Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perperangan Pecah
Huang berdiri tegak di tengah aula. Di bawah tekanan gabungan dari belasan kultivator Ranah Transformasi Dewa (ranah legendaris yang jauh di atas Fondasi Jiwa), lututnya gemetar hebat, namun dia menolak untuk berlutut. Kehendak kerasnya yang ditempa dari penderitaan bertahun-tahun di Keluarga Lin membuatnya tetap mengangkat kepala.
"Yang Mulia," suara Huang terdengar tenang dan lantang. "Aku tidak meminta kekuatan ini. Langit membuangku sebagai sampah, dan jurang memberi ku jalan untuk hidup. Jika dunia menganggap kekuatan ini sebagai kutukan atau ancaman, maka aku akan membuktikan bahwa mereka salah. Aku mengendalikan kekuatan ini, bukan kekuatan ini yang mengendalikanku."
Mendengar jawaban berani dari seorang remaja manusia, beberapa tetua peri mendengus marah, menganggapnya angkuh. Namun, Ratu Tatiana justru menatap Huang dengan kilatan mata yang dalam.
Tepat ketika suasana aula semakin menegang, tiba-tiba langit di atas Hutan Abadi yang tadinya cerah berubah menjadi gelap gulita.
Tirai cahaya pelindung emas yang melindungi seluruh kerajaan tiba-tiba bergetar hebat, mengeluarkan suara berdenging yang memekakkan telinga.
Seorang prajurit peri menerobos masuk ke dalam aula dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar.
"Melapor... Melapor Yang Mulia Ratu! Pasukan besar dari Benua Barat... Tentara Pemberontak Ras Iblis yang dipimpin oleh Jenderal Bintang Tiga, bersama dengan sekte manusia hitam, telah mengepung gerbang pelindung! Mereka... mereka menuntut agar kita menyerahkan manusia pembawa warisan Iblis Asura, atau mereka akan meratakan Hutan Abadi!"
Mendengar laporan itu, seluruh aula gempar. Pandangan belasan tetua kini tertuju pada Huang dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Badai yang ditakuti Huang telah tiba jauh lebih cepat dari perkiraan, dan kali ini, taruhannya adalah kehancuran sebuah kerajaan.
"Tenang!" Ratu Tatiana menghentakkan tongkat kayu pusakanya ke lantai aula.
BUM!
Riak energi hijau murni menyebar, seketika membungkam kepanikan para tetua. Meski wajah sang Ratu tetap tenang bagai telaga, kilatan kecemasan di matanya tidak dapat disembunyikan. Mengepung Hutan Abadi bukanlah perkara sepele; ini berarti Ras Iblis dan sekte hitam manusia telah merencanakan hal ini sejak lama, dan keberadaan Huang hanyalah pematik utama.
"Yang Mulia! Ini sudah keterlaluan!" Tetua Agung berjanggut perak berdiri dengan penuh amarah, menunjuk ke arah Huang. "Manusia ini adalah pembawa petaka! Serahkan dia kepada Ras Iblis, maka kerajaan kita akan terhindar dari pertumpahan darah!"
"Benar! Mengapa kita harus mengorbankan darah kaum peri demi seorang bocah manusia pembawa kutukan?" tetua lain menimpali, memicu riuh rendah persetujuan di dalam aula.
"Cukup!" Elysa melangkah maju, berdiri dengan berani di depan Huang, merentangkan kedua tangannya. "Apakah ini keadilan kaum peri yang selalu kita banggakan? Lin Huang mempertaruhkan nyawanya di Hutan Kematian untuk menyelamatkanku dan Mu! Menyerahkannya pada musuh sama saja dengan membuang harga diri kerajaan kita ke dalam lumpur!"
Huang menatap punggung Elysa. Di tengah kepungan tatapan benci dari belasan tetua agung, pembelaan dari sang putri peri terasa seperti kehangatan yang asing di hatinya. Namun, Huang bukan lagi anak lemah yang akan bersembunyi di balik punggung orang lain.
Huang melangkah maju, melewati Elysa, lalu menatap langsung ke arah Ratu Tatiana.
"Yang Mulia Ratu," ucap Huang, suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan situasi yang sedang genting. "Tujuan mereka adalah aku. Jika aku tetap di sini, Hutan Abadi akan menjadi medan perang. Aku akan keluar menghadapi mereka."
"Kau gila, Bocah?!" Mu menyela dari barisan belakang dengan wajah tegang. "Di luar sana ada Jenderal Bintang Tiga Ras Iblis! Dia setidaknya berada di Ranah Formasi Inti atau bahkan Jiwa Nascent! Satu jentikan jarinya bisa menghancurkanmu menjadi abu!"
Huang menyunggingkan senyum tipis, penuh ironi. "Dunia ini selalu ingin menghancurkanku sejak aku lahir, Senior Mu. Tapi malam ini, aku menolak untuk mati tanpa memberikan perlawanan."
