NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:612.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sahur pertama di rumah itu terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul tiga dini hari, lampu ruang makan sudah menyala terang. Bi Minah dan Azalea sedang menyiapkan makanan untuk sahur.

Aroma ayam goreng kipas menyebar hingga ke ruang keluarga. Minyak panas yang baru saja diangkat dari wajan masih menyisakan suara berdesis pelan.

Azalea berdiri di dapur dengan apron sederhana, wajahnya sedikit lelah tapi penuh senyum. Ia sengaja memasak sendiri sahur pertama anak-anak. Ini momen yang tak ingin ia lewatkan.

Dari arah kamar, terdengar suara langkah kecil berlarian. “Mommy! Sudah siap?” teriak Elora dengan rambut masih berantakan, memeluk boneka kecilnya.

Erza menyusul di belakangnya, menguap lebar tapi tetap berusaha terlihat kuat. “Aku bangun sendiri, lho, Mom. Tidak dibangunin.”

Azalea tertawa kecil. “Anak-anak Mommy hebat sekali.”

Enzo keluar dari kamarnya bersama Erza tadi, mengenakan kaus sederhana dan celana training. Wajahnya masih setengah mengantuk, tapi ada rasa yang berbeda di hatinya. Rumah terasa hidup.

Di meja makan, ayam goreng kipas tersusun rapi. Ada telur dadar, sup hangat, dan segelas susu untuk anak-anak.

Elora langsung duduk dengan mata berbinar. “Ayam kesukaanku!”

Azalea menoleh ke arah dapur belakang. “Bi Minah, sahurnya bareng kita di sini!”

Wanita paruh baya itu muncul sambil mengusap tangannya pada kain lap. “Bibi di belakang saja, Non. Tidak enak.”

“Di sini saja, Bi,” ucap Enzo tegas namun hangat. “Biar terasa nikmat kalau makan bersama-sama.”

Bi Minah terdiam sejenak. Ia menatap meja makan, lalu wajah keluarga kecil itu. Hatinya terenyuh.

“Kalau begitu, Bibi ikut, ya.”

“Yeaaay!” Elora bertepuk tangan.

Mereka duduk bersama. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat majikan dan pembantu. Yang ada hanya kebersamaan.

“Oma tidak ikut sahur?” tanya Erza ketika menyadari satu kursi kosong.

“Oma tidak puasa karena punya penyakit lambung,” jawab Enzo pelan.

Erza mengangguk mengerti. “Berarti kita doakan Oma supaya sehat.”

Azalea tersenyum bangga.

Tawa kecil sesekali terdengar dari mulut kedua anak kecil itu. Elora makan dengan penuh semangat, meski beberapa menit kemudian mulai mengeluh kekenyangan.

“Kalau kekenyangan, nanti hausnya cepat datang,” kata Erza sok bijak.

“Kakak seperti ustaz,” balas Elora sambil mencibir manja.

Enzo memperhatikan anak-anaknya dengan dada hangat. Dulu, rumah ini sering terasa dingin dan sunyi. Kini, bahkan suara sendok beradu dengan piring pun terdengar seperti musik.

Hari pertama puasa, baru pukul sepuluh pagi, Elora sudah duduk lemas di ruang keluarga, menyandarkan kepala di paha Azalea.

“Mommy … perutku bunyi terus.”

Azalea tersenyum lembut. “Haus atau lapar?”

“Keduanya.”

Erza yang sedang membaca iqra menoleh. “Sabar, Elora.”

Elora menatap kakaknya dengan tatapan campur aduk antara kagum dan kesal.

Azalea mengusap rambut putrinya. “Kalau sudah tidak kuat, tidak apa-apa berbuka. Allah tahu kamu masih kecil.”

Elora berpikir sebentar. Lalu mengangguk pelan.

Saat waktu Zuhur tiba, ia berbuka. Tapi seperti biasa, ia hanya minum segelas air putih, segelas jus, dan satu cup puding.

“Nasinya?” tanya Azalea lembut.

“Tidak mau. Nanti saja pas Magrib sama Daddy,” jawabnya polos.

Azalea tertawa kecil. Anak itu ingin tetap merasa “ikut puasa”.

Berbeda dengan Erza. Menjelang sore selepas Asar, wajahnya mulai pucat. Ia duduk diam di ruang keluarga, memegang perutnya.

“Lapar?” tanya Enzo yang baru saja turun dari lantai atas setelah menyelesaikan pekerjaan daringnya.

Erza mengangguk pelan. “Sedikit.”

