NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6 Jejak yang Tertinggal

Sudah hampir seminggu sejak Kael membuka matanya di Poskesdes Desa Sekar.

Luka-luka di tubuhnya mulai mengering dengan cepat. Jahitan di bahu dan punggungnya menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Meski belum diizinkan melakukan pekerjaan berat oleh Hana, setidaknya ia sudah bisa berjalan-jalan keluar ruangan tanpa perlu dibantu lagi.

Pagi itu, Hana sedang sibuk memeriksa seorang balita yang mengalami batuk ringan, sementara Kael memilih duduk di teras Poskesdes untuk menikmati hembusan angin laut. Bagi Kael, Desa Sekar terasa sangat aneh. Tempat ini terlalu tenang dan terlalu damai. Namun entah mengapa, ia mulai menyukai suasana tersebut. Ia suka melihat anak-anak yang berlarian tanpa rasa takut, warga yang saling menyapa dengan ramah, dan kehidupan sederhana yang berjalan tanpa tergesa-gesa.

Semua kedamaian ini terasa sangat asing bagi dirinya. Seolah-olah, kehidupan masa lalu yang pernah ia jalani adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan tempat ini.

"Kael!" seru Pak Jalil dari kejauhan datang bersama pak Deden dan pak Sabir.

Pria tua itu melambaikan tangannya dengan heboh. Ia terlihat sedang bersusah payah berusaha mengangkat karung besar berisi hasil tangkapan ikan dari atas perahunya. Tanpa berpikir panjang, Kael langsung berdiri dan berjalan menghampiri dermaga kecil itu.

"Biar saya bantu," tawar Kael.

"Hahaha! Tidak usah, badanmu kan masih penuh jahitan," tolak Pak Syukur sambil tertawa riuh.

"Tidak masalah," jawab Kael singkat.

Kael langsung meraih karung besar tersebut, lalu mengangkatnya ke atas pundak dengan satu sentakan mudah. Pak Syukur seketika melongo di tempat. Karung itu berisi hampir lima puluh kilogram ikan segar yang biasanya harus digotong oleh dua orang dewasa. Namun, Kael mengangkatnya seorang diri tanpa menunjukkan ekspresi kesulitan sama sekali.

"Hah?" gumam Pak Syukur kebingungan.

"Kael sangat kuat " puji pak Deden matanya takjub melihat Kael mengangkat karungnya sendiri.

Kael sendiri sebenarnya merasa heran dengan dirinya sendiri. Tubuhnya seolah-olah menganggap beban seberat itu hanyalah hal yang sangat ringan.

"Taruh di mana?" tanya Kael, memecah lamunan pria tua di depannya.

"S-sebelah sana," jawab Pak Jalil, Deden dan pak Sabir terbata-bata setelah sempat mematung beberapa detik, mereka menunjuk ke arah gudang kecil di dekat pantai.

Kael berjalan santai membawa karung itu di pundaknya tanpa beban. Sementara itu, Pak Syukur hanya bisa menatap punggung tegap Kael dengan mulut yang menganga lebar.

"Anak muda zaman sekarang memang mengerikan..." bisik Pak Jalil kepada kedua orang yang berada di sampingnya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan sangat cepat. Keberadaan Kael mulai diterima dengan baik oleh warga desa karena sifatnya yang ringan tangan. Ia sering membantu nelayan memperbaiki jaring yang rusak, mengangkat hasil tangkapan, bahkan sesekali membantu Pak Kades memperbaiki pagar balai desa yang roboh.

Meski begitu, ada satu hal yang terus mengusik pikiran Hana. Refleks tubuh Kael terlalu cepat, terlalu presisi, dan terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Sore itu, kecurigaan Hana akhirnya terbukti.

"Waduh! Tolong! Tolong ada keadaan darurat!" teriak seorang pemuda desa bernama Arman.

Ia berlari tunggang-langgang menuju Poskesdes dengan wajah pucat pasi. Hana yang sedang merapikan botol-botol obat di dalam ruangan langsung bergegas keluar.

