinya yang belum pulih membuat dirinya hampir kehilangan keseimbangan.

“Ibu ... lepas...” lirihnya lemah.

Lasmi malah mencengkeramnya lebih kuat.

“Haikal!” bentaknya. “Bantu Ibu usir perempuan ini!”

Tanpa ragu, Haikal ikut menarik tangan Annisa menuju pintu depan rumah. Annisa menatap pria itu tidak percaya.

“Mas...” suaranya pecah. “Biar aku ambil barang-barangku dulu...”

“Nggak usah!” potong Lasmi tajam. “Semua di rumah ini milik anak saya!”

Padahal, sebagian besar isi rumah itu dibeli menggunakan uang Annisa sendiri. Bahkan, rumah itu berdiri dari tabungan yang selama ini ia kumpulkan diam-diam demi membantu Haikal.

Tubuh Annisa terus didorong menuju teras rumah. Hujan deras langsung membasahi tubuhnya begitu pintu terbuka. Angin sore menerpa wajah pucatnya tanpa ampun.

“Pergi!” bentak Lasmi lagi.

Dorongan keras membuat Annisa jatuh terduduk di halaman yang basah. Tangannya lecet saat menahan tubuhnya di lantai kasar.

Air hujan bercampur air mata di wajahnya. Sementara dari dalam rumah, Emeli berdiri memandangi dirinya dengan tatapan penuh kemenangan yang disembunyikan di balik wajah pura-pura iba.

Annisa perlahan bangkit berdiri.

Tubuhnya gemetar karena dingin dan rasa sakit. Rambut panjangnya basah menempel di wajahnya, tetapi sorot matanya perlahan berubah dingin. Tatapannya lurus tertuju pada Emeli.

“Apa yang terjadi padaku hari ini...” suara Annisa lirih namun terdengar sangat jelas di tengah suara hujan, “akan kamu rasakan nanti.”

Tatapannya lalu berpindah pada Lasmi dan Haikal secara bergantian.

“Kalian semua akan menerima akibatnya.”

Petir kembali menyambar. Entah kenapa, ucapan itu membuat dada Haikal tiba-tiba terasa tidak nyaman.

Pintu rumah ditutup keras di depan wajah Annisa. Meninggalkan wanita itu sendirian di tengah hujan malam tanpa tempat untuk pulang.

1
ken darsihk
Anjayyy mertua toxic merasa paling hebat 😠😠😠
ken darsihk
Ho oh syedihhh
ken darsihk
Mimpi lo kejauhan Haikal 😂😂😂s
ngatun Lestari
rasain lu..makanya jangan Maruk jadi laki
Ass Yfa
puas bngt....hhh aku...liat mereka hancur tak bersisa...yg paling berat sanksi sosial...bisa2 jadi gila
Ass Yfa
modar ra kowe...😒
Ass Yfa
heh..Haikal bidoh apa oon ..nempermalukan diri sendiri
Ratih Tupperware Denpasar
haikal ini juga aneh wkt ibunya menghina anisa dia malqh mendukung ibunya bahkan menerima dr gadungan itu.. skr baru nyalahin ibunya. kalo kamu cinta beneran sama anisa harusnya bela thu istrimu bukan malak mengikuti permainan ibumi dan menalak anisa....dasar kamunya aja yg plinplan
Sri Widiyarti
puas banget bacanya....
Sri Widiyarti
makasih banyak kak up-nya 🥰
Les Tary
lasmi gaya gayaan...kyk dia sendiri kaya sampai merendahkan annisa
iqha_24
penyesalan datang belakangan yaa kan Haikal wkwkwk
爾妮
lanjutkan tor🤣🤣
dyah EkaPratiwi
rasakan Haikal nyesel kan
Dew666
💄💄💄
mariammarife
yo ngga bisa lngsng nikah hrs menunggu masa Iddah nya Annisa beres dulu pak Darto
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kalo sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga
Mutaharotin Rotin
rasain kalian bertiga kena karma nya 😂😂
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut thor 🥰🥰🥰
mariammarife
mas Emran jgn terburu² ngajak Annisa nikah harus nya nunggu masa Iddah nya selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!