NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Bersiap Menghadapi Kencan Buta Maraton

Bersamaan dengan ledakan dahsyat dan kepulan asap hitam pekat itu, sesosok makhluk raksasa perlahan bangkit merayap keluar dari dalam belahan tanah kuburan.

"HA-HA-HA! Akhirnya... akhirnya aku bebas! Aku bisa membalaskan dendam keenam temanku pada nenek lampir sialan alias Nini Kalingking!"

Tawanya menggelegar dahsyat, merontokkan dedaunan pohon beringin di sekitarnya.

Tatapan matanya menyala merah saat ingatan kelam masa lalu kembali berputar di otaknya. Ia teringat enam kawan sejawatnya sesama tujuh jawara bunian: Gagak Bodas, Munding Bodas, Ki Jamparing, Ki Pesut, Ki Banyu, dan Ki Batara Geni. Mereka berenam telah tewas mengenaskan, dibantai habis oleh Nini Kalingking—sosok penyihir hitam jahat yang terus memelihara wajah awet mudanya secara instan dengan cara menculik dan meminum darah suci para gadis perawan.

Sesosok jin raksasa yang tak lain adalah Tengkorak Hideung itu menunduk, menatap tubuh Kiano yang terkapar tak berdaya di atas nisan hancur.

"Aku akan mengabdi padamu, Anak Muda. Mulai detik ini, aku bersumpah akan setia menjadi pelayan setiamu!" janjinya mantap.

PSSSTTT...!

Tubuh besar Tengkorak Hideung mendadak menguap, melesat masuk ke dalam dada Kiano sebagai tanda ikatan segel gaib yang baru. Kemunculannya menghilang tepat waktu, sesaat sebelum sekumpulan warga mistis penghuni kuburan mulai berdatangan karena penasaran dengan suara ledakan bom tadi.

"Lihat itu! Ada orang yang tergeletak pingsan di sana!" teriak salah satu jin berwujud manusia purba.

Rombongan makhluk gaib itu langsung berlari mengerubungi tubuh Kiano. Namun, begitu melihat wajah Kiano yang terkena sorot cahaya bulan, mereka semua sontak tertegun dan ternganga. Wajah itu benar-benar familier di mata mereka!

"P-Pangeran Wirasada?!"

"Heh, kalian! Cepat panggil penjaga istana sekarang juga! Putra mahkota kita pingsan di kuburan wingit!" teriak warga jin itu heboh, memicu kepanikan massal di stasiun gaib tersebut.

[Flashback Off]

WUSSSS...!

Embusan angin gaib di kamar istana mendadak berhenti berputar. Tatapan mata kosong Kiano seketika kembali berbinar jernih. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke masa sekarang, di depan cermin rias mewah kamar pangeran Mandala Hyang.

Kiano melongo menatap Tengkorak Hideung yang asli, yang saat ini masih setia berlutut di hadapannya.

"O-Oh... jadi gitu sejarahnya gue bisa terdampar di kasur emas ini?" Kiano menepuk jidatnya dengan pasrah. "Gila, ya. Gue cuma mau ngambil pesanan barang antik bokap gue, kenapa malah dapet bonus takhta kerajaan jin sama dendam kesumat antar-dedemit begini, sih?!"

Tengkorak Hideung tidak menjawab makian itu, ia malah cengengesan lebar memamerkan deretan giginya yang menyeramkan.

"Ah, sialan lo! Malah nyengir lagi! Pergi lo sana, dasar TAHI!" maki Kiano ketus, sudah benar-benar kehilangan kesabaran.

Sontak jin raksasa itu melotot kaget. Kumis tebal melintangnya sampai naik secentimeter karena merasa harga dirinya dilecehkan. "Tuan! Anda barusan menghina saya dengan kata kotor?!"

"Ck! Siapa juga yang ngehina lo? Geer amat," sahut Kiano sambil mendengus, melipat kedua tangannya di dada. "Itu tuh nama panggilan kesayangan dari gue! Nama asli lo itu terlalu ribet bin panjang menurut lidah gaul gue. Makanya gue singkat aja biar praktis: TAHI! TAngkorak HIdeung! Pas, kan? Gitu, Mas Mamba. Paham lo sekarang?"

Tengkorak Hideung langsung pundung di pojokan. Bahu kekarnya merosot lesu. Jin jawara yang ditakuti di seantero alam gaib itu kini harus menyandang nama panggilan paling tidak estetik sepanjang sejarah per-demit-an.

"Tapi... tapi apa tidak ada julukan lain yang lebih berwibawa selain nama itu, Tuan? Panggil 'Mamba' juga saya rela, deh! Asal jangan 'Tahi' saja, tolong... Saya ini mantan panglima perang," cicit Tengkorak Hideung dengan wajah memelas yang sama sekali tidak cocok dengan tubuh kekarnya.

"Gak ada penawaran ulang! Sekali Tahi tetep Tahi!" potong Kiano mutlak ala bos besar tahun 2050. "Udah ah, mending lo balik sembunyi dulu ke mana kek. Pintu kamar gue kayaknya mau dibuka tuh, bahaya kalau lo ketahuan sama emak-bapak tiruannya si Wirasada."

Tanpa sepatah kata pun karena masih pundung, jin kekar itu langsung menghilang kembali ke dalam segel gaibnya.

