NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Dan Sebuah Penolakan.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam.

Ponselku bergetar berkali-kali.

Beberapa panggilan dan pesan dari Hwi Sol oppa memenuhi layar, tetapi aku memilih mengabaikannya.

Saat seperti ini, satu-satunya orang yang bisa mengerti diriku hanyalah diriku sendiri.

Sejak dulu, aku selalu memilih menyimpan kesedihan sendirian.

Aku tidak ingin membebani Hwi Sol oppa dengan masalahku.

Aku tidak ingin membagi rasa sakitku kepada pria yang selama ini selalu mendahulukan kebahagiaanku dibanding kebahagiaannya sendiri.

Setelah meluapkan seluruh kesedihan dengan menangis seorang diri di tengah dinginnya malam, aku akhirnya memutuskan untuk pulang.

Sebelum sampai di rumah, aku berdiri sejenak di depan cermin sebuah minimarket.

Aku merapikan rambutku yang berantakan.

Menghapus sisa riasan yang luntur.

Dan memaksakan senyum yang tampak baik-baik saja.

"Seolhwa..."

Suara itu menyambutku sesaat setelah aku membuka pintu rumah.

"Oppa..."

Tanpa sadar aku berlari kecil menghampirinya lalu memeluk tubuhnya erat.

Pelukan itu terasa hangat.

Terlalu hangat.

Aku melepaskan pelukan perlahan, lalu mendongakkan wajah sambil menunjukkan senyum terbaik yang kumiliki.

Senyum palsu yang kugunakan untuk menyembunyikan sesaknya dada saat itu.

Hwi Sol oppa menatapku dengan sorot mata yang lembut.

"Ada apa, adik kesayangan oppa?"

Ia mengusap pelan kepalaku.

"Kamu dari mana saja?"

Tatapannya berubah sedikit khawatir.

"Apa ponselmu tercebur ke laut sampai susah sekali membalas pesan dan telepon dari oppamu ini, hm?"

Aku terkekeh pelan.

"Maafkan aku, Oppa. Tadi di bakery sedang sangat sibuk."

Aku mengangkat kedua tangan membentuk pose memohon maaf.

"Tapi adikmu yang cantik ini sudah pulang, kan?"

Hwi Sol oppa menghela napas panjang sebelum akhirnya tersenyum.

"Baiklah. Permintaan maaf diterima."

Ia menunjuk ke arah meja makan.

"Apa kamu sudah makan malam? Oppa membuatkan japchae dengan banyak daging. Makanan favoritmu."

Kedua mataku langsung berbinar.

"Wah! Japchae?! Aku mau!"

Aku segera berlari kecil menuju meja makan.

Ya.

Sesibuk apa pun Hwi Sol oppa, ia selalu menyempatkan diri memasakkan makanan untukku.

Dan anehnya, menu yang dibuatnya selalu makanan yang paling kusukai.

Ia mengambilkan japchae lalu meletakkannya di atas piringku.

Tak lupa ia juga mengambilkan soda dingin dari kulkas.

Aku langsung menyuapkan makanan itu ke mulutku.

"Oppa! Ini enak sekali!"

Aku menggoyangkan kepala ke kanan dan kiri sambil menghentak-hentakkan kaki karena terlalu senang.

Melihat reaksiku, Hwi Sol oppa tertawa kecil.

"Benarkah?"

Matanya membentuk lengkungan indah.

"Syukurlah kalau begitu."

Tangannya terulur mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.

"Makan yang banyak ya, sayang."

Aku tersenyum sambil kembali menyuapkan japchae ke mulut.

Namun di balik senyum itu, ada rahasia yang kupendam sendirian.

Aku sengaja tidak memberitahukan kepada oppa bahwa hubunganku dengan Eun Dam telah berakhir.

Biarlah semuanya mengalir sebagaimana mestinya.

Untuk saat ini...

