Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33: Amarah Adrian yang Terpendam
Pertanyaan Adrian menggantung di udara ruang tengah laksana pisau bedah yang siap menguliti kebohongan terkecil sekalipun.
Tatapan di balik lensa kacamata perak itu begitu dingin, tajam, dan analitis.
Bagi Adrian, ekspresi mikro Gisella yang menegang selama setengah detik saat Nyonya Catherine menyebut "buku catatan cokelat" adalah sebuah anomali data yang tidak boleh diabaikan.
Kesalahpahaman tentang surat cerai di dalam laci mungkin sudah selesai, namun insting sang profesor mendikte bahwa istrinya masih menyembunyikan sebuah rahasia besar.
Gisella merasakan tenggorokannya mendadak kering.
Sebagai mantan manajer humas, dia tahu bahwa membuat kebohongan baru di hadapan seorang pria jenius berbasis data seperti Adrian adalah tindakan bunuh diri.
Namun, mengatakan yang sebenarnya—bahwa dia adalah jiwa dari dunia lain yang menuliskan takdir masa depan mereka di buku catatan cokelat itu—adalah sesuatu yang mustahil dipercaya oleh logika ilmiah.
"Adrian,"
Gisella menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debaran jantungnya yang berpacu liar.
"Apakah setelah semua yang kulakukan hari ini untuk melindungi Valerie, kau masih memilih untuk memercayai racun yang keluar dari mulut wanita itu?"
"Aku tidak memercayai Catherine, Gisella. Aku memercayai mataku sendiri,"
balas Adrian, suaranya turun beberapa oktav, memancarkan resonansi bariton yang berat dan sarat akan emosi yang ditahan.
Adrian melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga Gisella bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh suaminya.
"Kau adalah subjek yang pandai mengendalikan emosi. Kau menghadapi ancaman hukum, pemerasan Julian, bahkan amukan ibumu dengan kepala tegak. Tapi saat dia menyebut buku catatan cokelat, pupil matamu melebar dan otot rahangmu menegang. Itu adalah respons fisiologis seketika dari seseorang yang rahasianya terancam terbongkar."
Gisella mundur satu langkah, namun punggungnya membentur tepian meja piano hitam besar. Dia terkepung.
"Jika aku memang memiliki buku catatan seperti yang dia katakan, lalu apa?"
tanya Gisella, mencoba menantang balik dengan sisa keberaniannya.
"Apakah kau akan menggeledah kamarku lagi? Apakah kau akan merobek barang-barangku seperti yang kau lakukan pada dokumen perwalian tempo hari?"
Pertanyaan Gisella justru menyulut sesuatu yang jauh lebih berbahaya di dalam diri Adrian.
Amarah yang selama ini terpendam rapat di balik topeng kaku sang profesor—amarah atas rasa ketidakberdayaan, amarah karena dia telah menyerahkan seluruh ego dan hatinya namun masih merasa berjalan di atas lapisan es yang tipis—kini perlahan meluap ke permukaan.
"Brak!"
Adrian memukulkan tangan kanannya ke atas penutup piano di samping kepala Gisella, menciptakan dentangan suara sumbang dari senar piano di dalamnya yang bergema keras di ruang tengah yang sunyi.
Gisella tersentak, matanya membelalak menatap Adrian.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat Adrian meledak dalam amarah fisik yang begitu nyata.
Di balik kacamata peraknya, sepasang mata elang itu tampak memerah, memancarkan luka dan kekecewaan yang teramat dalam.
"Aku tidak akan menggeledah kamarmu, Gisella!"
ucap Adrian, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan.
"Aku marah karena kau terus-menerus membuatku merasa seperti orang bodoh! Aku telah menghancurkan dokumen hukumku, aku telah melawan dewan universitas, aku telah menjebloskan Julian ke penjara, dan aku... aku bahkan telah menurunkan seluruh harga diriku untuk memohon agar kau tidak pergi!"
Adrian mencengkeram tepian piano, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Gisella.
Napasnya yang memburu terasa hangat namun mematikan di kulit wajah Gisella.
"Tapi di balik semua itu, kau masih menatapku seolah aku adalah monster yang siap menerkammu. Kau menyembunyikan sesuatu dariku. Kau membuat rencana di balik punggungku. Sisa dua minggu yang kau minta... apakah itu benar-benar waktu bagimu untuk belajar menjadi istriku, atau itu hanyalah sisa waktu yang kau butuhkan untuk menyelesaikan bab terakhir di buku catatan cokelatmu sebelum kau menghilang sepenuhnya dari hidupku?!"
Kata-kata Adrian menghantam kesadaran Gisella dengan telak.
Amarah pria ini bukanlah amarah seorang tiran yang ingin berkuasa; ini adalah amarah dari seorang pria yang teramat sangat mencintai namun didera rasa takut kehilangan yang luar biasa.
Adrian merasa tidak berdaya karena dia tidak bisa mengalkulasi isi hati Gisella menggunakan rumus biokimia miliknya.
