menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Misteri Mbah Wiro.
Setelah menempuh perjalanan berhari-hari melintasi perbatasan wilayah Kediri hingga masuk ke tlatah selatan Mataram, langkah kaki Erlang dan Sekar Arum akhirnya membawa mereka tiba di pesisir Parangtritis. Udara sore itu terasa sangat asin dan lembap. Suara gemuruh ombak Laut Selatan yang bergulung-gulung menghantam tebing karang terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan, menciptakan suasana yang magis sekaligus mencekam.
Erlang berjalan di depan sembari memegangi tali pikulan bambunya yang mulai lapuk. Di sampingnya, Sekar Arum melangkah dengan jubah sutra birunya yang kini sudah agak kusam di bagian bawah akibat terkena debu jalanan.
"Erlang, kita sudah sampai di pesisir Parangtritis," kata Sekar sambil menyeka keringat tipis di dahinya menggunakan saputangan. "Kau beneran yakin rumah orang yang kau cari itu ada di sekitar lereng bukit pasir ini? Sejauh mata memandang, cuma ada pohon pandan duri dan gumuk pasir yang sepi."
"Benar, Nimas Sekar," sahut Erlang santai sembari mengedarkan pandangannya mencari jalur setapak yang tersembunyi. "Mendiang Paman Suro berulang kali berpesan sebelum meninggal, kalau saya sudah sampai di selatan, saya harus menemui sahabat lamanya yang bernama Mbah Wiro. Katanya rumah Mbah Wiro itu ada di sebuah ceruk bukit karang yang menghadap langsung ke arah laut, agak terisolasi dari perkampungan nelayan."
Sekar mengembuskan napas panjang, melirik Erlang dengan tatapan heran. "Mbah Wiro... nama itu rasanya agak tidak asing di telingaku. Kalau tidak salah, dia itu mantan perwira sepuh kerajaan yang memilih mengasingkan diri belasan tahun lalu. Kenapa paman mu malah menyuruhmu menemui orang seperti dia?"
"Saya juga tidak tahu, Nimas. Paman Suro cuma bilang Mbah Wiro tahu banyak tentang misteri terbunuhnya orang tua saya," jawab Erlang jujur sembari menunjuk sebuah celah di antara dua tebing karang di depan mereka. "Nah, sepertinya itu jalurnya. Ayo kita lewat sana."
Namun, baru saja mereka melangkah melewati celah tebing karang dan memasuki area ceruk yang dimaksud, langkah kaki Erlang mendadak terhenti. Senyuman polos yang biasanya selalu menghiasi wajah tampannya seketika lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahi dan tatapan mata yang menegang.
Di hadapan mereka, di tengah ceruk bukit karang yang sepi, tidak ada lagi pemandangan sebuah pondok kayu yang asri dan tenang. Yang tersisa hanyalah seonggok puing-puing bangunan yang telah hangus terbakar menjadi arang hitam. Sisa-sisa tiang penyangga jati yang besar tampak tumbang berantakan, dan abu bekas bakaran yang sudah mendingin beterbangan ditiup oleh angin laut yang kencang. Rumah Mbah Wiro telah rata dengan tanah.
"Gusti Allah... rumahnya... kenapa bisa jadi begini?" bisik Erlang dengan suara yang mendadak tercekat. Ia langsung menurunkan pikulan bambunya ke pasir, lalu berlari kecil menghampiri puing-puing yang masih menyisakan bau gosong yang samar.
Sekar Arum ikut berlari di belakangnya, jubah sutra birunya berkibar ditiup angin laut. Wajah ayunya berubah menjadi sangat serius. Sebagai seorang anak bangsawan yang terlatih melihat situasi konflik, Sekar tidak langsung meratapi kehancuran itu, melainkan matanya bergerak lincah memindai tanah pasir di sekitar lokasi kejadian.
"Erlang, tunggu! Jangan melangkah sembarangan di area tengah!" teriak Sekar setengah memperingatkan.
Erlang menghentikan langkahnya di dekat bekas pintu depan yang runtuh. "Ada apa, Nimas Sekar? Kenapa rumah Mbah Wiro bisa terbakar habis begini ya? Apa mungkin karena tersambar petir sisa hujan kemarin malam?"
Sekar berlutut di atas tanah pasir yang berjarak sekitar lima meter dari puing bangunan. Ia mengusap permukaan pasir yang tampak ambles membentuk pola-pola tertentu. "Bukan karena petir, Erlang. Rumah ini sengaja dibakar. Lihat ke bawah kakimu. Ini bukan jejak kaki nelayan lokal atau warga desa biasa."
Erlang ikut berlutut di samping Sekar, memperhatikan jejak yang ditunjuk oleh gadis itu. Di atas pasir yang agak basah, terdapat belasan bekas cetakan telapak sepatu boot berbahan kulit tebal dengan pola gerigi yang sangat rapi dan dalam. Pola jejak kaki itu berantakan, menandakan adanya pergerakan yang sangat cepat dan taktis dari beberapa orang sekaligus.