Aku hanya ingin menikmati kehangatan yang masih kumiliki sebelum kehilangan lebih banyak hal lagi.

Saat kami sedang menikmati makan malam yang hangat, tiba-tiba ponselku bergetar di atas meja.

Nama Bora eonnie muncul di layar.

Aku membuka pesannya dan mendapati beberapa foto dirinya yang sedang berpose di depan cermin dengan pakaian yang berbeda-beda.

Seolhwa, menurutmu besok aku harus memakai yang mana? Kira-kira tipe pakaian seperti apa yang disukai Hwi Sol? tulisnya.

Aku menatap layar ponsel beberapa saat.

Hampir saja aku melupakan rencanaku untuk besok karena kekacauan yang terjadi dalam hidupku hari ini.

Aku menghela napas pelan sebelum mulai mengetik balasan.

Oppa menyukai wanita yang berpakaian sopan dan tidak terlalu terbuka, Eonnie. Menurutku pakaian yang ada di foto kedua sangat cocok untukmu.

Tak lama kemudian, pesan itu terkirim.

Aku meletakkan ponselku kembali di atas meja.

Entah mengapa, setelah membantu Bora eonnie memilih pakaian untuk bertemu dengan Hwi Sol oppa, ada perasaan aneh yang mengusik hatiku.

Perasaan yang sulit kujelaskan.

Aku menundukkan kepala sambil tersenyum tipis.

Namun senyum itu terasa getir.

Seolah ada sesuatu yang perlahan mengusik ketenangan hatiku.

Padahal bukankah ini yang kuinginkan?

Bukankah aku ingin oppa menemukan seseorang yang bisa membalas perasaannya?

Lalu mengapa...

Aku justru merasa sesak?

***

Cuaca siang ini tidak begitu cerah. Matahari seakan enggan menampakkan cahayanya. Langit yang mendung pun terasa menggambarkan betapa gelapnya hatiku saat ini.

Sesaat sebelum keluar dari kamar, aku sempat terdiam di tepi ranjang. Tak bisa dimungkiri, dadaku masih terasa sesak. Pikiranku terus tertuju pada Eun Dam. Namun, di sisi lain, ada perasaan aneh yang bahkan aku sendiri belum mengerti.

Lamunanku buyar saat terdengar ketukan di pintu, disusul suara lembut Hwi Sol oppa.

"Seolhwa, apa kamu sudah siap?" tanyanya.

"Sudah, Oppa. Sebentar lagi aku keluar," sahutku.

"Baiklah. Oppa tunggu di ruang TV."

Langkah kakiku terasa berat untuk meninggalkan kamar. Namun, apa boleh buat? Janji tetaplah janji.

Aku meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.

Dan saat itulah aku terpaku.

Sosok pria yang selalu melindungiku sejak kecil tampak begitu memukau di hadapanku.

Hari ini Hwi Sol mengenakan hoodie oversized berwarna abu-abu yang dipadukan dengan cargo pants hitam.Dengan topi hitam yang menutupi rambutnya,dan aroma parfumnya yang wangi justru membuatnya terlihat semakin menawan.

Tampan sekali...

Tanpa sadar, aku terus memandangi wajahnya.

Aku bahkan tidak menyadari kapan pria itu berjalan mendekat hingga kini wajahnya sudah berada tepat di depanku.

Ia memiringkan kepala sambil tersenyum manis.

"Apa yang sedang kamu pikirkan, cantik?" tanyanya pelan seraya mengangkat daguku dengan lembut.

Jantungku langsung berdegup tidak karuan.

"A-aku... aku sudah siap. Ayo kita berangkat!"

Aku segera berbalik dan berjalan lebih dulu dengan langkah kikuk.

Tenangkan dirimu, Seolhwa...

Aku menggerutu dalam hati sambil berusaha mengendalikan perasaanku yang mendadak kacau.

Selama perjalanan, suasana mobil terasa cukup tenang hingga akhirnya Oppa membuka percakapan.

