Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah Ririn dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Renata segera pulang bersama Dio. Sepanjang jalan, dia hanya menatap lurus ke depan, mengayuh sepeda dengan pelan. Begitu menginjakkan kaki di lantai rumah, dia langsung masuk ke dalam kamar bersama putranya dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
Bu Broto yang sedang bersantai di ruang tengah sempat meneriakinya, namun Rena mengabaikan tidak menghiraukan sama sekali. Dia tidak ingin bertengkar atau berurusan dengan ibu mertuanya saat ini. Energinya terlalu berharga untuk meladeni omelan tak berguna dari mertuanya itu. Dia ingin menenangkan diri, mengatur napas, dan menata hatinya sebelum semua pertanyaan yang ada di pikirannya nanti ia tanyakan langsung kepada Aris.
Malam pun tiba. Seperti biasa, Rena tetap menjalankan kewajiban formalitasnya di rumah itu. Ia sudah menyiapkan makan malam di atas meja untuk ibu mertua dan adik iparnya. Namun, seperti yang sudah Rena duga sebelumnya, kursi Aris kembali kosong. Sepertinya Aris akan terlambat datang lagi seperti hari-hari sebelumnya.
Rena berdiri di dekat jendela dapur, menatap halaman rumah yang gelap. Kondisi seperti ini sudah terjadi sejak dua bulan terakhir dengan alasan 'lembur kantor'. Dan sepertinya, setelah apa yang ditemukannya di saku celana Aris pagi tadi, sekarang Rena sudah tahu alasan menjijikkan di balik kenapa Aris selalu datang terlambat ke rumah.
Setelah membereskan semua piring kotor dan mengelap meja makan, Rena segera masuk ke dalam kamar. Dia mendekati kasur, lalu menidurkan Dio terlebih dahulu. Diusapnya rambut putranya dengan penuh kasih sayang hingga anak itu terlelap dengan tenang.
"Tidurlah nak, ibu nggak mau kamu mendengar semua kebusukan ayahmu. " gumam Rena lirih, sebutir air mata mengalir di pipinya.
Waktu terus bergulir. Sudah hampir pukul sebelas malam, seluruh lampu di sudut-sudut rumah sudah dipadamkan oleh Bu Broto sejak pukul sembilan sebelum wanita tua itu masuk ke kamarnya sendiri. Namun, Aris belum datang juga. Semua orang di rumah itu sudah tidur, hanya Rena yang masih terjaga dalam kegelapan kamar, duduk tegak dikursi yang ada di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya.
Tepat pukul sebelas malam, terdengar suara deru mobil Aris berhenti di depan pagar, disusul suara pintu depan yang dibuka dengan sangat pelan. Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara bising.
Klik.
Aris menyalakan sakelar lampu kamar. Pria itu seketika tersentak kaget dan memundurkan langkahnya saat melihat pemandangan di depannya. Ternyata, Rena masih belum tidur. Istrinya itu duduk tegak di sudut kamar, menatapnya dengan sangat tajam dan dingin seperti pisau yang akan mengulitinya.
Aris yang mendadak dilingkupi rasa gugup mencoba melonggarkan dasinya, berusaha bersikap senormal mungkin. "Ren... kenapa kamu belum tidur jam segini? Malah duduk di situ seperti hantu penunggu kamar," tanyanya dengan suara agak bergetar.
Rena tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Aku menunggumu, Mas. Karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu malam ini."
Aris mengembuskan napas panjang dengan kasar, dia segera melepas semua pakaiannya dan menggunakan pakaian yang agak santai lalu berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya yang tampak lesu.
"Apalagi yang mau kamu bicarakan, Ren? Tolong lah, aku ini baru pulang kerja. Aku sangat capek, mau langsung tidur saja. Besok-besok saja tanyanya, ya. sekarang tidurlah. "
"Aku tidak bisa menunggu sampai besok, Mas Aris," sahut Rena, suaranya sangat rendah namun penuh penekanan.