"Jejak sepatu ini... sangat rapi berbentuk lingkaran," gumam Erlang, memiringkan kepalanya dengan gaya santai khasnya yang mulai kembali, mencoba mencerna situasi berdasarkan pemahamannya. "Jarak lompatannya dari satu jejak ke jejak lain jauh sekali. Berarti orang-orang yang memakai sepatu ini punya meringankan tubuh yang sangat bagus."
"Tepat sekali," sahut Sekar, matanya berkilat tajam penuh selidiki. "Dan bukan cuma itu. Coba lihat bekas sayatan di batang pohon kelapa yang setengah terbakar di sebelah kananmu itu."
Erlang bangkit berdiri dan mendekati batang pohon kelapa yang dimaksud. Di permukaannya yang menghitam, terdapat tiga bekas goretan lurus yang sangat dalam, memotong serat kayu kelapa yang terkenal keras dengan potongan yang luar biasa rapi tanpa ada serpihan hancur.
"Ini... seperti dipotong menggunakan pedang tipis yang sangat tajam dengan sekali tebas," bisik Erlang, meraba bekas goretan tersebut menggunakan ujung jarinya. Aliran energi murni di tubuh Erlang secara otomatis merespons, mendeteksi adanya sisa-sisa hawa membunuh yang sangat dingin yang masih tertinggal di bekas luka pohon tersebut. "Ngeri sekali tenaganya. Pukulan centeng di pasar Kaliwungu atau ketua Macan Wetan kemarin tidak ada apa-apanya dibanding orang yang membuat goretan ini."
Sekar Arum berdiri di samping Erlang, wajah cantiknya tampak sangat mendung. "Ini adalah jejak khas dari Pasukan Bayaran Gagak Hitam. Mereka adalah kelompok pembunuh bayaran tingkat tinggi dari wilayah barat yang hanya bisa disewa oleh orang-orang berpangkat tinggi atau bangsawan berduit banyak dengan bayaran emas batangan. Mereka terkenal sangat profesional, rapi, dan selalu meratakan tempat target mereka dengan api agar tidak meninggalkan bukti sedikit pun."
"Pasukan bayaran tingkat tinggi?" Erlang menoleh menatap Sekar dengan pandangan bingung sekaligus cemas. "Lalu... kalau rumah ini diratakan oleh orang-orang hebat begitu, di mana Mbah Wiro sekarang? Apakah... apakah beliau sudah..." Erlang tidak berani melanjutkan kalimatnya, takut membayangkan sahabat pamannya itu telah tewas mengenaskan di dalam kobaran api.
"Sebentar, Erlang. Jangan panik dulu," potong Sekar cepat, mencoba menenangkan kegelisahan pemuda polos itu. "Aku tidak melihat adanya sisa-sisa tulang manusia atau bau daging terbakar di antara puing-puing arang ini. Bau di sini murni bau kayu jati dan atap rumbia yang hangus. Pasukan Gagak Hitam itu kalau berhasil membunuh targetnya, mereka biasanya akan memajang kepala target atau meninggalkan lambang bulu burung gagak di lokasi untuk pamer kekuatan. Tapi di sini tidak ada apa-apa."
"Berarti... Mbah Wiro kemungkinan besar berhasil lolos atau... diculik oleh mereka?" tebak Erlang, matanya kembali menatap lurus ke arah garis pantai Parangtritis yang luas di bawah ceruk bukit.
"Kemungkinan besar dia berhasil meloloskan diri sebelum rumah ini dibakar habis," jawab Sekar logis. "Mbah Wiro yang kukenal lewat cerita ayahanda adalah macan tua yang sangat licik dan punya banyak jalan rahasia di bawah tanah bukit karang ini. Dia tidak akan mudah mati konyol hanya oleh kepungan pasukan bayaran, sekelas Gagak Hitam sekalipun."
Erlang mengembuskan napas panjang, merapikan kembali ikat pinggang bajunya. Rasa cemas di hatinya sedikit berkurang mendengarkan analisis tajam Sekar, namun misteri baru kini justru membentang lebar di hadapannya.
"Misteri ini makin lama makin membingungkan ya, Nimas Sekar," ujar Erlang sambil tersenyum kecut, mengambil kembali pikulan bambu tua miliknya dari atas pasir. "Paman Suro sudah meninggal, lalu sekarang sahabatnya Mbah Wiro malah diburu oleh pasukan bayaran tingkat tinggi kerajaan. Sebenarnya... Siapa yang sudah membunuh orang tua saya sampai-sampai orang-orang sakti di tanah Jawa ini sibuk saling bunuh?"
Sekar menepuk pundak Erlang dengan lembut, sepasang mata bulatnya memancarkan dukungan yang hangat. "Makanya, Erlang. Kita tidak boleh berhenti di sini. Kehancuran rumah ini adalah bukti nyata bahwa pencarianmu ini sudah berada di jalur yang benar. Musuh-musuhmu di luar sana mulai ketakutan karena kau mulai bergerak ke selatan."
"Nggih, Nimas Sekar. Terima kasih sudah selalu menemani dan mengingatkan saya," kata Erlang tulus, matanya menatap tajam ke arah hamparan deburan ombak Laut Selatan yang megah di bawah sana. "Mbah Wiro pasti masih hidup di sekitar wilayah selatan ini. Saya tidak akan menyerah sebelum berhasil menemukannya dan menuntaskan amanah mendiang Paman Suro."
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/