Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
selamat datang dirumah baru
Pesawat kami akhirnya mendarat dengan mulus di bandara kota tempat kami kuliah saat jarum jam menunjukkan pukul tiga sore lewat sedikit. Udara kota yang akrab dan sedikit lembap langsung menyambut kepulangan kami begitu kami melangkah keluar dari area pintu kedatangan penumpang.
Mas Arkan menyeret koper biru pudarku dengan satu tangan yang santai, sementara tangan kirinya memegang kunci mobil matic merah milikku yang sengaja dititipkan di area parkir inap bandara sejak hari Jumat lalu oleh salah satu asisten dosen atas perintahnya.
"Kamu yang menyetir mobil kamu sendiri ke apartemen baru kita, Karin. Saya akan mengekor di belakang dengan taksi online agar mobil saya yang masih di parkiran kosan kamu bisa segera saya ambil nanti malam," perintah Mas Arkan tenang sembari menyerahkan kunci mobil merahku yang gantungan kuncinya berbentuk boneka beruang lusuh.
"Lho? Mas Arkan tahu jalan menuju apartemen baru kita yang di kota ini?" tanyaku bingung saat kami berjalan menyusuri area parkir mobil yang sangat luas.
"Tentu saja. Apartemen itu juga dibeli oleh Kakek sebagai hadiah pernikahan kita minggu lalu, letaknya tidak jauh dari kampus, hanya sekitar sepuluh menit berkendara dari gerbang utama fakultas teknik," jelasnya santai sembari membantu memasukkan koper biruku ke dalam bagasi mobil mungil merahku dengan gerakan yang sangat terampil. "Ikuti saja rute yang saya kirimkan lewat peta digital di ponsel kamu nanti."
"Baik, Mas. Siap!" jawabku bersemangat dengan gaya hormat militer yang jenaka, membuat Mas Arkan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol mahasiswi barunya ini.
Apartemen baru kami di kota tempat kuliah ini berada di dalam sebuah kompleks gedung menara ganda yang sangat modern dan mewah bernama The Sapphire Residence. Letaknya yang berada di kawasan jalan protokol utama membuat apartemen ini menjadi salah satu hunian paling elit yang sangat diminati oleh kalangan ekspatriat dan para pejabat penting di kota ini.
Unit apartemen kami terletak di lantai lima belas, tepatnya nomor unit 1507.
Begitu pintu jati berwarna abu-abu gelap unit apartemen itu kubuka menggunakan kartu akses sensor yang diberikan Mas Arkan tadi, aku langsung terpaku di tempatku berdiri dengan mulut yang setengah terbuka saking takjubnya.
Apartemen ini berukuran jauh lebih luas dari unit apartemen Mas Arkan yang berada di Jakarta. Desain interiornya sangat hangat, memadukan elemen kayu alami berwarna cokelat muda dengan dinding berwarna putih bersih dan sofa kain tebal berwarna krem yang tampak sangat nyaman diduduki di tengah ruang tengah.
Namun, bagian yang paling membuatku terkejut adalah tata letak lorong kamarnya.
Di sebelah kiri ruang tengah, terdapat sebuah lorong pendek yang menghubungkan dua buah pintu kamar tidur yang letaknya saling bersebelahan secara simetris, persis seperti tata letak kamar kosanku dengan kamar tetangga sebelah di rumah Mbak Rika dulu.
"Kamar kamu yang di sebelah kiri, Karin. Dan kamar saya yang di sebelah kanan," ujar Mas Arkan yang baru saja masuk ke dalam unit sambil membawa barang bawaannya sendiri dari dalam tas travel hitamnya. "Kamar mandi utama terletak di bagian tengah koridor kamar kita. Jadi privasi kamu tetap aman sesuai dengan isi kontrak perjanjian kita kemarin."
Aku berjalan perlahan menyusuri koridor tersebut, menyentuh gagang pintu kamar putih sebelah kiri yang kini resmi menjadi area pribadiku yang baru selama satu tahun ke depan. Di sebelahnya, hanya berjarak satu meter saja, terdapat pintu kamar Mas Arkan yang tertutup rapat.
Suamiku, dosen killer kamar sebelah, bisikku dalam hati dengan seulas senyuman tipis yang sangat manis mengembang di wajahku.