"Ada apa, Arman? Kenapa panik begitu?" tanya Hana cepat.

"Kerbau besar milik Pak Hasan mengamuk di lapangan!" seru Arman terengah-engah.

Mendengar hal itu, beberapa warga yang berada di sekitar Poskesdes langsung ikut berlari menuju lapangan dekat sawah desa. Hana pun tidak tinggal diam dan ikut menyusul dari belakang.

Begitu mereka tiba di lokasi, suasana benar-benar sudah kacau balau. Seekor kerbau jantan berukuran raksasa tampak mengamuk membabi buta di tengah lapangan. Warga berlarian menyelamatkan diri, sementara anak-anak menangis ketakutan. Kerbau itu tampak sangat agresif dan siap menanduk apa saja yang menghalangi jalannya.

"Tolong menjauh! Amankan anak-anak terlebih dahulu!" teriak Hana memperingatkan warga.

Namun malang tidak dapat ditolak, seorang bocah laki-laki tiba-tiba terpeleset dan jatuh telentang tepat di jalur lari kerbau yang sedang mengamuk. Wajah Hana seketika memucat seketika.

"Tidak! Awas!" jerit Hana histeris.

Kerbau itu melaju kencang dengan kepala menunduk, siap menggilas tubuh si bocah. Jaraknya sudah terlalu dekat. Semua orang terpaku karena menyadari tidak ada yang bisa mencapai anak itu tepat waktu.

Atau setidaknya, begitulah yang dipikirkan oleh semua orang. Karena pada detik berikutnya, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Itu adalah Kael. Tubuhnya bergerak begitu cepat hingga beberapa warga bahkan tidak sempat menyadari kapan ia mulai berlari. Dalam hitungan sekejap mata, Kael sudah berdiri kokoh di depan anak tersebut.

*BRUK!*

Kael memutar tubuhnya, lalu dengan nekat menangkap kedua tanduk kokoh kerbau itu menggunakan tangan kosong.

Seluruh lapangan mendadak membeku. Kerbau mengamuk yang beratnya mencapai ratusan kilogram itu dipaksa berhenti mendadak di tempat. Debu-debu tanah berterbangan di sekitar mereka. Otot-otot di lengan Kael menegang hebat hingga urat-uratnya menonjol keluar, dan rahangnya mengeras menahan beban. Namun luar biasanya, ia berhasil menahan dorongan kuat hewan buas tersebut.

"Apa..." bisik Pak Syukur yang ikut menonton. Ia bahkan sampai lupa untuk menutup mulutnya karena saking terkejutnya.

Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Kael memutar tumpuan tubuhnya menggunakan teknik membanting yang sangat efisien. Tubuh kerbau besar itu seketika kehilangan keseimbangan, lalu terhempas keras ke atas tanah.

*BRAK!*

Lapangan desa mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Semua warga menatap Kael dengan tatapan mata yang tidak percaya, termasuk Hana. Sorot mata dokter muda itu kini telah berubah sepenuhnya. Bukan rasa takut yang ia rasakan, melainkan kecurigaan yang sangat besar.

Tidak mungkin orang biasa memiliki kemampuan bertarung dan kekuatan seperti itu.

Malam harinya.

Setelah lelah mendengar warga desa yang terus-menerus memuji aksi heroiknya, Kael memilih untuk menyendiri di dalam Poskesdes. Ia duduk terdiam di tepi ranjang tempatnya dirawat selama ini. Pikirannya benar-benar kacau. Sebab, saat ia menghadapi kerbau mengamuk tadi sore, tubuhnya bergerak secara otomatis tanpa perlu diperintah oleh otak.

Rasanya seolah-olah tubuh ini sudah sangat terlatih untuk menghadapi situasi yang jauh lebih berbahaya dan jauh lebih mematikan.

"Aku ini siapa sebenarnya...?" gumam Kael lirih pada kesunyian.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hana yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

Dokter muda itu berjalan mendekat sambil membawa segelas air hangat dan beberapa butir obat. Kael hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Namun setelah memberikan obat, Hana tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri cukup lama di samping ranjang sambil menatap Kael dengan pandangan menyelidik.