Azalea datang membawa mushaf kecil. “Kalau kita mengaji, rasa laparnya biasanya berkurang.”

Mereka duduk bersama di ruang keluarga. Erza membaca pelan, Elora mengikuti dengan suara terbata. Azalea memperhatikan, sesekali membenarkan tajwidnya yang masih salah.

Sore itu, mereka keluar sebentar membeli takjil. Angin sore menyentuh wajah Erza yang terlihat semakin lemas, tetapi matanya tetap berbinar.

“Mommy… azan Magrib masih lama, kah?” tanyanya ketika sudah duduk di meja makan, menatap kurma dan kolak di hadapannya.

Azalea melirik jam dinding. “Sebentar lagi. Mungkin tiga menit lagi. Sabar, ya.”

Tiga menit terasa seperti tiga jam bagi Erza.

Enzo yang baru selesai mandi datang dengan rambut masih basah. Elora langsung menodongnya.

“Daddy, puasanya batal, tidak?”

Enzo tertawa kecil. “Tidak. Daddy, kan, kuat.”

“Pantas tidak kelihatan lemas seperti Kakak,” ucap Elora sambil menutup mulutnya, tertawa kecil.

Erza hendak protes, tapi Enzo lebih dulu merangkulnya. “Kakak juga hebat, kok. Kuat puasa full seharian.”

Wajah Erza langsung berubah cerah. Pujian dari ayahnya terasa seperti hadiah paling mahal.

Terdengar suara azan Magrib dari masjid terdekat.

“Allahu Akbar…”

Erza dan Elora bersorak kecil. Mereka mengambil kurma dan segelas air putih.

“Alhamdulillah, aku bisa puasa full!” seru Erza bangga.

Enzo menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Daddy bangga.”

Azalea menunduk sejenak. Dadanya sesak oleh rasa haru.

***

Ramadan berjalan cepat. Memasuki minggu ketiga, Erza masih puasa penuh tanpa bolong. Elora tetap puasa sampai Zuhur dengan bangga.

Ucapan Mami Elsa yang sempat menyindir bahwa Azalea menyiksa anak-anak tidak pernah ia hiraukan. Azalea tidak pernah memaksa. Ia hanya mengajarkan. Jika anak-anak sakit, ia sendiri yang akan menyuruh mereka berhenti.

Di ruang keluarga suatu sore, Erza bertanya, “Mommy, setelah sebulan puasa itu lebaran, ya?”

“Iya. Nanti kita bebas makan lagi,” jawab Azalea sambil mengikat rambut Elora yang minta dikucir dua.

“Aku sudah mulai terbiasa puasa,” ujar Erza lirih. “Jadi ingin puasa terus.”

Azalea terdiam sesaat. Hatinya tersentuh.

“Kalau mau ikut puasa sunah setelah lebaran, bisa puasa lagi selama enam hari. Pahalanya seperti puasa setahun.”

“Benarkah, Mom?!” Mata Erza membesar. “Aku mau!”

Elora ikut mengangkat tangan. “Aku juga! Tapi sampai Zuhur saja.”

Mereka tertawa bersama.

Sejak tadi Enzo menyimak dari sofa, menatap keluarganya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. “Bagaimana kalau hari Minggu nanti kita beli baju lebaran sekeluarga?” ajaknya tiba-tiba.

“Mau!” seru Elora langsung. “Nanti kita jalan-jalan, kan?”

“Boleh,” jawab Enzo.

Erza tersenyum lebar. “Kita pakai baju seragam?”

“Boleh juga,” balas Enzo.

Azalea menoleh ke arah suaminya. Di saat bersamaan, Enzo juga melihat ke arahnya.

Tatapan itu lebih dari sekadar rencana membeli baju. Itu tentang perjalanan kecil keluarga mereka.

Tentang rumah yang dulu terasa sepi, kini perlahan dipenuhi tawa. Anak-anak yang tumbuh dengan doa dan kasih sayang.

Tanpa banyak bicara, Azalea dan Enzo saling mengerti. Ramadan tahun ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi tentang belajar menjadi lebih baik setiap hari.

Seorang ayah yang mulai kembali mendekat kepada Tuhan. Seorang ibu yang sabar membimbing dengan lembut. Dan dua anak kecil yang membuat rumah itu terasa hidup.

Di ruang keluarga sederhana itu, kebahagiaan terasa begitu dekat. Rumah itu kini benar-benar terasa hangat.

