Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bayangan yang tak pernah hilang
Tahun-tahun berlalu membawa kedamaian bagi Grup Wijaya dan keluarga Arka. Setelah kemenangan besar melawan Pak Haris, Tuan Satria, dan Bimo, seolah-olah semua awan gelap telah menyingkir. Universitas Wijaya Karya berdiri megah dan menjadi kebanggaan negeri, proyek-proyek kemanusiaan berjalan lancar, dan nama Arka Wijaya selalu disebut dengan rasa hormat serta kagum. Di mata publik, kisah sang CEO Tersembunyi telah selesai dengan akhir yang bahagia, sebuah dongeng modern tentang kejujuran yang mengalahkan keserakahan. Namun, Arka sendiri merasa ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang terselip di celah-celah sejarah panjang keluarganya, sesuatu yang mungkin tidak pernah diketahui bahkan oleh ayahnya sendiri.
Malam itu, hujan turun sangat deras membasahi Kota Surabaya. Suara guntur bergemuruh seolah ingin merobek langit. Di ruang kerja pribadinya yang luas dan hangat, Arka duduk di balik meja besar peninggalan ayahnya. Di hadapannya terbuka kembali buku catatan tua bersampul kulit cokelat yang dulu pernah dia baca berulang kali. Lembaran-lembaran awal berisi pesan-pesan bijak dan visi kepemimpinan, namun semakin ke belakang, tulisan ayahnya semakin berantakan, seolah ditulis saat dia sedang gelisah atau terburu-buru.
Arka mengusap lembaran kertas yang mulai menguning. Di sana, terselip secarik kertas kecil yang sebelumnya tidak dia perhatikan. Tulisan tangan ayahnya sangat samar, sulit dibaca, namun satu kalimat berhasil dia tangkap dengan jelas: "Hati-hati dengan tanah tempat kita berdiri. Warisan ini bukan hanya harta, tapi juga utang yang harus dibayar."
Dahinya berkerut. Selama ini Arka mengira "utang" yang dimaksud adalah kewajiban moral kepada masyarakat, atau mungkin utang bisnis yang belum selesai. Namun nada tulisan itu terdengar lebih berat, lebih mengerikan. Ada garis bawah yang tebal di bawah kata tanah. Ingatan Arka melayang kembali ke lokasi proyek Wijaya Karya, tempat di mana dia berhadapan dengan Bimo dan Tuan Satria, tempat yang dulunya adalah lokasi kelam masa lalu. Dia sudah membangun monumen, sudah meminta maaf atas kesalahan masa lalu, sudah memberikan ganti rugi kepada keluarga korban. Mengapa ayahnya masih menulis kalimat seperti ini?
Pintu ruang kerja terbuka perlahan. Dinda masuk membawa secangkir teh hangat, wajahnya tampak tenang namun matanya menyiratkan kekhawatiran. Sejak kejadian di lokasi proyek itu, Dinda memiliki kepekaan yang berbeda terhadap hal-hal yang tidak kasat mata. Dia bisa merasakan suasana hati sebuah tempat atau seseorang dengan sangat tajam.
"Masih belum tidur, Mas?" tanyanya lembut sambil meletakkan cangkir di meja, lalu duduk di kursi di sebelah Arka. Dia melirik buku catatan tua itu. "Masih memikirkan hal yang sama lagi?"
Arka menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut. Dia menatap istrinya, wanita yang telah menemaninya melewati neraka dan surga, wanita yang menjadi satu-satunya jangkar jiwanya di dunia yang penuh kepalsuan ini.
"Aku merasa ada bagian yang hilang, Din," jawab Arka pelan, suaranya berat di antara suara hujan yang menghantam jendela kaca tebal. "Kita sudah menangkap semua musuh, kita sudah membersihkan perusahaan dari korupsi, kita sudah memperbaiki kesalahan masa lalu... tapi kenapa rasanya beban ini belum hilang sepenuhnya? Kenapa setiap kali aku lewat di dekat gedung pusat atau lokasi proyek lama itu, aku masih merasakan sesuatu yang mengawasi? Sesuatu yang tidak puas, sesuatu yang masih menunggu."
Dinda menggenggam tangan suaminya, jari-jarinya yang hangat menyentuh punggung tangan Arka yang dingin. "Mungkin itu hanya rasa lelahmu, Mas. Kamu sudah bekerja terlalu keras selama bertahun-tahun. Pikiranmu selalu penuh dengan tanggung jawab, dengan keamanan kami semua. Wajar jika kamu merasa ada hal yang belum selesai, karena bagimu, tanggung jawab itu tidak pernah benar-benar berakhir."
Arka menggeleng pelan, matanya kembali menatap secarik kertas di buku catatan itu. "Bukan hanya perasaan, Din. Lihat tulisan Ayah ini. Dia menulis ini tidak lama sebelum dia meninggal. Dan ingat apa yang dikatakan Bimo sebelum dia tertimpa puing bangunan itu? Dia berteriak bahwa 'darah harus dibayar dengan darah'. Dulu aku mengira itu hanya ocehan orang gila yang sedang kalah, tapi sekarang... aku mulai berpikir, mungkin dia tahu sesuatu yang tidak kita ketahui."
