NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:635.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 35

“Masih. Ayo makan dulu!” Daksa memungut selimut Ayunda, melipatnya lalu dikembalikan ke laci rak buku.

“Kenapa, mual ya?” Ia merasa aneh pada Ayunda yang memandangi lama menu fillet ikan Salmon dimasak simpel menjaga cita rasa asli ikan.

“Gapapa.” Ayunda menurunkan kaki, lagi-lagi melirik pada menu makan malam kali ini. Selain fillet salmon, ada juga capcay brokoli.

Namun Ayunda memilih diam, pelan-pelan menikmati tanpa mau mengutarakan pertanyaan bersarang dalam hati.

Daksa sendiri memilih menu lain – bistik daging sapi lengkap dengan rebusan kentang, sayur buncis.

Acara makan malam di kantor itu terganggu oleh dering ponsel Ayunda yang tadi diletakkan di atas meja bersebelahan dengan menu restoran.

“Biarkan saja, jangan diangkat!” larang Daksa, dia sendiri hafal dering khusus tersebut.

Akan tetapi, si penelpon tidak menyerah begitu saja, terus menghubungi sampai percobaan kelima kali baru diangkat Daksa tanpa dia bersuara, menekan tombol loudspeaker.

“Benalu! Saraf lu ya?! Udah berasa hebat kah?” hardik suara kesal diujung sana.

“Ada apa?” sambil mengunyah rebusan buncis yang disuapkan Daksa, Ayunda menanggapi Vinira.

“Besok pagi-pagi sebelum lu ngantor menghamba jadi jongos, mampir ke rumah majikanmu Guntara! Jangan sampai terlambat, gak ada bantahan! Paham?!”

Sambungan itu diputus suaminya Ayunda, tidak memberikan kesempatan pada Vinira untuk lebih jauh lagi memaki.

“Yunda _”

“Biarkan saja. Gak sampai empat bulan lagi selesai! Tolong jangan ikut campur!” ia memotong kalimat Daksa, dapat menebak apa yang mau dikatakan, tentu memintanya berhenti melaksanakan titah Guntara.

Suara garpu ditekan pada meja kaca terdengar keras. Daksa tidak mengatakan apa-apa, memasukkan kotak sampah makanan ke dalam plastik, lalu pergi ke kamar mandi guna mencuci tangan.

Ayunda juga menyudahi makan malamnya yang masih sisa hampir separuh, sudah tidak lagi berselera. Dia membereskan sampah, mengikat plastik yang nanti akan dibawa sekalian keluar.

“Kita pulang sekarang. Ke apartemen saya _”

“Aku mau ke_”

“Tidak ada bantahan!” Daksa berdiri menjulang di depan wanita duduk di sofa, memakai sepatunya.

Terkadang, dua insan itu sama-sama keras kepala. Diwaktu tertentu tidak ada yang mau mengalah, sampai salah satu dari mereka menekan ego demi tidak bertengkar.

Kali ini Ayunda yang memilih mengikuti, Daksa sudah memasang ekspresi lebih dingin dari biasanya, tanda tidak ada kompromi.

Sepasang suami istri keluar dari dalam ruangan CEO, plastik sampah di bawa oleh Daksa. Malam ini mereka akan tidur di ranjang yang sama.

***

Keesokan harinya, kala matahari baru saja menampakkan wujud, Ayunda sudah duduk di bangku menunjukkan statusnya pada hunian Guntara. 25 tahun lebih, kehadirannya masih dianggap hina, dipandang rendah, dicap benalu, pembawa sial.

Pria paruh baya, pembawaan tenang, sorot mata hangat, senyum ramah bila berhadapan dengan orang lain, tapi tidak bersama salah satu putri kandungnya sendiri, Sarda Guntara menyilangkan kaki, tidak tak sudi berlama-lama memandang hasil berpeluh keringatnya bersama mantan model majalah dewasa.