"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," ujar Hana memecah keheningan.

"Tanya saja," sahut Kael tenang.

"Tadi... teknik bertarung yang kau gunakan untuk menjatuhkan kerbau itu," kata Hana sengaja menggantung kalimatnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Itu sama sekali bukan gerakan refleks milik orang biasa."

Suasana ruangan kembali dilingkupi keheningan yang mencekam. Kael memilih untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut, bukan karena ia ingin berbohong, melainkan karena ia sendiri memang tidak tahu dari mana keahlian itu berasal.

Malam semakin larut. Setelah memastikan Kael meminum obatnya, Hana akhirnya pamit untuk pulang ke rumahnya. Sementara itu, Kael memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi sederhana Poskesdes.

Air dingin dari pancuran mengguyur tubuh kekarnya, membantu menenangkan pikirannya yang stres. Namun saat ia sedang mengeringkan tubuh, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sebuah cermin retak yang menggantung di dinding kamar mandi.

Kael terpaku. Di bawah siraman cahaya lampu yang temaram, ia bisa melihat dengan jelas bahwa tubuhnya dipenuhi oleh berbagai macam bekas luka. Ada luka sayatan pisau, luka tusukan, hingga beberapa bekas luka tembakan yang sudah mengering.

Dan tepat di bagian punggung sebelah kirinya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah tato berwarna hitam pekat. Kael membeku di tempatnya berdiri. Ia memutar tubuhnya perlahan, berusaha melihat tato tersebut lebih jelas melalui pantulan cermin yang retak.

Tato itu berbentuk sebuah mahkota gelap yang dikelilingi oleh sepasang sayap yang menyerupai bayangan hitam. Di bagian bawah lambang tersebut, terdapat sebuah tulisan kecil berbentuk huruf kapital.

'SHADOW CROWN'

Jantung Kael mendadak berdegup dua kali lebih kencang. Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut sangat hebat, dan pada detik berikutnya, sebuah kilatan memori masa lalu kembali menghantam otaknya dengan kejam.

Duar! Duar!

Rentetan suara tembakan senjata api menggema. Kilasan tentang sebuah gedung mewah yang terbakar hebat, orang-orang berjas hitam yang saling membantai, genangan darah di mana-mana, jeritan kesakitan, hingga akhirnya muncul suara berat dari seorang pria tua yang terdengar sangat berwibawa namun dingin:

"Shadow Crown tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya."

"Akhh...!" erang Kael kesakitan.

Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga menghantam dinding kamar mandi dengan keras. Napasnya memburu pendek-pendek, dan keringat dingin mulai mengucur deras membasahi seluruh dahinya.

"Shadow Crown..." bisik Kael dengan bibir bergetar.

Nama itu terasa sangat familiar di telinganya, namun teramat sangat gelap. Tetapi sebelum ia berhasil menggali ingatan itu lebih dalam, rasa sakit yang luar biasa dahsyat kembali menyerang otaknya, memaksa semua kilasan memori itu lenyap seketika dari kepalanya. Bayangan itu hilang lagi, meninggalkan satu pertanyaan besar yang baru.

Apa sebenarnya arti dari Shadow Crown? Dan mengapa lambang organisasi berbahaya itu bisa terukir permanen di atas kulitnya?

Di luar kamar mandi, tanpa disadari oleh Kael sama sekali, ternyata Hana baru saja kembali ke Poskesdes karena lupa membawa buku catatan medisnya yang tertinggal di meja kerja. Melalui celah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, Hana tidak sengaja melihat sekilas tato misterius yang ada di punggung Kael sebelum pria itu membalikkan badannya.

Mata Hana langsung menyipit tajam dengan jantung yang berdebar kencang. Naluri wanitanya mengatakan satu hal yang pasti. Masa lalu Kael yang sebenarnya, jauh lebih mengerikan dan berbahaya daripada apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Bersambung....

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!