Suara guntur yang sangat keras terdengar tepat di atas gedung, membuat lampu ruangan itu berkedip sebentar sebelum kembali terang. Di saat cahaya meredup itu, Arka bersumpah dia melihat bayangan hitam samar bergerak di sudut ruangan, di balik rak buku besar. Dia menegakkan punggungnya, menatap tajam ke arah sudut itu, namun tidak ada apa-apa di sana selain tumpukan buku dan debu yang berkilau terkena cahaya lampu.
"Ada apa?" tanya Dinda, ikut menoleh ke arah yang sama, wajahnya sedikit pucat. Dia juga merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti ruangan yang seharusnya hangat itu.
"Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Arka, meski hatinya berdebar kencang. Dia menutup buku catatan itu perlahan, seolah takut isi tulisan itu akan memanggil sesuatu yang tidak diinginkan. "Mungkin aku terlalu lelah. Kau benar, Din. Mungkin aku butuh istirahat lebih banyak."
Namun di dalam hatinya, Arka tahu dia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini. Ada rasa gelisah yang merayap masuk, rasa yang sudah lama tidak dia rasakan. Rasa bahaya yang mengintai, rasa bahwa kedamaian yang mereka nikmati selama ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan datang menghantam.
Keesokan paginya, kabar buruk datang lebih awal dari matahari terbit. Clara, yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Grup Wijaya dan menjadi tangan kanan Arka yang paling dipercaya, datang ke kediaman keluarga Wijaya dengan wajah pucat dan gugup. Dia tidak pernah terlihat sekacau ini, bahkan saat mereka menghadapi ancaman kematian dari Pak Haris dulu.
Arka menyambutnya di ruang tamu, mempersilakan duduk, namun Clara tidak mau duduk. Dia berdiri di dekat jendela, menatap keluar dengan tatapan kosong.
"Ada apa, Clara? Apa yang terjadi?" tanya Arka langsung, menangkap ketidakwajaran itu.
Clara menoleh perlahan, matanya merah, seolah dia baru saja tidak tidur selama berhari-hari. "Arka... ada kejadian aneh di lokasi proyek baru kita di daerah Sidoarjo. Tim pengawas melaporkan hal-hal yang tidak masuk akal. Mesin-mesin berat mati sendiri di tengah malam, tumpukan material berpindah tempat tanpa ada yang menyentuhnya, dan... dan pekerja-pekerja mulai menolak bekerja di sana. Mereka bilang tempat itu 'tidak ramah', ada suara-suara bisikan, dan ada sosok-sosok yang berjalan di antara tiang-tiang pancang."
Arka mengerutkan kening. "Kita sudah melakukan pengecekan menyeluruh soal sejarah tanah itu. Tidak ada catatan bahwa itu bekas pemakaman atau lokasi kekerasan. Kenapa bisa terjadi hal seperti itu?"
"Itu belum semuanya," lanjut Clara, suaranya bergetar. "Tadi pagi, aku mendapat laporan dari kepala keamanan di gedung pusat. Di lantai paling atas, lantai 20, ruang arsip lama yang sudah lama tidak dipakai... pintunya terbuka. Padahal pintu itu disegel dan dikunci ganda sejak sepuluh tahun lalu, atas perintah mendiang Ayahmu. Dan yang lebih mengerikan... di lantai itu, ditemukan jejak kaki. Jejak kaki yang basah, seolah-olah orang yang berjalan itu baru saja keluar dari air, dan jejak itu mengarah langsung ke ruang kerja yang dulu digunakan Pak Haris."
Darah Arka terasa berhenti mengalir sejenak. Dia ingat betul ruang arsip itu. Ayahnya pernah berpesan agar tidak ada siapa pun yang boleh masuk ke sana tanpa izin khusus. Dulu Arka mengira itu hanya berisi dokumen-dokumen usang yang tidak penting, namun sekarang... semua kejadian ini mulai terhubung menjadi satu benang merah yang menakutkan.
"Arsip lama..." gumam Arka pelan. "Mungkin di situlah letak jawabannya. Di situlah tersimpan rahasia yang selama ini kita cari."
Dia menatap Clara dengan tekad yang kembali membara, meski rasa takut mulai merayap di ulu hatinya. "Siapkan tim keamanan terpercaya. Kita akan pergi ke gedung pusat sekarang juga. Kita akan masuk ke ruang arsip itu, dan kita akan tahu apa yang sebenarnya disembunyikan di sana, apa pun risikonya. Karena aku yakin... di situlah asal mula semua kegelapan yang mengikuti keluarga Wijaya selama ini."
Hari itu, langit di atas Surabaya kembali mendung, seolah alam pun tahu bahwa mereka akan membuka pintu masa lalu yang seharusnya tetap tertutup rapat. Arka sadar, perjuangannya belum selesai. Bahwa menjadi CEO Tersembunyi bukan hanya soal menyembunyikan identitas, tapi juga menyembunyikan dan melindungi kebenaran yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar korupsi atau pengkhianatan manusia. Kebenaran tentang asal-usul kekayaan, tentang tanah tempat mereka berdiri, dan tentang sesuatu yang sudah bangun dari tidur panjangnya.