Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Uang, Informasi, Kekuasaan
#
Setelah kejadian di gudang Koh Bun San, Om Timur kayaknya mikir ulang soal cara paling pas buat ngasah Rendra. Dia sadar, anak ini emang belum siap buat jalan kekerasan, hatinya masih terlalu lembek buat itu, tapi otaknya, otaknya itu tajem banget, dan Om Timur, entah dari mana dia dapet koneksinya, mulai ngenalin Rendra ke dunia yang beda sama sekali.
"Kamu dulu kuliah bisnis, kan?" Om Timur nanya, suatu sore, waktu mereka lagi duduk di teras gubuk.
"Iya, Om, tapi saya nggak pernah lulus. Semua ancur sebelum saya sempet wisuda."
"Bagus. Kamu udah punya dasarnya. Sekarang saya mau kenalin kamu ke orang yang bisa ngajarin kamu cara make dasar itu buat hal hal yang, hmm, sedikit lebih... dalem."
Orang yang dimaksud Om Timur itu namanya Pak Wahyu, seorang mantan analis keuangan yang dulu kerja di bank besar, tapi keluar setelah dia tau terlalu banyak soal permainan kotor petinggi petinggi bank itu, dan sekarang idup diem diem sambil ngajarin orang orang kepercayaan Om Timur soal seluk beluk dunia finansial yang nggak diajarin di buku buku kuliah biasa.
"Jadi," Pak Wahyu mulai, hari pertama latihan, di ruangan sempit penuh kertas berserakan dan laptop tua, "kamu mau tau gimana caranya ngejatuhin perusahaan gede dari dalem, tanpa harus mecahin kaca atau ngebakar gedung?"
"Iya, Pak," Rendra jawab, matanya penuh rasa penasaran yang udah lama nggak dia rasain.
"Simpel. Perusahaan gede itu, sebagus bagusnya keliatan di luar, biasanya nyimpen kebusukan di dalem. Utang yang disembunyiin, transaksi transaksi yang lewat rekening rekening offshore biar nggak keliatan sama pajak, atau saham saham yang sengaja digoreng biar keliatan nilainya lebih tinggi dari yang sebenernya."
Rendra belajar, bulan demi bulan, soal cara kerja pasar saham, soal gimana caranya sebuah berita kecil aja bisa bikin harga saham anjlok drastis kalo disebar di waktu yang tepat, soal rekening rekening offshore yang biasa dipake perusahaan perusahaan buat nyembunyiin duit dari pajak atau dari audit resmi, dan soal cara ngelacak transaksi transaksi mencurigakan lewat celah celah kecil yang orang awam nggak akan pernah sadar.
"Dunia ini," Pak Wahyu bilang suatu kali, sambil ngerokok santai di depan laptopnya, "lebih kejam dari dunia jalanan yang biasa kamu bayangin. Di jalanan, orang berantem pake tinju, pake pisau, keliatan jelas siapa yang nyerang siapa. Tapi di dunia ini, orang bisa ngancurin ribuan keluarga cuma dengan nge klik satu tombol, dan nggak ada satupun yang keliatan berdarah."
Rendra ngangguk, dan makin lama makin dia ngerasa, ini, ini jalan yang cocok buat dia. Dia nggak perlu jadi orang yang bisa mukul atau nembak, dia cuma perlu jadi orang yang lebih pinter, lebih sabar, lebih teliti dari orang orang yang udah ngancurin hidupnya.
Dia mulai belajar bikin perusahaan cangkang sendiri, kecil kecilan dulu, cuma buat latihan, belajar cara nyembunyiin kepemilikan asli di balik lapisan lapisan perusahaan lain, belajar cara ngumpulin modal diem diem dari orang orang yang percaya sama dia meski nggak tau nama aslinya, dan pelan pelan, dari nol banget, Rendra mulai bangun fondasi kecil buat bisnisnya sendiri, bisnis yang legal di permukaan, tapi punya jaringan tersembunyi yang bisa dia pake buat ngumpulin info tentang siapapun yang dia mau.
Suatu malem, setelah berjam jam belajar sama Pak Wahyu, Rendra duduk sendirian di gubuk, ngeliatin catetan catetan yang udah dia bikin sendiri, rencana rencana kecil soal gimana caranya, suatu hari nanti, dia bisa masuk lagi ke dunia bisnis, tapi kali ini dengan identitas baru, dengan kekuatan yang nggak bisa diinjek injek lagi kayak dulu.
Dan buat pertama kalinya sejak malem di jembatan itu, sejak dia "mati" di mata dunia, Rendra tersenyum. Bukan senyum bahagia yang polos kayak dulu, tapi senyum yang lebih dalem, lebih dingin, senyum orang yang akhirnya nemuin jalan buat balas dendam tanpa harus jadi monster berdarah dingin kayak yang dia takutin selama ini.
"Saya nemuin jalannya, Om," Rendra bilang, besoknya, ke Om Timur yang lagi mancing di pinggir sungai, "saya nggak perlu jadi orang yang nyakitin fisik siapapun. Saya bisa ngancurin mereka dari dalem, pelan pelan, lewat duit, lewat info, lewat celah celah yang mereka sendiri nggak sadar mereka punya."
Om Timur nurunin joran pancingnya, ngeliatin Rendra lama, dan ada sesuatu di matanya, campuran antara bangga dan khawatir yang aneh banget digabungin jadi satu.
"Jalan ini lebih lambat," Om Timur bilang, pelan, "tapi lebih kejam, Rendra. Kekerasan itu cepet, sakit sebentar, terus abis. Tapi jalan yang kamu pilih ini, ini jalan yang bikin orang menderita pelan pelan, liat semua yang mereka bangun runtuh sedikit demi sedikit, tanpa mereka bisa ngelawan balik soalnya mereka bahkan nggak tau siapa yang nyerang mereka."
"Itu yang saya mau, Om," Rendra jawab, matanya keliatan dingin, "saya mau mereka ngerasain, pelan pelan, gimana rasanya kehilangan segalanya kayak yang saya rasain."
Om Timur diem sebentar, terus nanya, suaranya berat, penuh pertimbangan, "kamu yakin sanggup nunggu bertahun tahun buat ini, Rendra? Jalan ini nggak bisa buru buru. Kamu harus bangun kekayaan, bangun jaringan, bangun kepercayaan orang orang yang bahkan nggak tau siapa kamu sebenernya, dan semua itu makan waktu, bisa lima tahun, bisa tujuh tahun, bisa lebih lama lagi. Kamu yakin bisa nahan dendam kamu sepanjang itu, tanpa kebawa emosi, tanpa ambil jalan pintas yang bisa ngancurin semuanya cuma gara gara kamu nggak sabar?"
Rendra ngeliatin sungai yang ngalir tenang di depan mereka, mikirin pertanyaan itu dalem dalem, mikirin Sasha yang matanya penuh permintaan maaf waktu bersaksi bohong, mikirin Broto yang syok berat sampe muntah muntah denger kabar "kematiannya", mikirin Wisnu yang diem di depan wartawan, dan mikirin nama yang masih misterius itu, P.H., yang inisialnya nyempil di catetan transaksi yang nggak ada yang peduliin.
"Saya yakin, Om," Rendra akhirnya jawab, suaranya tenang tapi penuh tekad, "saya udah kehilangan segalanya. Waktu itu satu satunya yang masih saya punya banyak. Dan saya bakal pake waktu itu buat mastiin, mereka semua, satu satu, ngerasain apa yang saya rasain."