Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Meski takut, Zea meyakinkan diri sendiri jika pilihannya tak mungkin salah. Ia tetap keluar, meski menarik gagang pintu dengan tangan gemetaran. Dengan langkah yang teramat berat, berjalan menuju dapur, mengambil air segelas dari dispenser lalu meneguknya hingga tandas.
Pyar
Ia yang tak sadar tengah melamun, sampai menjatuhkan gelasnya.
"Astaga Zea, ada apa?" Bi Nuning yang ada di dapur langsung mendekati Zea. Ia kaget melihat wajah piasnya. "Zea, ada apa?"
"Eng, enggak ada apa-apa," Zea menunduk, ingin membersihkan pecahan gelas, namun bahunya ditahan Bi Nuning.
"Kamu duduk aja, biar Bibi yang beresin," menarik Zea menuju kursi di dapur, memintanya duduk. Setelah semuanya beres, ia kembali menghampiri Zea, mengajak gadis itu ke dalam kamarnya untuk mengobrol agar lebih nyaman. Tak lupa mengunci pintu agar tak ada yang masuk mengingat kamar tersebut bukan hanya ia yang menempati, tapi satu orang lagi. "Ada apa Zea, cerita sama Bibi?" bujuknya.
"Gak ada apa-apa, Bi," Zea menggeleng sambil memasang senyum palsu. Keduanya duduk bersebelahan di atas ranjang.
"Jangan bohong, kamu pasti ada masalah. Bibi dengar, kamu dipanggil Tuan Very, ada masalah apa?" raut wajahnya tampak cemas.
Zea tertunduk sambil meremat sprei, ragu untuk cerita.
"Apa ada kaitannya dengan hubungan kamu dengan Tuan Naka?"
Deg
Zea kaget, mengangkat wajah, menatap Bi Nuning. "Bibi tahu?"
Bi Nuning mengangguk, "Hampir semua orang di rumah ini tahu," ia menggela nafas berat. "Kalau saja Bibi tahu sejak awal, Bibi pasti sudah menasehati kamu, sayangnya Bibi juga baru tahu. Zea," ia meraih tangan Zea, menggenggamnya. "Kadang, sadar diri itu perlu."
Air mata Zea meleleh. Ia bukan tak tahu soal itu, tapi ia kalah melawan hatinya, egonya, keinginannya. Cinta membuat ia lupa dengan status sosialnya.
"Kamu dan Tuan Naka itu berbeda, kalian tidak setara. Zea, ibarat kata, kamu hanya gadis biasa, tapi yang ingin kamu raih, bukanlah buah di atas pohon atau burung yang terbang di langit, tapi yang ingin kamu raih adalah bulan, mustahil Zea."
Zea makin sesenggukan.
"Jangan melawan Tuan Very, hanya itu yang bisa Bibi sarankan saat ini. Lagipula, Tuan Naka dalam kondisi tak bisa melihat sekarang, dia tak tahu seperti apa wajahmu. Bagaimana jika saat dia bisa melihat nanti, dia ternyata tidak menyukaimu. Kamu memang cantik, tapi ingat, masih banyak di luar sana wanita yang lebih cantik yang dengan mudah akan bisa didapatkan Tuan Naka. Jangan sampai, kamu hanya berdarah-darah sendirian, tapi nantinya kamu disia-siakan. Fikirkan lagi, Ze."
Sebenarnya itu juga yang dikhawatirkan Zea. Meski sejauh ini Naka terlihat tulus, tapi hati manusia bisa berubah. Sekarang cinta, belum tentu tahun depan masih sama. Di tengah perasaan gundah gulana, ia tiba-tiba merasakan mual, buru-buru dia keluar kamar, berlari menuju kamar mandi.
Hoek hoek hoek.
Bi Nuning yang khawatir, menunggu Zea di depan pintu kamar mandi. "Ze, kamu sakit?" tanyanya begitu Zea keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.
"Beberapa hari terakhir ini aku mual Bi, mungkin masuk angin," memijat sendiri bahu dan tengkuknya yang terasa pegal.
"Kamu sudah datang bulan?" Bi Nuning tiba-tiba kepikiran sesuatu.
"Maksudnya?"
"Kamu sudah datang bulan atau belum?" Bi Nuning tampak geregetan. "Bibi takut kalau ternyata kamu hamil."
Reflek, Zea menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan. "Enggak, gak mungkin," ia menggeleng cepat. Selama ini Naka selalu mengeluarkan di luar, dan sejauh ini aman-aman saja, tapi mungkinkah sekarang...
"Ze, coba kamu cek, kamu pastikan."
Sepanjang hari Zea gelisah, takut jika benar-benar hamil. Ia sampai tak bisa konsentrasi bekerja.
"Ze, kenapa tehnya tawar, kamu gak kasih gula?" Naka masih memegang gelas teh sereh bikinan Zea yang rasanya tak seperti biasanya.
"Masa sih," Zea mengambil gelas di tangan Naka, mencicipinya sedikit. "Astaga, aku sepertinya lupa ngasih gula. Sebentar ya, aku tambahan gula dulu. "
"Gak usah," tahan Naka, memegang lengan Zea yang ingin berdiri. "Kamu ada masalah? Kamu banyak diam hari ini? Ada apa Ze, cerita sama aku?"
"Gak ada."
"Jangan bohong. Kalau kamu butuh uang, bilang aja. Apa keluarga kamu di kampung butuh uang?"
"Gak ada, aku baik-baik saja."
Tak mau terus kepikiran, hari ini Zea putuskan untuk membeli tes pack, dan keesokan harinya baru ia gunakan.
Dan pagi itu, tubuhnya gemetar, lututnya lemas melihat dua garis merah pada tes pack. Tubuhnya limbung, sampai berpegang pada dinding agar tidak jatuh.
"Zea, kamu didalam?" teriak seseorang dari luar. "Buruan, aku kebelet."
"I, iya," Zea buru-buru menyeka air mata, mencuci muka lalu keluar. Ia kembali ke kamar untuk menyimpan testpack, memasukkan ke dalam salah satu bagian tas, takut ada yang menemukan benda itu. Kepalanya terasa sangat berat, dan tubuhnya lemas.
Suara dering ponsel membuat Zea yang yang duduk di lantai, memaksakan diri untuk bangun, mengambil ponsel yang ada di atas meja. Perasaannya langsung tidak enak melihat panggilan dari kakaknya subuh-subuh seperti ini.
Dugaannya semakin kuat saat menjawab panggilan, yang terdengar adalah suara tangisan Nisa.
"Ada apa, Mbak?" tanya Zea cemas.
"Ibu Ze, Ibu."
"Ibu kenapa?" Zea makin gelisah.
"Ibu kecelakaan, ditabrak mobil dini hari tadi saat mau ke pasar."
Tubuh Zea langsung luruh, ponselnya sampai terjatuh karena gemetaran. Ibunya biasa ke pasar dini hari sebelum subuh untuk kulakan sayur dan bahan makanan lainnya untuk dijual kembali keliling.