"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Dekapan di Tengah Badai
Aroma lavender bercampur semerbak tajam minyak kayu putih menjadi satu-satunya dinding pertahanan yang melindungi Arka dari gempuran suara guntur di luar jendela. Di dalam remangnya kamar utama, pelukan Ayana terasa begitu erat, begitu nyata, dan begitu hangat. Untuk seorang pria yang terbiasa hidup dalam ruang hampa emosi tanpa sentuhan tulus selama belasan tahun, dekapan dokter pribadinya ini terasa seperti sebuah hantaman telak yang meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya.
Tubuh tegap Arka yang semula kaku seperti batu, perlahan-lahan mulai melunak di dalam pelukan Ayana. Cengkeraman tangannya pada kaos putih XL yang dikenakan Ayana—kaos miliknya sendiri—perlahan berubah menjadi remasan pelan yang enggan untuk dilepaskan. Wajahnya masih terbenam di ceruk leher Ayana, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu yang entah sejak kapan menjadi obat penenang paling instan bagi sel-sel otaknya yang sedang kacau.
"Tarik napas, Arka... pelan-pelan," bisik Ayana tepat di dekat telinga pria itu. Suaranya selembut desiran angin malam, sangat kontras dengan kepanikan yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam dadanya sendiri.
Bagaimana tidak panik? Posisi mereka saat ini sudah jauh melompati batas-batas profesionalitas medis yang tertulis di atas kertas kontrak ber-materai kemarin. Ayana bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana dada bidang Arka yang naik-turun bersentuhan langsung dengan dadanya, dipisahkan hanya oleh selembar kain katun tipis. Setiap detak jantung Arka yang berpacu gila-gilaan terpantul langsung ke tubuhnya, membuat jantung Ayana sendiri ikut-ikutan berdegup dengan kecepatan yang tidak normal.
“Aduh, Gusti... ini kalau jantung gua copot juga, siapa yang mau mengobati siapa?” batin Ayana menjerit histeris di dalam hati, mencoba menyelipkan komedi di tengah situasi yang mendadak berubah sangat intim ini.
"Hhh... hhh..." Arka mengembuskan napasnya perlahan, membiarkan kehangatan napasnya menerpa kulit leher Ayana yang sensitif, membuat bulu kuduk dokter muda itu meremang seketika.
"Sudah lebih baik?" tanya Ayana lirih, tangannya masih bergerak konstan mengusap punggung tegap Arka yang basah oleh keringat dingin.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menarik kepalanya dari ceruk leher Ayana, namun kedua tangannya masih melingkar erat di pinggang ramping wanita itu. Dalam jarak yang hanya berkisar beberapa sentimeter, sepasang mata elang Arka yang masih tampak sayu dan kemerahan menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Ayana.
Di bawah kilatan petir yang sesekali masih menerangi ruangan dari balik gorden, mereka saling mengunci pandangan. Arka memperhatikan bagaimana rambut cokelat Ayana yang berantakan, wajah polosnya yang tanpa makeup, dan penampilannya yang super konyol menggunakan baju tidurnya yang kebesaran. Tapi entah kenapa, di mata Arka malam ini, tidak ada satu pun model papan atas atau wanita sosialita di luar sana yang bisa menandingi pesona dokter rewel yang sedang memeluknya ini.
"Kenapa... kamu tidak mengunci pintumu seperti yang kamu katakan tadi?" suara berat Arka memecah keheningan, terdengar sangat serak dan rendah, bergetar di udara malam yang dingin.
Ayana mengerjap, mendadak merasa salah tingkah di bawah tatapan intens sang CEO. Ia mencoba melepaskan tangan Arka dari pinggangnya, namun tenaga pria itu—meski sedang lemas—tetap saja jauh lebih kuat dari tenaganya. "Ya... ya karena saya ini dokter yang berdedikasi tinggi, Pak! Naluri medis saya tahu kalau badai di luar sebesar ini, pasien berkepala batu saya yang punya trauma masa lalu pasti akan kumat lagi. Jadi saya sengaja tidak mengunci pintu biar bisa langsung sidak ke sini. Lepas dulu, Pak, saya mau ambil minyak kayu putihnya, tadi jatuh di kasur."
