"Jangan dekat rawa itu!"
semenjak banyak yang meninggal karena memasang jebakan ikan di malam hari, rawa kecil itu di jauhi oleh banyak orang karena sudah banyak yang meninggal dunia.
Apa yang sudah terjadi?
Siapa penghuni rawa kecil itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01. Siluman berduri
"Apaan aku paling tidak suka acara seperti itu!" Arya kesal sendiri.
"Itu kan karena sudah malam saja jadi ada sedikit alkohol lah, kau ini laki laki kok sangat tidak bisa minum." Nolan merutuk juga.
"Tidak semua laki-laki itu bisa minum seperti dirimu." sewot Arya.
"Purnama juga bisa kok dan bahkan dia lebih kuat bila dibanding dengan aku." Nolan tidak mau kalah.
Arya diam saja kalau sudah membawa saudara mereka yang paling tua itu, apa yang Purnama tidak bisa karena dia memang semuanya bisa dan akan di terabas habis tanpa perhitungan sama sekali bila dia sudah menyukai barang seperti itu.
Di antara tiga bersaudara hanya Arya saja yang paling kalem, kalau untuk yang berdua ini memang tingkahnya terkadang ada saja sehingga membuat Arya pusing juga memikirkan. segala tingkah laku mereka membawa keburukan tersendiri namun mereka juga memiliki kebaikan tersendiri sehingga tidak bisa bila mau menghujat sampai habis, oleh sebab itu Arya harus menahan rasa sabar saja.
Ini tadi mereka pulang dari pesta dan Nolan ingin pulang lebih malam sehingga mau tidak mau Mereka melihat acara bebas terlebih dahulu, bila sudah acara bebas seperti itu maka pasti akan ada alkohol yang keluar sehingga Arya jelek tidak akan menyukai tentang pesta yang sedemikian rupa.
"Malam ini agak dingin ya." Nolan mengusap tangan yang terasa begitu dingin sekali.
"Ini malam adalah suasana yang sangat disukai oleh para iblis." ujar Arya sambil menatap sekitar.
"Benar, dulu aku akan sering keluar untuk mencari mangsa bila ada malam yang seperti ini." Nolan setuju dengan ucapan Arya.
Arya melirik ke sana kemari untuk memastikan apakah ada iblis yang kebetulan dia lihat di kawasan ini, kamu ternyata tidak ada Dan menganggap ini semua pasti hanya firasat dia saja karena memang sekarang sudah cukup malam sehingga wajar bila terasa dingin dan juga mencekam, jelas bila ini adalah manusia biasa maka tidak akan memiliki nyali untuk keluar.
Nolan adalah iblis yang sudah insaf sehingga dia bisa menyadari sendiri bagaimana keadaan yang terasa begitu suram seperti ini, sebab ketika dia masih menjadi iblis jahanam maka dirinya seringkali keluar seperti ini untuk mencari mangsa dan bisa mendapatkan dengan mudah apa yang dia mau.
"Heh Mas Arya, Mas Nolan!" Paimin agak kaget ketika bertemu dengan dua pria tampan itu.
"Oh Pakde Paimin mau ke mana malam-malam seperti ini?" tegur Nolan kepada pria tua tersebut.
"Saya mau ambil bubu yang ada di sana itu loh, kalau pagi ngambilnya maka nanti sudah habis dimakan biawak." Paimin memang kenapa masang perangkap ikan di rawa dekat desa ini.
"Kalau sudah mengambil bubuk ikan itu maka langsung pulang saja, Pakde." Arya berpesan kepada pria tua tersebut.
"Iya, memang cuma mau ambil perangkap ikan itu saja dan setelahnya Aku akan segera pulang." Paimin mengangguk kecil sambil tersenyum manis.
"Ya sudah, kami duluan kalau begitu ya." Nolan melambaikan tangan kepada orang tua tersebut dan mereka segera berjalan pulang.
Paimin juga masih sempat melambai karena dia dan kedua pria itu memiliki hubungan yang cukup baik di desa pandan Arum ini, siapa yang tidak kenal dengan dua manusia itu karena bisa dikatakan mereka adalah dua kebanggaan desa pandan Arum sehingga mereka sedikit menaruh rasa hormat kepada keluarga tersebut.
"Kenapa, Bang?" Nolan menoleh kepada Arya karena dia terlihat begitu gelisah sekali.
"Ah nggak kok cuma perasaan saja sedikit tidak enak." jawab Arya.
