NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Curiga

Empat orang laki-laki berlutut dengan kepala tertunduk di hadapan Rania dan Arya. Sementara Dona kini tengah panik karena aksinya ketahuan oleh dua teman kecilnya.

Beberapa saat yang lalu, Arya melihat Rania yang berjalan terburu-buru ke area belakang kampus. Semua orang tau, area itu bukanlah tempat dimana mahasiswa biasa bisa berkeliaran seenaknya. Dengan cemas, ia pun mengikutinya dan di sinilah dengan situasi inilah ia berakhir. Perundungan yang dipimpin langsung oleh seorang sahabatnya dan menggunakan nama Rania sebagai tameng. Pantas saja meskipun Rania ia kenal sebagai gadis baik, tapi citranya di kampus sangat buruk.

Keempat pemuda itu langsung berlutut saat melihat keberadaan Arya. Dona tentu saja langsung meraih lengan Arya dan berusaha cuci tangan untuk bisa lepas dari situasi yang merugikannya.

Rania merangkul bahu Dewi dengan tangan senantiasa mengusap punggung sang sahabat agar tenang. Matanya memerah dan sedikit berair saat melihat kondisi Dewi yang begitu berantakan.

"apa yang kalian lakukan hah?!"

"maaf, kami hanya menuruti perintah Dona. Kami tidak tau kalau dia ternyata dekat dengan kalian."

"kalau Dewi bukan temanku, lalu kalian akan tetap melakukannya kan?"

"TIDAK!! Arya, Rania itu tidak ada hubungannya denganku!"

"lalu kenapa kamu ada di sini?"

"aku.. aku.. aku mau menolongnya. Iya aku mau menolong Dewi, tapi kalian berdua keburu datang!"

Rania menoleh ke arah Dewi dan sebuah gelengan yang didapatnya.

Rania tidak habis pikir dengan mereka semua. Mereka adalah siswa di universitas ternama dengan masa depan yang dipastikan cerah. Tapi mereka malah menghancurkan masa depannya dengan tangan mereka sendiri. Arya mengusap rambut Rania lalu maju selangkah ke depan.

"siapapun yang mengusik orangku, aku tidak akan melepaskannya."

Dengan satu telfon darinya, mereka berlima langsung digiring menuju kantor polisi. Dewi dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan secara menyeluruh. Rania juga secara khusus meminta bantuan profesional untuk membantu memulihkan psikologisnya.

Semua langkahnya selalu didampingi oleh Arya dan tanpa sadar Rania begitu mengandalkan pemuda itu. Saat semuanya sudah selesai ditangani, Rania duduk di kursi tunggu di luar ruang rawat Dewi. Kakinya terasa pegal dan tubuhnya begitu lemas. Ia baru merasa kalau hari ini ternyata begitu melelahkan.

Arya duduk di sampingnya membuatnya menoleh ke samping. "ngapain kamu di sini?"

Arya tentu saja mengerutkan keningnya. "aku membantumu mengurus semuanya dan itu balasanmu?"

Rania diam lalu mengingat kembali rangkaian kejadian hari ini. Kemudian ia sadar kalau semua urusannya bisa lancar karena bantuan Arya.

"terimakasih," ucapnya lirih sambil menunduk.

Ia tidak ingin terlibat lagi dengan Arya, namun ada saja hal yang membuatnya terjerat dengan pemuda itu. Sekarang ia terjerat hutang budi yang mau tidak mau harus ia lunasi. Untuk sementara, mungkin dirinya tidak akan bisa bersikap buruk terhadapnya beberapa waktu ke depan.

Keesokan harinya, Dewi tidak masuk kuliah sehingga Rania hanya bisa duduk sendirian di dalam kelas sambil melamun. Wajahnya terlihat begitu tidak bersemangat. Apalagi di sampingnya ada Arya dan tidak bisa diusir sama sekali.

"kamu tidak ada kuliah di kelas ini kan, jadi pergi sana."

"aku ingin menemanimu."

"dosennya nggak suka kalau ada orang tidak berkepentingan," ucapnya berusaha membuat Arya pergi. Namun dia tetap bergeming di tempatnya.

