Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Malam mulai turun. Aurel baru saja selesai makan malam bersama kedua orang tuanya. Raka sudah tertidur lebih dulu setelah seharian bermain dengan kakek dan neneknya.
Suasana rumah mulai tenang ketika terdengar suara bel berbunyi.
Aurel segera berdiri. "Biar Aurel yang buka."
Saat pintu terbuka, senyum tipis langsung menghiasi wajah Aurel.
"Najwa."
Najwa mengangkat satu kantong plastik di tangannya. "Aku bawa martabak."
Aurel terkekeh pelan. "Kamu tahu saja kalau aku lagi butuh teman."
Najwa ikut tersenyum. "Makanya aku ke sini."
Keduanya masuk ke ruang tamu. Ibu Aurel yang melihat kedatangan Najwa langsung menyapanya hangat.
"Najwa, sudah lama nggak main ke sini."
"Iya, Tante. Maaf akhir-akhir ini sibuk."
"Ya sudah, ngobrol saja sama Aurel."
"Iya, Tante."
Tak lama kemudian, Aurel dan Najwa memilih duduk di teras rumah. Udara malam terasa cukup sejuk.
Najwa menatap sahabatnya. "Maaf ya."
"Aku tadi janji mau nungguin kamu selesai mediasi."
"Tapi tiba-tiba ada pekerjaan mendadak."
Aurel menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."
"Aku tahu kamu pasti benar-benar nggak bisa ditinggal."
Najwa menghela napas lega.
"Jadi..."
"Gimana hasilnya?"
Aurel tersenyum hambar. "Sesuai dugaan."
"Mediasinya gagal."
Najwa mengangguk pelan. "Lalu Mahesa?"
"Masih tetap menolak bercerai." jawab Aurel.
Jawaban itu langsung membuat Najwa mendengus kesal.
"Aku sudah menduga."
"Tapi tetap saja bikin emosi."
Aurel menatap halaman rumah.
"Dia terus bilang ingin mempertahankan rumah tangga."
Najwa menggeleng pelan. "Mempertahankan?"
"Setelah tujuh tahun berselingkuh?" Nada suara Najwa mulai meninggi.
"Aku benar-benar nggak habis pikir."
Aurel hanya diam. Memang benar apa yang dikatakan Najwa.
"Kalau memang dia ingin mempertahankan rumah tangga..."
"Harusnya dari dulu dia menjaga kepercayaanmu."
"Bukan baru sadar setelah semuanya terbongkar."
Aurel mengangguk pelan. "Itu juga yang aku katakan."
Najwa mengembuskan napas panjang.
"Yang bikin aku kesal bukan cuma karena dia menolak."
"Tapi karena sikapnya itu memperlambat semuanya."
Aurel memandang Najwa. "Arya juga bilang memang itu hak Mahesa."
"Iya." Najwa mengangguk.
"Secara hukum dia memang berhak menyampaikan pendapatnya."
"Tapi tetap saja..."
"Kalau tujuannya hanya menunda tanpa ada perubahan nyata, semua pihak jadi ikut lelah." Najwa mengambil segelas teh yang baru diantarkan ibu Aurel.
"Pak Arya gimana tadi?" tanya Najwa.
"Tetap tenang."
"Beliau lebih banyak mendengarkan."
"Sesekali menjelaskan proses hukumnya." jawab Aurel.
Najwa tersenyum kecil. "Itu memang gaya beliau."
"Nggak banyak bicara."
"Tapi setiap ucapannya selalu tepat."
Aurel ikut tersenyum. "Iya."
"Aku jadi lebih tenang."
Najwa menatap sahabatnya beberapa saat. "Lalu kamu sendiri gimana?"
"Masih kuat?"
Aurel menarik napas panjang. "Harus kuat."
"Kalau bukan aku yang menguatkan diriku sendiri, siapa lagi?"
Najwa mengangguk sambil menggenggam tangan Aurel. "Kamu nggak sendiri."
"Aku ada."
"Om dan Tante juga ada."
"Raka juga selalu punya ibunya."
Mata Aurel mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Wa."
Najwa tersenyum hangat. "Kita selesaikan ini pelan-pelan."
"Yang penting jangan menyerah di tengah jalan."
Aurel mengangguk mantap. "Aku tidak akan mundur."
"Seberat apa pun prosesnya."
"Keputusanku tetap sama."
"Aku akan menyelesaikan perceraian ini."
Najwa tersenyum puas mendengar jawaban itu. Ia mengenal Aurel dengan sangat baik. Sekali sahabatnya mengambil keputusan setelah berpikir matang, tidak akan mudah ada yang menggoyahkan. Dan kali ini..Najwa berharap, setelah semua badai yang menerpa, Aurel benar-benar bisa menemukan kembali kehidupan yang selama ini direnggut oleh pengkhianatan.
