NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan

Wira mengangkat kedua bahunya, "Aku tidak tahu. Tapi Kakek Arisuta berkata seperti itu," jawabnya.

"Wira, Setelah kau mengetahui bahwa kau adalah seorang pangeran, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ki Anom.

"Sesuai pesan Kakek Arisuta, aku harus menuju kerajaan Sanggawana. Setidaknya Raja Dharmawangsa harus tahu kalau dia mempunyai cucu."

Ki Anom kembali menghela nafas berat. Sebenarnya ada sesuatu permintaan kepada pemuda itu, namun karena Wira memutuskan untuk menuju kerajaan Sanggawana, dia mengurungkan niatnya itu.

"Kakek, sebenarnya ukiran yang berada di liontin itu maksudnya apa?"

"Itu adalah lambang kerajaan Sanggawana Wira. Jika kau bertemu Raja Dharmawangsa, tunjukkan kalung milik ibumu itu kepada beliau."

Wira mengangguk. Dia kemudian teringat jika Ki Anom meminta sesuatu darinya. "Tadi Kakek katanya mau meminta sesuatu dariku, kira-kira apa yang bisa aku berikan kepada Kakek?"

"Sebenarnya permintaan Kakek ini berat,

Wira, tapi karena kau hendak menuju kerajaan Sanggawana, Kakek tidak jadi memintanya."

Wira menggaruk kepalanya pelan. Dia penasaran apa kira-kira permintaan Ki Anom kepadanya. "Katakanlah, Kek. Jika sekiranya aku bisa, aku akan memberikan apa yang Kakek pinta dariku?"

"Begini, Wira. Kau tahu bukan jika Kakek sudah renta. Kakek juga tidak tahu sampai kapan kakek hidup di dunia ini. Permintaan Kakek padamu adalah, apa kau berkenan untuk menjaga Sinta jika kakek tiada nanti?"

Deg!

Jantung pemuda tampan itu berdegup kencang. Dia sungguh tidak menyangka jika permintaan Ki Anom seperti itu. Benak Wira bisa menebak jika permintaan menjaga sama artinya dengan menikahi gadis cantik tersebut. Pandangannya kemudian tertuju kepada Sinta yang seperti menunggu jawabannya.

Cukup lama Wira berpikir, dia akhirnya bisa menemukan jawaban yang pas menurutnya.

"Kakek, aku tidak tahu kehidupanku ke depannya seperti apa. Tapi jika Sinta mau, aku bisa mengajaknya menuju kerajaan Sanggawana."

Kali ini ganti Ki Anom yang dibuat kebingungan. Kalau Sinta mengikuti Wira menuju kerajaan Sanggawana, tentu dia akan sendirian di rumah itu. Tapi demi kebaikan cucunya tersebut, akhirnya dia pun mengalah.

"Bagaimana, Sinta? Jika kau ikut Wira menemui kakeknya, ada kemungkinan kau akan hidup di istana. Tapi ada kemungkinan juga kau akan kembali ke sini, jika Raja Dharmawangsa tidak mengakui Wira sebagai cucunya."

"Begini saja, Kakek. Jika nanti Raja Dharmawangsa mengakui aku sebagai cucunya dan tinggal di istana, maka aku akan menyuruh prajurit untuk menjemput kakek ke sini. Kita nanti bisa tinggal di istana. Namun jika tidak, maka aku akan mengajak Sinta kembali ke rumah ini. Bagaimana?"

"Baiklah kalau begitu. Kakek setuju dengan usulmu. Lalu kapan kau akan berangkat ke sana?"

"Siang ini juga kami akan berangkat ke sana. Semoga perjalanan kami berdua tidak ada kendala hingga sampai di Kotaraja," jawab Wira.

Setelah mempersiapkan perbekalan, Wira dan Sinta pun berangkat menuju istana kerajaan Sanggawana.

Sesampainya mereka di jalan utama, keduanya menumpang kereta kuda seorang pedagang yang kebetulan searah dengan tujuan mereka berdua. Selama perjalanan, pedagang tersebut begitu ramah dan mengajak keduanya mengobrol untuk mengusir kejenuhan.

Selain sebagai teman seperjalanan, pedagang itu juga mengira jika Wira adalah seorang pendekar. Dia menilainya dari pedang yang tergantung di pundak pemuda itu. Setidaknya Wira akan berguna untuk memberinya keamanan selama dalam perjalanan, pikirnya.

"Apa kalian suami istri?" tanya pedagang tersebut. Tangannya terlihat begitu cekatan mengendalikan tali kekang kuda yang menarik kereta tersebut.