PSTTT...!

Bersamaan dengan lenyapnya asap hitam si Tahi, daun pintu kamar terbuka lebar. Seorang pelayan laki-laki berpakaian adat Sunda kuno muncul dari balik pintu.

"Pangeran Wirasada, Paduka Raja dan Ratu sudah lama menunggu Anda di ruang makan kerajaan. Mari..." ucap pelayan itu sembari membungkuk dengan sangat sopan.

Kiano langsung berdeham, buru-buru membetulkan kerah jubahnya, lalu memasang wajah super cool andalannya. "Baik, saya ke sana sekarang. Bisakah Anda menuntun Pangeran Jungkook ini menuju lokasi?"

Pelayan itu sedikit mengernyitkan dahi, bingung mendengar nama asing berbau Korea tersebut. "T-Tentu, Pangeran. Saya akan mengawal Anda sampai ke meja makan."

Pelayan itu melangkah di depan untuk menunjukkan jalan. Sementara Kiano yang awalnya berjalan anggun penuh wibawa bak pangeran mahkota asli, baru berjalan lima langkah langsung berubah arah. Ia kembali berjalan pecicilan dengan gaya petakilannya sendiri, melirik kanan-kiri menatap arsitektur istana dedemit yang megah.

Sesampainya di ruang makan bernuansa emas, Kiano langsung menarik kursi dan mengempaskan bokongnya tanpa permisi. Di seberang dan samping meja kayu jati raksasa itu, sudah duduk kedua orang tua KW-nya. Prabu Raksa Buana dan Nyi Ratu Inten tampak menatap tajam ke arah Kiano dengan raut wajah super serius.

"Makanlah terlebih dahulu, Wirasada. Isi perutmu agar staminamu cukup kuat untuk menghadapi sesi kencan buta nanti," ucap sang Prabu berwibawa.

Kiano mengangguk patuh. "Siap, Om... eh, Ayahanda!"

Tanpa basa-basi lagi, Kiano langsung menyikat semua hidangan mewah di atas meja dengan sangat lahap. Kelaparan setelah terlempar lintas dimensi membuat Kiano melupakan total akting tata krama ningratnya. Ia mengunyah dengan bar-bar sampai pipinya menggembung.

Nyi Ratu Inten sontak melotot horor melihat pemandangan tidak estetis tersebut.

"Pelan-pelan, Wirasada! Tidak usah terburu-buru seperti orang tidak makan tiga purnama! Nanti riasan bedak cimol di wajahmu bisa berantakan!"

"Hmm, mhaap..." jawab Kiano dengan mulut penuh makanan.

Sadar dirinya sedang diawasi ketat oleh raja jin, Kiano buru-buru menelan makanannya dengan susah payah. Ia langsung memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak lurus, menaruh sendoknya pelan, lalu lanjut mengunyah perlahan dengan gerakan super anggun yang dipaksakan.

Sial, makan di dunia jin berasa lagi dipantau CCTV ujian nasional, batin Kiano meratapi nasib.

Kiano memaksakan senyum termanisnya—atau lebih tepatnya, senyum tertahan karena masih ada sebutir daging yang tersangkut di gigi gerahamnya. Ia mengunyah dengan ritme super lambat, meniru gerakan estetik para influencer mukbang yang sering lewat di beranda holografis ponselnya tahun 2050.

"Maafkan Wirasada, Ibunda Ratu," ucap Kiano dengan suara yang diberat-beratkan mirip aktor drama kolosal. "Ananda hanya... terlalu bersemangat menyantap hidangan istana yang rasanya tiada dua ini. Sungguh, lumer di lidah, getar di jiwa."

Nyi Ratu Inten mengembuskan napas lega, tampaknya bualan Kiano berhasil. Beliau kembali mengipasi wajahnya yang putih mulus dengan kipas bulu merak. "Syukurlah kalau kau sudah kembali normal. Ibu sempat mengira jiwamu tertukar dengan dedemit kelaparan di Hutan Larangan."

Emang tertukar, Tante! Jiwa gue anak Jakbar asli, bukan anak keraton gaib ini! teriak Kiano dalam hati sembari meratapi nasib.

Prabu Raksa Buana berdeham keras, membuat cangkir emas di atas meja sedikit bergetar. Aura kepemimpinannya yang pekat langsung menyelimuti ruangan. Kiano otomatis menegakkan punggung, mendadak rindu dengan kasur busa di kamar mewahnya.

"Wirasada," panggil sang Prabu dengan nada rendah yang berwibawa. "Kencan buta maraton ini bukan sekadar urusan mencari pendamping hidup. Ini adalah urusan politik dan kehormatan Kerajaan Mandala Hyang. Kau tahu sendiri, posisi putra mahkota tidak bisa diberikan kepada pangeran yang masih melajang. Dan tepat satu bulan lagi, kau harus menggantikan posisiku sebagai raja di negeri Mandala Hyang ini."

Kiano menelan ludah. "K-Kencan buta maraton, Ayahanda? Maksudnya... berapa banyak kandidatnya?"

"Hanya lima puluh urutan teratas dari tujuh wilayah gaib," jawab Prabu Raksa Buana santai, seolah-olah angka lima puluh itu sama seperti jumlah butir bakso di mangkuk.

"LIMA PULUH?!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!