Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 13.
Tatapan Kayla tidak bergeser sedikit pun dari wajah Deris. Ia menunggu jawaban, sementara pria di hadapannya justru terdiam cukup lama.
Baru lah, Deris mengembuskan napas pelan. "Kayla, aku gak akan menyesal menikah denganmu nanti."
Ucapan pria itu memang terdengar mantap. Namun, Kayla menangkap sesuatu yang janggal. Deris tidak mengatakan bahwa dia tidak menyesal menceraikan Zahira. Pria itu hanya mengatakan tidak menyesal akan menikahi Kayla. Perbedaan itu sangat tipis, tetapi cukup membuat hati Kayla bergejolak.
"Mas sengaja menghindari pertanyaanku."
"Aku tidak menghindar."
"Lalu jawab dengan jelas." Kayla melangkah semakin dekat, raut wajahnya kini sangat buruk. "Apa Mas mulai menyesal kehilangan Zahira?"
Deris menatap meja kerjanya beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kepala. "Aku hanya sedang menyadari sesuatu yang dulu tidak pernah kupikirkan."
Kayla langsung mengernyit, ia menghembuskan napas pelan. “Apa maksudmu?“
"Selama tujuh tahun, Zahira mengurus terlalu banyak hal dalam hidupku." Deris bicara dengan nada datar, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Ekspresi wajahnya tampak kosong, seolah pikirannya melayang entah ke mana. "Dulu setiap jadwalku berantakan... Zahira yang mengingatkan. Saat aku lupa makan karena rapat, dia yang mengirim makanan ke kantor. Kalau ada dokumen penting tertinggal di rumah, dia sudah lebih dulu mengantarkannya sebelum aku menyadari."
Pria itu tertawa hambar. "Bahkan ukuran jas yang kupakai hari ini... dulu selalu dia yang memesankan."
Kayla mengepalkan tangannya, giginya bergemeletuk karena menahan emosi. "Mas sedang membandingkanku dengannya?"
"Tidak."
"Jelas iya!" Suara Kayla meninggi. "Sejak kapan Mas mulai mengingat semua kebaikan perempuan itu?"
Deris tak menjawab, Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mungkin sejak hasil pemeriksaan rumah sakit datang. Atau... sejak melihat Zahira berjalan pergi tanpa sedikit pun memohon agar dipertahankan.
Kayla menarik napas panjang untuk meredakan emosinya. "Mas, dengarkan aku baik-baik. Zahira memang pernah menemani Mas saat kamu belum sukses... aku mengakuinya. Tapi sekarang, keadaan sudah berubah. Dunia bisnis tidak cukup dijalankan hanya dengan kesetiaan. Mas membutuhkan jaringan, investasi, dan hubungan strategis. Semua itu ada padaku."
"Aku tahu." Deris mengangguk singkat.
“Kalau begitu berhentilah memikirkan masa lalu.” Kayla menggenggam tangan Deris erat, seolah takut kehilangan pria itu. “Kita akan menikah, Mas. Kita akan membangun keluarga, membuat perusahaan Mas jauh lebih besar. Dan juga... mempunyai anak. Tidak seperti saat Mas bersama Zahira, karena wanita itu mandul. Aku juga sudah menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Kata dokter, kondisi rahimku sangat sehat dan subur. Jadi, kita pasti akan segera punya anak.”
Kata-kata terakhir Kayla membuat tubuh Deris menegang. Jemarinya tanpa sadar mengepal di atas pahanya. Bayangan hasil pemeriksaan yang menyatakan dirinya mandul kembali terlintas di benaknya. Rahasia itu masih ia simpan rapat-rapat, bahkan Kayla yang akan menjadi istrinya pun belum mengetahui apa pun.
Ia tidak berani menatap mata Kayla, khawatir kebohongan yang selama ini ia sembunyikan akan terbaca dari sorot matanya.
Tatapan Deris perlahan turun ke tangan Kayla yang menggenggam jemarinya. Entah mengapa, sentuhan wanita itu kini terasa asing. Tanpa sadar, bayangan Zahira kembali muncul.
Dulu setiap kali ia pulang dengan wajah lelah, Zahira tidak banyak bertanya. Perempuan itu hanya menyodorkan segelas air hangat sambil berkata, 'Mandi dulu, Mas. Setelah itu baru cerita, kalau memang ingin bercerita.'
Namun sekarang, kenangan kecil seperti itulah yang justru paling sulit dilupakan.
Di waktu yang sama.
Lantai operasional Wiranata Corp.
Zahira sedang memimpin rapat pertamanya sebagai General Manager, di hadapannya duduk belasan kepala divisi. Ia membuka laptop, lalu langsung masuk ke inti pembahasan.