Nama yang tadinya hanya menjadi bahan candaan di dalam kepalaku kini telah menjelma menjadi sebuah kenyataan hidup yang sangat nyata di hadapanku. Mulai sore ini, perjalanan hidup baruku di bawah satu atap dengan Mas Arkan akan dimulai kembali dengan babak-babak baru yang pastinya akan jauh lebih berwarna, menantang, dan penuh dengan kejutan-kejutan manis yang tak terduga di setiap harinya.
Unit apartemen nomor 1507 ini benar-benar terasa seperti mimpi baru bagiku. Aku melangkah mendekati jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit di ruang tengah. Dari sini, pemandangan kota terlihat begitu luas. Jalan raya utama di bawah sana tampak seperti garis abu-abu panjang dengan kendaraan-kendaraan kecil yang bergerak merayap. Di kejauhan, menara-menara kampus kami yang beratap biru juga terlihat berdiri dengan megah.
"Suka pemandangannya?" suara berat Mas Arkan terdengar di belakangku. Pria itu baru saja meletakkan tas travel hitamnya di dekat meja konter dapur.
Aku menoleh dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan. "Suka banget, Mas! Bagus banget pemandangannya dari sini. Jauh lebih mending daripada pemandangan jendela kosanku yang cuma menghadap ke jemuran baju Mbak Rika."
Mas Arkan mengeluarkan kekehan pelan mendengar kejujuranku. Ia berjalan mendekat ke arah kulkas dua pintu berwarna abu-abu metalik yang ada di sudut dapur, membukanya, dan menemukan kulkas itu masih kosong melompong kecuali beberapa botol air mineral dingin.
"Kulkasnya masih kosong. Nanti malam setelah saya mengambil mobil di dekat kosan kamu, kita harus pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan dan perlengkapan harian," ujar Mas Arkan sembari menyerahkan sebotol air mineral dingin kepadaku.
"Siap, Mas! Nanti biar Karin yang bantu catat daftar belanjanya," jawabku setelah menerima botol air tersebut dan meneguknya hingga setengah. Rasa dinginnya langsung menyegarkan tenggorokanku yang terasa kering sejak di bandara tadi.
Aku kemudian membawa koper biruku masuk ke dalam kamar yang berada di sebelah kiri. Begitu pintu kamar kubuka, aku kembali dibuat terpukau. Kamar ini didesain dengan sangat cantik dan minimalis. Ada sebuah ranjang dengan sprei berwarna krem lembut, lemari pakaian berukuran sedang dengan pintu kaca geser, dan sebuah meja belajar kayu yang diletakkan tepat di sudut jendela—sangat cocok untukku begadang mengerjakan skripsi.
Aku merebahkan diriku sejenak di atas kasur yang sangat empuk ini. Aroma sprei baru yang wangi lavender seketika membuat otot-otot tubuhku yang kaku menjadi lebih rileks. Sambil menatap langit-langit kamar, aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi. Cincin emas putih polos di jari manisku tampak berkilau indah tertimpa cahaya sore yang masuk dari celah gorden jendela.
Tok... Tok...
Ketukan pelan di pintu kamar membuatku langsung terduduk tegak dengan panik, merapikan bajuku yang agak kusut karena berbaring tadi. "Iya, Mas? Masuk aja!"
Pintu terbuka sedikit, menampilkan sosok Mas Arkan yang kini sudah melonggarkan kancing teratas kemejanya, memberikan kesan yang jauh lebih santai dan maskulin. "Saya mau berangkat ke area kosan kamu sekarang untuk mengambil mobil saya yang tertinggal di sana. Kamu mau ikut atau mau istirahat di sini?"
"E-eh, Karin di sini aja deh, Mas. Mau sekalian beres-beres baju ke dalam lemari biar nanti malam tinggal pergi belanja," jawabku canggung.
"Ya sudah. Kunci pintu apartemen dengan rapat dari dalam. Jangan sembarangan membukakan pintu untuk orang asing, paham?" pesannya dengan nada tegas, naluri protektifnya sebagai seorang suami—meskipun kontrak—tampak keluar secara alami.
"Paham, Mas Arkan. Hati-hati di jalan ya," ujarku sambil tersenyum tipis.
Mas Arkan sempat tertegun selama beberapa detik mendengar perhatian kecilku, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan menutup pintu kamarku kembali. Mendengar langkah kakinya yang perlahan menjauh dan suara pintu utama apartemen yang terkunci otomatis, aku langsung membenamkan wajahku ke bantal tidur dengan perasaan campur aduk yang sangat mendebarkan. Kehidupan satu atap kami di kota ini benar-benar baru saja dimulai.