Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Based learning
Diantara tidurnya, ketukan pintu terdengar begitu nyaring.
"Nji!"
Suara kapten Samudra yang memanggilnya tegas.
"Ya!" Panji memaksa nyawa yang belum sepenuhnya berkumpul itu untuk bergegas bangkit, matanya tertumbuk pada jam digital di ponsel yang lupa ia cas semalam, pukul 4 pagi.
Membuka pintu dengan wajah bantal, mata sedikit memerah, kaos kusut, "komandan minta personel Denarung I yang hari ini patroli menghadap." Aroma sabun yang maskulin telah menguar dari badan kaptennya itu, sambil menggosok rambut pendek cepak mesinya itu Kapten samudra sudah siap dengan stelan loreng.
"Harus banget sekarang bang?"
"Jam 5. Di kamar mandi masih ada Kelana. Gantian."
Ia hanya bisa berucap, siap! Lalu kembali duduk di tepian ranjang sejenak demi menenangkan jiwanya yang masih berkelana dan menyambar handuk, mengecas sebentar ponselnya dan keluar dari kamar.
Pukul 5, matahari memang belum menunjukan tanda-tanda akan muncul dari ufuk timur tapi kantor komandan sudah terbuka saja demi menerima laporan dari satgas Intel beserta pihak kepolisian. Bahkan ia masih dengan kaos rumahan dan celana pdl nya.
Selama hampir seminggu, unit Intel melakukan pengintaian, dan memastikan jika hal itu benar.
Danlanal masih berbincang via telfon dengan pihak KSOP dan PSDKP meminta konfirmasi titik koordinat penambangan pasir dan perijinan usaha mereka.
Ada sepasang netra dengan sorot tajam menatap kapten Samudra dan personel Intel seolah berkata, tidak salah lagi... seraya menunjuk map perairan kota seribu sunset tapi mulutnya masih berbincang disana memastikan jika semuanya valid. Termasuk email yang baru saja dikirimkan dan di print.
Bukan mesin kopi, melainkan bunyi mesin print yang menggema mengisi setiap sudut yang ada disana.
Telfon ditutup, ia menghela nafasnya. Bibir hitamnya itu mulai angkat bicara, "laksanakan segera." Ia mencabut kertas dari tempat hasil print out dan menyerahkan itu pada kapten Samudra.
"Siap Ndan!"
"5 menit lagi berangkat, bawa satgas 2 dan kapal motor marine III."
Baik kapten Samudra dan yang lain membubarkan diri.
"Bersiap ke dermaga." Suara kapten Samudra memancing derap langkah Panji dan Kelana yang tengah berbagi roti kini berjalan cepat sambil mengunyah.
Kapal motor yang membawa 12 personel itu mulai dinyalakan, bunyi gerung mesinnya mengaum diantara udara pagi dermaga, aroma asin dan segar lautan sudah menjadi da rah mereka. Baret kebanggaan dikencangkan terpasang di kepala.
Bunyi gesekan kertas yang dibentangkan di atas meja membawa arah laju ke titik koordinat yang ditentukan. Sementara tim investigasi telah disiagakan, maka mereka akan menjadi unit Raden Arung, yang mengarungi perairan tanpa rasa gentar membuka jalan dan menjadi unit garda terdepan.
Denarung 1 dan satgas 2 berlayar....
Indahnya ufuk timur yang mulai membiasakan cahaya kemerahan menuju pagi disongsong.
"Belakangan sering keluyuran Nji, kemana? Cewek Lo ya!" Kelana sambil menumpukan tangan di depan besi ia berdiri menghadap ke lautan lepas. Panji, ia hanya mendengus tertawa melipat kedua tangannya di dada, sambil menggeleng mengingat kembali moment semalam.
"Gue diajak anak-anak KKN weekend nanti, katanya sih jadi guide, tuh anak-anak pingin refreshing..."
Kelana nampak antusias, "wah serius?!"
Panji mengangguk, "dua rius."
Angin laut, cipratan air yang terbelah oleh moncong kapal diantara sisa deburan ombak yang membawa ke daratan diterjang.
Cukup percuma sepertinya mandi, sebab lengket kembali oleh air laut.
"Ngikut gue lah." ujarnya memancing Panji untuk menoleh, "udah sampe mana sama siapa namanya?"
"Dek Raudhah."
Panji langsung meledakan tawanya, "an jirr udah manggil dek segala."
"Lah an jirrr. Gue tanya sekarang, Lo ngincer siapa?!" tantang Kelana berkacak pinggang. Alih-alih menjawab perwira tengil nan usil ini justru menunjuk lubang hidungnya sendiri.
"Saravv, anj...." Kelana hanya bisa menendang udara kala Panji berbalik dan berjalan ke arah ruang kemudi.
Ivy, tak ada mimpi aneh...makan malam dengan menu seafood cukup membuat tidurnya nyenyak....memang ya, hidupnya itu gimana makanan! Hahahah....
Ngomong-ngomong tentang makanan, ia ingat dengan manusia rakus kemarin, manusia yang usilnya itu mampu membuat Ivy terngiang-ngiang. Ia menggeleng bersiap untuk menjalankan proker.
"Raaaa! Sarapan sama apa kita?!!!" teriaknya pagi-pagi, kucing dan kambing warga saja belum pada melek, tapi basecamp mulai diramaikan oleh Ivy.