Tatapan dingin dan aura mengintimidasi yang dipancarkan Rena malam itu entah mengapa membuat Aris tidak berkutik. Nyalinya menciut. Sembari berbaring telentang dan menatap langit-langit kamar, dia mencoba mendengarkan apa yang sebenarnya ingin Rena tanyakan hingga sang istri rela terjaga sampai tengah malam.
"Ya sudah, cepat katakan. Apa yang mau kamu tanyakan?" ujar Aris malas, sebelah tangannya menutupi matanya dari silau lampu.
Rena bangkit dari kursinya, melangkah perlahan hingga berdiri tepat di samping ranjang tempat suaminya berbaring. Tanpa basa-basi, Rena langsung mengajukan pertanyaan tepat pada intinya.
"Kamu selingkuh, kan, Mas?"
Mendengar tiga kata itu meluncur dari bibir Rena, Aris langsung terjaga. Dia langsung mendudukkan dirinya dengan sentakan kasar, menatap Rena dengan tatapan aneh yang bercampur aduk antara marah, kesal, dan segumpal rasa gugup yang amat sangat. Wajahnya sempat memucat sebelum akhirnya berubah menjadi merah padam.
"Jaga bicaramu, Rena! Berani-beraninya kamu menuduhku sembarangan begitu?!" bentak Aris, suaranya naik satu oktav meski dia berusaha menahannya agar tidak membangunkan orang rumah. Dia langsung mencoba memutarbalikkan keadaan demi menutupi kesalahannya. "Aku ini setiap hari banting tulang, pergi pagi pulang tengah malam demi menghidupi rumah ini! Aku sibuk bekerja di kantor, tahu! Tidak ada waktu atau pikiran untuk melakukan hal-hal bodoh yang kamu tuduhkan itu! Jangan jadi istri yang picik dan penuh curigaan!"
Rena tidak bergeming sedikit pun menghadapi gertakan suaminya. Dia justru mengulas sebuah senyuman yang sangat tipis, sebuah senyuman menghina yang membuat bulu kuduk Aris meremang.
Rena berkata dengan nada yang sangat rendah namun bergaung kuat di dalam keheningan kamar,
"Benarkah begitu, Mas? Kamu sangat sibuk? Kalau begitu mana uang lemburmu, kenapa uang yang kamu berikan padaku tetap sama seperti sebelumnya? Bahkan kamu tidak pernah memberi Dio uang saku selama ini walau hanya dua ribu. " ucao Rena dengan tangan yang menggantung di udara.
"A.. apa maksud mu? uang lemburan apa? nggak ada. " jawab aris gugur.
"Jangan kamu kira akku bodoh, ya mas. Meski aku nggak pernah kerja kantoran. Tapi aku tau, tiap pegawai yang lembur, pasti akan mendapatkan uang lemburan. " kaya Rena telak.
"Sudahlah Ren, sudah malam, tidurlah. Kita bicarakan lagi ini besok. Aku sudah capek. " elaknya.
Rena tersenyum tipis. Sepertinya suaminya ini, masih ingin mengelak dari kenyataan yang sudah ia temukan tadi pagi. Tapi Rena tidak akan memberikan kesempatan itu. Mereka harus menyelesaikan masalah ini malam ini juga.
"Baiklah, aku hanya butuh satu jawaban mas, kemana kamu kemarin malam sampai pulang terlambat. "
Aris yang sudah akan memejamkan matanya, kembali membuka mata dan menatap Rena dengan kesal.
"Rena, please deh. Aku sudah bilang sama kamu, kalau aku sibuk dan lembur di kantor. Kenapa kamu nggak mau ngerti sih?" kata Aris dengan kesal
"Benarkah? Jadi, maksudmu... kamu itu sibuk main wanita di hotel mewah dan memberinya uang dua juta gitu?"
Aris seketika mematung, mulutnya yang baru saja hendak melontarkan makian lanjutan mendadak terkunci rapat. Napasnya tercekat di tenggorokan, menatap Rena dengan mata yang membelalak sempurna seolah baru saja melihat lingkaran rahasia paling gelapnya diketahui Rena.