"Sebenarnya kamu ingin mengajak Oppa ke mana?" tanyanya.

"Aku ingin mengajak Oppa menonton film," jawabku.

Mendengar jawabanku, pria setinggi 179 sentimeter itu hanya tersenyum tipis sebelum kembali fokus mengemudi.

Tak lama kemudian, kami tiba di pusat perbelanjaan tempat bioskop berada.

Namun, seseorang ternyata sudah lebih dulu menunggu di sana.

Bora eonnie.

Aku berpura-pura terkejut saat melihatnya, meski sebenarnya pertemuan ini sudah termasuk dalam rencanaku.

"Eoh, Bora?" sapa Oppa.

"Hwi Sol? Seolhwa? Kalian juga ingin menonton?" tanya Bora eonnie dengan ramah.

"Iya. Kamu sendiri?" tanya Oppa.

Aku segera menyela sebelum Eonnie menjawab.

"Kalau begitu, ikut menonton bersama kami saja, Eonnie!"

"Bolehkah? Apa aku tidak mengganggu waktu kalian?"

Aku langsung menoleh ke arah Oppa.

"Tentu saja tidak. Justru kami senang, kan, Oppa?"

Untuk sesaat Hwi Sol oppa hanya memandangiku tanpa berkata apa-apa.

Entah kenapa, tatapannya terasa begitu dalam.

Namun beberapa detik kemudian, ia tersenyum tipis.

"I-iya. Tidak apa-apa."

Meski tersenyum, aku bisa melihat ada sedikit kekecewaan yang berusaha ia sembunyikan.

Dan itu membuatku semakin yakin bahwa rencanaku tidak salah.

Sesaat sebelum film dimulai, aku berpura-pura menerima panggilan telepon.

Aku menatap layar ponsel beberapa saat, lalu berdiri dari kursiku.

"Maaf, Oppa. Maaf, Eonnie. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada urusan penting yang mendesak."

Ekspresi khawatir langsung muncul di wajah Oppa.

"Ada apa, Seolhwa? Kalau begitu Oppa antar."

Aku menggeleng cepat.

"Tidak usah, Oppa. Nikmati saja filmnya bersama Bora eonnie. Aku bisa pergi sendiri."

"Tapi—"

"Tenang saja. Kalau urusanku sudah selesai, aku pasti akan mengabarimu."

Aku tersenyum meyakinkan sebelum meraih tas dan melangkah pergi.

Sebelum keluar dari ruang bioskop, aku sempat menoleh ke belakang.

Kulihat Bora eonnie dan Hwi Sol oppa masih duduk berdampingan.

Senyum kecil pun terukir di bibirku.

Semoga kali ini berjalan lancar, Oppa.

Karena sudah terlalu lama aku melihatmu menyimpan perasaan itu sendirian.

Sejujurnya, aku bingung harus pergi ke mana.

Aku sudah mencoba menghubungi Minseo, tetapi sepertinya hari ini sahabat dekatku itu juga memiliki urusan lain.

Aku kembali membuka daftar kontak di ponselku, berharap menemukan seseorang yang bisa kuhubungi. Namun ketika satu nama itu muncul di layar, dadaku kembali terasa sesak.

Eun Dam.

Hanya melihat namanya saja sudah cukup membuat perasaanku berantakan.

Di satu sisi, pikiranku terus dipenuhi oleh pria itu. Namun di sisi lain, aku juga tidak bisa berhenti memikirkan Oppa.

Aku mengembuskan napas pelan.

Entah sejak kapan hidupku menjadi serumit ini.

Tak lama kemudian, hujan turun dengan cukup lebat.

Karena tidak membawa payung, aku memutuskan untuk berteduh di sebuah halte bus yang berada tidak jauh dari pusat perbelanjaan.

Meski sempat berlari kecil, rambut dan pakaianku tetap sedikit basah. Angin dingin yang berembus membuat tubuhku menggigil.