"Kadang firasat ini membuat kita gelisah dan tidak bisa tidur dengan benar, mungkin karena efek kau jatuh cinta kepada gadis itu kali." Nolan malah menggoda Arya.
"Bocah sialan!" Arya menggerutu kesal dan dia tidak ingin berbicara lagi.
Nolan tertawa keras dan dia agak berlari karena takut nanti akan kena marah oleh Arya, padahal Arya sedang serius karena dia merasakan malam ini terasa begitu berbeda sekali seolah ada sesuatu yang kemungkinan besar akan terjadi di desa mereka. namun Arya berusaha keras untuk menepis perasaan itu, sebab Dia juga masih tidak paham kenapa perasaan itu bisa timbul di dalam hati dia sekarang.
...****************...
"Loh mana perangkap ikan ini kok malah semakin jauh saja." Paimin jadi bingung dan dia berusaha untuk mengambil bubu itu.
Setelah berjalan agak jauh di dalam rawa maka dia berhasil mendapatkan bubu yang telah dia pasang dengan umpan sawit, sebab biasanya lele atau bahkan ikan lain menyukai sawit itu dan masuk ke dalam perangkap sehingga Paimin mendapatkan banyak ikan ketika pagi mengambil perangkap ikan tersebut.
"Oh ini dia perangkap ikan yang aku cari, kok enteng sekali ini dan ternyata tidak ada ikan." Paimin mengeluh karena perangkap ikan yang dia pasang sudah kosong.
"Ah ini pasti ada yang memangsa jadi aku tidak kebagian ikan yang masuk ke dalam perangkat." kesal Paimin.
Namun mata pria tua ini malah melihat sesuatu yang bergerak di dalam bubu itu sehingga dia langsung menyorot menggunakan senter, seketika dia agak kaget ketika melihat ada ular yang bersembunyi di dalam sana, bukan ular itu yang membuat dia kaget namun bentuk dari ular tersebut bergerigi dengan penuh duri sehingga dia merasa aneh.
Buk, Buk.
"Ayo keluar Kau dari dalam bubu ini." Paimin menuang di daratan karena dia penasaran dengan ular itu.
"Pasti Kau yang sudah memakan ikan di dalam perangkap ini ya, dasar ular sialan." Paimin mengambil barang untuk membacok ular tersebut karena merasa kesal saja.
Wuuttt.
"Heee bisa menghindar juga kau ternyata ya." Paimin berseru kaget karena dia melihat ular itu bergerak begitu gesit.
Wuuussssh.
Wuuusssh.
"Hah!"
Paimin berdiri dengan tatapan mata lurus serta mulut terbuka lebar ketika melihat ular itu mengeluarkan asap yang begitu tebal berwarna hitam, hanya dalam sekejap mata maka dia berubah menjadi seorang siluman dengan tubuh penuh dengan duri, terlihat berbentuk manusia namun wajah itu sangat menyeramkan sekali.
"Berani sekali kau mengusik ketenangan yang sudah aku miliki." siluman berduri menatap Paimin penuh dengan kebencian.
"Si...siapa kau?" Paimin sangat ketakutan sekarang.
"Hahahaaaaaa!"
Iblis itu tidak menjawab pertanyaan dari Paimin dan dia justru bergerak cepat dan merobek tepat pada bagian leher, darah menyembur dari luka tersebut sehingga wajah siluman berduri menjadi tambah mengerikan akibat terkena semburan darah yang keluar.
Greeeeeek.
"Akhirnya malam ini aku akan makan dengan sangat lezat." siluman berduri merobek tubuh Paimin untuk mengambil jeroan yang ada di sana.
Tanpa pikir panjang dia segera menghabiskan dan memakan begitu lahap sekali, Paimin sudah tidak bernyawa karena dia meninggal tepat ketika leher itu terkoyak dengan cakar yang begitu tajam, siapa yang akan menyangka bahwa dirinya meninggal dalam keadaan begitu sadis hanya karena ingin mengambil bubu ikan yang telah dirinya pasang.
Selamat pagi, berjumpa lagi dengan cerita autor Novita Jungkook di hari Minggu ini. jangan lupa like dan komentar kalian untuk di cerita baru ya, terima kasih.
aneh betul dia
naferia curiga SMA siapa ya🤔🤔
Nana jg kok bisa masuk lumpur bukan nya td menghajar melda🤔🤔