Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
"Tuan, apakah tidak terlalu berisiko?" Malik memastikan sekali lagi, langkahnya tertahan di dekat meja. "Dia membawa pers, Adrian. Jika ada pernyataan yang salah sedikit saja di lantai ini, dampaknya akan langsung memukul bursa saham dua jam lagi."
"Aku tidak pernah lari dari tikus yang mencoba mengetuk pintuku, Malik," sahut Adrian, suaranya sangat rendah namun berwibawa. "Bawa dia naik. Tapi pastikan para jurnalis itu tetap tertahan di lobi bawah. Hanya Julian dan pengacaranya yang boleh menginjakkan kaki di lantai ini."
"Baik, Tuan." Malik membungkuk hormat lalu berbalik masuk kembali ke dalam lift.
Alya berdiri dari sofa, melangkah mendekati Adrian. Ia memegang lengan suaminya yang terasa sangat tegang. "Adrian, apa yang sebenarnya dia inginkan? Jika ini tentang dokumen sepuluh tahun lalu, bukankah semua berkas hukum sudah sah di tangan notaris?"
Adrian menoleh, menatap Alya dengan sorot mata yang melembut namun tetap waspada. "Hukum bisa dimanipulasi jika seseorang memiliki cukup uang untuk menyuap saksi-saksi tua yang dulu ikut menandatangani berkas kakek. Julian tidak mengincar kemenangan di pengadilan secara bersih, Alya. Dia hanya butuh menciptakan riak keraguan agar investor asing menarik modal mereka dari Vasillo Group."
Ting.
Suara denting lift terdengar kembali. Pintu besi berlapis emas itu terbuka lambat.
Sosok pria bertubuh jangkung dengan setelan jas gaya khas savile row London melangkah keluar dengan senyum yang teramat lebar—terlalu lebar hingga terkesan sinis. Wajahnya memiliki kemiripan struktur rahang dengan Adrian, namun matanya memancarkan kelicikan yang tidak bisa disembunyikan. Di belakangnya, seorang pria paruh baya dengan tas koper kulit hitam mengikuti dengan langkah angkuh.
"Luar biasa," ujar Julian, bertepuk tangan pelan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling griya tawang. "Griya tawang yang sangat megah, Sepupuku. Jadi di sini tempatmu bersembunyi setelah menghancurkan Keluarga Anggoro?"
Adrian tetap berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Kamu menempuh penerbangan belasan jam dari London hanya untuk mengagumi propertiku, Julian?"
Julian terkekeh, langkahnya berhenti tepat tiga meter di depan Adrian. Tatapannya mendadak beralih pada Alya, menatap wanita itu dari atas ke bawah dengan binar mata yang tidak menyenangkan. "Dan ini... Nyonya Vasillo yang baru? Wanita yang menjadi pusat pembicaraan di kalangan sosialita Jakarta akhir-akhir ini? Senang bertemu denganmu, Alya."
Adrian langsung melangkah satu blok ke depan, menutupi sebagian tubuh Alya dari pandangan Julian. "Jangan sebut nama istriku dengan mulut kotormu itu. Katakan apa maumu, lalu angkat kaki dari sini."
"Santai saja, Adrian. Kita ini keluarga, bukan?" Julian mengangkat kedua tangannya seolah meminta damai, lalu memberi isyarat pada pengacaranya. "Bapak pengacara, tolong tunjukkan kejutan kecil yang kita bawa dari London kepada CEO kita yang terhormat."
Pengacara berambut klimis itu membuka koper kulitnya, mengeluarkan selembar surat bertuliskan segel resmi dari pengadilan tinggi London dan sebuah dokumen usang berlogo silsilah keluarga Vasillo.
"Ini adalah draf gugatan pembatalan hak waris utama, Tuan Adrian Vasillo," ujar pengacara itu dengan suara yang sengaja dibuat monoton namun menekan. "Klien kami telah menemukan surat wasiat tandingan yang ditandatangani oleh almarhum Tuan Besar Vasillo di London, dua bulan sebelum beliau wafat. Di dalam surat ini, seluruh aset anak perusahaan di luar negeri mutlak dijatuhkan kepada Tuan Julian."
Alya menatap dokumen itu dengan jantung yang mulai berdebar kencang. "Itu tidak mungkin. Kakek tidak pernah pergi ke London dua bulan sebelum wafat. Beliau dirawat di Jakarta!"
Julian tersenyum puas, melipat kedua tangannya di dada. "Ah, Nyonya Vasillo yang pintar tampaknya kurang membaca sejarah. Kakek memang dirawat di Jakarta, tapi beliau menandatangani dokumen ini secara digital dan disaksikan oleh dua kuasa hukum tetapnya yang berdomisili di London. Dan tebak apa? Kedua saksi itu sudah memberikan pernyataan tertulis bahwa mereka berada di bawah tekanan saat meresmikan namamu sebagai CEO sepuluh tahun lalu, Adrian."
Adrian tidak bergerak sedikit pun. Ekspresi wajahnya sedatar papan tulis. "Surat wasiat palsu, saksi yang dibayar, dan ancaman media di lobi bawah. Rencanamu sangat klise, Julian. Kamu pikir aku tidak bisa menghancurkan Vanguard Heritage dalam waktu satu malam?"
"Silakan coba, Adrian," tantang Julian, matanya berkilat penuh dendam lama yang membara. "Vanguard bukan Anggoro Group yang rapuh karena utang. Kami memiliki dukungan penuh dari para bankir di Eropa. Jika kamu mencoba menyentuh obligasi kami, aku pastikan besok pagi seluruh saham Vasillo Group di pasar internasional akan dinyatakan tidak stabil."
Julian maju satu langkah lagi, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan yang sarat akan racun. "Pilihlah dengan bijak, Sepupuku. Serahkan kendali atas anak perusahaan di Singapura dan London secara sukarela, atau aku akan membongkar seluruh berkas medis masa lalu istri barumu ini ke publik. Kita lihat, apakah pasar akan memercayai perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria yang istrinya memiliki rekam medis dari rumah sakit jiwa?"
BUGHH!!!
Sebuah pukulan mentah dari kepalan tangan kanan Adrian mendarat telak di rahang kiri Julian sebelum pria dari London itu sempat menyelesaikan seringainya.