Aku memeluk diriku sendiri sambil menatap rintik-rintik hujan yang membasahi jalanan Seoul.

Beberapa pasangan terlihat berlari bersama menerobos hujan sambil tertawa. Ada pula yang saling berbagi payung dan berjalan berdampingan dengan wajah bahagia.

Sementara aku...

Hanya berdiri sendirian di halte bus.

Aku menyandarkan kepala ke dinding halte dan memejamkan mata sejenak.

Namun tak lama kemudian, sesuatu membuatku membuka mata kembali.

Di seberang jalan, aku melihat seorang pria berjaket hitam berdiri di bawah pohon.

Wajahnya tertutup masker hitam, tetapi entah kenapa aku merasa ia sedang memperhatikanku sejak tadi.

Aku mengernyit pelan.

Saat mata kami bertemu meski terpisah jarak yang cukup jauh, pria itu tampak terkejut.

Dan pada detik berikutnya, ia langsung berbalik lalu pergi begitu saja.

Aku hanya bisa memandang punggungnya dengan bingung.

Mungkin aku terlalu banyak berpikir.

Lagi pula, aku selalu berusaha memandang segala sesuatu dari sisi baiknya. Meskipun terkadang, hal-hal buruk tetap datang tanpa permisi.

Di sisi lain, Bora sedang menikmati waktunya bersama pria yang ia sukai.

Namun tidak dengan Hwi Sol.

Sepanjang film berlangsung, pikirannya terus tertuju pada Seolhwa.

Beberapa kali ia memeriksa ponselnya, berharap menemukan pesan atau panggilan dari Seolhwa.

Tetapi tidak ada.

Dan itu membuatnya semakin gelisah.

Setelah film selesai, Hwi sol mengantar Bora pulang.

Sebelumnya, Bora sempat mengajaknya bermain di Timezone, tetapi Hwi sol menolaknya dengan halus.

Tentu saja Bora merasa sedikit kecewa.

Namun hal itu tidak menghentikan niatnya untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini ia simpan.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat mobil Hwi sol berhenti di depan rumah Bora.

Suasana mendadak menjadi hening.

Wanita berambut pirang itu menundukkan kepala sesaat sebelum akhirnya mengumpulkan keberaniannya.

"Hwi Sol..."

Hwi sol menoleh.

"Ada apa?"

Bora menggenggam ujung tasnya erat-erat.

Lalu dengan suara bergetar, ia berkata,

"Aku menyukaimu, Hwi Sol. Sejak SMA."

Untuk sesaat, Hwi sol terdiam.

Ia tampak terkejut mendengar pengakuan itu.

Namun hanya beberapa detik.

Karena setelahnya, ia menghela napas pelan dan menatap Bora dengan tulus.

"Maaf."

Satu kata itu sudah cukup membuat hati Bora bergetar.

"Aku menyukai wanita lain."

Tatapan Hwi sol tidak berubah sedikit pun.

"Aku selalu menganggapmu sebagai teman, Bora. Tidak lebih dari itu."

Ia tersenyum tipis.

"Tapi terima kasih karena sudah berani mengatakan semuanya. Aku sangat menghargainya."

Mata Bora berkaca-kaca.

Meski begitu, ia tidak menangis.

Karena jauh di dalam hatinya, ia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan ini.

"Begitu ya..."

Ia tersenyum kecil meski terasa pahit.

"Kalau begitu, aku tidak menyesal sudah mengatakannya."

Hwi sol ikut tersenyum.

Dan malam itu, keduanya memahami satu hal.

Mereka mungkin tidak ditakdirkan menjadi sepasang kekasih.

Namun itu bukan berarti hubungan mereka harus berakhir.

Karena terkadang, perasaan memang tidak selalu berujung pada cinta yang terbalas.

Meski gagal menjadi pasangan, mereka tetap akan menjadi teman yang saling menghargai satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!