"Jangan dilepas," potong Arka cepat, suaranya terdengar penuh tuntutan yang mutlak namun terselip nada permohonan yang amat sangat di dalamnya. Ia justru mempererat pelukannya, menyandarkan dahinya di bahu Ayana. "Tetap seperti ini. Sebentar saja. Suara petirnya masih berisik."
Ayana tertegun. Kalimat pendek itu terdengar seperti sebuah pengakuan dosa dari seorang monster kesepian yang sedang memohon untuk tidak ditinggalkan sendirian di tengah kegelapan. Sisi empati Ayana sebagai seorang manusia kembali mengalahkan logika dokternya. Ia menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya kembali rileks di dalam dekapan Arka.
"Dasar CEO manja," gumam Ayana pelan, namun tangannya kembali naik, mengusap rambut hitam Arka yang basah oleh keringat dengan gerakan lembut penuh kasih sayang. "Iya, saya tidak akan ke mana-mana. Saya di sini sampai badainya reda. Jadi, tutup mata Anda dan tidur."
"Kamu wangi," gumam Arka tiba-tiba, suaranya terdengar semakin menjauh karena ia mulai mengantuk akibat efek relaksasi dari pelukan Ayana dan kelelahan fisik setelah serangan panik yang hebat.
"Wangi minyak kayu putih maksud Anda? Tadi sore katanya bau kakek-kakek habis kerokan," sindir Ayana, mencoba mencairkan ketegangan romantis yang mulai membuat perutnya terasa mulas seperti dihantam ribuan kupu-kupu.
"Tidak. Wangi kamu. Bau... rumah," bisik Arka lirih sebelum akhirnya matanya benar-benar terpejam rapat. Napasnya perlahan berubah menjadi teratur, dalam, dan tenang. Pria itu akhirnya berhasil tertidur dengan pulas, sebuah pencapaian langka yang biasanya hanya bisa ia dapatkan setelah menelan dua butir pil penenang dosis tinggi dari dokter pribadinya yang lama.
Ayana terpaku mendengar kata 'rumah' keluar dari mulut Arka. Ia menatap wajah tampan pria yang kini sudah terlelap di bahunya dengan pandangan yang melembut. Di balik sifat diktatornya yang menyebalkan di kantor, Arkananta Pradipta ternyata hanyalah sepotong jiwa yang tersesat di dalam labirin masa lalunya sendiri, mendambakan sebuah tempat pulang yang hangat yang bisa menerimanya apa adanya tanpa embel-embel harta dan kekuasaan.
Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi yang cerah berhasil menembus celah-celah gorden kamar utama, jatuh tepat di atas permukaan tempat tidur raksasa.
Ayana menjadi orang pertama yang terbangun karena merasakan ada sesuatu yang berat melingkari perutnya. Ia mengerjap-ngerjap kelopak matanya yang terasa berat, lalu mencoba menggerakkan badannya. Namun, gerakan kecilnya langsung terhenti ketika matanya menangkap pemandangan yang sukses membuat seluruh pasokan oksigen di paru-parunya menguap dalam sekejap.
Di depannya, wajah tampan Arka berada dalam jarak yang sangat tidak aman. Pria itu masih tertidur pulas dengan posisi miring menghadap ke arahnya. Yang membuat Ayana hampir terkena serangan jantung mendadak adalah fakta bahwa tangan kekar Arka melingkar kokoh di pinggangnya, menarik tubuh mungil Ayana hingga menempel rapat tanpa celah pada dada bidang sang CEO. Lebih parahnya lagi, satu kaki panjang Arka terdistribusi dengan sukses di atas kedua kaki Ayana, mengunci posisinya seperti guling pribadi yang berharga.