Melihat kerapuhan yang begitu masif di balik amarah Adrian, seluruh dinding pertahanan humas Gisella runtuh.
Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos membasahi pipinya.
Dia tidak bisa lagi bersandiwara.
Dia tidak bisa melihat pria yang dicintainya tersiksa oleh ketakutan yang dia ciptakan sendiri.
"Kau ingin tahu apa isi buku catatan itu, Adrian?"
bisik Gisella, suaranya pecah oleh tangis.
Dia mengangkat kedua tangannya, tidak lagi untuk mendorong Adrian menjauh, melainkan untuk menggenggam kerah kemeja putih
Adrian dengan erat.
"Kau ingin tahu rahasia yang kusembunyikan darimu selama ini? Baik. Ikut aku."
Dengan sentakan yang penuh emosi, Gisella menarik tangan Adrian, memaksa sang profesor yang masih dikuasai amarah untuk mengikutinya menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Langkah kaki mereka berdentam keras di koridor, menuju kamar nomor dua—kamar otonom milik Gisella.
"Brak."
Gisella mendorong pintu kamarnya terbuka lebar.
Dia berjalan cepat menuju meja rias, menarik laci paling bawah dengan kasar, lalu melempar beberapa syal rajut ke lantai.
Dari dasar laci, dia mengambil sebuah buku catatan bersampul kulit cokelat tua—buku yang baru saja dia tulisi semalam.
Gisella berbalik, menghadapi Adrian yang berdiri di tengah kamar dengan napas yang masih belum stabil.
Dengan tangan yang gemetar, Gisella menyodorkan buku itu tepat di depan dada Adrian.
"Ini. Ini buku catatan cokelat yang kau maksud, Profesor Adrian Arthur,"
ucap Gisella dengan air mata yang mengalir deras, namun matanya menatap Adrian dengan kejujuran yang telanjang.
"Buka. Baca setiap barisnya. Gunakan otak jeniusmu untuk menganalisis setiap kata di dalamnya."
Adrian menatap buku catatan di tangan Gisella, lalu beralih pada wajah istrinya yang basah oleh air mata.
Amarahnya yang meluap-luap tadi mendadak surut, digantikan oleh rasa bimbang yang pekat melihat kerapuhan murni yang ditunjukkan Gisella.
Dengan perlahan, Adrian menerima buku tersebut.
Dia membuka halaman pertama.
Gisella memalingkan wajahnya, bersiap menghadapi akhir dari segalanya. Dia tahu, begitu Adrian membaca catatan itu, dunianya tidak akan pernah sama lagi.
Namun, di hadapan Adrian,
lembaran-lembaran kertas itu tidak berisi rumus pencurian riset atau rencana pelarian bersama Julian.
Halaman pertama berisi analisis kesehatan Nyonya Arthur, lengkap dengan daftar makanan yang harus dihindari berdasarkan riwayat medisnya.
Halaman berikutnya berisi daftar nama faksi dewan rektor universitas yang berpotensi melakukan sabotase terhadap karier Adrian, lengkap dengan strategi mitigasi reputasi yang disusun dengan metode komunikasi modern.
Dan di halaman terakhir yang baru ditulis semalam, tertulis sebuah catatan pendek dengan tinta hitam:
> Lini masa fiksi: Desember. Sabotase pipa uap di Laboratorium Utama.
> Langkah pencegahan: Perketat sistem keamanan katup distrik luar seminggu sebelum ujian akhir.
> Catatan personal: Jika aku masih berada di tubuh ini, pastikan Adrian tidak berada di dalam laboratorium saat malam itu tiba. Dia terlalu berharga untuk terluka oleh takdir novel ini.
>
Adrian tertegun.
Lensa kacamata peraknya seolah tidak mampu memproses data yang tersaji di hadapannya.
Ini bukan buku pengkhianatan. Ini adalah sebuah jurnal perlindungan—sebuah cetak biru keselamatan yang dirancang dengan ketelitian tingkat tinggi untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari bahaya yang bahkan belum terjadi.
"Gisella... apa maksud dari semua ini?"
tanya Adrian, suaranya mendadak kehilangan seluruh sisa amarahnya, digantikan oleh rasa bingung dan getaran emosi yang hebat.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang potensi sabotase pipa uap Desember nanti? Dan apa yang kau maksud dengan 'takdir novel'?"
Gisella menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap Adrian dengan tatapan pasrah.
"Kau ingin data yang jujur, bukan? Sekarang duduklah, Profesor. Aku akan menceritakan sebuah rahasia yang melampaui seluruh hukum sains yang pernah kau pelajari di duniamu ini."
Malam itu, di dalam keheningan kamar nomor dua, es di antara mereka tidak lagi sekadar retak, melainkan telah mencair sepenuhnya di bawah pengakuan terbesar yang siap mengubah seluruh jalannya takdir di kota Aethelgard.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...