“Temui dia esok malam di restoran bintang lima yang sudah saya sebutkan tadi,” titahnya dengan suara dingin, tanpa secuil kehangatan.

Ayunda melihat sebuah potret dalam genggamannya – seorang pria ditaksir umur mendekati 50 tahun, salah satu pelanggan yang berhasil di lobi Daksa Wangsa.

Ya, setiap kali Guntara memberi nama, alamat hotel, sebuah foto, maka langsung Ayunda kirim ke suaminya. Entah bagaimana cara penyelesaian itu, dia tidak pernah bertanya, dan Daksa enggan membeberkan. Yang pasti, masalah terselesaikan, Ayunda terhindar dari pria asing.

“Saya harus apa dengannya? Merayu dia agar dijadikan simpanan kah?” terkanya tidak salah.

“Tepat,” Serlina bangga mengakui rencana liciknya.

“Hanya sampai batas waktu perjanjian berakhir,” sambung ibu dua anak itu.

Senyum Ayunda terlihat berbeda, terdapat ejekan pada sudut bibir tertarik lebar. “Nyonya Serlina, tuan Sarda Guntara – apa perlu kita melakukan pertemuan ulang dengan membawa berkas perjanjian sudah ditandatangani kedua belah pihak?”

Sepasang suami istri paruh baya bergegas memusatkan perhatian ke Ayunda yang enggan membalas menatap mereka.

“Maksudmu?” Serlina tidak bisa menahan diri.

“Poin pada perjanjian, tak ada menyebutkan saya menjadi seorang simpanan. Tahun terakhir ini, tugas memuaskan nafsu rekan bisnis Guntara sudah terselesaikan dengan baik. Yang mana menjadi poin penting kontrak itu tak lagi berlaku. Benar bukan?” Ayunda beranjak, melempar foto tadi.

Potret pria nyaris sebaya dengan Sarda Guntara, jatuh tepat di kaki Serlina.

“Meskipun sudah terpenuhi, tetap saja batas waktu belum habis. Kau masih wajib mengabulkan keinginan kami, Benalu!” teriak Serlina seraya menginjak selembar foto.

Sarda meremas sandaran sofa mahal, ekspresinya langsung keruh setelah mendapatkan penolakan mentah-mentah.

“Ternyata kalian sangat miskin, jauh sekali dengan apa yang digembar-gemborkan media luaran sana. Demi kerja sama sampai harus memaksa tenaga gratisan, tak sanggup membayar kah? Selain memberikan imbalan caci makian?” Ayunda pandangi dua sosok perebut haknya sebagai seorang anak.

“Jaga ucapanmu!” Sarda tak tahan lagi, dia menuding wajah Ayunda.

“Kenapa tersinggung? Karena fakta, ya?” ia benar-benar menantang dengan senyum meremehkan.

“Dasar anak haram_”

“Bukan aku yang haram, tapi kau lah si badjingan, Sarda Guntara!” jeritnya sampai urat leher mengetat, badan kaku.

“Kau!” Jari telunjuknya mengacungkan tepat di wajah memerah, tangan terkepal kencang. “Ya, kaulah si pengecut itu! Karenamu dan Nadira yang berkelakuan layaknya hewan. Mau berbuat tapi malas bertanggung jawab, takut kehilangan harta warisan sebab membuat aib. Aku, aku yang harus menanggung beban hasil kebiadaban kalian!”

“Jauhkan tanganmu dariku, Serlina!!!” Ayunda mundur, lewat lirikan mata dia melihat sang ibu tiri mengangkat telapak tangan kanan.

Ayunda mundur sedikit lagi sampai benar-benar bisa melihat jelas dalam satu frame sepasang manusia minus akhlak.

Serlina terkejut akan bentakan yang baru pertama kali didengarnya dari seseorang, sedari kecil dibuat menderita jalan kehidupannya.

