NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 9

Energi Nyi Asih merembes keluar dari setiap pori-pori di tubuhnya. Tongkat hitamnya bergetar kuat seiring semakin membesarnya energi yang dikeluarkannya.

"Kau terlalu meremehkan aku, Bocah! Akan aku tunjukkan jika pendekar Lembah Ular bukan sekedar julukan biasa!" Mendengus kesal Nyi Asih atas sikap Arya yang begitu meremehkannya.

"Hehehehe ... itu hanya pikiranmu saja, Nyi. Aku tidak pernah meremehkanmu, melainkan aku yakin akan bisa membunuhmu!"

"Sama saja, Goblok! Itu sama saja kau meremehkanku!" Intonasi suara Nyi Asih semakin meninggi. Urat di leher keriputnya terlihat menegang menandakan tekanan suara yang dikeluarkannya begitu kuat.

"Majulah menyerangku terlebih dahulu, Nyi! Tapi sebelumnya aku minta maaf jika bilah pedang ini merobek kulit keriputmu itu."

"Jiangkrik ...! Bedebah sialan ...! Mati kau kunyuk!" Nyi Asih tidak bisa lagi menahan emosinya.

Dalam satu hentakan kaki kanannya ke tanah, tubuh senja Nyi Asih melesat ke arah Arya dengan ujung gagang tongkat yang berbentuk kepala ular berada di depan.

Angin menderu seiring lesatan tubuh Nyi Asih yang membelah udara. Tebasan kuatnya menimbulkan desing suara yang terdengar lirih menekan.

Arya bersikap waspada dan tidak melepaskan tatapan matanya dari setiap gerakan yang dilakukan Nyi Asih. Dia paham jika kekuatan wanita tua tersebut tidak bisa diremehkan begitu saja. Setiap tebasannya yang meleset pasti berdesing kuat di telinga. Itu menandakan jika kekuatan tenaga dalam yang digunakan Nyi Asih cukup besar.

Belasan tebasan maupun tusukan berhasil dihindari Arya dengan cukup mudah. Namun seiring berjalannya waktu, pergerakan Nyi Asih semakin bertambah cepat. Arya akhirnya menggunakan kedua pedang di tangannya untuk menangkis.

Namun hanya dalam beberapa kali tebasan, kedua pedang di tangan Arya sudah tidak berbentuk lagi. Sisi tajamnya menjadi tumpul dan tidak bisa lagi digunakan sebagaimana mestinya.

"Sial!" Arya membuang kedua pedang di tanganya dan dengan cepat mencabut pedang yang tergantung di pundaknya.

Nyi Asih melompat mundur beberapa langkah. Dia merasakan energi yang kuat memancar keluar dari bilah pedang di tangan Arya. Belum lagi ditambah dengan aura sinar kebiruan terang yang berpendar menyelimuti bilah pedang tersebut.

"Pedang langit!" Nyi Asih bergumam pelan. Kernyitan tebal seketika muncul di dahinya yang keriput. "Bagaimana kau bisa memiliki pedang tersebut? Siapa kau sebenarnya?"

Arya terkekeh pelan. Dia tahu jika pedang ibunya itu adalah salah satu pusaka terkuat yang pernah ada. Menurut cerita ibunya, pedang yang diberikan kepadanya itu adalah pusaka terkuat kedua di daratan China setelah pedang Halilintar milik Wan Fenli. Selain itu, hanya keturunan ibunya sajalah yang bisa menggunakannya.

Sebenarnya ada satu lagi pusaka terkuat di dunia milik ayahnya, pedang Naga Geni, tapi dia tidak bisa menggunakannya karena kedua siluman penguasa unsur tanah dan Api sedang mengalami hibernasi alias tidur panjang.

Kata ayahnya, selepas mengalahkan Raja Kegelapan 23 tahun yang lalu, kedua siluman itu ingin beristirahat dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, dan keduanya akan kembali muncul jika Ranu atau keturunannya membutuhkan tenaga mereka berdua.

"Kau selalu banyak bertanya, Nyi. Sebenarnya kau ini ingin bertarung atau tidak?" ejek Arya.

Darah Nyi Asih berdesir kuat. Ejekan demi ejekan yang dilontarkan pemuda ingusan di depannya itu sukses membuatnya emosi berat. Namun dia masih harus berpikir ulang jika ingin terus melawannya. Diakui atau tidak, kekuatan tongkat pusakanya masih beberapa tingkat di bawah pedang yang memancarkan aura sinar kebiruan tersebut.

"Begini saja, Anak Muda, kita sudahi pertarungan ini sampai di sini! Mengenai kematian anggotaku yang kau bunuh, aku sudah tidak mempermasalahkannya. Anggap saja ini sebuah kesalahpahaman semata." Nyi Asih menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

"Bagaimana kau bisa begitu yakin aku akan menuruti keinginanmu itu, Nyi? Apakah kau sudah tidak punya kemampuan yang lebih baik lagi, atau kau takut akan menyusul anggotamu yang sudah tewas itu?"

