NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petir di Siang Bolong

"Fatimah! Jaga bicaramu!"

Suara Ayah yang biasanya lembut kini meninggi, memotong kalimat Fatimah dengan ketegasan yang tak terbantahkan.

Ruang tamu mendadak sepi seketika. Fadia bahkan menghentikan jemarinya di atas layar ponsel, terkejut mendengar bentakan yang jarang sekali keluar dari mulut sang ayah.

Fatimah terpaku. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi kain kerudung nya.

Dada gadis itu naik turun menahan gejolak kecewa yang teramat besar.

"Kenapa, Yah? Kenapa Fatimah tidak boleh bicara?"

Tanya Fatimah dengan suara bergetar, menatap langsung ke netra sang ayah.

"Satu tahun Fatimah mengubur mimpi dan memutuskan untuk mengapdi setahun di pesantren, menanti dengan sabar karena Fatimah tahu kondisi kita sedang sulit. Tapi begitu Mas Faisal lulus, kenapa justru Fadia yang dikuliahkan dan Fatimah yang harus dijual dalam bentuk pernikahan?"

"Fatimah! Jaga mulutmu! Siapa yang menjualmu?!"

Ibu akhirnya angkat bicara, suaranya melengking perih dibarengi linangan air mata yang mulai deras.

"Kami ini orang tuamu, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya!"

"Tapi ini tidak adil, Bu! Lelaki itu usianya tiga puluh delapan tahun! Dua kali lipat dari usia Fatimah! Di mana hati nurani Ayah dan Ibu menjodohkan Fatimah dengan pria sejauh itu?"

Tangis Fatimah akhirnya pecah. Pertahanan yang ia bangun sejak membaca surat di pesantren runtuh total.

Faisal mencoba menengahi, memegang kedua bahu adiknya yang bergetar hebat.

"Dek, tenang dulu, Dek. Dengarkan penjelasan Ayah dulu. Pak Rayhan itu orang baik-baik, dia pengusaha yang sukses—"

"Mas Faisal bisa bicara begitu karena Mas sudah mendapatkan apa yang Mas mau!"

Potong Fatimah dengan tatapan terluka pada kakak laki-lakinya.

"Mas sudah sarjana, Mas bebas melangkah. Sementara aku? Aku dipaksa menjadi istri dari orang asing di saat aku bahkan belum memulai mimpiku!"

Ayah memukul meja dengan telapak tangannya, membuat cangkir-cangkir teh di atasnya berdenting keras.

Wajah pria paruh baya itu memerah, napasnya memburu kencang sebelum akhirnya ia terbatuk-batuk hebat hingga harus memegangi dadanya.

"Ayah! Ayah tenang, Yah," Ibu panik, segera menggosok punggung suaminya dan menyodorkan air putih.

Setelah batuknya mereda, Ayah menatap Fatimah dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam.

"Fatimah... Ayah membesarkanmu dengan ilmu agama. Ayah menyekolahkanmu di pesantren agar kamu menjadi anak yang saleha, yang tahu bagaimana cara berbakti kepada orang tua. Tapi apa ini? Kamu berani berteriak di depan Ayah hanya karena ego kuliahmu?"

Kata-kata Ayah bagai petir di siang bolong yang menyambar langsung ke lubuk hati Fatimah.

"Apakah kamu ingin menjadi anak durhaka, Fatimah?" tanya Ayah lagi, suaranya melemah namun setiap katanya terasa begitu menghujam.

"Apakah empat tahun di pesantren hanya mengajarimu cara melawan orang tua yang telah merawatmu sejak kecil?"

*Anak durhaka.*

Kata itu berdengung hebat di telinga Fatimah. Seketika, lidah gadis itu mendadak kelu. Seluruh argumen yang sudah tersusun di kepalanya menguap tanpa sisa.

Sebagai seorang santriwati yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari kitab tentang adab dan bakti kepada orang tua, tuduhan "durhaka" adalah pukulan paling telak yang mematikan seluruh energinya.

Fatimah terdiam. Kepalanya menunduk dalam-dalam, menatap lantai semen rumahnya yang terasa sedingin es.

Air matanya mengalir semakin deras, menyerap ke dalam kain kerudungnya hingga basah kuyup.

Tidak ada lagi bantahan, tidak ada lagi pemberontakan. Hanya ada rasa sesak yang begitu menghimpit dada hingga ia merasa sulit untuk sekadar bernapas.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Fatimah bangkit berdiri. Dengan langkah gulai dan pandangan yang kabur oleh air mata, ia berjalan cepat menuju kamarnya di bagian belakang rumah.

*Braakk!*

Pintu kamar ditutup rapat. Fatimah menguncinya dari dalam, lalu mengempaskan tubuhnya di atas kasur tipis miliknya.

Ia memeluk bantal erat-erat, meredam suara tangisnya yang pecah malam itu di balik dinding kamar yang sepi.

Malam yang seharusnya menjadi perayaan kebahagiaan keluarga, kini berubah menjadi malam paling kelam dalam hidup seorang Fatimah.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!