"Saaaaa! Gue proker sama siapa?!! Unjuk tangan yang mau ngawal gue?!!!" dengan sengaja ia teriak-teriak mengganggu teman-temannya disana.
"Berisik Vyyyyy!"
"Astaghfirullah!"
"Vyyy, an jirrrr banget. Telinga gue pagi-pagi udah berdenging..."
Arsa tertawa melihat keramaian basecamp pagi-pagi yang mungkin nantinya sesuai KKN akan mereka rindukan.
"Aaaa! Arsa, kadaaaallll di deket toilett!" tadi Ivy sekarang Gege membuat Made urung menghitung, "kamprettt emang nih anak dua."
Nanda tergelak melihat Made yang jengkel.
Bumi dan Tami yang baru saja pulang dan selesai mengangkut air ikut tergelak, "berisik oyy! dari jarak 300 meter aja udah keliatan kaya pasar."
"Tauu!"
"Vy, gue lupa kasih tau kemaren, paket Lo dah sampe...ada di rumah ema Flo. Mesti dibawa."
"Oke, temenin gue buat ambil! Isinya buku bacaan. Hasil donasi..."
Ivy, Gege, Gabriel dan Bumi. Memang cocok sekali Arsa memasangkan mereka yang satu tipe petasan banting demi menemani Ivy ke SD Tunas 12.
Maka sepanjang jalan, "hah! Cape an jir." keluh Gabriel.
"Cape, masa segitu aja si beruk dong..." hardik Gege.
"Lo bawa nih buku coba!" tantang Gabriel tapi Gege justru menunjukan tangannya yang menenteng tas kain berukuran kecil pula.
"Berapa puluh sih Vy?" tanya Bumi yang meneguk sebentar air minumnya, "tau gini pake motor." ha--ho--ha--ho.
"Lah tadi udah di kasih tau suruh bawa motor!" omel Gege.
"Mau dipake Arsa nganter Raudhah ke home industri olahan ikan, agak jauh. Oon!" sarkas Bumi.
Ivy nyengir di balik topinya, menunjuk bangunan sekolah yang, entahlah ---- selalu ada perasaan terharunya melihat itu, kian hari ia kian bersyukur dan merasa sayang sekali pada bangunan usang itu. Tepatnya isi, energi dan semangatnya yang menulari jiwa seorang seperti Ivy.
"Yuk jalan bentar lagi sampe." Ajak Ivy.
Gabriel menghela nafasnya, "angkat bareng Bum...lari biar cepet, siap?"
"Oke." Bumi mengangguk membalikan pas topi ke belakang lalu mengambil satu tali dari tas kain begitupun Gabriel, baru sampai di hitungan tiga dan mereka berlari setengah jalan.
Blugh!
"Wah anjinggg!" umpat Gabriel justru tersandung batu dan jatuh.
Ivy dan Gege tertawa sampai lemas.
"Ka'eeeee!" beberapa anak disana notice dengan kedatangan keempatnya. Ivy dan Gege melambai dan berseru, "hayyyy ariiii!"
Bukan membiarkan anak-anak ini justru menghampiri mereka dan membantu, "jatuhkah ka'e?"
"Hahahaha, bukan rebahan." jawab Gabriel memancing tawa mereka. Melihat senyum bahagia mereka cukup membuat Gege terharu dan tersentuh, "ayo---ayo kita langsung ke dalam sekolah!" Gege menggiring para bocah.
Baik Ivy, Gege, Gabriel dan Bumi memiliki tugasnya sendiri. Jika Ivy dan Gabriel berada bersama kelas besar, maka Gege dan Bumi berada di kelas kecil.
Gege dan Bumi memutuskan membawa para anak kelas kecil di lapangan, membuat lingkaran dan belajar dengan metode *outdoor game and based learning*.
Ivy dan Gabriel seperti biasa. Berada di kelas tak menggunakan bangku dan meja yang membuat jarak, mereka ingin membangun bonding yang lebih kuat.
Tak urung para guru merasa ikut senang dan terbantu.
Diantara sungai yang tenang, diantara hangat dan keseruan yang larut dalam euforia menyenangkan, tiba-tiba segerombol lelaki paruh baya datang dengan wajah kemarahan, langkah besar penuh emosi dan berteriak.
"Eyyyyy!"
Seketika mereka diam, Gege dan Bumi ikut menoleh begitupun tawa anak-anak yang mendadak sunyi.
Bu Santi, Bu Nera dan dua lainnya berjalan mendekat ke arah gerbang.
Gege, seperti biasa ia langsung merapatkan diri memegang tangan Bumi, "siapa? Ada apa sih?"
Lalu semburan makian, amukan kemarahan mulai ditunjukan, pot-pot yang ditata sedemikian rupa menjadi sasaran parang yang dibawa.
Gege sampai menutup kepalanya dan berlindung di balik badan Bumi, sementara anak-anak disana seolah terbiasa hanya bersikap tenang menyikapinya mundur teratur ke belakang badan Bumi dan Gege.
Ada makian dan bentakan yang diberikan pada Bu Santi serta tenaga pendidik lain.
"Apaan itu?!" Ivy melongokan kepalanya keluar bersama Gabriel.
Begitupun isian kelas yang mendadak ingin tau.
"Astaga!" Ivy cukup terhenyak begitupun Gabriel yang refleks membawa Ivy ke belakang badannya.
.
.
.
.