NovelToon NovelToon
MEJA BUNDAR

MEJA BUNDAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jumillah

"Meja bundar.. apa itu??"

"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."

"Siapa kakek sebenarnya??"

"Kakek bukan orang biasa, dia.."

Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.

Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS.30.CERITA WARGA(Masih flashback masalalu)

Warga ketakutan ketika para orang - orang itu mulai mencari keberadaan mereka, tapi pada akhir nya mereka semalat karena keberadaan mereka tidak ketahuan. Dan setelah para pria itu sudah tidak lagi berfokus pada mereka.. mereka akhir nya bisa melarikan diri.

Dan dari saat itu lah warga yang menyusup tadi memberikan info pada semua warga yang ada di desa itu bahwa abah Engkus yang mereka kira hanya rentenir biasa, rupanya adalah seorang jagal manusia sekaligus adalah seorang kanibalisme.

"Kita mau bagaimana sekarang?"

Para warga yang kembali melakukan musyawarah pun merasa bahwa tindakan yang abah Engkus lakukan itu terlalu mengerikan untuk di sebut penjahat, karena penjahat biasa tidak mungkin melakukan apa yang di lakukan oleh abah Engkus dan pengikut nya.

"Grebek saja atuh A, laporkan ke polisi." Usul salah satu warga.

"Polisi? Jangan! Kita habisi saja mereka dengan tangan kita sendiri. Ini tanah kita, rumah kita! Masa kita yang banyak ini kalah sama dia yang cuma sendiri?" Salah satu warga mulai tersulut niatan keji.

"Ini, nggak boleh atuh a! Ini sama saja kejahatan." Ucap salah seorang warga yang ragu.

"Kenapa nggak boleh? Dia saja sudah menculik warga, mereka sudah membunuh banyak warga desa ini terutama pendatang! Dan lagi pula, sudah terlalu banyak warga yang nggak bersalah jadi korban kekejian mereka, mau tunggu sampai kapan!?" Ucap pria itu, warga kemudian saling pandang.

Ada yang ragu, ada yang setuju, san ada juga yang tidak setuju. Mereka tidak berani melakukan tindakan yang terlalu jauh, mereka ada yang takut dengan kekuasaan abah Engkus. Tapi ternyata, yang setuju menang banyak suara, mereka yang marah langsung berteriak setuju.

"Ya sudah! Kami setuju!" Ucap beberapa warga, lalu di iringi susulan suara - suara lain nya yang berteriak setuju.

"Ayo, jangan takut.. kita tangkap dia, kita adili dengan cara kita!" Ucap mereka, lalu mulai menyusun rencana dengan matang.

Lalu, entah bagaimana bisa mereka yang semula kehilangan keberanian itu.. sedikit demi sedikit mulai memupuk keberanian yang di landasi oleh rasa kehilangan, benci, marah dan sakit hari. Pada hari yang sudah di tentukan.. akhir nya mereka merencanakan eksekusi besar, dimana mereka akan mengeksekusi abah Engkus dan pengikut lain nya di masing - masing rumah mereka.

Hari itu.. malam itu.. menjadi malam tragedi berdarah. Dimana pada akhir nya abah Engkus dan ke tujuh anggota nya di eksekusi di rumah mereka masing - masing. Mereka di bunuh dalam hening tanpa bisa melakukan perlawanan setelah sebelumnya para warga menyusun rencana yang matang, dan selain 8 orang itu.. beberapa pengikut aliran yang di ciptakan oleh abah Engkus juga ikut di bunuh, dengan jumlah orang yang tidak sedikit.

Dan setelah kematian abah Engkus, entah apa yang terjadi.. rumah nya itu menjadi sangat angker, dimana setiap jam 12 malam, warga yang tinggal di sekitaran rumah abah Engkus akan mendengar suara teriakan dan tangisan histeris perempuan yang mereka tidak tahu siapa. Yang jelas, warga berpikir bahwa perempuan yang berteriak setiap tengah malam itu adalah arwah dari korban - korban yang di bunuh di rumah itu.

FLASHBACK OFF.

"Begitu kira - kira  cerita nya pak, ini di ceritakan oleh para orang tua di desa kami ini yang kala itu melihat langsung kejadian nya, ki Brojo salah satunya." Ucap warga.

"Jadi.. kakek nya Kara bernama abah Engkus, yang merupakan pemilik rumah itu?" Tanya pak Sutisna, warga mengangguk - anggukan kepalanya.

"Kami  teh tidak mengenal anak itu, tiba - tiba dia datang bersama anak nya abah Engkus, datang ke desa ini. Siapa yang tahu kalo nanti teh anak nya abah Engkus akan melanjutkan jejak ayah nya juga." Ucap warga, dan warga yang lain mengangguk.

"Jadi kalian mikir nya gitu tentang aku? Aku bahkan nggak tau apapun tentang rumah ini, aku baru tahu belum lama dari ayah kalo aku punya kakek dan di sini rumah nya." Ucap Kara, yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka.

"Siapa yang tahu kamu teh siapa dan ada niatan apa? Selama itu keturunan dari abah Engkus, kami teh pasang batas! Kami teh nggak mau kejadian yang dulu pernah terjadi terjadi lagi." Ucap salah satu warga, Kara diam mendengar itu.

