NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perjalanan baru

Bus antar kota berhenti dengan desisan panjang, seolah juga sedang menarik napas panjang setelah menempuh perjalanan berliku naik ke dataran tinggi. Maara menekan kaca jendela yang berembun, matanya menyapu pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ini Lembang. kota yang selama ini hanya ia dengar dari cerita ibunya dan orang-orang sekitar, tempat di mana langit terasa lebih dekat dan kabut sering turun seperti selimut tipis.

Pintu bus terbuka. Udara dingin langsung menyergap masuk, menusuk kulit yang terbiasa dengan panas kota kelahirannya. Maara memeluk tas ranselnya erat, lalu melangkah turun. Sepatu ketsnya menyentuh aspal yang masih basah oleh sisa hujan malam tadi. Abaya dan hijab lebarnya tak mampu menepis hawa sejuk yang menerpa pipinya.

"Jadi inilah tempatnya..." bisiknya pelan.

Ia berdiri di pinggir jalan raya, di tengah keramaian terminal yang tidak terlalu besar namun penuh kehidupan. Di sekelilingnya, bukit-bukit hijau menjulang, tertutup sebagian oleh kabut putih yang bergerak pelan. Di kejauhan, terlihat deretan rumah dengan atap genteng berwarna-warni, tersusun rapi mengikuti kontur tanah. Tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada kemacetan yang bising seperti di kota tempat ia tinggal selama dua puluh lima tahun ini. Hanya suara angin yang berdesir di antara pepohonan pinus, dan suara burung yang mulai berkicau menyambut pagi.

Maara menarik napas dalam-dalam. Udara di sini rasanya bersih, segar, seolah setiap tarikan napas membersihkan juga kekhawatiran yang ia bawa dari jauh.

...******^**^********...

Maara memilih berangkat seorang diri dibanding menerima tawaran Rio yang diminta oleh Lisa untuk mengantarnya.

Dirinya tak ingin merepotkan sahabat-sahabat itu terlebih dia juga hendak menjaga jarak dari suami sahabatnya itu mengingat status janda yang kini dia sandang.

Sebenarnya yayasan telah menawarkan akan mengantar dirinya namun Maara menolak usulan itu. Bukan apa-apa, dirinya hanya ingin menikmati perjalanan sembari menjernihkan pikiran tanpa harus ditanya-tanya oleh orang yang mengenalnya.

Maara berjalan pelan menyusuri trotoar yang berbatu. Setiap langkah terasa seperti memasuki halaman baru dalam buku yang belum pernah ia baca.

Di seberang jalan, ada petani yang membawa keranjang penuh sayuran segar. Wanita itu tersenyum ramah saat mata mereka bertemu, menyapa dengan sapaan hangat yang membuat Maara terkejut. Di kotanya, orang jarang menyapa orang asing seperti itu.

"Baru pertama kali ke sini, Dek?" tanya wanita itu sambil berhenti sejenak.

"Iya, bu. Saya baru saja sampai," jawab Maara sambil tersenyum malu.

"Semoga betah ya di Lembang. Udara dinginnya memang kadang membuat kedinginan badan, tapi hatinya pasti jadi hangat," ucapnya sambil tertawa pelan, lalu melanjutkan langkahnya.

Kata-kata itu terngiang di telinga Maara. Semoga niat dirinya pindah ke kota lain akan membawa dampak positif baginya sekaligus bisa menyembuhkan luka batinnya.

Ia terus berjalan melewati kedai kopi kecil yang mengeluarkan aroma biji kopi sangrai dan susu hangat. Di depan kedai itu, ada anak-anak yang berlari mengejar gelembung sabun yang terbawa angin. Tawa mereka bergema di udara, ceria tanpa beban.

Maara berhenti sejenak di dekat pagar taman kota. Di sana, bunga-bunga edelweiss kecil dan geranium bermekaran dengan warna yang lebih cerah dari yang pernah ia lihat. Sinar matahari mulai menembus celah kabut, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menyentuh permukaan daun yang masih berembun.

Ia menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak tenang, berbeda dengan detak yang gelisah yang selama ini dia rasakan.

Disini, meski belum genap hitungan jam, namun hati Maara nampak tenang.

Keputusannya menghilang dari hiruk-pikuk kota Bandung rasanya sudah sangat tepat.

...****************...

Angkot yang Maara tumpangi tiba disebuah rumah bergaya Belanda kuno dan dihalaman depan nampak seorang wanita paruh baya berdiri menyambutnya dengan senyum teduh.

"Selamat datang bu guru... Selamat bergabung dengan kami disini, dan semoga anda betah tinggal dan mengajar disini. Perkenalkan, saya Nyi Asih, penjaga asrama ini.... " ucapnya ramah.

Maara tersenyum hangat.

"Terima kasih Nyi.... Saya Maara Hayuning atau biasa dipanggil Ara.." sahutnya menyebutkan nama tengah. Nama panggilan yang dulu biasa dirinya dengar dari mendiang ayahnya.