Wira dan Sinta saling berpandangan setelah mendapat pertanyaan tersebut. Mereka bingung harus menjawab bagaimana. Tapi demi menjaga keamanan Sinta, Wira akhirnya menjawab jika mereka berdua memang berstatus suami istri.

"Kalian berdua sungguh pasangan yang sangat serasi. Begitu tampan dan juga cantik." puji pedagang itu setelah mendengar jawaban Wira.

Menjelang malam, mereka akhirnya tiba di suatu desa dan menginap di sebuah penginapan. Pedagang itu menyewa dua kamar untuk mereka bertiga, satu kamar untuknya dan satunya lagi untuk Wira dan Sinta.

Di dalam kamar, kecanggungan jelas terlihat di wajah keduanya. Terutama Sinta yang sangat jarang keluar rumah. Hanya sesekali gadis cantik tersebut keluar rumah, itupun karena diajak kakeknya ke pasar. Jika dia keluar sendiri, pasti godaan demi godaan akan diterimanya dari pemuda desa.

"Lalu bagaimana sekarang? Apa kita akan tidur seranjang?" tanya Sinta.

Wira melihat ke sekeliling kamar. Dia merasa lega setelah melihat tikar pandan yang tergulung dan teronggok di sudut kamar.

"Kau tidur di atas saja, aku akan tidur di bawah." Pemuda itupun mengambil tikar pandan tersebut dan menggelarnya di lantai.

"Kalau kau tidur di bawah, nanti kau bisa sakit," balas Sinta.

"Aku sudah terbiasa tidur seperti ini, Sinta. Bukan hanya setahun dua tahun, tapi belasan tahun. Dan aku bersyukur, selama ini tubuhku baik-baik saja. Sekarang kau tidurlah dulu!"

Sinta merebahkan tubuhnya di ranjang beralas kasur tipis tersebut dengan sedikit cemberut. Padahal dia ingin bisa berbicara lebih lama dengan Wira agar bisa lebih dekat lagi. Hampir satu jam lamanya gadis cantik itu mencoba untuk tidur, namun mata lentiknya seolah enggan untuk terpejam. Dia lalu merubah posisi tidurnya menyamping menghadap Wira yang sudah terpejam dan posisi tidurnya juga menyamping menghadap ke arahnya.

Sinta memandang wajah pemuda tersebut hampir tanpa berkedip. Meski hidup di desa yang sama, dia sekalipun tak pernah bertemu dengan Wira. Entah karena dia yang sangat jarang keluar atau memang takdir belum mempertemukan mereka berdua.

"Apa kau akan terus memandangiku seperti itu?" ucap Wira tiba-tiba sambil tersenyum. Sedari tadi dia juga mencoba memejamkan matanya, tapi semakin dipaksanya, pikirannya malah tidak bisa membantunya untuk tidur.

Sinta terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Saking asyiknya menikmati wajah pemuda itu, dia tidak sadar jika Wira sudah membuka matanya. Pipi gadis cantik itu merona merah menahan rasa malu. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan menutupi kepalanya dengan bantal.

"Kenapa harus malu seperti itu? Bukankah ke depannya kau akan kujaga juga?"

Sinta kembali dibuat terkejut. Dia sungguh tidak pernah menyangka jika Wira berucap seperti itu. "Apakah itu berarti Wira juga mempunyai perasaan kepadaku?" tanyanya dalam hati.

Belum sempat gadis cantik itu membalikkan tubuhnya, terdengar suara pedagang yang bersama mereka sedang mengetuk pintu kamar dengan keras.

"Wira, bangunlah cepat!"

Mendengar suara pedagang yang memanggilnya, Wira bergegas berdiri dan membuka pintu kamarnya, "Ada apa, Paman?"

"Para perampok sedang menyatroni desa ini," jawab pedagang tersebut dengan napas terengah-engah.

Wira mengernyitkan dahinya. Dia tidak menyangka ada gerombolan perampok yang berani menyatroni sebuah desa. Kalaupun itu benar, berarti gerombolan perampok itu memiliki jumlah anggota yang tidak sedikit.

"Tadi pemilik penginapan memberitahuku agar segera bersembunyi," sambung pedagang itu.

Wira menoleh kepada Sinta yang juga sudah berdiri di sampingnya. "Kau bersembunyilah di kamar ini bersama paman. Biar aku keluar menghadapi mereka!"

"Berhati-hatilah! Kau harus berjanji padaku kembali dengan selamat," ucap Sinta. Kedua bola matanya sudah terlihat berkaca-kaca.

"Kau sendirian saja menghadapi mereka?" tanya pedagang itu tidak percaya.

Wira hanya tersenyum kecil tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Sebelum pemuda itu berjalan keluar, dia mengambil pedangnya yang berada di atas meja.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!