Pada akhirnya hanya menghela nafas yang bisa dilakukannya. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan mata terpejam berharap hari ini cepat berlalu. Berada di samping Arya di satu sisi ada sedikit rasa senang, tapi di sisi lain perutnya merasa mual ketika teringat dengan akhir hidupnya yang begitu mengenaskan.

Ketika semakin mengingat hal itu, perutnya semakin bergejolak. Hingga akhirnya Rania berlari keluar dari kelas menuju ke toilet terdekat. Memuntahkan seluruh isi perutnya hingga tubuhnya terasa lemas. Arya terus mengikuti kemanapun Rania pergi. Tapi karena ia laki-laki, tentu saja tidak bisa masuk ke dalam toilet wanita dan hanya bisa menunggunya di luar dengan perasaan cemas.

Di dalam toilet, setelah memuntahkan semua isi perutnya Rania berjalan dengan lemas menuju wastafel. Membasuh area sekitar mulut hingga dirasa bersih lalu mencuci tangan. Wajahnya terangkat melihat ke cermin dan ia langsung terkejut saat melihat ada seseorang di belakangnya.

"s-salsa?"

Tubuhnya yang memang sudah lemas, tiba-tiba mulai gemetar dan berkeringat. Dulu orang yang menjebaknya adalah Salsa. Orang yang membuatnya kehilangan segalanya adalah siasat licik sang primadona kampus.

"kamu baik-baik saja?" tanya Salsa kepada Rania.

"ya.. ya, aku baik."

Rania ingin langsung pergi, namun kalimat selanjutnya yang dikatakan oleh Salsa membuatnya berhenti.

"maafkan aku untuk semua hal buruk yang aku lakukan kepadamu."

Sebuah permintaan maaf yang sebelumnya tidak pernah dan tidak akan pernah ada. Tapi kini kalimat itu terlontar dengan nada yang begitu tulus. Tapi otaknya tiba-tiba langsung membeku ketika sadar bahwa gadis itu belum melakukan kesalahan kepadanya. Dia belum pernah memfitnah ataupun melukainya. Masih ada beberapa minggu hingga Salsa mulai menyimpang.

"kenapa?"

"aku tau kamu menyukai Arya begitupun sebaliknya, tapi aku malah berusaha deketin Arya. Selanjutnya di kehidupan ini aku tidak akan pernah menyukainya lagi."

Salsa tersenyum setelah sumpah itu terucap. Tidak ada raut penyesalan, hanya ada sorot mata yang tulus.

"ucapanmu bisa sebaik ini, tapi hati manusia tidak ada yang tau isinya. Aku tidak butuh janji, yang aku butuhkan sebuah tindakan."

Dengan tegas Rania mengatakan hal tersebut lalu ia berbalik dan keluar dari toilet. Mengabaikan panggilan dari Arya yang berusaha mengejar mengikuti langkah kakinya. Ia berusaha meraih lengan Rania dan ketika ia berhasil meraihnya, Rania langsung menghempaskannya begitu saja. Permintaan maaf yang begitu aneh dan di kehidupan sebelumnya tidak pernah ada, kini tiba-tiba ada.

Arya yang dulu selalu cuek kini malah mengejarnya. "apa mungkin ini efeknya? alur takdir mulai berubah sedikit demi sedikit."

BRUK!

Terdengar suara sesuatu yang jatuh cukup keras. Rania tersadar dari lamunannya lalu berjalan mendekati jendela untuk melihat ke luar. Di bawah sana ada sosok mahasiswi dengan kepala yang mengeluarkan darah seperti keran air yang dibuka. Sempat kejang beberapa saat sebelum tubuhnya lemas dan meninggal di tempat.

Teriakan dari mahasiswi langsung terdengar memenuhi setiap sudut. Orang-orang panik dan suara ambulan mulai terdengar mendekat.

Mahasiswi itu dikenal dengan iq yang tinggi tapi juga sudah lama menjadi sasaran perundungan.

"takdir tidak pernah berubah. Selalu berjalan sesuai yang sudah ditentukan," gumamnya lirih. Itu artinya setiap kejadian yang terjadi pasti akan terjadi. Tinggal nanti ia berhasil melewati setiap musibah itu atau tidak. Berbekal ingatan masa lalu, ia akan mengubah masa depannya dan orang-orang terdekatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!