“Mampus gua! Ini kalau ada yang masuk, gua fix dituduh malapraktik tingkat internasional!” jerit Ayana dalam hati, matanya melotot sempurna menatap langit-langit kamar dengan panik.
Ia mencoba melepaskan tangan Arka dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak membangunkan sang singa yang sedang tidur. Namun, baru saja jemari Ayana menyentuh pergelangan tangan Arka, pria itu melenguh pelan dalam tidurnya. Alih-alih terlepas, Arka justru semakin mengeratkan pelukannya, menarik Ayana lebih dekat hingga hidung mungil Ayana membentur dada bidangnya yang keras.
"Arka... lepas... saya mau ke kamar mandi..." bisik Ayana dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan, wajahnya sudah memerah sempurna sampai ke telinga seperti kepiting rebus.
Mendengar suara bisikan itu, kelopak mata Arka perlahan bergerak terbuka. Manik mata hitam pekatnya yang jernih khas orang baru bangun tidur langsung berhadapan dengan wajah panik Ayana yang menggemaskan. Untuk beberapa detik, keheningan melanda kamar mewah itu saat kesadaran Arka mulai terkumpul seutuhnya.
Arka melirik ke bawah, menatap posisinya yang sedang memeluk erat dokter pribadinya seperti memeluk boneka beruang besar, lalu kembali menatap wajah Ayana yang kini sudah menahan napas sampai matanya berkaca-kaca karena tengsin setengah mati.
Bukannya buru-buru melepaskan pelukannya atau meminta maaf seperti pria normal pada umumnya, Arka justru menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi datar tanpa dosa yang menjadi ciri khasnya.
"Selamat pagi, Dokter Ayana," suara serak khas bangun tidur (morning voice) milik Arka terdengar begitu seksi dan berat, bergaung di dada bidangnya yang menempel pada tubuh Ayana. "Bagaimana kualitas tidurmu di atas kasur orang kaya malam ini? Sangat empuk, bukan?"
Ayana melotot, giginya bergelatuk gemas melihat ketenangan pasien VIP-nya ini. "Pak Arkananta Pradipta yang terhormat! Tolong lepaskan tangan dan kaki Anda sekarang juga sebelum saya gunakan jurus kuncian medis untuk mematahkan sendi bahu Anda!"
Arka terkekeh pelan—sebuah suara renyah yang terdengar sangat menyebalkan sekaligus menawan di telinga Ayana—sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan menarik kakinya kembali, memberikan ruang bagi Ayana untuk langsung melompat mundur dari atas kasur seperti kucing yang ketakutan.
Ayana berdiri di samping tempat tidur, buru-buru merapikan kaos putihnya yang kusut dan menarik gulungan celana training-nya yang melorot dengan wajah yang masih merah menyala. "Jam kerja saya resmi dimulai sekarang, Pak Bos! Dan agenda pertama Anda adalah mandi, lalu ke dapur untuk memakan sarapan sehat yang akan saya buatkan. Tidak ada bantahan, tidak ada komplain, dan satu lagi..." Ayana menunjuk Arka dengan jari telunjuknya yang gemetar. "...lupakan semua kejadian gila yang terjadi di kamar ini semalam! Anggap itu cuma bagian dari terapi medis darurat!"
Arka bersandar di kepala tempat tidur, menatap punggung Ayana yang buru-buru berlari keluar kamar dengan langkah kaki yang terburu-buru hingga hampir saja tersandung karpet. Senyuman tipis yang tulus kembali terukir di wajah tampan sang CEO.
Kehidupan tenang dan membosankannya yang biasa ia jalani di penthouse ini tampaknya benar-benar sudah berakhir, digantikan oleh badai baru bernama Ayana Sheenaz—seorang dokter pribadi bermodal minyak kayu putih yang tanpa disadarinya, perlahan-lahan mulai berhasil menyembuhkan detak jantungnya yang telah lama rusak.
Bersambung.
💪💪