"Saya sudah mempelajari laporan operasional tiga bulan terakhir. Secara umum hasilnya baik, tetapi ada beberapa proses yang masih menghabiskan biaya terlalu besar tanpa meningkatkan produktivitas."
Layar proyektor menampilkan beberapa grafik.
"Sistem distribusi antar-gudang masih menggunakan jalur yang sama meski volume barang berubah. Akibatnya, biaya logistik meningkat hampir delapan belas persen dibanding periode sebelumnya."
Beberapa kepala divisi langsung saling berpandangan. Mereka tidak menyangka wanita yang baru beberapa hari bekerja sudah menemukan persoalan tersebut.
"Saya mengusulkan redistribusi jalur pengiriman berdasarkan wilayah dan volume aktual. Simulasi yang saya buat menunjukkan perusahaan dapat menghemat biaya operasional hingga sebelas persen setiap bulan."
Salah seorang manajer senior mengangkat tangan. "Bu Zahira, apakah Ibu sudah menghitung dampaknya terhadap waktu pengiriman?"
"Sudah." Zahira mengganti tampilan slide. "Jika menggunakan skema ini, waktu pengiriman justru lebih singkat rata-rata dua belas persen."
Semua data ditampilkan lengkap, tak ada satu pun yang disampaikan tanpa dasar. Beberapa anggota rapat mulai menganggukkan kepala.
"Usulan ini sangat menarik."
"Saya setuju."
"Kita bisa segera melakukan uji coba."
Rapat yang semula diperkirakan berlangsung dua jam selesai hanya dalam waktu enam puluh menit, semuanya berjalan efektif. Begitu peserta keluar, salah seorang staf berbisik kepada rekannya.
"Pantas saja Pak Revan langsung mengangkat beliau menjadi General Manager."
"Iya, cara berpikirnya cepat sekali."
"Dan cara menjelaskannya mudah dipahami."
Tanpa mereka sadari, dari balik dinding kaca ruang kerja di lantai atas, Revan memperhatikan jalannya rapat melalui layar monitor yang terhubung dengan ruang presentasi.
Sekretarisnya berdiri di samping. "Pak, ternyata penilaian Bapak benar."
Revan tetap memandang layar.
"Aku tidak sedang membuktikan bahwa aku benar. Aku hanya tidak ingin orang yang kompeten, kehilangan kesempatan karena masa lalunya."
Tak lama kemudian Revan mematikan monitor. "Mulai bulan depan, libatkan Bu Zahira dalam evaluasi seluruh anak perusahaan."
Sekretarisnya tampak sedikit terkejut. "Itu proyek yang biasanya langsung berada di bawah pengawasan Bapak."
"Karena itu lah, saya ingin melihat sejauh mana kemampuannya."
"Baik, Pak."
Sore harinya.
Deris baru saja keluar dari ruang rapat ketika sekretarisnya kembali menghampiri.
"Pak, ada informasi yang mungkin perlu Bapak ketahui."
"Apa?"
"Wiranata Corp hari ini mengumumkan penunjukan General Manager baru Divisi Operasional."
"Lalu?"
Sekretaris itu menyerahkan sebuah tablet. "Namanya... Zahira Narapati."
Tangan Deris yang semula hendak meraih tablet itu seketika terhenti. Tanpa membuang waktu, ia segera mengambilnya dari tangan sekretarisnya. Di layar terpampang foto Zahira mengenakan blazer putih dengan senyum profesional, disertai keterangan singkat mengenai jabatan barunya.
Di bawah berita itu, puluhan pelaku bisnis memberikan ucapan selamat. Ada yang memuji rekam jejaknya, ada juga yang menyebut Wiranata Corp berhasil mendapatkan sosok berpengalaman.
Deris membaca semuanya tanpa berkedip, dadanya perlahan terasa semakin berat. Baru beberapa hari meninggalkan perusahaan dan rumahnya... Zahira ternyata tidak hancur. Sebaliknya, perempuan itu benar-benar mulai kembali bersinar.
Ia mengira Zahira hanya seorang karyawan biasa di perusahaan Revan. Namun kenyataannya, wanita itu menjabat sebagai General Manager Divisi Operasional, posisi strategis yang hanya bisa diraih oleh seseorang dengan kemampuan dan pengalaman yang mumpuni.
Saat ini, Deris benar-benar diliputi ketakutan. Ia takut suatu hari nanti, Zahira tidak lagi membutuhkan dirinya dalam bentuk apa pun. Lebih dari itu, Ia takut perempuan yang selama ini selalu berada di belakangnya akan mencapai titik di mana... namanya tak lagi memiliki arti di hati Zahira.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