Nyi Asih berusaha menekan emosinya. Jika yang bicara seperti itu adalah orang lain, dia tentu sudah merobek mulutnya. Tapi situasinya kini jelas jauh berbeda dan tidak mungkin dipaksakannya untuk melawan.

"Bukan begitu, Anak muda. Kita tidak pernah saling bermusuhan ataupun punya masalah selama ini. Jadi pertarungan ini menurutku hanya salah paham semata."

"Jadi seperti itu alasanmu, Nyi? Aku memang tidak pernah punya masalah denganmu ataupun perguruanmu," ucap Arya seraya senyum tipis tersungging di bibirnya.

Nyi Asih bernafas lega. Harapannya untuk bisa menghindari pertarungan lanjutan akhirnya berbuah manis.

"Tapi aku berkewajiban membantu siapa saja yang mendapat masalah dari orang-orang golongan hitam seperti kalian!" sambung Arya tiba-tiba.

Nyi Asih kembali menelan ludahnya. Dia sadar jika pemuda itu tidak akan mau melepaskannya begitu saja. Jika jalan diplomasi tidak bisa membuahkan hasil, maka pertarungan hidup mati terpaksa harus dilakukan.

"Bedebah kau! Aku sudah bersikap baik kepadamu, tapi kau memilih untuk mengabaikannya, Anak muda. Setelah ini, jangan harap aku akan memberimu kesempatan untuk hidup!"

bentaknya.

Ketua perguruan Topeng Sesat itu menggerakkan tongkatnya memutar dua kali putaran. Selepas itu aura hitam tiba-tiba menyeruak keluar dari gagang tongkat yang berbentuk kepala ular.

Arya tersenyum tipis lalu memasang kokoh kuda-kudanya. Tatapan matanya tajam menatap setiap gerakan yang dilakukan Nyi Asih. Dia sadar jika jurus yang akan digunakan ketua perguruan Topeng Sesat itu mengandung racun, jadi sebisanya dia akan menghabisinya dengan cepat.

Meski belum punya pengalaman bertarung dengan pendekar yang memiliki ilmu kanuragan mumpuni, tapi dia sering berlatih tanding dengan ayahnya yang merupakan pendekar nomer wahid di daratan Swarnadwipa sebelum memutuskan mundur dari dunia persilatan.

Ranu memang sudah tidak memiliki kekuatan, tapi dia tidak pernah lupa dengan setiap gerakan dari jurus yang pernah dilatihnya.

Penjelasan yang diberikan ayahnya, tentang ciri-ciri lawan pengguna jurus beracun misalnya, selalu diserapnya dengan baik. Dari situ pula dia bisa memahami jika Nyi Asih menggunakan jurus beracun untuk menyerangnya.

Selain itu, dia juga tak jarang melawan Ibunya yang juga seorang pendekar berilmu kanuragan mumpuni.

Dalam satu tarikan nafas, kedua pendekar berbeda jenis kelamin dan masa itupun bersamaan melesat ke depan. Nyi Asih melompat tinggi ke atas lalu menebaskan tongkatnya dengan kuat.

Arya tidak tinggal diam. Pemuda berambut kemerahan itu tidak berusaha menahan serangan tersebut, melainkan turut melakukan serangan untuk memapak serangan yang dilepaskan lawannya.

Benturan dua energi besar pun menciptakan ledakan keras dan membuat 4 anggota perguruan Topeng sesat terlempar jauh akibat tidak kuat menahan tekanan yang dihasilkan.

Dua di antara keempat anggota menggelepar dengan tubuh menghitam akibat terkena dampak racun yang dikeluarkan Nyi Asih. Dua lainnya bahkan langsung mati seketika dengan tubuh yang tidak utuh lagi.

Nyi Asih sendiri terlempar jauh ke belakang. Sedangkan Arya hanya terdorong mundur dua langkah ke belakang. Jejakan kakinya yang menghujam kuat di tanah membuatnya tidak sampai terdorong lebih jauh.

Tubuh Nyi Asih mendarat di tanah dengan keras dan luncurannya baru berhenti setelah menabrak sebuah pohon lumayan besar.

Meski tidak terluka parah, tapi Nyi Asih dibuat bingung dengan situasi yang dihadapinya. Dia berdiri dan menatap Arya yang berada cukup jauh darinya.

"Bagaimana mungkin dia baik-baik saja?" gumamnya dalam hati.

Nyi Asih melihat pemuda itu sedang memandang ke arahnya dengan tajam dan senyuman tipis yang membuatnya begitu terhina.

.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!