“Yang seharusnya kau hukum, bila perlu kau lenyapkan sekalian … suami dan wanita selingkuhannya. Bukan bayi tak tahu apa-apa! Namun sayangnya kau cuma berani sama anak kecil tidak berdaya, daripada melawan, membalas pria berkuasa yang telah memberimu kehidupan mewah. Kalian berdua sungguh hina, memalukan sekaligus menggelikan!” hinanya tanpa sungkan.

“Pertama dan untuk terakhir kalinya, aku tegaskan! Perjanjian kita usai sampai disini! Tugasku sebagai anak penebus dosa demi menghilangkan label Benalu, agar tidak dipandang hina walaupun sampai akhir akan tetap kalian anggap demikian, sudah berakhir. Jadi, jangan lagi coba-coba menggangguku. Permisi!” Ia lempar senyum dingin, lalu berbalik dan melangkah anggun keluar dari hunian bak neraka.

Sarda dan istrinya belum bereaksi apa-apa, masih sangat shock mendapatkan perlawanan, pemberontakan sosok yang terlihat lemah, tidak memiliki siapapun untuk melindungi dirinya.

Di dalam mobil, Ayunda mengatur napas, enggan mengelus perut yang sedikit kram dan tidak nyaman.

Belum juga reda amarahnya, sudah diganggu oleh raungan ponsel tanpa jeda.

“Apa?!”

“Buka grup chat karyawan. Sekarang!”

.

.

Bersambung.

1
Secret Admire
Binar oh Binar .. bukan kehancuran Ayunda tapi kehancuran hidup kamu dan selingkuhan kamu👏👏👏
Zeliii... S
itu ulah si Fendil tapi tenang saja sudah dibalas 2x tinju oleh Yeri...!!!!
novel destiny
hahhhh akhirnya balek kandang ya yundaaaa.. walaupun dengan cara agak ekstrem gara2 para benalu itu
Zeliii... S
Alhamdulillah.... Daksa sudah sampai & berkumpul bersama Ayunda.... main kecup ganggu bumil lg bobok aja... 😘😘😘
moon
petaka membawa iya iya 💃💃💃
Aprisya
duuuh permen yupi,, kenyal empuk dan bikin nagih
mamaqe
hooh mamaq percaya tp nyesek jg bacanya..cian bgt siihhh...lekasi sdh hempaskan kecoak2 nya daksaaaa..injek mpe meledak
Afternoon Honey
saya tetap sabar menantikan kelanjutan dari cerita bersambung ini....
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Yeri kenapa kamu gak hajar jg tuh si Binar jalang pdhl itu kesempatan mu lho buat dia babak belur 😏😏😡
kaylla salsabella
Daksa😍😍
Maritanias
😍😍😍😍😍
mmh nengmuti
daksa udah kangen akut JD langsung nyosor🤣
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
yg baca juga ikutan dag dig dug ini... kayak lagi liat kisah mafia ga sih 😬😬😬..., kereen euy.. ka cublik🥰
Mardiana
kasihan Ayunda.... bener bener ketakutan yg bikin kekuatan mental yg dibangun selama ini hancur.... Fendi dan sarda ...kena kau sama daksa 😎😎😎
Mommy Snowy 💕
syukurlah daksa tiba lebih dlu... kek nyesss klo udh ada daksa tuu yaa,, pelindung skaligus sandaran ternyaman ayunda 🤭
sryharty
janeee ko Yo eraaaam poool,ngopo di gantung2 Iki ka cublik,,tanggung jawab mbengi kudu up meneh
lagi enak2 ko Yo malah di cut
AFPA
Alhamdulillaah..kelapa sudah ketemu bapaknya
AFPA
woaaah udh di entup aja 🤣🤣🤣🤣
R.@RDioN@
gak cuma kamu hasya ,aku juga deg2 an tiba 2 Daksa nyosor,,,🤣
Mawar Hitam
semoga Binar kena azabnya karena mencuri gelang ayunan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!