Martabak yang dibawa Najwa hampir habis. Malam semakin larut. Sesekali terdengar suara angin.
Aurel dan Najwa masih duduk santai di teras, menikmati angin malam.
Setelah cukup lama membahas proses mediasi, suasana mulai mencair.
Tiba-tiba Aurel menatap Najwa sambil tersenyum tipis.
"Wa."
"Hm?" jawab Najwa singkat.
"Aku baru tahu ternyata Pak Arya masih single."
Najwa yang sedang minum teh hampir tersedak. "Hah?"
"Beliau cerita?" tanya Najwa dengan nada kaget.
"Bukan."
"Aku cuma nggak sengaja nanya soal keluarganya."
"Lalu beliau bilang belum menikah."
Najwa tertawa kecil. "Pantas saja."
"Aku kira ada apa."
Aurel mengernyit. "Memangnya semua orang di kantor tahu?"
"Hampir semua." Najwa mengangguk.
"Pak Arya memang masih sendiri."
Aurel terlihat penasaran. "Kenapa?"
"Maksudku..."
"Beliau kan mapan."
"Orangnya juga sopan."
"Kelihatannya baik."
"Harusnya banyak yang suka."
Najwa tersenyum geli. "Itulah masalahnya."
"Apa?" tanya Najwa penasaran.
"Yang suka banyak."
"Yang berani mendekat hampir nggak ada." jawab Najwa.
Aurel tertawa kecil. "Serius?"
"Iya." jawab Najwa.
"Pak Arya itu terkenal sangat profesional."
"Beliau baik ke semua orang."
"Tapi selalu menjaga jarak."
Aurel mengangguk pelan. "Pantas."
"Waktu ngobrol tadi juga rasanya formal sekali."
Najwa kembali tertawa. "Itu sudah jauh lebih santai dibanding biasanya."
"Kalau urusan kerja, beliau bisa lebih serius lagi."
Aurel kembali menyeruput tehnya. "Lalu... selama ini belum pernah punya pacar?"
Najwa mengangkat bahu. "Kalau itu aku nggak tahu."
"Beliau nggak pernah cerita soal kehidupan pribadinya."
"Yang jelas, sejak aku kerja di sana, statusnya memang masih lajang."
Aurel mengangguk. "Heran juga."
"Heran kenapa?" tanya Najwa.
"Soalnya..." Aurel berpikir sejenak.
"Beliau punya pembawaan yang enak."
"Nggak banyak bicara."
"Tapi kalau ngomong bikin orang tenang."
Najwa langsung terkekeh. "Nah, itu dia."
"Itu yang bikin banyak orang diam-diam mengagumi beliau."
Aurel mengangkat alis. "Banyak?"
"Banyak." jawab Najwa.
"Bahkan dulu sempat ada beberapa klien yang terang-terangan mencoba mendekati."
"Hasilnya?" tanya Aurel penasaran.
"Ditolak secara halus."
Aurel tak bisa menahan tawanya. "Kasihan juga."
Najwa ikut tertawa.
"Makanya di kantor kami ada candaan."
"Pak Arya itu susah didekati."
"Tapi pesonanya sangat menggoda."
Aurel menggeleng sambil tersenyum. "Kalian ini suka bergosip juga rupanya."
"Namanya juga satu kantor."
"Yang digosipin bukan cuma Pak Arya."
"Tapi beliau memang paling sering jadi bahan pembicaraan."
"Selain karena pintar..."
"...ya karena wajahnya juga di atas rata-rata." jawab Najwa.
Aurel spontan tertawa. "Kamu berlebihan."
"Serius."
"Bahkan pegawai baru biasanya langsung bertanya, 'Yang mana Pak Arya?'"
Keduanya kembali tertawa. Untuk beberapa menit, Aurel benar-benar melupakan masalah rumah tangganya.
Najwa lalu menatap sahabatnya dengan senyum hangat.
"Sudahlah."
"Jangan dipikirkan macam-macam."
"Pak Arya itu sekarang pengacaramu."
"Fokus saja selesaikan dulu proses perceraianmu."
Aurel mengangguk mantap.
"Iya."
"Aku juga nggak kepikiran ke arah sana."
"Sekarang yang ada di pikiranku cuma satu."
"Menyelesaikan semua ini."
Najwa mengusap bahu Aurel pelan.
"Dan aku yakin..."
"Kamu akan melewati semuanya."
Di bawah langit malam yang mulai dipenuhi bintang, dua sahabat itu terus mengobrol hingga larut. Untuk sesaat, tawa kecil mereka berhasil mengusir luka yang selama ini memenuhi hati Aurel.