***

Alhamdulillah, retensi bab 20 aman. Terima kasih untuk dukungan kalian semua. Semoga dapat reward bab 20 terbaik. 🤲

1
I Love you,
Athor jgn bikin Azalea kecewa lgi🙏😤 dia Uda menderita,suda banyak berkorban..🙏😁 boleh enszo bodoh...tapi Jan dia mengaikan..Azalea..🙏😁😭
I Love you,
ternya ta kau goblok ya kecewa kau😭😭 jgn kau buat hal yg sama Azalea lagi hamil panik dia Skrang kmu hubungi di bodoh jgn fokus sama masa lalu .😤Karana kebodohan..mu eh bodok itu jgn pake pangkat!!😡😤
Nar Sih
ingat enzo ada lea juga yg lgi hamil besar angat telpon nya biar dia tenang sblm kmu menyesal untuk yg ke dua kali nya
Nar Sih
ternyata begitu sedih ya cerita jasmin grgr fitnah sampai meninggal bnr,,jht si kamila
Gadis misterius
Klu azelea pasti dia sedih krn yg ingin tau azelea knp dan mengapa tb2 kakaknya meninggal apa yg terjadi knp dan mengapa azelea pernh berucap begitu ....semoga azelea tdk knp2 dan enzo tdk mengulanginya....km wanita kuat azelea jngn berpikiran buruk cukup jasmine aza'kau jngn
Kar Genjreng
jangan sampai terjadi lagi Enzo dengan istri mu yang sedang hamil,,,kenapa terlalu banget sampai tidak.memikirian. kondisi istrinya di rumah ,,, semoga saja tidak terjadi apa apa dengan keadaan Azalea
segitu nya heran sampai lupa keluarga nya. istri Hami besar,,, jangan sampai menyesal yang kedua kali nya saja,,,,bila itu terjadi kiamat lah dunia mu dan Anak Anak,,, Kenzo
vania larasati
lanjut
Esther
Enzo jangan ulangi kesalahan yg sama.
Istrimu Lea sedang hamil besar, jawablah panggilan darinya
Sugiharti Rusli
semoga Enzo cepat menyadarinya, kalo perasaan bersalahnya bisa jadi malah membuat Azalea menjadi insecure terhadap mendiang kakaknya sebagai istri k-2 suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya apa yang dulu dia lakukan ke Jasmine bisa jadi pelajaran sih, jangan terlalu berasumsi dengan cepat dan itu sudah Enzo lakukan terhadap kasus video Azalea yang editan
Sugiharti Rusli
dan Azalea tidak akan sanggup melawan mendiang kakaknya sendiri kalo sikap Enzo seperti ini dan belum bisa move on
Sugiharti Rusli
karena sepertinya si Enzo sekarang sedang dalam fase seperti itu, dia lupa kalo istrinya sekarang sedang mengandung anaknya juga
Sugiharti Rusli
jangan sampai nih akibat rasa bersalah Enzo yang besar setelah tahu kebenarannya tentang mendiang istrinya itu, malah dia jadi abai terhadap Lea
Rahma Inayah
Enzo km jgn mengulang kesalahan yg kedua klinya dan akan membuat mu mneyesal hrs nya km hub Lea knp km blm pulang jgn sampai Lea tau gosip yg beredar di media sosial terbca oleh nya BS berakibat fatal PD kehamilan nya .mkn hp Enzo lowbet tp setidknya BS pinjm hp Ramon or hp or tlp di kntr polisi utk mengabari Lea agar dia TDK khwatir
Dini Anggraini
Enzo Azalea sekarang hamil besar semoga kamu cepat angkat tlv istrimu sebelum semua terlambat seperti jasmine saat itu pendarahan di temukan Erza keesokan harinya saat jasmine sudah meninggal. Karena hamil muda saja gak boleh stress berlebihan bisa keguguran apalagi hamil tua bisa bahaya, jangan mentang2 kamu menyesal telantarkan jasmine kamu juga abaikan tlv Azalea juga. 🙏🙏😍😍😍
Ruwi Yah
jangan sampai kamu kehilangan untuk kedua kalinya enzo kebetulan posisi keduanya sama2 sedang hamil besar
Ariany Sudjana
Enzo penyesalan selalu datang terlambat, dan semoga dengan kamu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama, dengan mengabaikan Azalea seharian penuh 😄
dewi wijayanti
❤️❤️❤️❤️
Arwondo Arni
berziarah ke makam Jasmin biar hatinya lapang dan Jasmin maafin,mungkin kl kamu cerita Lea kamu akan didiemin Lea Krn mengabaikan kakaknya yg hamil besar
Arwondo Arni
semoga Kel mama Elsa atau Kel kecil Enzo terhindar dr niat jahat karmila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!