"Ayo masuk... Koper dan beberapa barang anda sudah lebih dulu tiba kemarin dibawakan oleh mang Ata... Dan sudah saya masukkan kedalam kamar...." ajak Nyi Asih berjalan terlebih dulu ke arah tangga menuju lantai dua rumah tersebut.

Rumah yang Maara pikir dulunya adalah sebuah penginapan namun disulap menjadi asrama oleh pemilik yayasan sebagai tempat tinggal tenaga pengajar diyayasan.

"Disini kalau lagi waktunya mengajar jadi sepi sama kalau waktu libur anak-anak sekolah juga karena banyak yang kembali kekampung halaman atau sekedar liburan ke tempat wisata. Dan kalau hari biasa ramai sebab para staf, karyawan serta guru-guru banyak berinteraksi satu sama lain... Nanti neng Ara pasti terbiasa..." ujar Nyi Asih yang berjalan didepan Maara.

"Disini campur antara laki-laki dan perempuan Nyi?" tanya Maara ingin tahu.

"Oh tidak... Kalau yang laki-laki tinggalnya di paviliun belakang... Tapi tetap lewat di samping rumah ini... Bu Rosa, ketua sekaligus pemilik yayasan adalah orang taat beragama dan beliau tidak akan mentolerir segala perbuatan yang melanggar norma-norma yang berlaku hanya karena perubahan jaman... " Nyi Asih berbalik menatap Maara "Beliau itu bisa dikatakan kolot sama dengan saya... Kami para orangtua ini tidak menerima namanya 'kumpul kebo' atau kalau istilah keren anak gaul masa kini 'living together' *kekehnya diujung kalimat.

Nyi Asih membuka pintu kamar kayu bercat biru muda "Silahkan masuk, ini akan jadi kamar anda selama tinggal disini... Semoga betah..." ucapnya.

Maara menurut dan melangkah masuk kedalam kamar yang luasnya 3x4. Tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.

Didalam kamar sudah ada ranjang ukuran single bed lengkap dengan lemari dan meja rias terbuat dari kayu.

Ada juga rak-rak buku disamping lemari.

Jendela model kupu-kupu terbuka lebar sehingga angin sejuk menyapa dirinya dan membuat gorden putihnya menari-nari karena diterpa angin.

Maara tersenyum " Ini jauh lebih cukup Nyi... Aku akan betah disini" ucapnya yakin.

"Syukurlah... Tadinya saya takut jika bu guru Ara tidak suka mengingat anda berasal dari kota yang pastinya serba cukup..." ucap Nyi Asih lega.

"Baiklah kalau begitu.. Saya harus kebawah mau cek yang lainnya... Selamat beristirahat dan sekali lagi, selamat datang di Lembang.... " ucap Nyi Asih sebelum akhirnya meninggalkan Maara dikamarnya.

Maara berjalan menuju jendela kamar. Sedikit melongok ke bawah sembari memperhatikan beberapa pekerja yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.

Dan tak lupa pula, Maara mengabari Lisa jika dirinya telah sampai.

...*******^**^*******...

Siang menjelang sore, Maara memilih berjalan di sekitaran. Menyapa beberapa penduduk lokal yang ramah menyambutnya.

Sebuah keramahan yang jarang dia temui di kota.

Tak terasa, langkah kakinya tiba disebuah bukit kecil tak jauh dari asrama.

Angin berhembus lebih kencang di sini, menerbangkan ujung hijab Maara. Ia menghirup rakus semua udara seolah sedang membuat stok oksigen dalam paru-parunya dan kemudian merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin memeluknya sepenuhnya.

Selama ini, ia selalu merasa seperti orang asing di tempatnya sendiri. Di kota yang bising, ia selalu berlari mengejar sesuatu yang belum pernah ia temukan. Namun di sini, di tempat yang belum pernah ia injak sebelumnya, ia merasa seperti pulang.

"Jadi ini alasan ibu dulu selalu bercerita merindukan tempat ini..." bisiknya, matanya berkaca-kaca, mengingat kembali mendiang kedua orangtuanya.

Di bawah langit Lembang yang biru lembut, Maara tahu, ini bukan sekadar pelarian diri dengan dalih dipindahkan oleh yayasan tempatnya mengajar. Ini adalah awal dari sesuatu yang baru, sesuatu yang telah lama ia cari tanpa sadar.

Matahari mulai turun perlahan, mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu. Kabut tipis mulai turun kembali, menyelimuti kota dengan kelembutan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maara tidak merasa takut akan apa yang akan datang besok.

Dia tidak akan lagi mengingat semua hal yang menyakiti batinnya termasuk Revan.

Nama itu sudah dia kubur dalam-dalam berikut dengan kisah yang mengikutinya sehingga memberinya sebuah status 'janda kembang'.

Maara berusaha memaafkan semuanya yang telah terjadi meski sebagai manusia biasa kadang dirinya merasa marah dan muak pada semua keluarga itu tapi sekali lagi dirinya mencoba berdamai dengan masa lalu meski belum sepenuhnya lupa.

Dia berharap, ditempat yang baru ini dengan orang-orang yang baru pula, akan membawa dampak positif bagi hidupnya kelak.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!