Ratu Tatiana menatap Huang dalam-dalam. Di dalam diri remaja belasan tahun ini, dia tidak melihat ketakutan seorang manusia biasa. Dia melihat bayang-bayang kehendak kuno yang tak tergoyahkan—kehendak yang sama yang pernah mengguncang jagat raya sepuluh ribu tahun lalu.
"Kerajaan Peri tidak pernah menyerahkan tamu yang telah berjasa kepada musuh," ujar Ratu Tatiana, suaranya penuh keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
"Alistair! Siapkan seluruh Pasukan Penjaga Penjuru. Kita akan menyambut 'tamu-tamu' dari Benua Barat ini di perbatasan!"
---
Di luar tirai pelindung emas Hutan Abadi, langit tampak seperti terbelah. Awan hitam bergulung-gulung, dipenuhi oleh kilatan petir merah darah. Ratusan kapal perang layang milik Sekte Gagak Darah dan kereta perang yang ditarik oleh binatang iblis raksasa mengepung cakrawala.
Di barisan terdepan, melayang seorang pria bertubuh raksasa dengan kulit sehitam arang dan empat buah tanduk melingkar di kepalanya. Di punggungnya, sepasang sayap naga hitam mengepak lambat, memancarkan tekanan spiritual yang begitu kuat hingga membuat udara di sekitarnya terdistorsi. Dialah Jenderal Bintang Tiga Ras Iblis,
Gorgon.
"Tatiana!" suara Gorgon menggelegar bagai guntur, menggetarkan tirai pelindung emas. "Waktumu sudah habis! Serahkan bocah manusia pembawa benih Asura itu, atau malam ini Hutan Abadi akan berubah menjadi lautan mayat!"
Tirai pelindung emas perlahan terbuka sedikit, memperlihatkan Ratu Tatiana yang melayang di udara, didampingi oleh para tetua dan ribuan pasukan peri yang telah membentangkan busur mereka. Di antara mereka, Huang berdiri di barisan paling depan, jubah pinjaman dari kaum peri berkibar tertiup angin kencang yang berbau darah.
Mata merah Gorgon langsung terkunci pada sosok Huang. Begitu merasakan sisa-sisa aura ungu gelap yang memancar dari tubuh Huang, keserakan yang murni terpancar dari wajah sang jenderal.
"Hahaha! Benar! Itu adalah riak energi Yang Agung Asura! Bocah sampah dari Ras Manusia tidak pantas memiliki warisan dewa kaum kami!" Gorgon tertawa bengis. "Tangkap dia hidup-hidup!"
ROAAARRR!
Ribuan pasukan Ras Iblis dan kultivator hitam melesat maju menembus badai.
"Tembak!" perintah Alistair berkumandang.
Miliaran panah cahaya hijau murni melesat dari kubu peri, menerangi langit malam yang gelap dan langsung meledak di tengah-tengah barisan musuh. Pertempuran kolosal berskala besar yang melibatkan ribuan kultivator dari tiga ras berbeda pecah seketika di perbatasan Hutan Abadi.
Di tengah kekacauan itu, tiga orang kultivator Ranah Fondasi Jiwa dari Sekte Gagak Darah berhasil menerobos hujan panah dan melesat langsung ke arah Huang dengan pedang terhunus.
"Mati kau, Bocah!"
Mata Huang berkilat ungu pekat. Tato tiga sayap hitam di dahinya kembali muncul, memancarkan hawa dingin yang murni. Aliran energi kuno di dalam tubuhnya mendidih, merespons kepungan musuh dengan haus darah yang membara.
"Kalian yang akan menjadi batu loncatanku untuk menembus batas ini!" pekik Huang.
Dengan kecepatan yang melampaui batas Ranah Kondensasi Qi, Huang melesat maju menyambut badai pedang di depannya. Malam ini, di bawah saksikan ribuan pendekar antar-ras, Lin Huang akan mengukir namanya dengan darah musuh-musuhnya.
Tiga pedang berselimut Qi merah darah menebas serentak dari tiga arah berbeda, mengunci semua jalur pelarian Huang. Tekanan dari tiga kultivator Ranah Fondasi Jiwa itu membuat tanah di bawah kaki Huang amblas beberapa inci.
Namun, Huang yang sekarang bukanlah Huang yang tiga hari lalu terengah-engah di dasar jurang.
WUSH!
Saat tiga mata pedang itu nyaris menyentuh kulitnya, tubuh Huang mendadak bergeser dengan cara yang aneh. Gerakannya tidak lagi seperti manusia, melainkan seringan bayangan hantu. Menggunakan teknik langkah yang dipelajarinya secara naluriah dari memori kuno di tubuhnya, Huang melewati celah sempit di antara dua bilah pedang musuh.
"Apa?!" Salah satu kultivator sekte Gagak Darah terbelalak saat mendapati tebasannya hanya membelah udara kosong.