"Bapak - bapak, ibu - ibu.. itu kan kakek nya, anak ini tidak ada kaitan nya. Selain itu, apa yang kalian lakukan juga merupakan tindak kriminal." Ucap pak Sutisna, warga yang mendengar ucapan pak Sutisna kemudian terdiam.

"Saya tidak membenarkan tindakan kalian pada masa itu." Imbuh pak Sutisna, warga makin diam dan hanya saling lirik - lirikan saja.

"Tapi kami melakukan itu karena apa yang dia lakukan juga sangat keji, pak." Ucap salah satu warga yang berani angkat bicara.

Sementara Kara.. Kara berlaik menatap ke arah rumah kakek nya, dia tidak menyangka pernah ada kejadian yang sangat mengerikan begitu di sana. Dan lebih tidak menyangka lagi bahwa kakek nya adalah orang yang begitu keji, itu mengkonfirmasi semua keanehan yang Kara alami selama dai tinggal di rumah itu.

Suara jam ding dong, suara tangisan, teriakan, darah yang menggenang, bahkan Nurma yang selalu datang di rumah itu pada waktu sore menjelang malam. Bisa Kara simpulkan mungkin itu adalah sesuatu yang pernah terjadi di sana dan tragedi itu terulang - ulang setiap malam nya.

'Jangan - jangan.. perempuan yang teriak setiap malam itu, teh Nurma..' Batin Kara, karena dia tidak pernah melihat ada nya sosok perempuan lain selama dia di sana.

"Pak, saya boleh masuk ke dalam?" Tanya Kara pada pak Sutisna.

"Mau ngapain? Di dalam sedang di selidiki penyebab kematian Caca, kalo kamu masuk bisa merusak TKP.'' Ucap pak Sutisna, tapi Kara bersih kukuh ingin masuk.

"Bentar aja, pak. Aku mau mastiin sesuatu, bapak bisa ikut sama saya juga kalo bapak khawatir." Ucap Kara, pak Sutisna tampak diam sejenak untuk berpikir.

"Kamu pergi dulu ke sana, temui bu Maya.. minta dia yang temani kamu." Jawab pak Sutisna, Kara manggut - manggut.

Kara pun pergi dari sana, dia berjalan pulang menuju ke rumah kakek nya bersama Putri. Kara melihat Putri dan seketika muncul rasa bersalah padanya, jika sampai memag benar Nurma meninggal di rumah itu atau jadi salah satu korban kakek nya, betapa berdosanya Kara pada Putri.

"Kenapa, teh?" Tanya Putri yang merasa Kara terus melirik ke arah nya.

"Putri.. kamu pernah nggak kepikiran juga kalo ibu kamu mungkin meninggal di rumah kakek?" Tanya Kara, Putri tampak diam sejenak dan kemudian tersenyum.

"Ayah nya Putri teh pernah bilang.. ibunya Putri memang nggak pernah di temukan lagi di rumah itu, tapi.. ayah nya Putri nggak pernah ketemu jasad nya jadi mungkin ibunya Putri nggak meninggal di rumah itu, teh" Jawab Putri.

"Tadi.. abis kamu dengar cerita dari warga, gimana menurut kamu?" Tanya Kara, Putri menghentikan langkah nya dengan wajah yang tampak berpikir serius.

"Mungkin.. mama Putri ada di rumah itu." Ucap Putri, dengan tatapan datar pada Kara, tapi hanya sepersekian detik lalu Putri kembali senyum lagi.

"Kalo memang ada, pasti nanti ketemu teh." Ucap Putri.

BERSAMBUNG!

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

1
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
hadir kk aq ketingalan
di aku g ada notif lho kk
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
sudah log out kayaknya mereka Ra 🤔🤔
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
ayahnya bawa mayat meren 😱😱🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
ottan bisa bahasa sunda juga?
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
bisa jadi korban gumbal pertama itu nurma
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
jgn jgn sdh meninggal, krn kara aja hampir mau di bunih
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
mampir thor
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
kayak nya ayahnya psikopat deh
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bener bener ya hesti nggak bisa menjaga harga dirinya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu dari anak-anak nya
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
broken home🥺
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aduh serem nya 🥴
Teuing Saha🙃
Jadi, semua pohon yg ada di area rumah itu, sebenarnya adalah kuburan dari para korban..
Teuing Saha🙃
Bukan cuma dihabisi, tapi dimakan juga😤
ᥫ᭡◦•●◉✿ 𝑟𝑖𝑠𝑘𝑎 ✿◉●•◦ᥫ᭡
selamat malam kak thor, semakin seru aja ceritanya, bisa jadi yang dibilang kara tadi kalau ada kuburan masal itu mungkin isinya para korban dulu 🙏🙏
SENJA
pasti beda2 cara pandang lah
SENJA
terus gimana?!?
SENJA
walau ngeselin nurma baik ternyata 🥺
Ayuk Witanto
bukan Rukmini kan
Ayuk Witanto
sepertinya ayahnya kara menyembunyikan sesuatu
Ayuk Witanto
kok ayahnya mau nikah anaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!